Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 119.


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


***


Hati Anindya sepanjang pagi ini Aku merasa resah. Setelah melepas kepergian Vallen pagi-pagi buta tadi dia merasa tidak tenang. Anindya merasa bahwa akan ada masalah yang terjadi.


Apalagi saat Valen berangkat jam 2 pagi tadi, aura dari wajah Vallen itu gelap. Sebenarnya dia tidak khawatir karena Vallen akan pergi bersama Revan. Tapi yang membuatnya takut adalah kepergian Vallen itu hendak bertemu dengan organisasi mafia yang Anin tahu pasti bakal membuat hidup Vallen tidak akan sama.


Ani memang tidak tahu dengan peristiwa yang menyangkut masalah Erik yang disandera oleh kelompok Alicia dan Paman Bill. Akan tetapi firasatnya mengatakan hari itu akan terjadi hal yang buruk, dan Anindya takut kalau kejadian buruk itu menimpa suaminya.


Waktu berlalu begitu cepat, jam makan siang pun segera tiba. Tadi Anindya memberikan pesan singkat kepada suaminya menanyakan apakah suaminya akan pulang siang hari ini. Karena kalau memang suaminya akan pulang siang hari ini dia akan ini akan makan siang untuk suaminya itu. Kebetulan kedua anaknya anteng-anteng saja bersama perawat-perawat yang menjaganya. Mereka memang anak yang baik, dan memang dari lahir tidak pernah rewel berlebihan paling hanya nangis kalau minta susu saja.


Anindya semakin besar karena pesan singkat yang dikirimkan kepada suaminya itu tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Padahal suaminya itu selalu paling cepat membalas pesan atau meneleponnya tiba-tiba. Anindya sengaja hanya mengirimkan pesan singkat saja karena dia takut kalau kalau Valen sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat telepon. Lebih baik dia mengirimkan pesan singkat agar bisa dibantu oleh suaminya saat suaminya available.


Sejak menyusui kedua anak kembarnya Anindya itu sering kelaparan, karena kedua anaknya itu menyusu dengan sangat rakus. Oleh karena itu Anindya sudah mulai menyiapkan makanan untuk makan siangnya kali ini. Berhubung anaknya sedang tertidur dan dijaga oleh para perawat dia bisa dengan bebas memasak untuk kebutuhan makannya siang ini dan juga untuk makan Ayah mertua, para pegawai serta ART yang ikut dengannya di Panti Asuhan itu.


" Ayah, mau makan di kamar atau di ruang makan?" tawar Anin kepada ayah mertuanya, kalau seandainya Ayah mertuanya untuk makan di dalam kamar,Anin akan menyuruh perawat ayah untuk mengambilkan makanan di ruang makan. Kalau mau makan di ruang makan biar perawat membawa ayah memakai kursi roda agar ayah tidak kepayahan.

__ADS_1


Beberapa waktu sehabis masa terapinya berlangsung, ayah Valen mengalami beberapa kemajuan. Yang dahulunya tidak bisa berjalan sama sekali karena ada patah tulang di beberapa tempat di kakinya, sekarang sudah bisa berjalan menggunakan tongkat.


Tapi terkadang Anindya tidak tega kalau membiarkan Ayah mertuanya itu kelelahan akibat memakai tongkat. jadi ayah mertuanya lebih sering dirawat oleh perawat-nya itu menggunakan kursi roda.


" Ayah mau makan di meja makan saja, nak! Ayah cukup bosan kalau sehari-hari hanya di kamar saja. Memang sih kadang-kadang perawat mengajak berjalan-jalan di taman belakang dan di dekat kolam renang. Tapi pengen juga ketemu dan berjalan-jalan di luar rumah sama seperti dulu."


" Doakan juga iya, Yah. Supaya kondisinya cepat kondusif dan ayah bisa keluar jalan-jalan seperti dulu lagi. Tapi sebelum segala sesuatunya jelas lebih baik ayah dan Anin nunggu di rumah ini dulu saja, di sini lebih aman karena posisi di depan kan tertutup dengan Panti Asuhan milik Mas Vallen. Anin dengar suasana di luar belum aman, yah! Ini Mas Vallen aja dari sejak dini hari tadi pergi bersama Kak Revan mengurus sesuatu yang Anin tidak tahu. Mudah-mudahan saja mereka semua dilimpahi perlindungan oleh Tuhan dan bisa pulang dengan selamat! Amin!" kata Anindya Seraya memanjatkan doa untuk suami dan kakak angkat suaminya itu supaya mereka diberi perlindungan dan keamanan oleh Tuhan Yang Maha Esa.


" Amin! Memangnya mereka berdua pergi ke mana sih? apa tidak ngomong sama kamu?" tanya ayah dengan nada heran. Semestinya kalau Vallen Pergi bersama Revan berdua saja Berarti ada sesuatu yang gawat yang harus mereka selesaikan bersama. Ayahnya juga Seorang pebisnis jadi dia tahu betul ketika mereka ada gangguan dari luar harus segera ditanggulangi. Tapi gangguan apalagi yang saat ini menyerang Weston Group? Ayah Vallen tetap mengira bahwa ini adalah pekerjaan dari adiknya yang suka sekali mengganggu kehidupan mereka. Dan kemungkinan kondisi yang seperti ini diakibatkan karena Adiknya juga.


Ayah curiga dengan keadaan Valen dan Revan tapi ayah tidak berani mengungkapkan itu kepada Anindya menantunya. Kalau sampai Vallen saja tidak memberitahukan apa-apa kepada Anindya jadi pasti itu menyangkut hal yang berbahaya. Ayah Vallen jadi ikutan khawatir kalau sampai terjadi apa-apa kepada anak tunggalnya itu. Untung saja dengan kecerdasan Vallen menyembunyikan dirinya dan juga istrinya serta anak anaknya sehingga Valen tidak usah memikirkan tenatang keselamatan anak, istri dan ayahnya.


" Kamu yang sabar ya, nak! Mungkin.dia benar sedang sibuk!" kata ayah mertuanya menenangkan.


" Anin tidak marah kok, yah! Cuman cemas aja dengan kondisi Valen. Perasaan Anin tidak enak takut mas Valen kenapa kenapa." kata Anin menjelaskan.


Ayah mertuanya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan menyuruh perawat yang biasa merawatnya mengambilkan kursi roda supaya dia bisa melangkah ke kursi roda dan memakai kursi roda itu untuk ke ruang makan.

__ADS_1


Ayah mertuanya mengambil sikap untuk segera makan saja supaya tidak terlalu membebani pikiran dari menantunya itu. Dia pikir nanti kalau setelah makan dia akan mencoba mencari pegawai kepercayaan yang ada di restoran grup untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Weston grup.


Sedangkan Anin yang sudah melangkah ke ruang makan langsung menyediakan makanan untuk ayah mertuanya itu serta menyisihkan sebagian yang lainnya untuk orang-orang yang bekerja pada dirinya.


Tiba-tiba pengawal yang biasa berjaga di depan pintu Panti Asuhan itu bergegas masuk ke dalam, membuat Anindya dan ayah mertuanya menoleh kearah di mana pengawal itu masuk. Anindya Curiga dengan tingkah laku dari pengawal itu yang terlihat begitu tergopoh-gopoh. Padahal rasa-rasanya tidak ada apa-apa di luar.


" Kenapa pak? Ada masalah kah diluar?" tanya Anin dengan nada tegas.


" Ehm, bu. Saya dapat kabar dari beberapa pengawal yang berjaga di lingkar depan bahwa ada pasukan yang masuk ke tempat ini." kata pengawal itu dengan terbata-bata karena dia masih melancarkan napasnya yang masih ngos-ngosan.


" Kamu sudah menghubungi Erik atau Revan atau mungkin buat Vallen?" tanya ayah mertua dengan nada bijaksana.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2