Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 68.


__ADS_3

Hai Readers, maaf kalau kemarin tidak bisa update, karena autornya tepar. kondisi cuaca yang tidak menentu, sering bekerja di luar, dan sering bergadang membuat penulis akhirnya tepar dan tidur seharian. diusahakan hari ini bisa update 2 ya. Jangan lupa untuk memberikan like,vote dan juga gift buat penyemangat author. Sweet komen dinantikan. Happy reading!!


***


There dan antek anteknya sudah di kirim ke penjara sesuai dengan keinginan Valen. Ini membuat Valen sedikit lega. Karena tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu istri dan dirinya.


Tapi pagi itu di rumah sakit, tetap aja gangguan terjadi. Keributan di luar ruang rawat inap rumah sakit Anin membuat Valen menjadi kesal. Padahal istrinya masih harus banyak istirahat pasca penculikan itu.


Bahkan Valen saja sampai menjaga istrinya dan melakukan pekerjaan kantor di kamar RS Anin. Dia tidak mau lagi lengah dan kecolongan.


Brakkk!!!


Pintu ruangan Anin dibuka paksa. Vallen langsung menoleh ke arah dia bersyukur ternyata Anindya tidak terganggu dengan suara-suara keras itu. Mungkin karena pengaruh obat tidur yang diberikan kepada Anindya pasca kejadian penculikan. 1 orang Pengawal masih berusaha menghalangi laki laki paruh baya yang ingin menerobos masuk. Ternyata itu adalah paman istrinya, yaitu Om Dewa, ayah dari There. Valen hanya menatap dingin ke arah Paman dari istrinya itu.


" Kamuuu, dasar kurang ajar!!! Kamu fitnah anakku jadi dalang penculikan Anin? Apa kamu sudah gila?" teriak om Dewa dengan nada tinggi. Amarahnya diubun ubun. Para pengawal yang memegangi tubuhnya pun sekarang lebih kencang memegang tubuh laki laki paruh baya itu. Erik dan beberapa pengawal tambahan pun sudah datang dan membuat barikade agar Om Dewa yang sedang kalap tidak bisa masuk dan melukai Tuan serta Nyonyanya itu.


Dengan kode mata Vallen, Erik langsung menginstruksikan anak buahnya untuk menyeret Om Dewa ke kamar sebelah yang sekarang dipakai Vallen untuk mengawasi istrinya melalui CCTV pribadi yang yang monitor nya ditaruh di kamar sebelah.

__ADS_1


Tujuan Vallen, Om Dewa ke kamar sebelah adalah agar pembicaraan itu tidak mengganggu tidur dan istirahat istrinya.


Setelah Om Dewa dibawa ke kamar sebelah, Vallen segera menyusul ke sana. tetapi sebelumnya dia menaruh beberapa pengawal di depan pintu kamar Anindya.


" Ada apa, om kok bikin keributan di ruang rawat inap istriku?" tanya Vallen pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang Om Dewa perkarakan.


" Jangan pura-pura bodoh kamu! Kamu tahu persis apa yang sedang Om tanyakan! Kenapa kamu menyeret anak Om ke dalam penjara? Bahkan mencoreng namanya dengan mengatakan bahwa anak Om adalah dalang dari penculikan sepupunya sendiri. Semua media cetak dan media televisi mengungkapkan hal yang sama. Apa kamu ingin membuat buat nenek Arka juga keluarga Bagaskara mati berdiri? Dasar kamu adalah anak pungut yang tidak tahu diuntung! Tidak memiliki bibit, bebet, dan bobot yang baik saja sudah sombong! Padahal kerjaanmu hanya menjadi lintah bagi istrimu! Dasar orang miskin tidak tahu diri!" teriaknya dengan suara kencang, para pengawal yang yang berada di sekeliling Om Dewa sampai mengernyitkan matanya karena teriakan dari Om Dewa sangat menyakitkan di telinga mereka.


ketidaktahuan Om Dewa, membuat dia berani menghina dan melecehkan menantu kakak kandungnya itu. dia memang masih menganggap bahwa Vallen itu adalah ah orang miskin yang di pungut oleh ayahnya yang kemudian dijodohkan dengan Anindya.


Dia tidak tahu menahu tentang status Vallen yang sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Weston Group yang notabene adalah pemilik kekayaan nomor satu se-asia Tenggara.


" Apakah sudah cukup curhatnya pagi hari ini? keponakannya masuk rumah sakit bukannya malah ditengok malah mau diculik dan hendak dilenyapkan. Apakah itu etika yang diajarkan oleh keluarga Bagaskara? Setahu saya kakek tidak pernah mengijinkan seorangpun menyentuh bahkan Sehelai rambut istriku. tapi anak anda dengan semena-mena menyuruh orang untuk menculik dan ingin membunuhnya. semuanya ada buktinya! tidak mungkin Kami memasukkan orang ke penjara tanpa bukti! silakan cek menurut pengacara anda dan gugat balik kalau bukti-bukti itu palsu!" kata Vallen dengan nada datar sekaligus sarkas karena Om Dewa terlalu mengagung-agungkan anaknya tanpa melihat bukti-bukti yang sudah terpapar disana.


Om Dewa jadi terdiam sejenak, dia memang belum membaca bukti-bukti dari penjeblosan anaknya ke dalam penjara. dia terlalu marah karena menganggap anaknya itu suci, Jadi tidak mungkin kalau sampai anaknya itu memiliki pemikiran untuk menculik bahkan ingin membunuh sepupunya sendiri. batin Om Dewa sejahat-jahatnya anaknya tidak mungkin sampai berpikiran sejahat itu. tapi Vallen tidak peduli dengan apa yang menjadi pikiran Paman dari istrinya itu.


" Sebelum melabrak orang akan lebih baik kalau sudah membaca bukti-bukti dari kasus penculikan Anindya. Anindya sedang hamil, Kalau sampai ada apa-apa terhadap anak dan istriku maka tuntutannya akan menjadi dua lapis. Dan aku tidak segan-segan untuk membuat anak anda ada berada di penjara lebih lama lagi!" kata Vallen sambil menyudahi pertemuannya dengan paman Anindya itu dan bergegas balik ke kamar rawat inap istrinya. dia takut kalau Anindya membutuhkan dirinya, sedangkan dia tidak ada di dalam kamar. Erik mengikuti Vallen, karena ada sesuatu yang hendak dia bicarakan kepada Vallen.

__ADS_1


Om Dewa hanya bisa tertegun, Aura Vallen berbeda dengan yang dulu. Dia pun masih belum bisa berkata apa-apa karena dia memang belum membaca bukti bukti yang memberatkan anaknya itu. Tapi dia berjanji akan mencarikan pengacara yang terbaik supaya kalaupun anaknya salah, anaknya akan tetap bebas. Tentunya harus mencari kambing hitam atas rencana jahat yang sudah dah anaknya rancangkan untuk Anindya. Mungkin dengan menjebloskan antek-antek atau orang-orang suruhan dari anaknya itu. Dengan adanya uang pasti Dewa bisa menyelamatkan There.


Om Dewa menggeram marah karena tangannya masih belum dilepaskan oleh pengawal-pengawal dari Anindya, lalu dia menepis tangan tangan pengawal yang sudah menahan dirinya. Lalu Dewa juga berpikir bahwa orang-orang yang ada di situ itu adalah orang-orang suruhan dari Anindya, karena Vallen dianggap orang miskin yang tidak mampu untuk membayar pengawal.


" Kalian itu dibayar dan digaji oleh keluarga Bagaskara! Kalian itu dibayar oleh Anindya! Dan Anindya itu adalah keluarga Bagaskara! Kok malah kalian itu nurut sama Vallen, orang miskin yang tidak memiliki apa-apa! Kerjaannya hanya menjadi lintah di keluarga Bagaskara! Dan kalau sampai Anindya tahu bahwa pamannya baru saja diperlakukan tidak adil oleh pengawal-pengawal rendahan macam kalian, Kalian pasti dipecat! Aku akan melaporkan kalian pada Anindya!" ancamnya dengan nada ketus.


" Silakan saja Bapak melaporkan kepada Ibu Anindya, karena kami disini dibayar oleh Bapak Vallen bukan oleh ibu Anindya! Dan kami tidak mengenal siapa keluarga Bagaskara itu, yang kami kenal adalah Weston Group!" kata salah satu pengawal itu dengan nada mencemooh.


Dewa berdecih kesal, batinnya dia bisa mengancam pengawal-pengawal rendahan yang sudah membuat tubuhnya sakit semua. Tapi ternyata mereka bukan digaji oleh Bagaskara grup melainkan oleh Weston Group? Dia ingat kalau Bagaskara grup sudah dimerger oleh mahkota horeca. Tapi dewa tidak mengerti kenapa Anin bisa ada hubungan dengan Weston group yang merupakan perusahaan terkaya se-asia Tenggara?


Dengan kebingungan Dewa akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Toh tidak ada gunanya lagi dia ada di sana. Dia akan mencari pengacara yang terbaik untuk bisa mengeluarkan Tere dari penjara.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2