
Kaisar Geourgue bagaikan diterpa musim semi indah. Anaknya bisa bcara kembali, ia bagaikan menemukan syurga. Tapi matanya sekarang tertuju pada Qira. Untunglah darah Qira hanya mengenai selimut. Jika tidak. Bisa diprediksi sendiri.
Wolf dan Leon menghampiri Qira. Bisa ia lihat wajah Qira begitu pucat. “Qira. Apa kau mau membunuhku? Aku tak ingin kau menjadi seperti ini." Gumam Wolf.
“Aku tak akan ingin hidup lagi jika kau meninggalkan dunia ini.” Ucap Leon serak.
“Sudah Leon. Cepat bawa dia kedalam kamar biar diobati cepat...” Sahut Wolf tak kalah khawatir. Lalu matanya menatap kakaknya. Tak bisa ia pungkiri jika ia sangat bahagia melihat kakaknya sudah kembali.
“Ayo cepat bawah Lider Kim dan teman Yeyfeng masuk kedalam kamar cepat..!” Perintah kaisar Geourgue. Ia mendekati Kim, ia menggendong Kim dalam pelukannya, bisa ia rasakan suhu tubuh Kim sudah menjadi normal.
(Lue Yeyfeng nama asli Wolf. liat di Bab raja Serigala)
Qira dan Kim dibawa kedalam kamar . Kaisar Geourgue dan keluarganya menjaga Kim. Sedangkan Leon menjaga Qira.
“Bagaimana keadaan Qiqi tabib?” Tanya Leon khawatir saat melihat tabib tua keluar dari kamar Qira.
Wajah tabib itu masam. Ia menatap Wolf dan Leon secara bergantian. “ Maaf Lord, keadaan teman Lord mengenaskan. Saya tak bisa membantu banyak, saya sudah memberikan obat Kepadanya, tapi sepertinya tenaga dalam teman Lord terluka parah.” Ucapnya lemah.
Leon memukul dinding disamping tabib itu. Tabib itu memejamkan mata takut. “Bagaimana ini Wolf?” Tanyanya frustasi.
Wolf tak kalah frustasi, ia bahkan sangat marah dengan dirinya sendiri. Karena ia Qira seperti ini. “Apakah ada cara supaya Qira bisa kembali tabib?” Tanyanya.
Tabib itu menggeleng. “Maafkan saya my lord, kita tunggu sampai beberapa hari mendatang. Saya tak bisa membantu banyak Lord.” Ucapnya lemah.
“Baiklah. Jika begitu kau tak ada gunanya bukan. Prajurit cepat bawa tabib Zu dan pancung dia..!” Teriak Wolf kencang.
Tabib Zu menegang ditempat. Ia bersujud meminta ampunan tapi Wolf sama sekali tak berbaik hati.
Ia membuka pintu kamar Qira disela-sela teriakan tabib Zu. Matanya sendu menatap sosok mungil diatas ranjang. Kakinya terhenti dipinggir ranjang. Matanya tertuju menatap wajah Qira yang pucat, bahkan warna bibir Qira sudah memutih.
“Qiqi. Maafkan aku. Aku tak pernah bisa menjagamu sampai sekarang. Padahal aku selalu berjanji akan menjagamu dengan nyawaku” Gumamnya sedih. Ia duduk diatas lantai, ia memegang tangan mungil Qira dan menangis meratapi kesalahannya.
Leon berjalan dengan lemah mendekat keranjang Qira. Wajahnya tak kalah menyedihkan. Ia berhenti disamping kanan Wolf. “ Qiqi. Ayoo bangun. “Ucapnya serak.
Mata Wolf beralih menatap Leon. Ia menarik tangan Leon dan mendongak menatap Leon. “Maafkan aku, ini semua karena ulahku. Andai aku tak mengajak kalian kesini dan mengenalkan Qiqi dengan masa lalu keluargaku yang menyedihkan” Ucapnya.
__ADS_1
Leon hanya diam. ia menatap Wolf yang tak kalah menyedihkan. Ia menyilangkan kakinya dan duduk disamping Wolf. “ Ini bukan salahmu. Tapi salah hati Qiqi. Dia menjadi manusia terlalu baik. “ Jawabnya sambil terkekeh miris.
Wolf tersenyum masam. “Benar. Bahakn sampai sekarang aku tak menyangkah jika Qiqi manusia.”
“Kau benar Wolf.” Jawab Leon. Ia menatap Wolf.
“Jadi apa yang kita harus lakukan?. Apa kau tau lobatnya?” Tanya Wolf.
Leon mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika Qira terjatuh seperti ini. ia menggelengkan kepalanya. “Tidak Wolf. Dulu Qira mencoba ilmu ini dan ia tertidur selama 3hari. Kakek Liu hanya memberikan telur angsa Api dan telur itu hanya ada satu buah dalam seribu tahun. Dan telur itu sudah dimakan Qira saat ia sakit lalu.” Jawab Wolf lemah.
“Apa kau yakin hanya itu obatnya”
Leon mengangguk. “Iya. Kita hanya perlu berdoa untuknya, semoga ia lekas sembuh.” Gumam Leon.” Apa kau tak mau melihat kakakmu?” lanjutnya.
Wolf sebenarnya sangat ingin. Tapi ia tak ingin membuat Leon sendirian, siapa yang tak akan ingin melihat orang yang ditunggu sehat sekarang terwujud. “Pergilah. Qira ingin menyembuhkan Kim karena ingin membuatmu bahagia. Jagang buat seluruh Perjuangannya sia-sia” Tukas Leon.
Wolf tersenyum tipis. “Terimakasih Leon” Ucapnya. Ia beranjak dari duduknya, ia menatap Qira sejenak dan melangkah pergi kekamar disamping kamar Qira.
Disana seluruh keluarganya berkumpul. Kakek, nenek ayah dan ibunya. Ia melihat Kim yang sekarang sudah bisa duduk bersandar ujung kasur. Mata seluruh orang dikamar itu menatap Wolf. ”Apa temanmu baik-baik saja Lue?” Tanya Ibunya khawatir. Ia memegang bahu anaknya lembut.
“Kemarilah. Lihat kakakmu sudah sehat” Ucap Ibunya menghibur Wolf.
Mata Wolf bertemu dengan mata hijau Kim. Ia tersenyum tipis, “Apa kau sudah sehat kakak?” Tanyanya miris.
Kim menatap Wolf dengan tatapan bersalah. Tubuhnya sangat hangat, ia bisa merasakan kembali hidupnya, tapi ia harus menukar kehidupan orang lain. “Aku baik. Bagaimana keadaan temanmu?” Tanyanya.
Wolf duduk ditepi ranjang. Ia menatap ayahnya sendu. Ia menggeleng dan menangis. “Apa dia yang selalu kau ceritakan itu Lue?” Tanya Kim.
Memang benar Wolf selalu menceritakan tentang Qira kepada Kim, meskipun Kim tak bisa merespon, ia selalu menceritakan jika ia bahagia bertemu Qira dan Leon. “Sama dengan yang ku ceritakan bukan?” Tanya Wolf.
“Mengapa ia mau membantu kakakmu jika ia tau taruhannya mati?. apa dia bodoh Lue?” Tanya Kaisar Geourgue.
Wolf menatap ayahnya. “Aku juga mengira ia orang bodoh. Tapi ia bahkan lebih pintar dariku” Jawab Wolf.
Ibu Wolf menepuk pundak Wolf. “Dia pasti sembuh. Tenanglah Lue” Ucap Ibunya.
__ADS_1
Wolf menghela nafasnya. Ia tak tahu harus apa. Bahagia, sedih, emosi bercampur satu. Saat merasa cukup. Ia kembali kekamar Qira, ia memilih tidur dengan Leon dan Wolf disana. Keluara Wolf tak lupa melihat keadaan Qira.
______
Lain di tempat ini...
Kaisar Alex menatap langit malam, entah mengapa hatinya merasakan sedih yang tak tau sebabnya, pikirannya melayang mengikuti Qira. Hari sudah larut malam tapi ia sama sekali tak bisa tidur. entah ia tak tau apa.
Begitu juga dengan kakak Qira lainnya. Guang Lii keluar dari kamarnya untuk mencari udara ditaman bunga Lili dimana tempat kesukaan Qira. Tapi ia tak sengaja berjumpa dengan Xian Li dan Lian Lii dijalanan. “Kalian mau kemana?. Kalian tak tidur?” Tanyanya heran.
Lian Lii menatap Guang Lii dan Xian Lii bersamaan. “Mataku tak mau tidur, jadi aku memilih ketaman.” Jawabnya.
“Aku juga. Aku memikirkan Qira, entahlah. Kau mau kemana Guang Lii?” Xian Lii menatap Guang Lii.
Entah mengapa hati Guang Lii menjadi begitu lemah tanpa tau alasannya, bahkan ia menangis. “Entah, aku juga memikirkan Qira. Hatiku seperti sakit” jawabnya.
Lian Lii dan Xian Lii pun juga merasakan hati mereka sakit dan bersedi tanpa sebab, meminta mereka menangis. “Jika begitu ayoo kita ketaman bersama...” Ucap Xian Lii.
Saat mereka berjalan kembali, mereka bertemu dengan Juang Lii, Zian dan Zain. Ternyata mereka merasakan hal yang sama.
Mereka memutuskan pergi ketaman. Saat setiba mereka disana mereka menatap Kaisar Alex menangis menatap langit. “Ayah. Sedang apa ayah disini?” Tanya Lian Lii.
Kaisar Alex menghapuskan air matanya. Ia menatap Lian Lii dan lainnya yang berada disampingnya. “Ayah hanya merindukan Qira” Suaranya parau karena menangis.
“Jangan berbohong ayah. Kami juga merasakan sesuatu dihati kamu.” Jawab Xian Lii.
Kaisar Alex memegang dadanya, sedih ini tak tertahankan tapi tak tahu sebab. Membuat ia setengah mati khawatir kepada Qira. “Apa adik kalian baik-baik saja Xian Lii?” tanyanya.
Guang Lii dan Juang Lii juga tak bisa mengendalikan mereka. Mereka pun menangis. “Kami tak tau ayah. Tapi kita harus berdoa untuk Qira” Jawab Xian Li.
Mungkin dengan ikatan darah membuat mereka merasakan sakit akan kehilangan Qira. Meskipun jauh, tapi mereka tak mungkin bisa memutuskan aliran darah .
Mungkin jika kalian mengatakan autor lebay silakan. Karena jujur autor pernah merasakan hal seperti itu. Bahkan autor pernah sesegukan menangis suatu hal yang tak tau karena apa.
Mereka berdoa untuk Qira dibawah langit yang berbaris dengan bintang. Semilir angin menjadi saksi bahwa darah mereka masih terikat kuat.
__ADS_1