Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 66.


__ADS_3

Valen menunggu di luar ruangan tindakan dengan raut wajah gelisah.


Tapi penantiannya tidak lama, ruangan tindakan kembali terbuka. Dokter yang tadi berlarian masuk ke dalam ruangan tindakan, keluar dengan wajah lelah. Hati Valen bak terjatuh ke dasar jurang. Tetiba dia takut kalau istri dan anaknya oenapa kenapa.


" Suaminya ibu Anin?" kata dokter itu dengan wajah datar.


" Iya, saya dok!" kata Valen dengan cemas.


" Untung istri dan anak anak anda dalam kondisi yang baik baik saja. Dan saat ini dia sudah sadarkan diri Istri anda akan segera dipindahkan ke ruang rawat VIP, dan anda bisa menemui istri anda disana. Atau kalau anda ingin melihat kondisinya sekarang juga silahkan. " kata dokter itu sambil tersenyum lemah.


Mungkin tadi si dokter kelelahan karena harus berlari lari untuk menyelmatkan nyawa orang. Jadi wajahnya kelihatan keruh. Tapi ternyata kabar yang dibawanya termasuk kabar baik.


Valen melangkahkan kaki ke dalam ruang tindakan. Dia tidak sabar melihat kondisi istrinya. Ayah Willy yang seyogyanya ingin menengok menantunya hanya bisa menunggu di luar dengan sabar. Revan ijin balik ke kantor dan mengurus mahkota horeka serta Weston. Erik dan anak buahnya sudah datang menjaga di rumah sakit.


Valen menatap istrinya dengan wajah sendu. Kesangaran dan amarahnya seolah hilang entah kemana. Jiwa manusianya balik ke tubuhnya saat bersama dengan istrinya.


" Mas..." keluh Anin dengan suara lirih. Lirih sekali sehingga Valen mengira Anin hanya membuka mulutnya tanpa suara. Baru ketika dia ada di samping istrinya, Valen.bisa mendengar kelirihan suara istrinya itu.


" Sayang, apa yang kamu rasakan." tanya Vallen dengan nada cemas, Dia kasihan melihat istrinya yang sedang hamil itu tapi terlihat lemah. mungkin akibat dari obat bius yang dipakai oleh penculik itu untuk membius istrinya.


Anin hanya terdiam dan seakan lagi berusaha untuk berbicara namun sulit.


Valen lantas menggapai suster yang masih ada di ruangan itu dan bertanya mengapa istrinya belum dapat berbicara secara lancar, namun suster hanya bilang itu reaksi normal bagi orang yang baru saja sadar dari obat bius.


Valen lantas menunggu dengan sabar pergerakan lamban istrinya.


" Mas.." Kata Anin lebih keras.


" Ya, mas disini, sayang!" kata Valen dengan nada sabar.


" Aku mimpi buruk!"

__ADS_1


" Hmm" Valen membiarkan Anin memiliki pemikiran kalau dirinya bermimpi saja. Toh Anin tidak.tahu, takutnya Anin akan merasa cemas dan berpengaruh pada kehamilannya.


" Anin takut, mas!" tuh kan Valen sudah tahu kalau Anin bakalan takut. Apalagi kalau dia tahu bahwa yang dialaminya itu bukanlah sekedar mimpi buruk, tapi kenyataan.yang terjadi.


" Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Itu bisa berbahaya buat anak anak kita." kata Valen dengan nada lembut.


" Iya, by the way, kenapa aku ada disini ya mas?" tanya Anin heran dengan peralatan dokter yang ada di tubuhnya.


" Kamu tadi sempat tidak sadarkan diri. Untung saja dokter langsung bertindak. Tapi sekarang kamu sudah tidak merasa sakit kan?" tanya Valen dengan nada cemas.


" Maaf tuan. Pasien mau dipindahkan ke ruangan VIP. Tuan bisa menunggu disana." kata suster dengan nada sopan memotong percakapan dari suami istri itu.


" Loh mas, apa yang terjadi sama kamu? Kenapa tangan kamu diperban. Wajah kamu..." rupanya Anin baru sadar saat Valen agak menjauh. Baju Valen yang terlihat kotor dan wajahnya yang banyak luka. Untung tadi susah sempat dibersihkan dan diobati oleh suster rumah sakit.


" Gak apa apa. Mas terjatuh saat beli cendol ... jadi cendolnya ambyar!!" kata Valen sambil bercanda dengan istrinya. Dan Anin hanya tersenyum karena entah kenapa ia merasa tubuhnya masih lemas. sebenarnya Anin tahu pasti ada sesuatu yang terjadi karena tidak mungkin kan suaminya jatuh sampai wajahnya yang tampan terluka seperti itu dan juga tangannya dibebat oleh perban.


" Kamu masih kepingin makan cendol durian ?" tanya Valen lagi sebelum Anin dibawa oleh suster ke ruangan rawat inapnya.


Valen segera keluar menemui ayahnya, pengawal Erik juga sudah ada di sana. Rupanya Erik juga disana dan sedang berdiskusi dengan ayah Willy. rupanya Erik sedang menjelaskan kronologi cerita dari penculikan Anindya, dan ayah Willy kemungkinan sudah memarahi Erik karena dia juga tidak setuju kalau sampai Anin menjadi umpan untuk mengeluarkan There.


" Sudah lama?" tanya Valen kepada Erik.


" Baru saja! Aku sudah melakukan apa yang kamu mau." kata Erik dengan santai. Vallen hanya melirik kearah Erik dengan pandangan yang tidak dapat dibaca.


" Hmmh.. aku akan ke tempat biasa. Kita urus bertiga. Induknya udah kamu tangani sekalian?" tanya Valen dengan nada datar.


" Sudah! Bahkan laki laki dengan bekas luka bersedia memberikan kesaksian kalau kamu mau memasukan ke penjara."


" Kamu tukar dengan apa?" tanya Vallen dengan nada menyelidik karena dia tahu tidak mungkin laki-laki dengan bekas luka itu mau menukar informasi dengan gratis.


Erik tampak gugup dengan pertanyaan dari Vallen, dia tidak menyangka bahwa Vallen akan menanyakan hal itu dengan begitu detil.

__ADS_1


" Ehm aku sih berpikirnya begini kalau sampai There masuk ke dalam penjara itu merupakan suatu hukuman yang sangat berat buat dirinya. Bayangkan kaum sosialita seperti There masuk ke dalam penjara itu akan mendapatkan sanksi sosial yang lebih tinggi, juga dia harus menerima hukuman nya. Beda kalau dia kamu masukkan ke dalam rumah sakit jiwa dia tidak akan merasakan hukuman besar, dia hanya tersiksa secara badan dan fikirannya. Tapi ketika kamu masukkan ke dalam penjara There akan tersiksa secara sosial dan juga tersiksa secara badannya karena kita memiliki orang-orang tertentu yang bisa memantau pergerakan orang itu di dalam penjara." kata Erik mengalihkan perhatian dari Vallen. ini mungkin pesan dari tuan Wili agar Vallen tidak terlalu kejam untuk menghukum There.


Tapi bukan Vallen namanya kalau dia bisa teralihkan karena hal-hal yang sepele. Bagi dia orang laki-laki yang memiliki luka di wajahnya itu ada hubungannya dengan istrinya. Jadi dia sadar secara pribadi kalau orang itu pasti meminta sesuatu agar dia membeberkan informasi terkait There.


" Kamu tukar dengan apa, Rik?" tanya Vallen sekali lagi.


" Dia hanya ingin bertemu dengan istrimu saja!" kata Erik dengan nada terbata-bata.


" Aku tidak akan mengijinkan itu terjadi." kata Vallen dengan nada yang posesif.


Sebenarnya Erik sudah mengetahui jawaban dari Vallen bahwa Valen tidak akan mungkin mengizinkan istrinya untuk bertemu dengan laki-laki yang memiliki bekas luka di wajahnya itu. Valen saja cemburu dengan orang laki-laki yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan istrinya apalagi dengan laki-laki yang pernah memiliki masa lalu bersama dengan istrinya. Sekalipun Vallen juga tidak tahu apakah istrinya itu masih tetap akan mengingat laki-laki yang bertampang menyeramkan itu.


" Siapa sih sebenarnya orang itu? Dan apa hubungannya dengan istriku?" tanya Valen dengan nada datar.


" Kamu temui dan tanyakan langsung saja, bro!" kata Erik dengan nada tenang.


" Hmmh aku akan langsung kesana !" Valen segera bersiap-siap.


" Ya Revan juga akan kesana. Lalu siapa yang menjaga istrimu?"


" Ayah!"


" Kamu tidak mengabarkan hal ini kepada mertua kamu?"


" Tidak!" kata Vallen sambil mengikuti Erik untuk berangkat ke ruangan rahasia yang biasa mereka pakai untuk menginterogasi orang-orang yang berbuat kesalahan seperti There dan juga orang laki-laki yang memiliki bekas luka di wajahnya.Valen sudah tidak sabar untuk mengorek keterangan tentang laki-laki itu, dan kenapa laki-laki itu mengejar istri nya.


.


.


TBC

__ADS_1


Hai hai hai maaf ya kalau thor hari ini hanya bisa up 1 saja. Jangan lupa untuk tetap vote, like dan juga spam komen. Happy reading!!!


__ADS_2