
Hai hai Readersku sayang!!! Welcome back!!! Ini adalah update kedua. Eits, ini emang sedikit terlambat tapi ini semua gara gara thor ketoduran.saat mau update. Mungkin karena kecapean jadi pas update trus merem deh!! Wk wkw kw, bangun bangun udah dini hari, langsung thor kebut aja updatenya. Jangan lupa untuk tetap like, vote dan juga memberikan gift yang banyak, supaya autornya semakin bersemangat dalam mengupdate cerita. Oh ya sembari menunggu update-an cerita ini bisa cek karya-karya author yang lain.
Ditunggu like, share, vote dan giftnya. Happy reading!!
***
" Memang, apalagi setelah di visum ternyata pengemudi truk itu memang dalam kondisi mabuk. Semakin tidak masuk akal karena sebenarnya itu truk tidak terguling bahkan tidak terbakar. Bagaimana dia bisa meninggal di tempat? Itulah kenapa tadi aku curiga bahwa peristiwa ini sebenarnya adalah settingan dari seseorang yang memang menginginkan kematian dari ayah Willy. Atau ingin memperingatkan kamu akan satu kejadian. dan aku lebih berpikir kalau dia ingin memperingatkan kamu tentang kejadian kecelakaan yang pernah menimpa kamu beberapa tahun yang lalu, dan parahnya aku kok merasa bahwa ini ada hubungannya dengan kematian There karena kebakaran waktu di penjara. Semua permasalahan yang saat ini kita hadapi ini ada hubungannya dengan itu semua." kata Revan dengan suara lirih. Ia tidak ingin Anin menjadi cemas dengan kondisi Valen. Karena ini pasti berkaitan dengan Valen.
Sebenarnya Anin mencuri curi dengar apa yang dikatakan Revan. Secara samar ia dengar bahwa kondisi nya sedang bernahaya. Kecelakaan ayah mertuanya merupakan peringatan dari seseorang. Berkaitan erat dengan kecelakaan Valen di masa lampau. Dia sbenernya takut kalau Valen kenapa kenapa. Dia juga mrasa bersalah karena kasus ini kemungkinan karena keluarga Bagaskara terutama tante dan omnya yang masih dendam.
Krek.. pintu di ruangan tindakan telah terbuka. Seorang dokter dan 2 orang suster keluar untuk mendorong pasien keluar dari ruangan tindakan.
"Keluarga pasien kecelakaan?" tanya dokter dengan suara dan wajah lelah.
Revan dan Valen langsung berdiri menghampiri dokter itu. Sedangkan suster dan brankar rumah sakit yang berisi tubuh ayah Willy, diikuti oleh Anin dan beberapa pengawal menuju ruangan VVIP yang di pesan oleh Revan.sebelum Valen datang tadi.
__ADS_1
" Kami keluarganya dan ini anak kandungnya." kata Revan dengan suara tegas.
" Kami hanya ingin memberitahukan kalau pasien sudah melewati masa kritis. Tapi pasien belum bisa sadar dengan kondisinya sekarang. Ada benturan cukup keras di bagian kepala dan juga ada beberapa patah tulang di kaki dan tangan. Secara keseluruhan sudah ditangani dengan baik dan aman. Sekarang kita hanya bisa menunggu kalau pasien bisa cepat sadar. Kita tadi juga membutuhkan banyak darah dan untungnya PMi memiliki stok darah B rhesus positif yang dimilki oleh pasien. Jadi untuk masalah darah kami rasa aman. Oh ya, benturan di kepala pasien menyisakan gumpalan darah di kepala, apabila tidak berbahaya dan bisa ditangani secara obat, maka tidak perlu di lakukan operasi pengangkatan. Tapi kalau emang diperlukan dan berbahaya untuk kesehatan pasien, kita paling akan mencadangkan operasi pengangkatan gumpalan darah di kepala itu saja." jelas dokter dengan detil.
" Berati ini kita tinggal menunggu pasien siuman?" tanya Valen dengan segera. Ia benar benar cemas dengan perkataan dokter mengenai kondisi ayahnya.
" Benar, saya harapkan dalam 1 x 24 jam, pasien bisa sadar. Kalau dia tidak sadar dalam 3 x 24 jam berarti dia memasuki masa koma. Yang bisa jadi artinya benturan keras itu mengakibatkan kerusakan tertentu di dalam otaknya yang memicu pasien tidak sadar dalam kurun tertentu. " kata.dokter menjelaskan kepada Valen dan Revan.
" Berdoa saja, supaya kondisinya bisa cepat pulih. Kalau tidak ada pertanyaan lain saya permisi." kata dokter itu dengan sopan. Revan dan Valen yang masih termenung hanya bisa mengangguk lemah mendengar perjataan dokter. Valen seperti de ja vu. Perasaanbberada di Rumah Sakit dan berada dalam kondisi kecelakaan seperti ini pernah dia rasakan.
" Maksudnya?" sekalipun Vallen mengucapkan itu dengan nada lirih tapi Revan mendengarnya dengan cukup jelas. Dia terkejut kenapa Valen bisa mengucapkan nama yang sangat keramat itu. Ayah Valen saja tidak pernah mengungkapkan nama itu karena nama itu lah yang sudah sering melukai keluarganya. dari peristiwa kematian istri Willy atau Ibu dari Vallen, juga kasus percobaan pembunuhan terhadap Valen.
" Aku mengingatnya. Dalang dari pencobaan pembunuhan diriku adalah uncle Bill. Dialah yang menculik menyekap dan kemudian membuat kematianku seakan-akan kecelakaan mobil. " kata Vallen sambil matanya menerawang jauh, seakan-akan raganya di rumah sakit itu namun pikirannya dan jiwanya tidak ada di sana.
" Jadi apakah menurutmu Kejadian ini adalah bagian dari rencana uncle Bill dan bukannya Tere?" tanya Revan dengan nada sangsi. Dia masih percaya kalau orang yang ada di balik semuanya ini There.
__ADS_1
" Aku curiga kalau kejadian di rutan tempat There kebakaran kemarin adalah perbuatan dari uncle Bill. Dia diet juga akan memanfaatkan There sebagai pion untuk menghadapi kita tidak tahu Dengan cara bagaimana tapi aku yakin itulah yang akan dilakukan oleh Bill sebagai balas dendam terhadap kegagalannya membunuh diriku." kata Valen lagi sambil berpikir keras, apalagi kira kira yang akan dilakukan oleh pamannya itu. Mungkin selama ini pamannya hanya diam karena ia tidak mau gegabah setelah gagal membunuhnya beberapa tahun yang lalu, toh dirinya terpisah dari ayahnya. Jadi dia tidak mungkin jadi pewaris kekayaan Weston. sedangkan selama ini Willy juga dijaga ketat oleh pemgawal pengawalnya sehingga Bill harua memutar otaknya secara keras untuk bisa membunuh kakaknya sendiri sehingga Weston menjadi miliknya.
" Lalu apa yang harus kita lakukan?" ,tanya Revan dengan nada cemas. Untungnya Valen berhasil mengingat potongan potongan gambar masa lalunya disaat yang tepat.
" Kita pindahkan ayah ke rumah skait kita saja, karena mungkin akan leboh aman. Ingat kan kalau dulu obatku pernah diganti dengan obat untuk menghilangkan ingatan. Aku takut kalau kejadian yang sama bakal menimpa ayah. Setidaknya di rumah sakit kita sendiri akan lebih aman. Kita bisa cek dokter dokter yang akan menangani ayah disana. " kata Valen dengan nada lirih. Dia tidak mau ada orang yang tahu akan rencananya bersama Revan nanti.
" Ide bagus, aku rasa juga begitu. Lebih aman saja. Tapi apakah kita bisa memindahkan tuan Willy sekarang mengingat baru saja dia mengalami kecelakaan yang hebat. Apa aman kalau pindahannya sekarang?" tanya Revan dengan nada ragu.
" Kita tanyakan saja pada dokter kepercayaan kita di rumah sakit kita. Kamu bisa hubungi dokter Prayogo di runah sakit kita. Bilang ini adalah proyek rahasia. Jngan sampai ada yang tahu kalau ayah kita pindah ke runah sakit kita. Lakukan dengan hati hati dan.jangan sampai nomer kamar tempat ayah dirawat nanti sampai bocor ke tangan wartawan. Kamu atasi juga wartawan dan media media itu. Agar Uncle Bill tidak akan tahu kemana ayah berada." kata Valen lagi dengan suara lirih, sambil segera masuk ke dalam kamar VIP.
.
.
.
__ADS_1
TBC