Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 65.


__ADS_3

Doni yang sudah berlari ke mobil Van milik Erik langsung membawa mobil dengan hati hati. Dia sadar bahwa di jok belakang ada Anindya istri dari tuan muda Valen. Nampaknya Anin belum sadar, jadi Anin belum bangun dari tidurnya.


Doni berhenti ke rumah laknat tempat Anin disekap tadi. Valen sudah menanti di depan pintu pagar rumah itu. dan setelah Doni merapat Vallen langsung naik ke mobil melalui pintu tengah, jadi dia duduk memangku istrinya yang masih belum sadarkan diri.


" Don, kenapa istriku belum sadar?" tanya Valen dengan nada gusar. sebenarnya Doni ingin menjawab 'lah saya gak tahu, kan saya bukan Dokter! Kok malah nanya saya! Tapi Doni tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu. Emangnya dia ingin dipecat ? Karena Valen ini adalah sumber dana terbesar daripada Erik, kalau sampai dia menyinggung perasaan Vallen dan lapor ke Erik bisa-bisa dia dipecat duluan.


" Ehm saya ga tau bos! Apa mungkin Over dose? " tanya Doni balik.


" Berarti kita harus segera sampai di rumah sakit, karena Anindya sudah dalam kondisi seperti ini sejak tadi. Aku akan segera menelpon ke rumah sakit supaya mereka mempersiapkan alat-alat dan juga ranjang dorong rumah sakit di depan lobby." kata Vallen sambil mengusap wajahnya dengan kasar, sebenarnya Valen tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Wajah dan tubuhnya mengalami luka-luka dan juga memar. Belum lagi tangannya yang tadi berdarah juga sudah berdarah lagi. Tapi dia tidak memperdulikan itu semua yang terpenting baginya adalah istri dan anak-anaknya selamat.


Sesampainya mereka di rumah sakit, pihak rumah sakit sudah menyiapkan semua peralatan dan juga ranjang dorong yang diminta oleh Vallen.


Anin segera dibawa ke ruangan tindakan khusus, Anin akan diobservasi selama 1 kali 24 jam untuk kondisinya yang belum sadar pasca diberi obat bius. Karena menurut CCTV yang dilihat oleh Vallen, Anin diberikan obat bius melalui sapu tangan yang sudah diberi kloroform.


Anin sudah 30 menit ini masuk ke ruang tindakan. Lampu di ruang tindakan pun masih berwarna merah, mereka belum keluar sama sekali, padahal setahu Vallen padi istrinya tidak kenapa-kenapa. tidak ada luka ataupun catat di tubuh istrinya.


Vallen yang gusar berjalan kesana kemari kebingungan. Tak lama kemudian ayahnya beserta Revan datang ke sana, Valen memang sengaja tidak memberi kabar kepada orang tua Anindya, dia tidak ingin dirinya tambah ribet bertemu dengan Mertuanya itu.


" Gimana kabar Anin sama cucuku?" tanya Willy dengan suara cemas.

__ADS_1


" Mereka belum keluar dari ruangan sejak 30 menit yang lalu saat Vallen menelepon Ayah tadi." kata Vallen sambil memilin-milin tangannya pada dia cemas dengan kondisi istri dan anaknya.


Tak berapa lama kemudian lampu di ruangan tindakan matikan kemudian dokter keluar.


" Keluarga ibu Anindya?" tanya dokter yang keluar dari ruang tindakan beserta 1 orang suster yang ada di sampingnya.


" Saya suaminya.."kata Vallen sambil tergesa-gesa menghampiri dokter itu, sedangkan ayah dan depan mengikuti di belakang mendengarkan apa yang sedang terjadi menurut versi dari dokter itu.


" Kondisi janin ga ada masalah! Tapi istri bapak masih belum sadarkan diri. Penyebabnya adalah bius umum dapat menyebabkan sejumlah efek samping dan komplikasi, yang sebagian besar tergantung pada kondisi orang. Rupanya ibu Anin ada alergi khusus terhadap obat bius tertentu. Kami sudah melakukan penetralisir tadi. dan perkiraan kami ibu Anin akan bisa sadar dalam waktu 24 jam. Mudah-mudahan apa yang menjadi perkiraan kami ini bisa terealisasi. Ibu Anin bisa bekerja sama, karena pada dasarnya kami sudah menetralisir efek bius yang ada dan menekan alergi yang ditimbulkan." kata dokter itu dengan detil. Valen mengepalkan buku tangannya yang terluka tadi dan belum sempat melakukan perawatan. sedangkan ayah dan Reva dan devisa menepuk-nepuk bahunya supaya tidak sabar menantikan Anindya bisa sadar secepatnya.


" Kalau tidak ada hal lain yang mau ditanyakan kami permisi dulu, Ibu Anin akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap VIP seperti biasanya, saya harapkan pihak keluarga juga pengawal yang di tunjuk bisa lebih ketat lagi untuk menjaga ibu Anin. Permisi." kata dokter beserta 1 orang suster yang di sampingnya itu berlalu, Vallen hanya menatap nanar dokter dan juga suster yang pergi tadi masih belum bisa berkata apa-apa, sehingga ayahnya yang kemudian memulai bertanya tentang kejadian yang lewat tadi.


" Aku akan menghancurkan There!" teriak Valen dengan nada seperti


" Nak..."


" Aku akan buat dia jadi gila! Aku akan menghancurkan dia." kata Valen dengan nada dingin. Willy bergidik dengan tatapan haus darah dari anak laki lakinya itu. Revan pun merasa ngeri dengan wajah Valen yang berubah merah dan luka luka itu membuat Valen tampak menyeramkan.


" Val, tenangkan dirimu dulu! Obati lukamu dulu karena kalau Anin sadar dan melihat kamu dalam kondisi seperti ini, dia akan sedih. Masa kamu mau kalau dia sampai sedih karena melihat kamu terluka parah seperti ini?" tanya Revan dengan nada lirih namun cukup jelas untuk di dengar oleh Valen.

__ADS_1


Tatapan mata Valen yang kosong, tiba tiba berisi. Dia seperti orang yang tersadar lalu mengangguk pasrah saat Revan memanggil seorang suster untuk mengobati tuan mudanya itu. Dengan tatapan sendu ayah Willy menatap anaknya yang sedang duduk di selasar depan ruangan tindakan Anin. Mereka menunggu Anin dipindahkan ke ruangan VIP. Sembari menunggu luka luka Valen di obati dan juga dibersihkan oleh seorang suster.


" Keluarga ibu Anin?" tanya seorang suster yang tergopoh gopoh keluar dari ruangan tindakan yang sudah ditinggalkan oleh dokter yang menangani.


" Iya sus! Saya suaminya." kata Valen langsung menarik tubuhnya mendekati suster jaga ruang tindakan dan mengabaikan suster yang sedang mengobatinya.


" Pak, ibu Anin sadarkan diri. Dokter sudah saya panggil. " baru saja suster memberitahu info itu, tiba tiba seorang dokter berlari menuju ruangan tindakan tanpa mempedulikan Valen dan yang lainnya yang berjaga di depan ruangan tindakan. Membuat Valen menjadi kesal karena ia kembali tidak bisa berbuat apa apa. Bahkan suster yang memberi info tadi ikut masuk ke dalam ruangan tindakan tanpa melanjutkan perkataannya.


" Pak, saya lanjutkan pengobatan bapak yang belum selesai." Kata suster yang tadi mengobati Valen. Tapi Valen terlampau cemas untuk kembali dapat menerima perawatan dengan tenang, sehingga dirinya langsung menepis dan tidak menghiraukan suster itu. Sampai Revan akhirnya hanya bisa menyuruh sustter itu untuk pergi.


.


.


.


TBC


Sah 2 episode ya. Maklum karena selesai malam, jadi mungkin review editor butuh waktu. Jangan lupa untuk VOTE dan LIKE !!!! Gift juga ditunggu. Support thor dengan itu ya. Spam komen saya baca tapi kalau toxic ya palingan cuman saya baca doang. Gak ngaruh!!!🤣 Happy Reading guyssss

__ADS_1


__ADS_2