
Ada yang bilang kok pengulangan panjang amat ya thor, ini karena thor kadang suka lupa dengan ending di kisah sebelumnya, jadi supaya nyambung menjadi satu rangkaian cerita jadi thor terpaksa kasi masuk beberapa part di episode sebelumnya, tapi kuganti yang bawahnya kulebihin kok, he he he
Jangan lupa untuk tetap like, vote dan gift yang banyak. Karena itulah yang mendukung thor bisa beli pulsa, kalau tau pasti ngenes deh. Demi kalian aku bela belain cape pun tetep update sampai begadang di malam malam sunyi, untuk readers tersayang, ciehh apa aja sih!! wkw kw k .. Maka dari itu jangan lupa vote, like dan gift yang banyak ya.. Happy reading!!
***
"Sekarang apa yang menjadi rencana dari tuan kamu itu selanjutnya?" tanya Erik dengan nada menyelidik. Tapi orang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah karena ia juga tidak tahu setelah ini ada tugas apa lagi
"Belum ada penugasan apapun sih!" katanya dengan singkat.
Valen menarik Erik keluar dari tempat itu, ia tidak sabar dengan kenyataan bahwa orang ini tidak tahu menahu dengan apa yang dirancangkan oleh pamannya itu, apa yang sebenarnya pamannya mau lakukan terhadap pembebasan There?
"KIta tidak bisa gegabah, dalang dari semua ini bener bener gila!! Aku takut... aku takut mereka akan menyakiti Anin dan ayah!" kata Valen sambil menyugar rambutnya yang terlihat acak acakan, tapi karena Valen pada dasarnya tampan maka itu tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Aku tahu, jadi aku rasa kamu perlu dengar apa yang menjadi pemikiranku." kata Erik dengan nada lirih, ia tahu kemungkinan Valen tidak setuju dengan keinginannya itu pastilah besar tapi ini lah jalan satu satunya supaya Anin anaknya dan Ayahnya terhindar dari masalah.
" Aku punya feeling ya ga enak atas skenario yang bakal kamu share sama aku saat ini." wajah Valen menatap tajam kepada Erik, dan Erik pun hanya bisa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Karena ia tahu, Valen pasti marah dan bisa saja memukul kepalanya saat ia bercerita, tapi apa boleh buat, ini kayaknya akan menjadi jalan terindah di tengah masalah yang terjadi.
***
__ADS_1
Anindya keluar dari kamar mandi ruangan VVIP rumah sakit di tempat dimana mertuanya dirawat. Dan dirinya terkejut mendapati Valen sudah duduk manis di sofa dengan baju yang sama kusutnya dengan wajah Valen saat ini.
"Mas, .." panggil Anin dengan wajah resah melihat suaminya itu hanya diam dan membisu, menatap ke tembok rumah sakit yang berwarna putih dengan tatapan kosong, seakan raganya ada disini tapi tidak dengan jiwanya serta pikirannya.
"Mandi dulu, mas! " kata Anin lagi sambil mendekati suaminya dan duduk di samping suaminya yang masih menatap kosong ke arah tembok.
Valen hanya diam saja, dan Anindya berusaha untuk memaklumi kekalutan suaminya itu. Membujuk juga mungkin tidak ada gunanya. Anin kemudian beranjak dari sofa, mengajak suaminya untuk bangun dari sofa. Untung saja kali ini Valen menurut, mengikuti langkah istrinya yang membimbingnya ke kamar mandi. Anin masuk bersama suaminya yang masih terdiam ke shower box, menyalakan air hangat agar suaminya bisa mandi. Anin membantu Valen yang masih terdiam, melepaskan baju dan celananya dari tubuh suaminya yang atletis, tanpa ada pemikiran yang kotor, dia membantu suaminya itu untuk memandikannya. Bak memandikan bayi besar, Anin dengan hati hati mengusap sekujur tubuh suaminya yang masih terdiam tanpa reaksi.
Anindya tahu, Valen masih seddikit trauma dengan yang namanya kecelakaan, karena Valen pernah mengalaminya. Setelah membersihkan suaminya, dia segera keluar untuk mengambilkan baju yang sudah disediakan oleh para ART dan mbok Siti yang sempat datang tadi mengantar baju dan makanan. Rencananya, mereka akan tidur disini. Valen tidak mau istrinya sendiri di rumah besar maka ia menyiapkan sofa tidur yang baru dibelinya, untuk tidur dirinya dan Anin. Di tengah ruangan yang besar itu ayah mertuanya juga belum sadarkan diri. Tapi sebenarnya tadi dokter juga sudah memberitahukan kalau tanda tanda kritis sudah berlalu, ini yang membuat Anin sedikit lega dengan kenyataan baru yang mungkin belum diketahui oleh suaminya.
Valen sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang disiapkan istrinya itu, kemudian Anin masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya yang basah akibat memandikan suaminya tadi. Selesai berganti pakaian , ia keluar dari kamar mandi, dan melihat Valen yang duduk di samping ayahnya sambil memegang tangan ayahnya. Anin rasa ini waktu yang tepat untuk mengabarkan kabar baik yang tadi di sampaikan oleh dokter Prayogo saat kunjungan tadi.
" Sayang, wajah kamu terlihat pucat ." kata Valen sambil mengerutkan kening.
"Masa sih? Mungkin karena aku belum makan ya mas?" tanyanya sambil terkekeh kecil, tapi tidak dengan Valen, ia marah dengan pernyataan istrinya itu. Dia menganggap istrinya menyepelekan anak anak yang ada di dalam kandungannya.
" Anindya, apa maumu sebenarnya? Kamu kan tahu kalau kamu sekarang ini sedang hamil, dan mereka sangat membutuhkan asupan gizi dan makanan yang sehat untuk anak anak kita." katanya dengan nada tinggi, membuat Anindya terkejut dan merasa sakit hati karena Valen membentaknya dengan nada tinggi. Mungkin juga karena hormon kehamilannya membuat Anindya merasa sangat sakit hati. Anindya hanya bisa terdiam saja tidak menagggapi kemarahan suaminya itu, bahkan ia membuang wajahnya kesamping untuk menyembunyikan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Tapi ia tidak bisa menghindarkan air mata yang sudah jatuh di pipinya yang halus.
Valen sempat melihat air mata di pipi istrinya itu, ia jadi merasa bersalah telah berkata kata dengan kasar kepada istrinya yang sangat ia cintai itu, tak seharusnya di tengah kekalutannya itu ia menumpahkannya kepada istrinya. Rasanya tidak adil, apalagi istrinya sedang hamil tua.
__ADS_1
"Maaf sayang. Thats my bad! I am so sorry !!! Aku tidak bermaksud apa apa. Aku hanya khawatir sama kamu dan anak kita. Maaf maaf.!" katanya sambil menghampiri istrinya yang masih memalingkan wajah darinya. Valen tambah merasa bersalah, karena seakan Anin tidak mau menatap wajahnya. Sampai pada akhirnya karena Valen tidak sabar, ia langsung menangkap dagu Anin dan memaksanya agar mau menoleh ke arahnya. Wajah yang penuh dengan linangan air mata itu ia kecupi dengan lembut, sebagai permohonan maafnya kepada Anin, bahkan ia juga tidak melewatkan untuk mencium bibir istrinya yang terasa manis itu. Tapi Anindya masih saja diam dan tidak merespon suaminya.
" Maafkan suami kamu yang bodoh ini ya! Ada banyak masalah yang menimpa kita, dan tidak seharusnya aku menimpakan ini sama kamu, padahal kamu sudah repot harus mengurus ayah ditengah kehamilan kamu ini. Aku sungguh sungguh minta maaf." kata Valen dengan nada lembut, masih memeluk tubuh istrinya dari samping karena ia tidak mungkin bisa memeluk Anin dengan perut yang sebesar itu.
.
.
.
.TBC
Hari ini diusahakan bisa up lagi ya gengsss!! Jangan lupa like, vote dan gift yang banyak yaa!! Kalau giftnya banyak langsung auto gas up lagi...thankss
.
__ADS_1