Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
perjalanan


__ADS_3

Leon dan Wol segera memeluk Qira hangat. Begitu juga dengan Qira. Saat merasa cukup Qira melepas pelukannya. “ kita istirahat dan makan terlebih dahulu disini. Baru akan berangkat lagi.” Ucap Qira.


“Kau benar. Kita sudah setengah hari pergi tanpa istirahat dan makan. Dan sekarang aku sungguh kelaparan ” Jawab Wolf.


Qira tersenyum melihat Wolf. “ Aku sudah menyiapkan bekal untuk kita. Jadi kita langsung bisa memakannya”. Qira membuka satu kain hitam yang ia pisahkan, disana ada tiga ikat nasi ukuran lumayan besar yang dibungkus dengan daun pisang, ada Daging panggang yang sudah dipotong kecil juga, ada sayur rebus yang diikat didalam daun.


Wolf dan Leon segera mendekat dan menyantap makanan itu dengan lahap.


“Apa aku boleh bertanya Qiqi?” Tanya Wolf selah-selah makan.


Qira menapat Wolf, ia mengerutkan keningnya. “Ada apa?”


“Apa benar pria yang aku hajar itu calon suamimu?” Tanyanya.


Leon yang sudah menganga untuk melahap makanannya ia urungkan mendengar hal itu. Ia menatap Qira serius. “ Apa kau mau menikah?” Tanyanya.


Qira meletakkan daging yang ia pegang. “ Aku belum mau menikah Leon. Dan aku juga tidak tahu apapun masalah perjodohan itu, aku juga tidak pernah merasa sudah bertunangan.” Jelasnya.


“Lalu pria itu?” tanya Wolf.


“Ntahlah. Lagi pula, aku belum ingin berpikir menikah. “


“Pria itu sangat tampan. Apa kau tidak akan menyesal?” tanya Wolf.


Qira tertawa mendengar itu. “ Wajah tampan tak bisa membuat aku bahagia. Aku akan menikah dengah orang yang aku cintai. Dan kalian kapan Menikah?”Tanya Qira. Ia mencobah untuk mengalihkan pertanyaan.


Wolf dan Leon saling berpandangan. “Aku juga belum berminat untuk menikah.” jawab Leon.


“Aku juga.” Sahut Wolf.


“Jika begitu. Ayo kita lanjutkan makan lagi.” Sahut Qira semangat.


Wolf dan Leon menganggukan kepala. Mereka menghabisi makanan mereka, sesekali mereka bercanda tawa. Setelahnya mereka beristirahat sebentar.


“Qira. Kau naiklah kepunggungku saja. Tadi pagi Leon sudah membawamu.” Ucap Wolf saat mereka sudah ingin melakukan perjalanan.


“Qira tetap bersamaku. Aku tidak masalah, aku bahkan sangat bahagia.” Sahut Leon.


“Tapi kau curang. Kau selalu bersama Qiqi. Tak memberiku waktu bersamanya.” Sahut Wolf kesal.


“Oh ayolah. Kenapa kalian ribut.” Ucap Qira. Ia memijat keningnya. “Karena tadi pagi aku bersama Leon. Sekarang aku akan bersama Wolf.” lanjutnya.


“Tapi Qira—“

__ADS_1


“Sudahlah. Ini keputusanku, biar adil.” Potong Qira.


Wolf tersenyum lebar melihat hal itu. Ia menaik turunkan alisnya kepada Leon. Sedangkan Leon hanya mengendus kesal. Karena, semenjak keberadaan Wolf, ia harus berbagi kasih sayang dari Qira.


Wolf dan Leon mulai mengubah bentuknya. Qira menaiki punggung Wolf, sedangkan Leon Membawa pakaian dan barang-barang yang diletakkan dilehernya. Mereka mulai membelah hutan. Wolf dan Leon saling berkejaran. Mereka bagaikan sedang bermain, bukan berpergian. Dan itu membuat Qira sangat senang.


“Kau sangat lamban Wolf” ucap Leon mengejek.


Wolf yang diejekpun mengeram dan menambahkan kecepatannya. Qira semakin memeluk Wolf erat, takut jatuh.”Hahah. kau bahkan kalah dariku.” Ucapnya saat berada didepan Leon.


Begitu seterusnya. Meskipun sederhana. Tapi mereka sangat merasa bahagia. Kebahagian tidak mahal bukan?. Saat setibanya mereka diujung hutan. Tepatnya dipinggir desa, Leon dan Wolf mulai menjadi manusia kembali. “ Dari sini kita harus berjalan menuju Kapal yang membawa kita menyebrang lautan ini selama tiga hari.” ucap Wolf.


“Yasudah. Ayo, tunjukan jalan menuju pelabuhan tersebut” sahut Qira. Qira memejamkan matanya, ia Merubahnya menjadi warna coklat pekat. Itu sangat indah.


Wolf menganggukan kepalanya. Mereka berjalan dalam satu barisan. Qira berada ditengah-tengah Wolf. Semua orang yang berada diseda tersebut terkagum-kagum menatap mereka. Wolf dan Leon yang sangat tampan membuat wanita tergila-gila. Bahkan tua renta sekalikun. Ditambah Qira yang begitu menawan dengan rambut Birunya.


Sesekali Qira mampir membeli kue untuk mereka makan dijalanan. Saat ini ia berada didekat pelabuhan. Mereka sudah menghabiskan waktu satu jam untuk berjalan kesini. Dipelabuhan ini layaknya pasar, banyak orang yang berlalu lalang yang menjual makanan, dan barang.


“Permisi tuan. Apakah ada kapal yang akan pergi menuju kerajaan barat?” Tanya Wolf dengan salah satu pria gendut didepannya.


Pria gendut itu menatap mereka dari ujung kaki sampai rambut. “Maaf tuan. Kapal kami tidak ada yang menyebrang kesana. Jika kalian ingin pergi kesana, kami akan menyiapkan kapal tersebut.” Jawabnya.


“Berapa yang harus kami bayar paman?” Tanya Qira.


“Baiklah. Leon, berikan paman ini 50koin emas.” ucap Qira.


Leon mengernyitkan keningnya.. ia mencoba menghitung biaya yang harus mereka. “Bukankah kita cukup membayar 30koin emas?” Tanyanya.


“Memangnya masih adakah orang lain yang akan menumpang nona?” Tanya pria gendut itu heran. Dia berfikir jika Qira tidak bisa berhitung!.


“Tidak. 30koin emas untuk menumpang, dan 20koin emas untuk paman dan pegawai lainnya. Aku yakin, kalian pasti membutuhkan tenaga besar untuk kami. Jadi, aku juga tidak keberatan memberi koin lebih besar untuk kerja keras kalian. Lagian juga paman sangat baik. ” Jawab Qira tegas.


Pria gendut itu tersenyum lembut kepada Qira. ‘Dengan umur yang masih muda, gadis didepannya sangat lah bijak sana” Batinnya


“Terimakasih nona. Terimakasih.” Ucapnya sambil membungkukkan badan berkali-kali.


“Kalau begitu ayoo. Antarkan kami kedalam kapal.” Ucap Qira saat Leon sudah memberi satu kantong koin emas.


Pria gendut itu mulai mengantar Qira kedalam kapal.


“Jika saya boleh bertanya. Kalian ada kepentingan apa untuk pergi kesana nona, tuan?”Tanya pria gendut itu.


“Ada hal yang kami urus disana.” Ucap Leon.

__ADS_1


“Kerajaan itu sangat dilindung ketat. Jika saya boleh menyarankan. Kalian harus lebih berhati-hati disana.” Ucapnya.


Qira mengerutkan keningnya. “Memangnya kepana paman?” Tanya Qira.


“Kalian dari kerajaan Langit. Kalian


pasti tahu bukan, jika kerajaan Barat dan Langit itu bermusuhan sejak lama. Jadi karena itu. Kaisar kerajaan Barat akan membunuh siapapun dari kerajaan Langit yang menginjakkan kakinya. “ jawab pria gendut itu.


“Sekejam itu kah?” Tanya Qira sambil mengerjab.


“Iya. Dia sangat kejam nona. Karena itu, kami tidak menyediakan kapan kesana, dan baru kali ini kami mendapat penumpang menuju kesana.”


“Qiqi. Apa tidak sebaiknya kita tidak usah pergi?” tanya Leon.


Qira menarik bibir atasnya, sambil memicingkan matanya. “Kau takut ya?” Ucapnya mengejek.


“Bukan. Aku hanya tak ingin kau terluka.” jawab Leon.


“Ada kalian yang akan melindungiku. Dan ada aku yang akan melindungi kalian. Jangan takut kucing besar.” Ucap Qira angkuh.


“Ada benarnya ucap Leon. Coba kau pikir lagi Qira.” Sahut Wolf.


“Sudahku pikirkan. Dan jawabannya tetap pergi,” Jawab Qira santai.” Ayoo paman kita berangkat.” Ucap Qira santai. Ia meninggalkan Leon dan Wolf yang saling memandang.


“Kita harus menjaga Qira dengan sangat baik.” ucap Leon.


“Kau benar. Bahkan aku akan mempertaruhkan nyawaku.” Jawab Wolf.


Mereka saling menganggukan kepala meyakinkan. Dan melangkah menyusul Qira. Jika saja kaisar yang mereka hadapi tidak terlalu kuat. Mereka tidak akan setakut ini.


Lautan luas berwarna biru. Gunug-gunung bisa nampak begitu jelas didepan Qira.


Mereka sudah berangkat dua jam yang lalu. Dan sekarang sudah waktunya matahari terbenam. Qira menatap jauh didepan matanya. Seakan-akan melihat tempat tinggalnya sudah tak kasat mata olehnya. Ada rasa sedih terbesit dihatinya saat ingat harus meninggalkan Shu Jin dan lainnya. Ditambah kaisar Wey yang sangat baik kepadanya.


Ia duduk diujung kapal tersebut. Kapal itu cukup luas. Ada tempat tidur, ada kursi dan perlengkapan lainnya. Qira memeluk lutut kakinya. Matanya mendongak menatap langit yang berwarna emas.”Apa kabar keluargaku disana? Apa ayah dan ibuku masih membenciku? Apa adikku baik baik saja” Gumam Qira. Ia merasakan sangat merindukan keluarga modernnya. Meskipun mereka selalu memarahi Qira. Tapi Qira sangat menyayangi mereka.


“Qira. Sedang apa kau disini?. Nanti kau masuk angin.” Suara Leon dari belakang punggung Qira menerobos masuk digendang telinganya. Leon duduk disamping Qira.


Tatapan Qira beralih menatap Leon, ia tersenyum tipis. “Lihatlah, langitnya begitu indah.”Ucapnya sambil menunjukan langit.


Leon menumpu tubuhnya dengan mendaratkan tangannya dibelakang. “ Benar. Sangat indah,” Jawab Leon. Ia tersenyum melihat langit.” Tapi ia kalah indah denganmu.” Lanjutnya dan menatap Qira.


“Kau bisa saja Leon...” Sahut Qira sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2