
Tapi dengan insiden itu membuat Qira dan Leon tak menghentikan tawanya. Qira mengelus kepalanya yang berdarah dan merah sambil tertawa. Sedangkan Leon memegang perutnya tanpa memikirkan hidungnya berdarah bahkan bokong mereka seperti kebal.
Wolf menatap Qira dan Leon marah. “Kalian sudah tau ini?” Tanyanya memanas. Tak ada jawaban. Ia mengintip kebelakang takut mereka mengikutinya, untunglah karena mereka tak memakai baju membuat mereka malu untuk keluar. Ditambah dari salah satu dari mereka Wolf bunuh dengan tangannya membuat mereka takut dan berteriak histeris.
“Aku tau” Ucap Qira disela-sela tertawa.
“Lalu mengapa kau tak memberi tahuku?” Tanya Wolf.
“Kau tak bertanya.” Jawab Qira. Ia sudah mengendalikan tawanya. Tapi saat matanya terbuka ia kembali tertawa saat melihat wajah Wolf penuh dengan warna merah dan pink merona yang berbentuk bibir seksi. Bahkan lehernya pun juga banyak.
“Lagi pula kau terlalu polos.” Sahut Leon. Ia juga melihat wajah Wolf kacau membuat ia tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan lebih kencang dari Qira.
Perut Qira keram. Wajahnya sakit karena terlalu banyak tertawa. Tapi entah mengapa Keadaan orang sekitar seakan tuli dengan mereka yang tertawa. Tapi tidak dengan Wolf. Ia menatap Qira dan Leon. Ia tau dia bodoh, tapi bukankah mereka seharusnya mengatakan sejujurnya.
Wolf berjalan menjahui Qira dan Leon yang masih tertawa. Ia masuk kekamar Qira. “Hey. Apa yang kau lakukan dikamarku?” Teriak Qira.
Wolf sama sekali tak menjawab.. ia menutup pintu. Sesaat setelahnya ia keluar lagi dan kembali kekamar tempat TKP. Ia membawa baju gantinya. Ia melirik Qira dan Leon tajam bak orang yang bermusuhan. Bukannya takut tapi Qira dan Leon semakin tertawa akan tingkah Wolf.
Hati Wolf semakin memanas. Ia menghentakkan kakinya dan melangkah masuk kedalam. Ia bahkan menutup pintu dengan ganas. Ia masuk kedalan kamar mandi dan mulai membersikan tubuhnya
Saat ia membersikan wajahnya, betapa terkejutnya ia saat ia tau wajahnya merah. ‘wajar saja mereka tertawa; batin Wolf.
Dengan keras ia menggosokkan wajahnya. Untunglah lipstik zaman ini bukan Matt. Jika tidak, habis lah kau Wolf.....
Qira bangkit dari duduknya. Ia menatap Leon yang berdiri didepannya. “Apa kau baik-baik saja Qiqi?” Tanya Leon.
Qira pun menenangkan dirinya. “Sangat baik. Lalu hidungmu.”
“Ini hanya hadia dari Wolf.” Jawabnya tertawa.
“Sudah. Kembalilah kekediamanmu. Aku mau mandi. Kau saja yang satu kamar dengan Wolf.” Ucap Qira. Ia melangkah cepat meninggalkan Leon yang terkejut jika ia tidur dengan Wolf.”Itu tidak adil. Ini kediamanku. Heyyy..!” Teriaknya. Ia menggedor-gedor kamar yang sudah Qira kunci. Qira pun terkikik. Ia melangkah masuk dan memilih membersikan diri.
Lain cerita Leon. Ia melangkah takut kedalam kediaman Qira yang berisi Serigala gila. Ia bahakn berdiri cukup lama dieepan pintu. ‘ hari semakin malam’ Gumamnya. Ia memilih masuk tanpa peduli apa Respon Wolf.
Saat ia masuk , ia melihat Wolf yang baru keluar dari kamar mandi. Ia bahkan memalingkan wajahnya dari Leon.
Leon mendekat.”Apa kau tak apa Wolf?” Tanyanya gugup.
Wolf menatap Leon tajam. “Aku hampir kehilangan keperjakaanku...!” Jawabnya sinis,
__ADS_1
Jujur.
Leon menahan nafas untuk tidak tertawa. “Kami hanya bercanda. lagi pula hanya untuk membuatmu jera, supaya untuk kedepannya kau harus berfikir lebih panjang. Kau sangat ceroboh Wolf.” Jelas Leon.
Wolf menatap Leon. “Kalian tetap salah. Tetap salah.” Ia berbicara tak ingin dibantah.
“Terserah. Tapi saat kau berada disana, kami sangat yakin jika kau tak akan tergoda. Sunggu kau pria sejati... puk... puk... puk.” Ia menepuk pundak Wolf dan berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Wajah Wolf yang awalnya masam menjadi cerah. Jika diingat-ingat dan ditimbang-timbang memang benar. Mana ada pria yang tahan melihat perempuan sexy tanpa busana berada didepan pria?. Ditambah mereka menggoda dan mencium secara sensual?. Ah jika diingat Wolf menjadi besar kepala . ia melangkah pergi kekasur dan tidur.
-----
Malam sudah berganti siang. Autor juga bingung. Jika Qira dan lainnya menginap dipenginapan. Pasti paginya akan heboh akan pembunuhanlah. Pintu terbanglah. Dan lainnya. Seperti saat ini, pemilik kediaman itu terkejut menatap pindu yang sudah rusak dan 1mayat, ada 2gadis yang pingsan dengan luka disudut-sudut bibirnya. Sedangkan sang pelaku sudah pergi dari subuh untuk menghindar masalah.
Qira dan lainnya berjalan menyusuri kota yang masih menyisahkan gelapnya malam. Tapi tak membuat para manusia beraktivitas. “Kita mau kemana Qira?” Tanya Leon.
“Entah. Ayoo kita cari kediaman untuk kita sewa beberapa bulan mendatang.” Ucao Qira. Ia menatap Wolf yang sama sekali tak berbicara kepadanya sejak pagi. Ada rasa bersalah dihatinya, tapi lebih banyak rasa gelinya.
Wolf yang merasa ditatap Qira menjadi menatap Qira. Saat mata mereka bertemu ia memalingkannya,.
“Apa kau masih marah Wolf?” Tanya Qira. Tapi Wolf sama sekali tak menjawab.
Qira menghela nafas. “Kau masih menyalahkan kami?. Semua yang kau dapatkan itu jadikan pelajaran, bukan menyalahkan orang lain. Kami minta maaf jika kami salah. Tapi kami keluar untuk melindungimu, kami mengawasimu meskipun kami menjahilimu. Kami tak akan membiarkan kau terjadi apa-apa.” Ucap Qira.
Wolf melirik Qira. “Apa kau sanggup?” Tanyanya.
“Itu hanya kiasan bodoh...!. mana mungkin aku sanggup.” Ketus Qira. Sontak membuat Leon tertawa.
Wolf menatap Qira dan Leon tambah kesal. Ia bagaikan dipermainkan lagi. “Aku tak mempermainkanmu. Belajarlah dewasa” Sahut Qira tau apa yang Wolf pikirkan.
“Emang kau sudah dewawa?” Tanya Wolf. Ia memicingkan matanya menatap Qira
Qira menggeleng. “Jika kau dewasa. Kau bisa menjagaku yang seperti anak-anak ini. bukankah kau sudah berjanji mau menjagaku.” Qira menaik turunkan alisnya.
Wolf tersenyum. “Aku maafkan untuk kali ini. tapi tidak untuk berikutnya.” Qirapun mengangguk. Mereka melangkah lagi mencari tempat penyewahan ruamh.
Tapi tanpa mereka sangakah. Qira menatap salah satu pria yang menurutnya aneh, menurut Qira, ada yang aneh dan menarik darinya. “Wolf, Leon ikuti aku.” Ucap Qira.
“Kau mau kemana?” Tanya Leo.
__ADS_1
“Ikut saja.” Ucap Qira.
Ia menuruni kudanya. Begitu juga Wolf dan Leon. Mereka memilih berjalan sambil mengiring kuda. Qira menatap pria yang ia lihat, pria itu menggunakan baju kebesaran khas bangsawan. Ia masuk kedalam gerbang, saat Qira mau masuk tangannya ditahan oleh Wolf.
“Jangan. Itu istana kerajaan barat.” Ucapnya berbisik.
Qira baru sadar. Ia menatap kedepan. Betapa terkejutnya ia saat tau jika kerajaan itu ditengah-tengah sungai. Jalan yang pria yang ia pijaki tadi itu terangkat keatas dan meninggalkan istana yang ditutup tembok tinggi, bahkan Qira sama sekali tak bisa melihat istana itu, ia hanya bisa melihat ujungnya saja.
“ Wah. pantas saja pertahannannya sangat besar,” Ucap Leon.
“Benar.” Sahut Qira. Qira berjalan mendekat kepada gerbang yang sudah ditutup. Disana tidak ada rajurit, hanya saja prajuritnya ada disudur-sudur atas dekat dengan gerbang.
...
Sedangkan pria yang Qira lihat tadi adalah salah satu perdana mentri dikerajaan itu. Ia berhenti disalah satu prajurit. “Nanti kau buka gerbang jika melihat putriku sampai dengan pengawalnya.” Ucapnya lalu pergi. Sedangkan penjaga itu hanya mengangguk patuh.
Qira dan lainnya berjalan didepan gerbang.
“Wah. aku jadi penasaran bagaimana bentuknya didalam. “Ucap Qira.
“Kau jangan bercanda. ini salah satu tempat yang tak boleh kita pijakki.” Ucap Wolf.
“Aku tau. Aku hanuay penasaran saja.” Jawab Qira.
Sedangkan praurit yang sudah diperingati oleh perdana mantri itupun melihat Qira dan lainnya. Ia menatap temannya yang jauh darinya. Sesaat ia menatap Qira. Qira memang menggunakan baju pria. Tapi baju itu baju mahal yabg batu ia beli malam tadi, belum lagi wajahnya yang cantik khas seorang putri membuat mereka menerka memang ia putri perdana mentri. Ia melihat Wolf dan Leon. Ia mengira jika mereka pengawal Qira. Jangan lupakan kuda Black dan kuda lainnya yang memang menunjukan bahwa Qira bangsawan yang aneh.
Sonatak saja Qira kaget saat melihat jembatan itu turun dan membuatkan jalan masuk kedalam istana. Sesaat setelahnya ada beberapa prajurit yang menemui mereka. “Salam kepada putri kedua perdana mentri Woncu Qua” Ucapnya sambil menunduik.
Qira menatap mereka terkejut. Jangan lupakan ekspresi Wolf dan Leon yang lebih terkejut dari Qira.
Tapi belum sempat Qira menjawab prajurit itu sdah duluan berkata. “Mari masuk tuan putri. Acaranya sebentar lagi akan dimulai.” Ucapnya.
Dengan semangat Qira melupakan peringatan Wolf. Ia masuk mengabaikan Wolf dan Leon yang memanggil namanya berkali-kali dan mencemaskannya. Qira sama sekali tak berpikir apa yang ia hadapi didepannya.
.
.
.
__ADS_1
**Hay para Reader Qira semua. Tak mengurangi rasa hormat. saya cuma minta Vote, Like dan komen aja kok. Dulu ini Novel tak pernah dibawah renk 30 bahkan masuk 20 besar. dan sekarang novel ini dibawah renk 120. mana nggak sakit hati autor......!. rasanya autor pengen berenti. tapi sayang. Kalian tau nggak 1 bab itu autor ngabisin 4lembar Kertas. bayangin kalo 4bab itu berapa?.
Dan autor juga mau kasih 1 novel autor judulnya catatan Rindu. gendre komplit. mulai dari romansa. dunia gelap. Cewek tomboy. baik hati. sakit hati dan sedih. plis hijra dan ilmu. jika minat monggo baca**