
Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Hari ini carzy update wk wk wk so Happy reading!!
***
Wajah Ayah tampak lesu ketika mendengar perkataan dari anaknya itu, sehingga membuat Anindya tidak tega. Pada akhirnya Anindya langsung berkata kepada ayah mertuanya itu.
" Tidak apa-apa ya yah! Kalau sudah lewat dari 35 hari dan anak-anak bisa dibawa keluar Anindya akan menemani Ayah untuk membawa anak-anak jalan-jalan jadi ayah tidak perlu kuatir kalau anak-anak tidak mendapatkan asupan makanan." kata Anin sambil menepuk-nepuk bahu ayah mertuanya itu supaya Ayah mertuanya menjadi bersemangat kembali.
Dalam hati Valen merasa bangga dengan istrinya itu, Anindya selalu bisa melihat suasana dan mungkin Anindya justru lebih bisa memperhatikan ayah mertuanya yang kadang-kadang Vallen pun tidak bisa seperti Anindya.
" Mas, kamu itu sudah ditunggu sama Erik dan Revan, kenapa kamu malah berlama-lama disini." tanya Anin dengan nada dongkol. Karena barusan saja Vallen membuat Ayah mertuanya itu menjadi sedih.
" Jangan marah-marah dong sayang! Kan Daddy belum ketemu sama kedua jagoan daddy yang sedang bermain-main di dalam boks itu. " kata Vallen sambil menunjuk kedua box yang ada di tengah-tengah kamar yang merupakan tempat istirahat dari kedua buah hatinya.
Lalu Vallen segera menghampiri kedua box itu dan mengangkat Liam ke dalam pelukannya lalu menciumnya dengan gemas sehingga Liam sedikit merengek gara-gara ayahnya mengganggu kenyamanan nya untuk bermain.
Begitu pula saat dia menghampiri box milik Lios dan mengangkat Lios ke dalam pelukannya, kembali menciumi pipinya yang chubby dengan gemas tapi beda dengan saudara kembarnya Lios hanya tertawa-tawa saat ayahnya itu menciumnya dengan gemas.
Anin yang memperhatikan tingkah laku dari suaminya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena kesal dengan kelakuan suaminya yang kerjaannya ingin mengganggu anak-anaknya saja. Padahal anak-anaknya itu sedang bersantai-santai setelah berjemur di luar.
__ADS_1
Setelah puas memeluk dan menciumi anak-anaknya Vallen langsung bergegas meletakkan mereka dan berpamitan kepada ayah serta istrinya untuk menemui Erik dan Revan yang pasti sudah menunggu di ruang samping kamar ayah Vallen yang dibuat menjadi ruang kerja dadakan untuk Vallen saat Vallen berada di Panti Asuhan ini.
Sesampainya dikamar kerjanya Valen langsung menemukan kedua wajah tegang sahabatnya. Mereka menatap Vallen yang barusan masuk dengan tatapan menuduh. Membuat hati Vallen sedikit merasa bersalah karena dia sangat lama menemui kedua sahabatnya itu.
" Ada yang ingin disampaikan?" tanya Valen dengan nada datar.
" Lama banget sih? Ingat istrimu masih dalam masa nifas." kata Revan dengan sinis.
" Aku perlu menata hatiku." sahut Valen dengan nada datar dan pendek.
Revan dan Erik sebenarnya tahu apa yang dirasakan oleh temannya ini tapi ini memang perkara yang harus ditangani secara cepat jadi tidak bisa menunggu terlalu lama.
Vallen hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia menyetujui dengan saran yang diberikan oleh Revan.
Dia juga tahu resiko ketika pamannya itu masuk ke dalam penjara bisa jadi dia akan melarikan diri lagi atau bahkan dia bisa mendapatkan pertolongan sehingga dia tidak jadi dihukum mati.
Padahal menurut Vallen kejahatan dari pamannya itu sungguh sangat luar biasa dan dia layak untuk mendapatkan hukuman mati. Kalau Valen sendiri sih dia ingin menghancurkan pamannya itu dengan kedua tangannya sendiri.
Namun kedua sahabatnya itu tidak mengijinkan Vallen untuk turun tangan dan mengotori tangannya sendiri dengan darah pamannya. Mereka lebih menginginkan kalau pihak kepolisian yang melakukan hukuman untuk paman Vallen itu.
__ADS_1
Jadi Vallen pun merasa pasrah dengan pengaturan yang sudah dilakukan oleh kedua sahabatnya itu. Dia ingat bahwa di saat dirinya terpuruk hanya dua orang itu yang menolongnya. Apa lagi status Revan yang menjadi anak angkat dari ayahnya.
" Baiklah kalian lakukan seperti yang sudah kalian pikirkan dan rancangkan itu. Aku sama sekali tidak keberatan Kalau Kalian membunuh Paman ku di dalam penjara. Bagiku kejahatannya sudah sangat fatal, dia membunuh ibu yang melahirkan aku, dan juga dia ingin membunuh istri yang sudah memberikan aku kedua anak yang tampan. Belum lagi pengakuan Anna kemarin tentang ingin mencekoki anakku dan keturunanku itu dengan obat supaya memiliki keterbelakangan mental dan kemudian meninggal dengan mengenaskan. Sungguh sebuah Pemikiran yang sangat jahat menurutku! Lakukanlah seperti apa yang kamu pikirkan karena menurutku kamu pasti mengerti apa yang menjadi perasaanku." kata valen dengan nada lirih.
Revan dan Erik saling berpandangan ada yang pasti mereka katakan kepada Vallen bahwa sampai sekarang mereka memang belum menemukan jejak dari Paman Bil. rupanya Paman Bill sudah merasa bahwa Vallen menemukan jejaknya. dia sudah merasa bahwa Anna ketangkap basah, jadi pamannya Vallen itu sudah melarikan diri tanpa jejak. Mereka merasa bahwa Paman nya Vallen itu memiliki identitas tersembunyi yang mereka tidak ketahui karena bagaimana bisa seseorang pengusaha biasa bisa melarikan diri dan menyembunyikan diri secara cepat.
Beda dengan Erik yang merupakan investigator sekaligus intelijen kepolisian yang terbiasa berkamuflase dengan berbagai identitas.
" Bro... tetapi pergerakan kita sedikit terlambat karena rupanya itu sudah bisa ditebak oleh pamanmu atau memang dia menanam mata-mata di seputaran kita sehingga dia bisa mengerti bahwa rencananya sudah bocor." jelas Eric dengan sedikit terbata-bata karena dia tahu Valen pasti merasa shock dan ketakutan karena berarti anak-anak serta istrinya belum aman untuk keluar.
.
.
.
TBC
Enaknya up lagi ga ya hari ini? Mumpung aku lagi baik. Tolong minta like yang banyak vote serta gift yang banyak. Langsung up lagi.nih... ha ha ha
__ADS_1