
Hai readers, hiks... rank ku belum signifikan. . Jadi tolong ya readersku sayang, banyakin like, komen, hadiah, vote dan juga share ke akun sosmed kalian... ... jadi tolong kalian kasih itu dulu biar novel ini naik.
Mudah mudahan yang ini likenya naik banyak, begitupun dengan hadiah serta vote nya ya, soalnya mau ku crazy up 5 episode( kalau kuat jarinya) Dan kalau typo tolong kasih tahu ya, soalnya kacamataku yang kemarin beli masih belum cocok, kalau lihat tulisan masih suka blur. Wk wk wk... jadi tolong kasi like, share juga deh biar yang lain tahu, kasi gift dan vote yaaa... i lap yu alll, happy reading!!!
***
Pelukan yang diberikan oleh ibu Anindya itu membuat Gustav merasa memiliki seorang ibu kandung, perasaan yang sudah tidak pernah dia rasakan sejak dia masih kecil kan, karena ibu kandungnya meninggal ketika melahirkan dirinya.
Semenjak itu dirinya memang tidak memiliki kasih sayang dari seorang ibu. Orang-orang yang ada di sekelilingnya memang ibu-ibu semua, tapi mereka hanya Ibu pengganti yang mengurus dirinya seperti seorang babysitter.
Bukannya mereka tidak memberikan kasih sayang mereka lho ! Tapi ada rasa yang berbeda saja ketika dirinya dipeluk oleh ibu Anindya yang memang memiliki jiwa keibuan yang luar biasa.
" Terimakasih, bu! Baru kali ini saya dipeluk oleh seorang ibu. jujur saya sebagai seorang anak belum pernah dipeluk oleh seorang ibu. Karena nenek saya sudah tidak ada dan juga Ibu saya sudah meninggal semenjak saya di lahirkan, jadi memang saya belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu yang tulus seperti yang Ibu Mertua berikan kepada saya." kata Gustav dengan nada sendu membuat Anindya terenyuh dan kembali ingin memeluk calon menantunya itu. Tapi tentu saja Vallen tidak mengijinkan hal itu terjadi. Vallen langsung saja memelototi istrinya yang hendak memeluk kembali calon menantunya itu. Anindya yang timbul jiwa isengnya langsung berusaha untuk memeluk Gustav, tapi langsung dihalang-halangi oleh Vallen yang kemudian memeluk secara posesif istri nakalnya itu.
Gustav yang masih merenungi kesedihannya karena dirinya tidak pernah merasakan pelukan kasih sayang dari seorang ibu, tidak terlalu memperhatikan percekcokan dalam diam yang dilakukan oleh Vallen dan juga Anindya. Memang sepasang suami istri ini seringkali bertindak iseng satu sama lainnya agar pernikahan mereka tetap awet karena sehabis bercekcok ria mereka akan bercocok tanam di dalam kamar. Wk wk wk. ( Memperhalus kata kata vulgar dengan bahasa diksi )
__ADS_1
" Ehm.. jadi bagaimana? Berarti kamu melamar anak perempuan saya seorang diri, untuk dirimu sendiri, dan oleh dirimu sendiri, begitu? " kata Anindya sambil mengulum senyumnya melihat calon menantunya yang tampan itu sedikit kebingungan dengan apa yang dia katakan.
Gustav hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dengan kebingungan yang ada di dalam hatinya. Sebenarnya dia masih punya kakek dan nenek serta tante dari pihak ayahnya yang tidak pernah dia temui. Katanya sih masih di New Zealand dan belum balik ke sini, tapi sebenarnya di dalam hati Gustav dia tidak pernah peduli dengan keluarga Ayah kandungnya itu karena selama ini mereka juga tidak pernah mencari dirinya kan? Bahkan setelah keluarga dari ayah kandungnya itu tahu bahwa dirinya memiliki cucu dari ayahnya yang kecelakaan itu, si Antonio Wijaya, tapi mereka juga tidak pernah menghubungi dirinya sampai detik ini.
Padahal kakek Dimitri sudah pernah memberitahukan tentang hal ini kepada mereka, bahkan berencana mempertemukan mereka tapi keburu kakek Dimitri dipanggil Tuhan.
" Sebenarnya saya masih memiliki keluarga dari pihak ayah kandung saya, tapi karena kami tidak pernah berhubungan dari semenjak saya masih bayi jadi saya pun tidak bisa minta tolong mereka untuk melamarkan Wilhelmina untuk saya." kata Gustav dengan nada lirih.
Vallen dan Anindya hanya bisa saling bertatap tatapan karena mereka sudah tidak tahu lagi apa yang harus mereka katakan. Memang pada lumrahnya, seharusnya itu saat melamar ada pihak keluarga dari calon menantunya itu yang mendampingi, Namun karena melihat situasi dan kondisi yang seperti ini mereka pun tidak bisa memaksa karena memang kondisinya Gustav tidak memiliki keluarga lain selain orang-orang yang ada di dalam rumahnya, dan pekerja yang bekerja di rumah kakeknya yang setia dari semenjak ibunya masih ada, sampai saat ini gustav sudah menjadi dewasa.
Yang lucu sebenarnya adalah, saat dia remaja dia memiliki keinginan yang kuat untuk bisa menghancurkan seorang Vallen yang dianggapnya telah menjadi musuh bebuyutan bagi ayah sambungnya itu, tapi sekarang setelah dia mengetahui duduk perkaranya, tentu saja dia menolak untuk melakukan hal-hal yang akan menyakiti keluarga ini. Apalagi dirinya sudah jatuh cinta kepada Wilhelmina, yang merupakan anak perempuan satu-satunya dari keluarga Weston ini. Bahkan sekarang dirinya akan menerima syarat apapun asalkan dirinya diterima menjadi bagian dari keluarga Weston ini.
" apa yang Ibu inginkan? Oh ya saya juga sudah membawa pengacara saya untuk memindah alihkan kepemilikan dari pulau pribadi saya kepada Wilhelmina salendra Weston, supaya ayah mertua mengerti bahwa saya benar-benar serius dengan apa yang saya katakan tadi. silakan saja kalau nanti ayah mertua ingin membuat sebuah Resort di tanah itu. karena kepemilikannya nanti sudah akan berganti kepada anak perempuan satu-satunya dari keluarga Weston ini. Apakah ibu juga ingin memiliki Pulau atau barang lainnya? Selagi saya Sanggup, Saya pasti akan mencarikan nya dan membelikannya untuk ibu!" kata Gustav dengan nada bersungguh-sungguh, membuat Anindya terusik hati kecilnya melihat kesungguhan dari calon menantunya ini. Vallen yang sadar akan kekaguman istrinya kepada calon menantunya ini, menjadi sedikit kesal kepada calon menantunya yang kesannya mencari muka banget sama istrinya itu.
" Eh, kamu pikir hanya dirimu saja yang kaya? Kalau cuman beli pulau pribadi buat istriku aku bisa beliin dia 10 pulau pribadi! Jadi jangan coba-coba merayu dia dengan harta kekayaan mu. Karena dia sudah jadi milikku sejak dulu!!" jelas Vallen dengan nada kesal. Tapi perkataan Vallen ini mendatangkan cubitan di perutnya yang masih rata dan berotot. Siapa lagi pelakunya kalau bukan ibu Anindya Bagaskara yang memutar bola matanya dengan kesal karena melihat kenarsisan dan keposesifan suaminya dihadapan calon menantunya sendiri.
__ADS_1
" Aduh!! Sakit sayang!" teriak Vallen sambil mencebik manja, untuk menarik perhatian istrinya. Konyol!!
" Makanya, udah tua itu jangan terlalu narsis dan posesif!! ingat sama umur kamu!! anak udah 3 dan udah gede-gede, masa kelakuannya masih kayak Bocil!" jelas ibu Anindya yang membuat Vallen semakin mengeratkan pelukannya kepada istrinya yang duduk di sampingnya itu. Seakan dirinya tidak rela kalau istrinya itu lebih membela calon menantunya daripada membela dirinya sebagai suaminya.
.
.
.
TBC
Jangan lupa ya guys, pencet like, dan komen sebanyaknya... vote dan hadiah juga yaaaa, muachhh!!
#crazy up 1
__ADS_1