
Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Oh ya semua yang komen sudah aku baca, aku mau berterimakasih sama yang selalu komen positif dan memacu aku untuk bisa selalu update dan memberi yang terbaik, yang bilang ini kurang seru dan gak *******, lha emang ini belum ******* kok, Tapi semua saran dan kritik aku terima dengan lapang dada kok. Happy reading!!
***
Di dalam mobil Vallen sengaja menyuruh Revan yang menyetir sedangkan Mister Wong duduk di sebelah Revan, sedangkan dirinya duduk bersama Anindya dan kedua anaknya.
Sedangkan ayah mertua Anindya bersama pengawal juga para perawat berada di mobil lainnya.
Revan hanya melirik ke arah Vallen dia tahu apa yang dilakukan oleh Vallen di belakang. Dan benar saja selain Valen memeluk anaknya yang tertidur dengan lelap, dia juga meraba-raba pinggang dari istrinya dengan seduktif, sebenarnya Anindya merasa jengah dengan perlakuan Vallen. Tapi Anindya juga sadar mungkin Vallen sedang kangen dengan dirinya juga dengan anak-anaknya.
Perjalanan yang menegangkan yang sudah dilalui oleh mereka berdua memang membutuhkan rasa syukur yang besar. Tidak mudah melewati pelarian yang dramatis seperti apa yang sudah dialami oleh Anindya.
Juga rasa ketakutan akan kehilangan keluarga beserta istri tercintanya itu membuat Vallen merasa bersyukur bahwa Anindya, anak-anaknya dan juga ayahnya baik-baik saja.
" Bagaimana dengan rencana kita selanjutnya? Ingat lawan kita ini sangat kuat! Kalau sampai bala bantuan dari pasukan bayaran itu datang lagi berarti kita mesti waspada dua kali lipat. Karena yang diturunkan oleh pasukan Hunter Dead itu akan semakin berbahaya." kata Mister Wong sambil melekatkan fokusnya ke arah depan saja. Dia juga laki-laki dewasa yang memiliki hubungan dengan wanita jadi dia mengerti bahwa Vallen di belakang sedang menuntaskan Rindunya walau bukan dengan hal yang vulgar.
Tapi melihat sepasang suami istri itu sayang sayang an tentu akan membuat darahnya juga mendidih ingin didinginkan juga.
Dia mengingatkan dirinya untuk memilih wanita mana yang akan melepaskan penatnya hari ini.
__ADS_1
" Nanti saja kita bahas tentang itu! Kita juga membutuhkan koordinasi dari pengawal yang lain dan juga Erik!* kata Revan dengan nada tegas, tentu saja dia tidak ingin Anindya mendengar tentang rencana-rencana yang akan mereka lakukan. Bukannya tidak percaya dan berpikir bahwa Anindya akan membocorkan rahasia itu, akan tetapi lebih ke arah karakter Anindya yang pemaaf akan memaksa hanya untuk merayu Vallen agar tidak melakukan hal-hal yang ekstrem.
Padahal khusus untuk masalah ini mereka tidak bisa bersantai-santai saja, mereka harus menumpaskan sampai ke akar-akarnya. Baik Paman Bill, Alicia maupun Hunter dead adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap enteng dan tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Kalau perlu malah harus ditumpas kan sampai ke akar-akarnya, yang berarti itu kode untuk membunuh mereka.
" Apakah Erik sudah sadar pasca pemukulan itu?" tanya Vallen tanpa sadar bahwa sebenarnya Anindia belum tahu secara detil tentang pemukulan kepada ada Erik yang dilakukan oleh anak buah Alicia juga Paman Bil.
" Ada apa? Kenapa dengan Erik?" tanya Anindya kepada Vallen dengan nada yang lirihnya tapi sekalipun lirih, baik Revan maupun Mister Wong dapat mendengar kata kata dari Anindya itu.
" Nanti akan aku jelaskan saat kita sudah sampai ke tempat yang lebih aman. Kupikir saat ini kamu lebih baik beristirahat dulu. Sama seperti kedua anakmu yang sudah tidur duluan. Letakkan saja Liam di baby bouncer nya. Dan taruh aja kepalamu di sini supaya kamu juga bisa tidur. Pasti kamu tadi belum beristirahat melihat banyaknya makanan yang sudah kamu siapkan untuk mereka, para pengawal dan perawat-perawat Liam dan lios." kata Vallen sambil mengarahkan kepala Anindya istrinya itu untuk bersandar di bahunya. Vallen melihat gurat kelelahan di wajah istrinya, ia tahu pasti, istrinya belum bisa beristirahat kalau masih kepikiran.
Dia lantas membaringkan dirinya, mencari posisi yang nyaman, setelah meletakkan Liam di baby bouncer di samping dirinya dan tidak lupa mengancingkan ikatan di baby bouncer supaya Liam tidak akan terjatuh walaupun adanya benturan atau pun gerakan yang mendadak.
Tak berapa lama kemudian Anindya sudah mengarungi alam mimpi. Mungkin karena efek kelelahan Anindya pun terdengar mendengkur halus. Ini membuat Valen merasa sedikit bersalah karena sudah membuat istrinya itu harus berlarian di tengah hutan yang gelap untuk memimpin sebuah Pasukan Pengawal milik mereka dan mengarahkan mereka supaya mereka semua bisa selamat.
Valen pun kagum dengan keberanian seseorang Anindya yang walaupun belum berpengalaman dalam bidang seperti itu tapi dia berani mengambil resiko dan menguatkan hati untuk bisa menyelamatkan seluruh keluarga dan pengawal-pengawal nya.
Tanpa sadar tangan Vallen pun mengelus pipi mulus istrinya supaya istrinya lebih nyenyak dalam tidur.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Vallen ini tertangkap oleh Revan karena dia melirik ke arah spion Tengah.
Dia hanya bisa tersenyum simpul melihat Vallen yang biasanya dingin terlihat hangat saat bersama dengan Anindya.
" Apakah istrimu sudah tidur dengan lelap?" tanya Mister Wong yang melirik ke arah belakang dan melihat pemandangan menentramkan saat Anindya tertidur dengan lelap.
" Sudah! Mungkin karena dia sangat lelah karena semenjak pelariannya sampai dengan detik ini dia belum beristirahat. Bahkan tadi di apartemen pun dia sibuk memasak untuk para perawat dan pengawal yang bekerja. Bahkan dialah juga yang mengarahkan para pengawal untuk membagi shift nya masing-masing supaya saat shift pertama tidur, shift yang kedua bisa berjaga-jaga dengan baik." kata Vallen sambil terus mengelus rambut juga kening istrinya supaya istrinya bisa lebih lelap tertidur.
" Kamu benar benar beruntung, mendapatkan istri yang cantik dan hebat itu layaknya sebuah permata."kata mr wong dengan nada iri.
" Itu benar!! Dia sudah bersama ku dalam suka dan duka, jadi memang layaknya permata, dia permata yang terbaik dan termahal." kata Valen dengan nada memuja. Ia bahkan mencium rambut dan kening istrinya yang masih tertidur dengan lelap. Mungkin Anin merasa nyaman saat berada di pelukan suaminya, berbeda saat tadi dia berada di dalam pelarian.
.
.
.
TBC
__ADS_1