Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 107.


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


***


" Mas, bangun!"


Vallen memang tertidur lagi setelah makan malam yang tertunda di jam 3 pagi dan auto kekenyangan, sehingga tidurnya itu benar-benar nyenyak. Dia bahkan tidak terbangun bangun sampai pada saat Anindya istrinya itu memanggilnya karena ada tamu di luar.


Vallen melirik ke arah dinding di sebelah kanan kamar itu dan melihat Jam berapakah sekarang? Dia cukup kaget ketika melihat bahwa Jam menunjukkan pukul 10.00 yang artinya dia benar-benar tertidur nyenyak setelah makan malam yang tertunda pada saat dini hari itu.


" Kamu kok tidak bangunin aku sih, sayang?" tanya Vallen dengan suara serak-serak basah khas orang yang baru saja bangun tidur.


Sedangkan Anindya yang sedang diprotes oleh suaminya malah tersenyum senyum melihat suaminya yang baru saja bangun tidur mengusak matanya seperti kalau Liam sedang melakukan hal yang sama. Lucu! Kebiasaannya bisa sama gitu.


" Kamu kan kemarin seharian belum istirahat, belum lagi kamu ada masalah dan kamu juga kan baru tidur betulan jam 4 pagi. Gimana aku tega bangunin kamu yang tidurnya nyenyak banget, bahkan kamu tidak terbangun bangun kalau tidak aku bangunin?" jelas Anindya sambil menyodorkan air minum supaya suami minum dulu sebelum masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan cara bersih-bersih sebelum menemui tamu.


" Emang tamunya siapa sih ? Kok jam segini sudah datang? Kurang kerjaan banget!" Sungut Vallen dengan nada Ketus. Sejujurnya dia masih enggan untuk meninggalkan kasurnya yang empuk dan bantalnya yang baunya harum. Seakan-akan tubuhnya lemah lunglai gara-gara menghadapi masalah kemarin itu.

__ADS_1


" Revan sama Erik! Palingan mereka akan membahas masalah kantor. k?Kalau tidak ya mungkin mereka akan membahas masalah kemarin. Bahkan ada kemungkinan mereka juga sudah mendapatkan jalan keluar atau mereka sudah menangkap Paman Bill." kata Anindya menanggapi pertanyaan yang diungkapkan oleh Vallen.


" Ohh!" Vallen tidak berargumen lagi Tetapi dia langsung masuk ke kamar mandi melakukan tugasnya di kamar mandi kemudian keluar dan melihat bahwa box bayi yang ada di kamar itu sudah tidak ada penghuninya yang artinya anak-anaknya sedang diasuh di luar oleh perawat atau sedang bersama dengan ayahnya.


Anindya masih ada di dalam kamar menyiapkan baju serta celana berikut pakaian dalamnya untuk kebutuhan Vallen pada pagi hari ini.


" Anak-anak sedang di mana? Sama siapa? " tanya Vallen dengan nada rinci dia ingin mengetahui dimana anak-anaknya sekarang karena terus terang saja dia masih trauma dengan ucapan-ucapan dari sepupunya Anindya tadi malam yang mengatakan bahwa Paman Bill masih belum menyerah untuk mendapatkan keturunannya agar keturunannya itu bisa dihancurkan dari dalam oleh pamannya itu.


" Anak-anak tadi sedang berjemur tapi mereka sudah masuk ke dalam kamar bersama para perawat. Ayah juga sedang di kamar sebelah bersama dengan mereka, katanya Ayah ingin banget tidur bersama dengan kedua anak kita. Jadi tadi aku sengaja membawa Ayah ke kamar sebelah saat anak-anak juga sudah tidur di ranjang nya masing-masing. Aku bilang sama ayah kalau mungkin sekarang belum bisa tapi ayah ingin ada di kamar anak-anak saja. Ya sudah aku meninggalkan Ayah di sebelah dan langsung membangunkan kamu di kamar ini dan setelah menyiapkan segala keperluan Mas, aku akan balik ke kamar sebelah untuk melihat apakah Ayah butuh bantuan aku." jelas Anindya dengan detil. Karna dirinya belum bisa meninggalkan Ayah mertuanya sendiri di kamar bersama dengan kedua anaknya, Ayah memang belum dalam kondisi yang benar-benar prima untuk bisa menggendong anak-anak nya yang masih bayi itu. Perawat laki-laki yang dikhususkan untuk menolong Ayah mertuanya juga ada di kamar sebelah, tujuannya untuk bisa mengawasi Ayah kalau kalau Ayah ingin melakukan apa-apa yang tidak bisa dilakukannya sendiri.


Setelah Valen selesai memakai pakaian yang disiapkan oleh Anindya, Dia segera memeluk pinggang istrinya itu dan mengajaknya keluar untuk pergi ke kamar sebelah menemui ayahnya dan juga kedua anaknya yang masih ada di kamar anak-anak yang terletak di sebelah kamarnya ini.


" Buat menaikan mood aku dulu. Anggap aja ini mood booster aku." katanya kembali mengecup bibir istrinya yang terasa manis.


Andai Anin sudah selesai masa nifasnya. Arghhh lama banget!!


" Ayah, mau kemana?" tegur Valen saat melihat ayahnya berjalan menuju pintu tanpa menggunakan kursi rodanya.

__ADS_1


" Tuan besar sedang menerapi dirinya sendiri, tuan muda! Tuan besar ingin segera sembuh sehingga bisa mengasuh anak anak tuan muda." jelas seorang perawat laki-laki yang merawat Ayah Valen.


" Tidak usah terlalu memaksakan diri, Valen yakin kalau Sebentar lagi Ayah pasti akan segera sembuh. Ayah juga harus sabar, semuanya itu melewati sebuah proses! Valen yakin Ayah pasti bisa sembuh! Tapi jangan terlalu memaksakan diri, Takutnya kalau otot-ototnya malah kaget." kata Vallen sambil menyuruh ayahnya untuk segera balik ke kursi rodanya. karena saking ayahnya itu berkonsentrasi untuk berjalan dia sampai tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Vallen karena takut kalau keseimbangannya akan goncang dan dia akan terjatuh.


Setelah ayahnya duduk di atas kursi roda lalu Ayah Vallen langsung menarik nafasnya dengan lega kemudian bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Vallen tadi.


" Ayah sudah melakukan terapi terhadap diri sendiri itu sejak seminggu yang lalu, soalnya ayah itu sangat kepingin memeluk dan juga menggendong anak kamu itu yang lucu-lucu. Tapi apa daya Ayah masih belum berani untuk melakukannya. meskipun tadi Han sudah menolong Ayah untuk menggendong Liam saat Ayah masih di atas kursi roda. Soalnya ayah ingin bisa mengajak mereka berdua pergi jalan-jalan ke luar negeri atau ke mall untuk memberikan baju-baju yang lucu buat mereka." kata ayah Vallen dengan wajah senang dan mata yang berbinar-binar, membuat Anindya yang menatap Ayah mertuanya itu menjadi sendu. Anindya hanya bisa berharap supaya Ayah mertuanya itu lekas sembuh dan bisa berjalan dengan normal kembali. Anindya bisa melihat Kerinduan Ayah mertuanya itu untuk bisa berjalan-jalan bersama dengan kedua cucunya.


" Mereka berdua masih sangat kecil yah! Mereka berdua masih sangat membutuhkan ibunya karena sumber penghidupan mereka berdua itu ada di tubuh ibunya. Tunggulah mereka berdua itu itu berusia 6 bulan atau 1 tahun sehingga ayah bisa mengajak mereka berjalan-jalan. Atau paling tidak, bolehlah kalau sudah lewat dari 35 hari ini kan baru 20 hari." kata Valen menenangkan ayahnya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


lanjut up lagi... Wkwkwkw


__ADS_2