Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 86.


__ADS_3

Hai readers, ini update ke dua ya..


Jangan lupa untuk vote aku yang banyakkkk!!!


Like dan gift juga yang bannyak, biar moodnya thor untuk update semakin banyak.


Jangan lupa untuk cek karya karya thor yang lain agar kalian bisa nunggu dengan bahagia.


Jangan lupa bahagia, keep the spirit, GBU and Happy reading!!


***


Dalam perjalanan Valen dan Erik balik ke Rumah sakit setelah tadi mereka berdua mencocokan hasil CCTV dan juga black box kamera yang dipasang oleh Erik untuk pengamanan mobil ayah Valen, mereka mendapat telepon dari anak buah Erik yang bertugas untuk melakukan penyelidikan atas mobil yang tertangkap kamera mobil ayah.


"Bos, mobil ditemukan tapi semuanya bersih, tidak ada sidik jari seorang pun disana." kata anak buah Erik.


Segera dengan sigap Erik dan juga Valen membalikkan arah mobil ke arah penemuan mobil tersangka yang ditinggalkan di dekat Bogor Forest Science Park. Perjalanan cukup jauh memakan waktu sekitar hampir 2 jam. Di dalam mobil Valen benar benar resah. Satu sisi hatinya tidak enak meninggalkan istrinya sendirian di Rumah sakit bersama dengan ayahnya. Penjagaan cukup ketat, mereka bahkan membungkam media yang hendak mengetahui kejadian tabrakan yang melibatkan ayah Valen namun tentu saja Valen sudah menutup rapat berita itu.


"Kamu tambah keamanan di rumah sakit, hatiku rasanya tidak tenang. Yang kita hadapi adalah orang kejam yang bisa melakukan apa saja. Mungkin dia memakai perawat dan dokter RS kita untuk membunuh ayah atau juga mencelakai Anin." kata Valen dengan raut datar dan dingin andalannya, padahal di dalam hatinya yang terdalam ia merasakan keresahan yang luar biasa.


"Aku tahu, Bro! Aku juga khawatir, karena itu aku juga memperketat orangku, tidak ada dokter dan suster yang bisa lewat tanpa dokter Prayogo. Aku sudah menseleksi itu dengan ketat, mudah mudahan semua bisa terkendali." kata Erik dengan nada tegang. Ia juga cemas, kalau sampai kecolongan lagi, lawannya cukup seimbang di dunia hitam.


"Hmm, ingat!! Bill is evil!! Aku masih cemas dengan anak anak dan istriku, gimana menurut kamu?" tanya Valen dengan nada cemas.


" Aku ada sedikit rencana, tapi aku takut kamu tidak setuju. Tapi menurutku ini adalah cara yang terbaik. Selain untuk mengkamuflase, ini bisa membuat si dalang bisa cepat muncul." kata Erik dengan mantap. Valen melirik ke arah Erik, dia tahu kalau Erik punya banyak pikiran gila, kalau ini rencana yang berbahaya macam kemarin saat Anin diumpankan ke penculik, kemungkinann Erik akan segera dikubur hidup hidup sama Valen.


"Eh tenang bro, mandanginnya ga usah jutek kayak wanita kalau lagi PMS, santai saja!" kata Erik sambil nyengir ga karuan. Valen kalau sudah menatap dengan tatapan membunuh itu emang nyeremin.


"Kalau sampai.."

__ADS_1


"Tenang mas bro, lebih baik kita pikirkan dengan dalang pelaku penabrakan. Karena pelakunya kan sudah dibunuh juga, jadi kita kehilangan saksi kunci." kata Erik berusaha mengalihkan perhatian.


"Aku tidak mau kalau kamu sampai membuat rencana yang aku tidak tahu, ingat itu!!" ancam Valen dengan nada ketus.


"Kemarin itu improvisasi Bro!" sanggah Erik sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Improvisasi gundulmu!! Tidak ada improvisasi tanpa seijinku!!" bentak Valen kesal, membuat Erik hanya bisa senyum senyum saja, melihat Valen yang mencebik kesal.


***


Mereka sampai ke area tempat dimana mobil yang dipakai oleh pembunuh yang membunuh supir truk itu ditemukan. Mobil itu ditinggal di sebuah bangunan mirip bangunann gudang yang berada di dekat Bogor Forest Sciene Park. Bangunan itu cukup menjorok ke dalam dari jalan raya utama. Sebuah pabrik yang terbengkalai dengan ilalang di sekelililngnya. Kayak tempat berhantu yang selalu menjadi urban legend sebagai tempat jin buang anak.


Valen keluar bersama Erik dan diikuti dnegna beberapa pengawal yang naik mobil terpisah.


"Rik," panggil Valen sambil berjalan tenang mengikuti jejak ilalalng yang terlihat sudah dipijak orang sebelumnya.


" Kamu coba periksa kejadian kebakaran rutan yang kelihatannya malah tidak ada titik terangnya."


"Sudah keluar press releasenya. Yang meninggal adalah There Bagaskara, anak dari Dewa dan Anna Bagaskara."


'Dan kamu percaya?" Valen memutar bola matanya karena ia keal dengan penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh Erik yang menurutnya keliru.


"Tidak! Tapi begitulah hasil press release." kata Erik sambil mengedikan bahunya.


"Apa sudah diperlihatkan hasil lab tentang ke sahannya, apa diambil juga sample giginya?" kejar Valen dengan nada kesal.


"Kayaknya tidak! Karena dari pihak keluarga tidak mengijinkan adanya visum!" sahut Erik dengan nada santai, ia tahu bosnya ini sudah dalam kondisi meradang.


"Emang kenapa?" kening Valen berkerut karena pihak keluarga Bagaskara tidak mengijinkan adanya visum.  Padahal itu syarat mutlak kalau ingin mengetahui kesahan siapa orang yang meninggal itu.

__ADS_1


"Menurut mereka itu karena blok B itu hanya ditempati There dan teman temannya , sedang yang hilang hanya There, so kesimpulannya yang meninggal hanya There! Sedang keluarga Bagaskara tidak ingin kalau   anaknya dijadikan bahan pencobaan saja, mereka ingin THere bisa meninggal dengan tenang." jelas Erik dengan tenang.


"Cari tahu tentang itu juga, firasatku mengatakan kalau ini juga ada hubungannya dengan dia juga." kata Valen dengan datar.


"Oke Bro!" sahut Erik dengan hormat.


Dua orang anak buah Erik yang stand by berjada di depan pintu pabrik segera memberikan akses agar bosnya bisa masuk. Ruangan luas berdebu menyapa mereka, celah celah pabrik itu memasukan cahaya matahari melalui kisi kisi ventilasi ventikasi yang sudah berkarat dimakan usia. Tapi masih sanggup menyinari ruangan yang luas itu tanpa adanya lampu. Mesin raksasa yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya menyebabkan bau besi menyeruak pekat. Satu kecoa berhasik diinjak dengan sepattu fantofel sang anak buah yang tidak mau kalau binatang jorok itu menganggu bos dan tuan mudanya.


"Bos, tadi kami bertemu orang ini yang ternyata sebagai tersangka, yang sudah meninggalkan mobil ini disini." info salah seorang anak buahnya yang lain, yang sedang menghajar tawanan yang babak belur. Tawanan itu dibiarkan duduk bersandar pada sebuah dinding besi dengan tangan yang diikat dengan sebuah rantai besi yang cukup tebal.


"Hmm, sudah keluar nyanyiannya? Siapa mereka itu?" tanya Valen dengan nada dingin kepada Erik, sedang Erik hanya mengangkat bahunya tanda ia belum mengethauinya. Kabar ini baru saja ia terima disini. Dia belum tahu menahu masalah yang tersaji di hadapannya ini sekarang.


"Mereka itu ternyata anak buah dari keluarga Weston, bos!' kata salah satu pengawal yang lain yang juga turut memukuli orang yang tertangkap itu.


"Keluarga Weston?" mata Valemn membulat karena terkejut dengan fakta yang ia dapatkan di lapangan.


Sedangkan Erik menepuk bahu Valen menyuruhnya agar sabar terlebih dahulu sebelum menginterogasi orang tersebut dengan jelas.


.


.


.


TBC


 


 

__ADS_1


__ADS_2