
Hai Readers, i am back. Jangan lupa trus dukung thor dengan vote yang banyak ya soalnya hari ini adalah hari vote sedunia, dan jangan pelit dengan like dan gift!! Wk wkw wk niscaya thor akan membalasnya dengan crazy update. Happy monday! Happy Reading and God blesss!!!💋💋
***
" Kenapa kalian bisa kecolongan ? Kedatangan orang kayak ini. Aku kan sudah bilang kalau ada orang ini datang harus langsung kalian tolak dan usir !" kata Valen dengan suara datar dan marah. Para pengawal langsung menganggukan kepalanya dan ingin segera mengusir orang yang memanggil nama nyonya bosnya itu.
" Mas, kenapa kok diusir?" tanya Anin dengan nada heran. Dia yang tidak tahu menahu dengan kejadian yang lalu membuatnya bingung kenapa harus mengusir orang yang menyapa dirinya.
" Karena dia tidak pantas disini!! " sahut Valen dengan nada tegas. Ia berusaha menahan amarahnya supaya dia tidak keteleepasan dengan Anin. Ia ingat kalau Anin itu saat ini tidak bisa dikerasin. Terlalu sensitif juga.
" Tapi mas, ini kan om Dewa dan tante Anna?" tanya Anin dengan kebingungan. Meski Anin juga tahu kalau om tantenya itu tidak pernah akur dan menyukai suaminya tapi dulu kayaknya Valen tidak pernah se ekstrem ini, apakah ada hal yang dirinya tidak tahu. Anindya bukanlah orang bodoh.
" Tunggu Val, maafkan saya!" kata Dewa sambil memeluk lutut Valen sambil menangis dan keduanya bersujud di bawah kaki Vallen. peristiwa itu tambah membuat Anindya semakin bingung. Mengapa paman dan bibi nya malah sekarang memohon-mohon dan merendahkan diri dihadapan suaminya. Padahal dia tahu pasti bahwa mereka berdua itu sangat membenci suaminya.
" Mas.." sadar Anin saat melihat suaminya hanya berdiri diam mematung tanpa berekspresi sama sekali. Dan Valen pun tersadar dari pikirannya dan setiap amarah yang memuncak ketika melihat kedua orang yang sangat ia benci yang sudah hampir melenyapkan nyawa istri dan anak anaknya itu.
Dewa dan istrinya masih bersimpuh dan berlutut di kaki Vallen. Tapi Vallen sama sekali tidak menghiraukan apa yang sudah dilakukan oleh Dewa dan istrinya. Anindya kembali menyentuh lengan suaminya yang masih diam tanpa ekspresi. Anindya kembali merasa ketakutan saat melihat wajah Valen yang dingin dan datar seperti tadi.
" Mas.." cicit Anin lirih.
__ADS_1
Valen masih menatap kedua orang yang ada di hadapannya itu dengan tatapan penuh dendam namun saat Anin memegang lengannya dan wajahnya yang yang sendu seperti tadi Valen segera sadar bahwa Anin mungkin ketakutan dengan apa yang dia tunjukkan saat ini.
" Kamu balik dulu ke kamar ya?" bisik Valen lirih, dia tidak mau istrinya melihat saat kemurkaannya muncul melihat kedua orang yang sedang bersimpuh ini.
Dewa dan Anna sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Valen. Meteka akan mencoba dulu sekuat tenaga memohon ampunan baik dari Valen atau Anin. Mereka sadar kalau anaknya salah. Mereka juga tidak tahu menahu. Tapi rasa sayangnya mereka kepada anaknya membuat mereka juga tidak bisa membiarkan There membusuk begitu saja di penjara atau bahkan kena hukuman seumur hidup atau hukuman mati.
" Mas.." Anin hanya bisa menkode dengan matanya kalau dia tidak ingin ditinggalkan sendirian di dalam kamar ruang rawat inap itu lagi.
Valen hanya bisa mendesah dengan kasar melihat kondisi ini. Paman dan bibi Anindya sangat pandai mencari waktu yang tepat untuk menyelinap dan menemui dirinya disaat ada Anin. Mereka rupanya tahu kalau Anin dan kandungannya adalah titik kelemahan dirinya.
" Mau kalian apa?" tanya Valen dengan nada sebal. Tapi tidak bisa menunjukan kemarahan yang berlebih nanti si Anin, istrinya bakal ketakutan dan sensi.
" Jadi maksudnya kalian ingin lepas tangan atas apa yang dilakukan oleh anak kalian. Apa yang sudah dilakukan oleh anak kalian itu merupakan tindak kejahatan kriminalitas pidana, pencobaan pembunuhan! Kalian sadar kan apa yang sudah dilakukan oleh anak kalian itu? Dan sekarang kalian berdua kemari untuk meminta pengampunan kepada kami? Apakah anak kalian itu layak untuk menerima pengampunan?" cecar Vallen dengan nada kesal sekaligus dengan amarah yang sedikit meluap. Dia hanya mencoba menahan nya sekuat dirinya, tapi saat Vallen mengingat kondisi Anindya, dia kembali meradang.
Tentu saja Anindya yang tidak mengetahui kejadian saat dia diculik menjadi heran dan bingung kenapa suaminya ini marah dan kenapa paman dan bibinya ini meminta pengampunan kepada suaminya dan juga kepada dirinya. Dia juga mendengar kata-kata dari suaminya tentang pencobaan pembunuhan, siapa yang yang mencoba membunuh? an siapa yang yang menjadi target?
" Sebentar om Dewa, Anindya jadi bingung sebetulnya ada apa sih? Apa maksud kalian dengan percobaan pembunuhan dan siapa yang hendak dibunuh?" tanya Anindya dengan nada bingung. Dewa dan Anna saling menatap, mereka tahu kemungkinan Vallen tidak menceritakan hal yang mengerikan itu kepada Anindya supaya Anindya tidak kepikiran dan berpengaruh pada kandungannya. Mereka pun juga tidak berani memulai untuk menceritakan hal itu karena bisa-bisa Vallen tambah murka dan mereka tidak jadi mendapatkan pengampunan, karena poin mereka datang ke sana adalah meminta pengampunan kepada Anindya dan Vallen.
" Sayang, sudahlah tidak usah memikirkan tentang problematika orang lain. Ini masalah dari paman dan bibi kamu serta anaknya yang brengsek itu. Jadi kita lebih baik tidak ikut campur dengan urusan mereka." kata Vallen dengan nada dingin sambil menatap Dewa dengan tatapan peringatan supaya Dewa tidak menceritakan hal sebenarnya kepada Anindya.
__ADS_1
" Mas, kalau kita bisa membantu, apalah salahnya?" kata Anindya dengan nada lembut, Anindya berpikir mungkin suaminya ini masih memiliki dendam secara pribadi terhadap paman dan bibinya mengingat zaman dulu mereka ini suka sekali menghina Vallen dan membanding-bandingkannya dengan menantunya yaitu Alan.
Vallen tahu persis akan kebaikan hati daripada Anindya jadi dia tahu kalau Anindya bakal melepaskan Tere kalau sampai Anindya tahu yang sebenarnya, dan Vallen tidak ingin melepaskan Tere sama sekali. makanya Vallen tidak mau kalau sampai Dewa dan Anna menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya kepada Anindya.
" Baiklah, Mas akan membantu sebisa Mas, tapi kamu tidak boleh turut campur dalam hal ini. ingat kalau kamu sekarang masih mengandung dan Mas tidak mau kalau sampai anak kita kenapa kenapa. jadi tolong sekarang turuti perintah Mas, kamu menunggu di kamar kamu sendiri. dan biarlah paman dan Bibimu ini Ini Mas yang akan mengurus." kata Vallen dengan nada tegas, dan Anindya pun terpaksa menuruti apa yang menjadi keinginan suaminya asal suaminya tidak berlaku semena-mena terhadap paman dan bibinya itu.
Anindya pun mengangguk anggukkan kepalanya dan dia bersedia untuk diantar oleh para pengawal yang tadinya bersama-sama dengan mereka, dan setelah Anindya dibalikkan ke kamar, Vallen bergegas menarik kedua orang itu untuk berbincang di tempat lain karena dia tidak ingin Anindya sampai mendengar apa yang hendak dibicarakan oleh Vallen dan Dewa.
" Sekarang katakan apa maumu?" tanya Vallen dengan nada dingin setelah mereka sampai ke sebuah ruangan yang diminta oleh Vallen kepada pihak rumah sakit, maklum rumah sakit itu kan milik keluarga Vallen.
.
.
.
TBC
langsung up lagi sehabis ini. Tunggu ya.. jangan lupa voteeeeee, likeeee dan giftnyaaaa.
__ADS_1