Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
Extra part 1


__ADS_3

"Ayo sayang, kita harus segera bergegas . . ." kata gustaf sambil menuntun baby yang kesulitan untuk berjalan. Ya ini memang saatnya baby untuk melahirkan karena air ketubannya sudah merembes di sebelah kanan kakinya.


Baby yang ngotot ingin melahirkan dengan secara normal harus mengalami kesakitan yang begitu luar biasa saat detik-detik baby harus melahirkan, rupanya si kembar bahkan tidak sabar untuk menantikan mereka launching keluar dari tubuh ibunya.


"Sayang, sabar ya..."


Untung saja saat baby kesakitan seperti itu Gustav dengan siaga sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai dari pakaian-pakaian bayi yang sudah disiapkan oleh mereka berdua dan juga mobil yang selalu standby dengan supir pribadi yang sudah dipilih oleh Gustav sebelum waktu-waktu melahirkan terjadi.


"Ayah dan ibu akan menyusul dari pesta teman mereka, sayang!" beritahu gustaf kepada istrinya itu karena istrinya dari tadi hanya diam saja tidak berbicara apa-apa padahal biasanya istrinya itu sangat cerewet dan mengomentari segala macam hal, namun mungkin karena saat ini dirinya lagi kesakitan dan tidak ingin membuat suaminya ikut gugup maka baby sengaja tidak mengucapkan apa-apa supaya dia tidak akan berteriak-teriak kesakitan saat ini.


Tapi walaupun baby menahan rasa sakit di dalam dirinya itu, Entah kenapa suaminya itu merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya jadi dia sengaja mengajak berbicara baby supaya baby lebih tenang dan lebih rileks dalam menghadapi kesakitan yang saat ini dialami karena si twins akan segera launching.


"Sayang, nanti kalau seandainya kamu tidak mau melahirkan secara alami atau normal kamu bisa request langsung sama dokter untuk segera melakukan operasi saja karena mas tidak mau kalau kamu sampai terlalu kesakitan sehingga membuat akan ada banyak hal yang harus kita korbankan." katanya sambil mengelus perut istrinya itu Mencoba berusaha untuk menenangkan si twins yang ada di dalam perut mamanya supaya si twins bisa menahan diri setidaknya tidak membuat mamanya melahirkan di dalam mobil karena dirinya Pasti akan sangat kebingungan kalau sampai si twins launching di dalam mobil.


"Iya.. kamu tenang saja." memang perkataan dari baby sangat berbeda dengan apa yang saat ini dia lakukan terhadap suaminya.


Mungkin karena kesakitan yang begitu luar biasa yang dialami oleh baby maka tanpa sengaja dirinya mencengkeram erat lengan dari suaminya itu sehingga kuku-kukunya melukai lengan suaminya yang kekar dan berotot itu, namun tentu saja Gustav tidak protes sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu bahkan dirinya sengaja tidak berbicara apa-apa supaya istrinya bisa melampiaskan rasa sakitnya itu di lengannya sendiri.


Ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya yaitu kesakitan yang luar biasa saat istrinya itu akan melahirkan si kembar.


"Tuan, kita sudah sampai di rumah sakit bersalin dan juga mereka sudah mempersiapkan brankar untuk Nyonya muda di lobby depan UGD." kata sopir pribadinya yang bernama Rinto, dengan segera karena dirinya sudah diberitahu oleh asisten pribadi dari Gustav yaitu Ken, untuk segera menghubungi rumah sakit bersalin tersebut apabila Nyonya mudanya ada keluhan melahirkan, supaya mereka segera bersiap di lobby depan.


"Baik, suruh mereka yang suster saja yang mendekat, karena kamu tahu kan aku tidak suka ada perawat laki-laki yang melihat tubuh istriku jadi hanya yang wanita saja!" perintah gustaf kepada sang supir agar segera membersihkan area tempat di mana istrinya akan melahirkan dan juga tanpa di mana istrinya akan berbaring di mana istrinya akan segera dibawa ke ruangan melahirkan.


Sang sopir segera melakukan apa yang dikatakan oleh Gustav karena memang ini juga salah satu bagian daripada job descriptionnya yang sudah diberikan kepada asisten pribadi Gustav sebelum dia melakukan pekerjaannya.


Rinto menganggukkan kepalanya dan segera melakukan apa yang dikatakan sehingga saat ini areal tempat baby akan dinaikkan ke atas tempat tidur dan dibawa ke dalam kamar operasi sudah bebas dari mata laki-laki lain Bahkan sang supir pun tidak melihat prosesi itu sama sekali.


"Mas, sakit..." katanya sambil mencengkeram erat lengan Gustav dan tidak ingin melepaskannya sama sekali, memang Gustav pun juga tidak ingin melewatkan sedetikpun dari prosesi melahirkan istri dan kedua anaknya yang akan segera hadir di dunia ini.


" Kamu Tenang saja Mas pasti akan ikut masuk ke dalam ruangan di mana kamu melahirkan dan akan menjaga kamu beserta kedua anak kita sampai mereka lahir ke dunia ini." kata gustav dengan nada tenang karena dia tidak ingin istrinya akan gugup atau merasa ketakutan saat melahirkan. Disinilah perannya sebagai suami karena sudah menghamili seorang wanita muda bahkan sangat muda sekali, jadi dirinya sama sekali tidak mau membuat istrinya itu menjadi ketakutan atau akhirnya kebingungan dengan kehamilannya yang pertama, apalagi kehamilannya kali ini adalah kembar.


" Tuan ini istrinya sudah pembukaan lengkap Jadi kemungkinan akan langsung dilanjutkan dengan melahirkan secara normal, " info dari dokter Nur, yaitu dokter wanita paruh baya yang sengaja dipilih oleh Gustav menggantikan dokter yang pertama karena Katanya dokter yang awal mengurusi kehamilan istrinya itu sedang pelatihan kembali di luar negeri.


" Oke, yang penting istri saya bisa melahirkan dengan aman dan selamat begitu pula anak-anakku bisa lahir dengan selamat." sahut Gustav dengan nada datar, ia masih cemas melihat kondisi Baby yang kesakitan dalam hati ia tak akan mengijinkan Baby hamil lagi.


" Oke, bu . . . twins akan segera lahir, hanya tinggal mengejan saja, bayi pertama akan segera lahir." kata sang dokter memberi aba aba.


" Erghhhh..." baby hanya menjawab dengan erangan kesakitan saat sang dokter memberi aba aba.


" Siap, semuanya sudah ready dok.." kata salah satu perawat menanggapi sedangkan Gustav sendiri hanya menatap wajah istrinya yang kesakitan.


" sayang kamu harus buat demi kedua anak kita dan kalau bisa sesudah ini kita tidur sudah punya anak lagi saja karena melihat kamu kesakitan seperti itu Aku malah Rasanya kepingin kalau yang menderita sakit itu aku saja dan bukan kamu." kata Gustav sambil terus menyemangati istrinya yang kesakitan dengan cara memegang tangannya dan membiarkan istrinya Itu menyakiti tangannya karena kuku-kuku dari istrinya itu menancap roti lengannya membuat lengannya itu tergores dan berdarah, tapi Gustav sangat yakin bahwa rasa sakit yang ia derita dengan rasa sakit yang diderita oleh baby akan beratus-ratus secara lipat bedanya Oleh karena itu surga itu selalu ditelapak Kaki Ibu dan bukan di telapak kaki bapak.


Pikiran mustafanya terpusat pada kesakitan yang diderita oleh istrinya dan sama sekali tidak memperhatikan kalau anak yang pertama sudah meluncur keluar, dan saat ini sudah menangis hebat dipelukan seorang suster yang langsung membersihkan anaknya itu.


" Selamat ya pak, anaknya laki laki, " kata dokter itu memberikan informasi kepada Gustav untuk segera melihat anaknya yang saat ini digendong oleh suster namun dirinya tidak mau menyinggungnya terlebih dahulu dan memusatkan perhatiannya kepada istrinya yang akan melahirkan anak keduanya.


" Kamu sangat hebat sayang!" katanya mencoba menyemangati istrinya yang saat ini masih kesakitan dan berjuang untuk mengeluarkan anaknya yang kedua.

__ADS_1


" Oek oek . . ."


anak keduanya pun sudah keluar dan segera dibersihkan oleh dokter dan juga perawat tapi herannya dokter belum memberikan apa-apa apapun tentang anak ini karena dokter tambah sibuk untuk membersihkan dan melakukan sesuatu terhadap anak kedua yang sudah lahir dan menangis memang tangisannya berbeda dengan tangisan bayi yang pertama yang terlihat kuat dan juga sehat.


" Kenapa dok?" tanya Gustav dengan nada cemas dan khawatir begitu pula dengan baby yang merasakan ada aura berbeda dari dokter tersebut.


.


.


.


TBC


Hai guys, masih kangen sama Gustav dan Baby, ini extra part yang mungkin tidak akan teratur up nya tapi jangan cemas, sudah ada Suamiku, kekasih mamaku yang sudha bakal up secara teratur di jam 12 siang, so cek spill babnya ya


Spill bab Suamiku kekasih mamaku by Nophie.


Hans tak bisa lagi menahan kesabarannya, ia harus tegas dengan istri kecilnya itu. Masa Letta bakal menangis sehari semalam, ia juga butuh istirahat! Dan butuh dimanjakan juniornya kan?


"Letta, kalau kamu gak berhenti menangis jangan salahkan aku kalau aku akan mencium kamu sekarang!"


Demi apa coba?Hanya dengan ucapan itu saja, Aletta terdiam seketika. Oh jadi ia tak mau dicium?Oh lalu bagaimana ia bisa meminta haknya dong?


"Om, tapi hutangku banyak, gimana dong!" rengeknya lagi. Padahal Hans tidak memperdulikan uang 3 miliar itu, baginya 3 miliar itu macam upil baginya. dalam 1 hari penghasilannya 1 trilliun, jadi baginya 3 miliar itu uang ngopi ajah!


Tapi bukan bisnisman namanya kalau tidak bisa memanfaatkan keadaan kan?


Letta langsung menatap Hans dengan pandangan penuh terimakasih sebelum kalimat selanjutnya ia dengar.


"Makasih om, lalu aku bayarnya gimana?" tanya Letta dengan sorot penuh rasa syukur.


"Dicicil aja, gampang kan?" sahut Hans lagi.


"Makasih ya om, jadi saya nyicilnya brapa?" tanyanya lagi dengan polosnya.


"Gak usah pake uang!"


"Oh dengan tenaga ya om?" katanya dengan penuh semangat, cuci cuci baju, atau masak juga oke lah..


"Gak, pembantu dan pegawaiku sudah banyak, dan minimal mereka titelnya S1, OB dan juga OG juga S1." katanya dengan nada santai.


"Lha trus Letta kerjanya apa om?" tanyanya dengan polos.


"Memuaskan ku di atas ranjang dan bayarnya cuman pakai tubuh kamu, gimana?" sahutnya dengan nada tak bersalah, sambil menaik turunkan alisnya serta memasang wajah mesum kuardat, membuat Letta mau tak mau melirik tajam ke arah suami tuanya itu dengan pandangan kesal serta mengumpat..


"Om kamu mesum banget ihhhh!!!" katanya dengan nada ketus. Bagaimana bisa sang suami mengatakan hal itu kepadanya, tapi setelah ia pikir pikir lagi emang itu adalah hak dari om Hans karena sekarang ini ia sudah menjadi suami sah dari seorang Aletta. Tapi ia belum siap melakukan hal yang iya iya dengan pria tua itu. Uhhh bagaimana nasibnya ini?


"Lha pilihan ada di tanga kamu loh!kayaknya dari pihak WOnya bakal menuntut kamu.."

__ADS_1


"Om tapi kita kan suami istri, harusnya om bertanggung jawab sama aku sekarang kan ya?" rengek Aletta, yang saat seperti ini mengingat kalau dia istri dari seorang Hans. Membuat Hans menjebik kesal, istrinya ini ajaib, dicium gak mau, diperawanin gak mau, tapi giliran punya hutang minta dibayarin. Gak bisa dong, Hans harus bisa mendapatkan haknya sekarang!Malam ini!Hans hanya nyengir kuda, karena dia itu licik, masa ia tak bisa membuat istri kecilnya itu menyerah karenanya?


"Ih yang salah siapa, kok aku disuruh tanggung jawab!Ogahhh! Bahkan kamu aja gak pernah nurut sama suami kok!"


"Kapan sih aku gak nurut, om!" katanya menghindar dan dengan suara yang dilembut lembutkan.


"Kan tadi sudah sepakat manggilnya mas, atau honey, atau Beb..."


"Ya ampun om eh mas... mas aja deh jangan yang aneh aneh kayak gitu. Di dengernya alay loh om, eh mas!"


" Hmm.."


"Gak usah bayar pakai tubuh ya? " ketakutan bakal dipenjarakan oleh WO karena merusak gaun tidak bisa dipungkiri membuat Aletta sedikit gusar, ia kan beda kasta kalau dibandingin sama Hans. Kakek sekalipun punya usaha tapi memang jauh banget dan gak setajir Hans, sehingga bagi Letta uang miliaran itu sangaaaaaat banyak.


" Ya gak usah!Tapi kalau besok dari pihak WO menuntut ya aku gak ikut ikut.."


"Mas kamu tega sama istri kamu, mas?" rengeknya manja, membuat si boy ikutan protes.


"Kamu aja tega kok gak mau ngelayanin suaminya."


"Tapi Letta gak bisa, dan gak pernah begituan..."


"Emang kamu mau begituan sama yang lain?Justru seharusnya kamu itu praktek ya sama yang sudah sah kayak gini." sahut Hans gembira berarti istrinya ini benar benar masih perawan ting tong!


Letta manyun dan benar benar bimbang, tapi yang dikatakan sama Hans itu benar. Ia sudah menikah dan sah sah saja kalau ia menyerahkan kehormatannya sama suaminya itu. Tapi, bayngan Hans pernah bercumbu bersama mamanya membuat dirinya kesal dan sedikit malas membahas masalah begini sama Hans.


"Apa mas sudah benar benar move on dengan mama?" tanya Aletta dengan nada menyelidik. Ia hanya ingin tahu, karena ia tak mau kalau Hans masih memikirkan mamanya, walau ia menyayangi mamanya tapi ia tak rela kalau ada wanita lain di dalam pikiran dan perasaan suaminya.


"Huh!Sebenarnya aku tidak pernah terlalu dalam mencintai sebelum menikah dan sah! Tapi aku serius ingin memulai segalanya dengan yang baru dan itu hanyalah dengan kamu, walau notabene kamu itu dulunya adalah calon anak tiriku. Mungkin jodoh aku harus bersama dengan kamu?"


"Soalnya aku pernah melihat mas ciuman sama mama..."


"Jadi maksud kamu, kamu cemburu?Oh come on Letta! Itukan masa lalu dan mama kamu juga sudah tiada.." katanya sambil mengacak rambutnya.


"Iya tapi..."


"Sudah kamu mandi dulu, sini kutolongin kamu untuk buka gaunnya sehingga kerusakannya gak parah!Ingat ya kamu sudah janji sama aku untuk membayar ganti rugi dengan tubuh kamu, jadi cepat mandi dan persiapkan diri kamu." katanya dengan sedikit gusar, tapi tetap saja ia tak mau rugi. Jatah malam pertama takkan hilang dan Hans akan tetap memperthankan itu.


Wajah Letta tambah muram karena ia malam ini harus merelakn mahkotanya untuk laki laki di hadapannya itu, dengan lemas ia membalikkan tubuhnya supaya Hans bisa dengan mudah melepaskan resletingnya dan menariknya lebih turun lagi supaya gaun itu jatuh dan tidak merusak resletingnya.


Bujubuset, walau Aletta masih kecil, dan masih berusia 20 tahun tapi asetnya begitu besar dan menggoda. Ketika pakaiannya dibuka ternyata ia tak memakai pakaian dalam kecuali segitiga kecil yang menutupi lahan bercocok tanam milik gadis itu, bahkan gunungnya pun hanya ia tutupi dengan kedua tangannya.


Si boy langsung bersorak gembira hanya dengan melihat pemandangan gunung dan lembah yang buat lahan cocok tanam ini.


"Letta mandi dulu ya, mas!" pamitnya sambil berusaha menutupi dadanya yang besar, serta segera menutup pintu kamar mandi sebelum Hans akhirnya sadar kalau tadi ia melihat indahnya pemandangan.


"Astaga, bagaimana aku bisa menahan diri kalau tampilannya saja begitu menggoda?" katanya sambil mengobrak abrik rambutnya karena si boy yang tegang.


Akhirnya, ia harus menahan diri dengan memberi pengertian kepada si boy kalau sasarannya itu masih gadis, jadi ia harus hati hati dan juga banyak sabar...

__ADS_1


. . . cuzz ke bukunya langsunggg gaes



__ADS_2