Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Dibalik kekejaman


__ADS_3

Qira tersenyum lembut. “Iya.” Ia tak berani mengelus kepala mereka sayang. Padahal tangannya sudah gatal.


Ren tersenyum kecil sat berdiri di samping kaisar Zauhan. Ia menatap Qira penuh kagum. “Qira sangat baik ya yang mulia.” Pujinya.


Maa kaisar Zauhan menyorot penuh ancaman pada Ren yang terang-terangan memuji miliknya . “Maksudmu?” Tanyanya dingin.


Ren sudah biasa dengan dinginnya kaisar Zauhan. Ia tersenyum lembut. “Ya dia balik.” Ucapnya sedikit takut. Ia tau kaisar Zauhan sedang sangat posesif. Padahal mereka belum memiliki ikatan sah bukan?


“Koin itu tak gratis.” Suara itu bersumber dari belakang Qira. itu adalah kaisar Zauhan yang menjauh dari Ren. Ia menghampiri Qira dan menatap anak-anak itu. Matanya tajam dicampur dinginnya wajah.


Anak-anak itu mulai bergetar ketakutan saat melihat kaisar Zauhan. Ada yang saling berpelukan, ada yang meremas baju dan ada yang mengaitkan jemari-jemari mereka.


“Apa-apaan kamu? Aku yang punya koin, kenapa kamu yang protes.” Ketus Qira.


Kaisar mengabaikan ucapan Qira. ia mengeluarkan gelang giok berwarnah hitam dan melemparkannya pada anak yang paling besar. “Kalian datanglah kekerajaan barat dan bilang jika kalian adalah utusan dari kaisar Zauhan. Kalian akan berkerja disana sebagai pelayan untuk para perempuan, tapi untuk para pria akan dijadikan para prajurit atau tukang pembersi kuda. “ Ucapnya dingin lalu mengeluarkan dua kantung emas lagi dan melemparnya. “Itu koin untuk persiapan kalian menuju kekerajaan barat. Dan kalian harus datang kesana jika ingin selamat.” Ia lalu pergi meninggalan Qira yang masuh membuka mulut tak peraya. Apa-apaan ini? apakah kaisar Zauhan begtu kejam.


“Hey Zauhan...! Kau sungguh egois.” Teriak Qira.


“Tidak apa-apa kak. Kami akan berkerja dengan baik supaya bisa membalas budi kalian.” Ucap mereka pasrah. Mereka cukup sadar diri saat ini.


Qira tak enak hai pada anak-anak itu. Ahh, untunglah kaisar Zauhan memberikan renggang 50langkah, jadi ia tak perlu terlalu dekat. “Maafkan kakak ya.” Ucap Qira. lalu pergi meningakkan anak-anak itu supaya tak terlau jauh dari kaisar Zauhan, bisa mati dia.”Kakak menunggu kalian.” Teraknya.


Sedangkan anak-anak itu pasrah sembari bersyukur, setidaknya mereka sudah menemukan pekerjaan dan tak bertemu para penculik lagi bukan?


"Apakah dia yang.mulia kaisar Zauhan?" Tanya salah satu anak disana. Ia berkedip polos sembari memegang giok hitam itu.

__ADS_1


Barulah mereka sadar sembari.membuka mulut kaget.


Qira menatap Ren yang menghentikan langkahnya dengan satu kaki. Ia menendang tulang keringnya lalu pergi mendekatkan kaisar Zauhan. Sedangkan Ren meringis perih sembari mengusap kakinya. “Padahal aku Cuma mau menjelaskan mengapa kaisar Zauhan seperti itu.” Gumamnya kesal.


Qira menaiki kuda tanpa mau menerima uluran tangan kaisar Zauhan. Menurutnya kaisar Zauhan itu jahat dan tak berbelas kasih. Bagaimana bisa ia berbuat baik tapi meminta imbalan. Padahalkan ia memberi koin itu dengan koinnya sendiri.


Kaisar Zauhan menaiki satu alisnya menatap Qira mengerut keningnya membuat kesan ia sangat marah, ditambah tangannya tak disambut membuat ia menghela nafas. “Kau marah padaku?” Tanyanya.


Qira hanya diam tak mau berdebat. “Kau marah padaku?” Tanya kaisar Zauhan pelan lagi. Ia mulai melajukan kudanya yang diikuti Ren dari belakang.


“Jangan diam jika marah. “ Ucap kaisar Zauhan. Tapi Qira masih saja tak mau menyahutinya. Ia cukup kesal akan kekasaran kaisar Zauhan, bisakah ia memiliki sedikit saja kebaikan untuk orang lain, anak-anak itu sangat kasihan looo, ia mau kaisar Zauhan itu kejam pada tempatnya.


Kaisar Zauhan msih membawa kuda sembari melirik Qira yang diam saja sedari tadi. Ia tak tahan kekediaman Qira, ia suka kecerewetan Qira, ia suka Qira yang mengajaknya berdebat. Ia memilih menghentikan kudanya ditebing dekat sungai membuat Qira sedikit menaiki satu alisnya.


Kaisar Zauhan turun dari kudanya. Ia menatap Qra yang diatas kuda. Ia mengulurkan tangannya pada Qira. “Turuun..” Perintahnya. Qira masih diam tak bergeming. Cihh, ia tak mau diatur.


Qira masih saja tak bergeming membuat kaisar Zauhan tak habis fikir. Kepala Qira itu terbuat dari apa? Kerasnya melebihi dirinya. Ahh, kepalanya sakit membuat ia menarik tangan Qira dan memeluknya. qira maish saja diam tak menjawab. Ia tak suka pria kasar.


“Kau marah padaku?” Tanya Kaisar lembut sebari memeluk Qira. ia melepaskan pelukannya dan meletakkan Qira diatas batu supaya tingginya sama. Tepat, sekarang tinggi mereka hampir sama.


“Bisakah kau tak kasar pada mereka. Mereka itu rakyatmu, jangan berbuat kasar seperti itu. Aku tak menyukai kau yang arogan dan meminta balas budi..” Qira mulai bersuara. Nafasnya terengah-engah karena menahan emosi.


Kaisar Zauhan menghela nafas. Ia mengelus ipi Qira tapi ditepis Qira. “Aku punya alasan seperti itu.” Ucapnya.


“Apa? Apa karena kau seorang raja yang kejam dan arogan? “ Tanya Qira menantang.

__ADS_1


Kaisar Zauhan rasanya mau memotong lidah Qira. untung sayang. “Tidak selamanya yang menurutmu baik itu baik, dan tak selamanya yang buruk itu buruk.” Ucapnya pelan. Ia mendekati Qira lalu menatap kedepan, tepat pada sungai yang sangat bersih dan jerni.


“Aku membuat hal demikian karena aku peduli dengan rakyatku.” Ucapnya pelan, wajahnya menampakkan keseriusan.


Qira menatap kaisar Zauhan dengan meneliti secara detile, tapi masih saja ia tak bisa melihat apa yang dipikirannya. “Apakah arogan dan sombong juga demi rakyatmu?” Tanya Qira sinis.


Kaisar Zauhan tersenyum tipis. Ternyata Qira itu memang ceroboh dan mudah mengklaim sesuatu dengan mudah. Ia menatap Qira dengan serius. “Apakah dengan kau memberi uang sekantung kecil itu bisa merubah hidup mereka secara layak dan menemukan pekerjaan?” Tanyanya.


Qira diam sebentar.” Bisa jika mereka bisa mengelolahnya dengan benar.”


Kaisar Zauhan menghela nafas.” Kau kaum pelajar yang cerdas. Aku tau kau bukan orang sembarangan Qira, kau bisa membaca dan juga memikirkan hal yang lebih luas dengan ilmu dan tekatmu, Kau kuat dan kau juga pintar dalam berbagai hal. Tapi mereka?”


Kaisar Zauhan diam sebentar.” Mereka bukan kaum pelajar yang mengerti membaca, mereka dari kaum yang tak memiliki ilmu luas. Mereka belum tentu memiliki ilmu dan pengetahuan sepertimu, apakah kau yakin mereka bisa membuat usaha dan pemikiran sepertimu?” Tanyanya pelan.


Qira diam tak menjawab. Benar yang diucap kaisar Zauhan. Ia orang yang hidup dari masa depan, memiliki ide dari yang ia ketahui yang tentunya dizaman ini tak ada yang bisa. Ia pintar dan cerdas tapi belum tentu mereka juga cerdas. Apakah koin itu bisa digunakan secara baik dan benar seperti dirinya?


Kaisar Zauhan tersenyum tipis saat merasakan Qira sedikit sadar. “Apakah kau yakin jika mereka hidup dirumah baru dan mencari kerja diluar sana mereka aman? Aku bisa menebak jika mereka itu tawanan para penjual budak yang kabur. Apakah para penculik itu akan diam jika mereka tau para tawanan mereka masih hidup itu akan diam saja? Bagaimana jika mereka kembali menculik dan menjadikan mereka budak untuk dijual kembali?” Tanya kaisar Zauhan lagi...


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2