
“Kau bisa saja Leon.” Sahut Qira sambil tertawa.
Leon memegang pipi Qira Lembut dan menarik nya sedikit. Ia memastikan. Apakah mata Qira ada air-mata yang terselip atau tidak. Saat ia tahu mata itu menyimpan kepedihan. Ia membawa Qira kepelukannya. “ Jangan bersedih. Aku akan selalu bersamamu.” Ucapnya.
Qira yang diperlakukan dengan kelembutan dan ketulusanpun membekap Leon. “Kau tahu Qira. Aku sangat menyukai senyummu.” Ucap Leon saat melepas pelukannya.
“Hey. Kalian berpelukan tanpaku. Ayoo ulangi lagi. Itu tidak adil Qira.” Suara Wolf membuat suasana haru buyar seketika. Ia duduk Ditengah-tengah Qira dan Leon. Leon hanya mendenggus kesal. “ Apa yang kau lakukan ditengah kami.” Sahut Leon ketus.
“Memeluk kalian. Ayoo kita berpelukan.” Jawab Wolf santai. Ia merangkul Qira dan Leon dalam dekapannya. Qira hanya tersenyum senang menatap mereka.
‘Aku memang tidak dikelilingi kasih sayang ibu ataupun ayah. Tapi dengan kasih sayang yang tulus dari luar. Itu sudah sangat cukup bagiku. Bahkan aku mendapatkan hal yang lebih dari yang aku bayangkan’ Batin Qira.
Sedangkan Leon dan Wolf. Terus saja beradu mulut. Qira hanya tertawa melihat mereka yang sama sekali tidak akur tapi saling menyayangi.
.....
Sudah tiga hari berlalu. Mereka sudah sampai ditanah kerajaan Barat. Tepatnya dipinggir pantai disebuah desa kecil. Senyum Qira mengembang saat kapal itu sudah berhenti dipesisir pantai.
Wolf dan Leon membantu Qira turun dari kapal. “Terimakasih paman.” Ucap Qira riang.
Qira melangkahkan kakinya yang terendam diair laut menuju daratan kering. “Kita sudah sampai. Lalu kita akan kemana?” Tanya Leon.
“Kita akan bermain. Kesana. Kesini. Semuanya pasti menyenangkan.” Jawab Qira.
“ Kau tak jadi mencari Bluerose?” Tanya Wolf.
“Sekaligus. Bukankah sekali dayung dua atau Tiga pulau terlampaui.” Jawab Qira santai.
“Ayoo. Kita harus membeli kuda didesa depan. Kita tidak mungkin menjadi binatang buas untuk membelah jalan bukan?” Ucap Leon.
“Kau benar. Ayoo.” Jawab Wolf.
Wolf dan lainnya mulai berjalan menyelusuri desa. Mata orang-orang desa tersebut tajam saat melihat Qira dan lainnya. Qira hanya mengerutkan keningnya saat melihat hal itu. “Mengapa mereka memandang kita seperti itu?” Tanya Leon.
“Mereka mengira kita penyusup.” Jawab Qira berbisik.
__ADS_1
“Biarkan saja. Ayo kita berangkat lebih cepat.” Ucap Wolf menarik Qira dan Leon supaya lebih cepat.
Mereka berhenti dipasar kecil. Disini sudah tidak terlalu banyak menatap mereka tajam. Qira dengan santai berjalan menyusuri pasar.
“Ini kuda untukmu Qiqi.” Saat ini Wolf baru sudah membeli kuda. Kuda yang dibeli oleh Wolf adalah kuda terbaik. Tentunya juga sangat mahal.
Qira menatap kuda yang diberi oleh Wolf. Kuda itu sangat hitam. Dari ujung kuku sampai kemulut dan rambutnya. Bahkan bola matanya juga hitam. “ Waw.” Gumamnya.
“Apa kau tidak suka Qiqi. Itu kuda satu-satunya yang dari jenis ini. ini bahkan kuda langkah. Kecepatannya tiga kali lipat dari kuda biasa.” ucap Wolf.
“Aku suka. Dan mana kuda kalian?” Tanya Qira.
Ia menatap kuda yang berada disamping Wolf dan Leon. “Ini kudaku,” Jawab Wolf. Ia mengelus kuda putih bersih, bahkan itu sangat cantik. Dan Leon memegang leher kuda yang berwarnah abu-abu.
“Apakah ini tidak terbalik?. Mengapa yang aku menyeramkan dan yang mereka begitu manis.” Gumam Qira dalam hati. Ia mengangkat alisnya.
“Kalo begitu. Ayoo.” ucap Qira. Ia tak ingin mempermasalahkan hal sepele. Ia meloncat menaiki kudanya. Kuda itu meringik dan mengangkat tinggi kaki depannya. “Www...” Ucap Qira kaget. Ia hampir terjungkang, andai jika ia tak memegang tali kekang kuda tidak terlalu kuat.
“Hey. Black. Ayo kita berteman.” Ucap Qira sambil mengelus kepala kuda itu.
“Apa kau memanggilku Black?” Tanya kuda itu.
“Apa kau memberiku nama. Sungguh ini mengagumkan.” Sahut kuda itu senang.
“Baiklah. Ayo Black. Tunjukan pesonamu.” Ucap Qira. Kuda itu lagi-lagi meringik gagah dan mengangkat kakinya. Qira hanya tertawa senang, dan meninggalkan para sahabatnya yang masih menganga menatap Qira, bahkan penjual kuda tersebut pun juga menganga lebar. Mereka tak menyangka jika Qira bisa bicara dengan hewan.
“Ayoo Wolf, Leon...” Teriak Qira. Ia menghentikan kudanya.
“Padahal itu kuda iblis.” Gumam Wolf
Mereka cepat-cepat sadar dan menaiki kuda masing- masing lalu menyusul Qira.
“Siapa gadis itu? “ gumam penjual kuda. Faktanya, kuda yang Qira kendarai adalah kuda iblis. Atau bisa dikatakan kuda langkah.
Kuda ini tidak akan mau dinaiki oleh sembarangan orang, kuda ini hanya akan memunggungi orang yang menurutnya pantas. Bahkan hanya golongan kaisar. Pangeran atau jendral terhebat saja yang bisa memunggunginya. Itu pun hanya segelintir. Bahkan Wolf seorang raja tak diterima olehnya tadi. Karena itu Wolf memilih kuda putih dan menyerahkan kuda hitam kepada Qira.. sebenarnya kuda Putih untuk Qira awalnya.
__ADS_1
Qira membawa Black begitu bahagia. Black kuda yang sangat lihai. Ia membela desa dengan sangat lihai. Bahkan Wolf dan Leon kesusahan menggapai Qira. Semua orang menatap Qira aneh. Ditambah kuda yang Qira tunggangi membuat orang-orang bertanya.
“Qira. Hati-hati...” teriak Leon.
...
Qira turun dari kudanya. Ia membeli beberapa butir apel dari kakek tua yang menarik perhatiannya. Kakek itu menjual 5butir apel yang diletakkan dikeranjang yang sudah rusak. Ia duduk dibawah pohon besar. Nampak wajahnya yang pucat dan lelah. Tak jauh dari sana juga ada tokoh buah yang jauh lebih banyak.
“Kakek. Apa kau menjual buah ini?” Tanya Qira.
Kakek itu awalnya memejamkan matanya menatap Qira. Ia tersenyum semangat. “Iyaa. Iya nona, saya menjualnya, saya menjualnya.” Jawabnya semangat.
Qira menatap apel-apel itu. Apel itu berwarnah hijau bercampur merah. Ada beberapa bagian busuk disana. Ia menatap kakek yang bersemangat didepannya. “Aku akan membeli apelnya. Tapi kakek tunggu disini sebentar.” Ucap Qira.
“Kau tunggu disini sebentar black.” Ucap Qira lembut.
“Baiklah...” Jawab Kuda itu dengan meringik.
Qira pergi kesuatu bangunan, tak lama kemudia ia membawa 5kantong yang berisi makanan. Ia mendekat kearah kakek itu. Disana sudah ada Loen dan Wolf. Pastinya karena ia melihat kuda Qira yang ada disana.
“Kau dari mana Qiqi?” Tanya Leon.
“Aku hanya membeli makanan. Ayoo ikut aku.” Ucap Qira.
Qira mendekat kepada kakek itu. Kakek itu dipenuhi lumpur kering. Bajunya banyak sobekan. Membuat Qira prihatin akan hal itu. “Kek. Aku akan membeli buahmu. tapi terima makanan ini.” Ucap Qira lembut.
Kakek itu menatap Qira terkejut. Ia memang sangat lapar. Tapi ia harus menjualkan Apel itu untuk membeli obat cucunya yang sakit. “ Tapi nona. Saya hanya penjual apel.” Jawabnya lemah.
Qira mendekat. “Tenanglah. Aku sudah membeli banyak makanan. Ini untuk kakek dan ini untuk cucu kakek.” Ucap Qira sambil memberi dua kantong berisi makanan.
Kakek itu menatap Qira terkejut. Dari mana gadis didepannya tahu. Padahal ia belum bicara apa-apa, dan ia bahkan tak membawa cucunya’ batinnya.
“Nak. Kau tahu dari mana aku mempunyai cucu?” Tanyanya heran.
“Itu bukan masalahnya sekarang. Sekarang kakek harus segera kembali dengan cucu kakek. Makanlah bersama disana. Dan ini harga untuk apel kakek.” Qira mengeluarkan satu kantong koin emas.
__ADS_1
Kakek itu membuka kantong itu. Matanya membelalak menatap Qira. “ Ta tapi nona. Ini terlalu banyak. Harga apelnya hanya 10koin perak.” Ucapnya gugup.
“Harga dari kakek bukan?. Bukan dariku, ini untuk kakek dan cucu kakek.” Jawab Qira lembut.