
Valen mencubiti bibirnya tanda ia sedang berpikir keras, sejak pulang dari Rumah Sakit, ia masih berpikir keras, apa yang menjadi motivasi nenek dengan mudah menyerahkan jabatan sebagai direktur pelaksana kepada Anin. Padahal sebelumnya nenek selalu keberatan dan selalu mengganti Anin dengan There, apakah mungkin karena nenek sudah terdesak oleh keadaan di Bagaskara grup, sehingga kalau ia kehilangan tender Mahkota Horeka ia bukan saja menanggung malu tapi juga ia akan kehilangan kepercayaan para kolega dan investornya.
Kali ini Valen mengajak Anin untuk tidak pulang ke rumah keluarga Bagaskara, melainkan ke apartemen miliknya yang diberikan oleh ayahnya saat semisal Valen ada masalah dengan keluarga Bagaskara dan tidur disana. Toh Apartemen Weston Luxury Homie akan menjadi milik Valen nantinya, jadi ayahnya berusaha memperkenalkan satu per satu harta kekayaan yang nanti akan dikelola oleh anaknya itu. Walau Valen belum mengingat masa lalunya, Willy selalu berusaha untuk dekat dengan anaknya itu, bahkan memaksanya untuk ke Singapura agar ia bisa cepat sembuh.
" Mas, kamu mikir apa? " tanya Anin dengan bingung.
" Mas, kalau mas Valen bingung gimana cara bayar sewa apartemen ini, Anin ada sedikit tabungan untuk membayarnya. Emang berapa sih butuhnya?" tanya Anin lagi, ia pikir Valen sedang mikir bagaimana bayar sewa apartemen ini karena tampak mewah dan mahal. Memang mereka sudah berkomitmen untuk mulai berdiri di kaki mereka sendiri dan tidak bergantung pada keluarga Bagaskara, salah satu langkah awalnya adalah memiliki hunian yang terpisah dengan keluarga Bagaskara, walau belum mengatakan yang sejujurnya kepada Anin, tentang siapa jati dirinya sebenarnya, tapi Valen ingin melimpahi Anin dengan kemudahan dan kenyamanan hidup. Valen juga mengatakan kalau Apartemen ini ia sewa dari teman baiknya.
Valen saat ini sedang memikirkan strategi membuat keluarga Bagaskara bertekuk lutut di bawah kaki istrinya yang selalu di sia siakan.
" Bukan kok, Nin! Mas lagi berpikir hal yang lainnya. Dan mas juga lagi berpikir, nenek pasti memiliki rencana yang lain yang kita tidak tahu. Mas khawatir dengan kamu." , kata Vallen sambil menatap netra Anin yang indah dan bulat.
" Sudahlah Mas kita emang harus positif thinking dengan apa yang saat ini kita jalani, mudah-mudahan saja perkiraan dari Mas Valent keliru. Anin bahkan tidak pernah berpikir bahwa nenek begitu membenci Anin dan mas Valen. " kata Anin dengan nada sendu.
" Mereka hanya iri dengan kamu, apalagi saudara sepupu kamu itu. Dia itu membenci kamu karena kamu itu sempurna." kata Vallen memuji istrinya membuat Anin jadi salah tingkah.
" Apakah kita akan tidur di apartemen ini? Kita kan tidak bawa pakaian ataupun peralatan yang lain." kata Anin berkesan mengalihkan perhatian karena pipinya sudah merona dipuji oleh suaminya tadi.
" Kamu tidak perlu membawa apa-apa selain dirimu sendiri. Jadi pakaian tidur maupun pakaian berpergian sudah Mas sediakan buat kamu." kata Valen dengan singkat, sambil membuka walk in closet yang menunjukan banyaknya pakaian yang tersedia buat Anin dan juga Valen.
__ADS_1
" Mas kamu kok memiliki banyak uang banget sih !Dari mana itu?" Tanya Anin dengan wajah heran. Bagaimana suaminya yang tadinya miskin kok bisa sekarang memiliki apartemen mewah, makan malam mewah, baju baju yang banyak yang tersimpan rapi di walk in closet di apartemen yang baru saja ditunjukan oleh Valen dan juga ia teringat dengan cincin berlian yang indah yang kata There harganya mencapai miliaran.
" Nanti kamu akan tahu, yang pasti apa yang kamu nikmati ini adalah uang halal, bukan karena mas mencuri. Kamu percaya kan? Nah sekarang kamu istirahat dulu. Kamu boleh memilih kamar yang mana yang kamu hendak pakai. Mas ada keperluan yang harus mas kerjakan di ruang kerja yang itu. " kata Valen dengan lembut, sambil berlalu ke ruangan kerja di apartemennya itu.
Perlu diingat kalau Anin dan Valen hanya sering berbagi kamar tanpa melakukan apa apa. Valen juga belum pernah meminta haknya kepada Anin selama setahun pernikahannya itu. Anin sedikit kecewa mendengar Valen hendak berpisah kamar dengannya. Tapi sebagai perempuan ia tidak mungkin bertindak agresif, dia malah memikirkan apa yang dikatakan oleh Allan,mungkin Valen memang tidak menyukai dirinya.
Di dalam ruangan kerjanya, Valen langsung menghubungi Revan. Dia menginstruksikan untuk menyelidiki tentang apa rencana nenek, seperti pemikirannya Revan juga mengatakan kalau nenek terdesak keadaan dimana Mahkota Horeka memutuskan hubungan dengan Bagaskara.
Valen juga menegaskan selama yang memegang tampuk Bagaskara grup adalah Anindiya Bagaskara, maka ia akan mengijinkan tender Mahkota Horeka itu berjalan dengan Bagaskara grup.
***
Sementara itu di rumah sakit, There semakin berang mendapati kenyataan kalau nenek menyerahkan tampuk pimpinan miliknya kepada Anindiya.
" Nenek tidak bisa berbuat apa apa. Tapi tenang saja, nenek sudah menambahkan klausul dalam surat legal pengangkatan Anindya sebagai Direktur pelaksana tidak lebih tinggi kuasanya dari nenek. Sehingga dia tidak bisa mengatur kebijaksanaan untuk hal lain selain yang berhubungan dengan mahkota horeka." kata nenek dengan suara tegas, sedang matanya tetap menerawang jauh memikirkan bagaimana nenek bisa kembali mendapatkan kuasa penuh atas Bagaskara grup.
" Tapi There tidak terima, bahkan Allan lebih memilih bersama dengan Anindya daripada There. Nenek tahu? Allan memberikan surat cerai kepada There karena lebih memilih bersama dengan Anin, ketika Vallen tahu dia marah, dan entah apa yang dilakukan oleh Vallen kepada Allan sehingga membuat Alan memutuskan untuk pindah dari Indonesia ke luar negeri. Allan meninggalkan There, nek!! " kata There sambil tersedu.
" Re, kita harus mengalah demi mendapat kemenangan. Tenang saja, kamu cantik dan seksi, lepas dari Allan kamu tetap bisa mendapatkan laki laki lain yang lebih kaya dan lebih segalanya dari Allan." kata nenek menenangkan.
__ADS_1
" Tapi nek!"
" Sudahlah, tidak usah membahas tentang Allan. Nenek dengar Allan juga sudah jatuh miskin. Katanya ia menyinggung anak tunggal pewaris Weston grup. Dalam sekejap kekayaannya yang bernilai miliaran habiss kan? Untuk apa kamu masih mau sama Allan yang udah miskin. Mending kamu mendekat Andrew, atau pewaris kaya lainnya. " kata nenek dengan kejam.
" Tapi nek!"
" Sudahlah kita atur strategi lagi supaya kita bisa menyingkirkan Anin dan Valen. "
" Tapi nek!"
" Sudah lah, kamu ini dari tadi cuman tapi tapi saja. Bikin kesel tau gak? Yang penting sekarang kita mengalah dulu untuk menang dikemudian hari. " kata nenek dengan kasar, karena There masih terkesan tidak mau berpisah dengan Allan. Padahal nenek juga tahu kalau There tidak benar benar menyukai Allan, dia hanya tergores harga dirinya saat Allan bilang kalau Allan lebih memilih Anin, daripada dirinya.
.
.
.
TBC
__ADS_1
Hai readers, hari ini bakal up 2x, ditunggu up selanjutnya ya.
Happy Reading!!!