
Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!
***
" Kenapa kita masih belum bisa menemukan lokasi ayah dan juga anak anak?" tanya Anin yang terengah. Ia lelah, tapi ia harus tetap maju. Sang pengawal ingin membantu dengan menggendong nyonya mudanya tapi tak berani mengingat betapa ganasnya tuan mudanya.
" Sudah hampir sampai, sekitar 1 kilo lagi, nyomya. Apa nyonya sudah capek? Mau istirahat dulu?" tanya pengawal itu dengan nada hormat. Tapi Anindya menolak dengan tegas baginya beristirahat adalah saat ketika dia sudah menemukan ayah mertua dan anak-anaknya, beristirahat adalah sudah menemukan tempat persembunyian yang tepat bagi mereka agar pasukan pembunuh itu tidak bisa menggapai mereka.
" Tidak!! Kita harus cepat sampai dan pergi dari sini. Aku tidak mau membuat anak-anakku tidur di tempat seperti ini. Biarlah kita bersusah payah dahulu supaya kita bisa mencapai pemukiman penduduk di daerah Utara. Paling tidak kita bisa kembali meminta bantuan kepolisian untuk melindungi kita di daerah sana. Aku juga heran kenapa pihak kepolisian lambat sekali menangani masalah kita ini. kalian sudah benar-benar menghubungi pihak kepolisian kan? Lalu bagaimana dengan kak Revan, Apakah dia juga sudah menghubungi kamu lagi?" cecar Anindya sambil terus berjalan dengan cepat bahkan kaki kecilnya itu setengah berlari untuk bisa lebih cepat menggapai lokasi ayah mertua dan anak-anaknya, dia bahkan tidak peduli bahwa saat ini perutnya terasa sakit karena bekas operasi itu masih meninggalkan rasa perih yang seringkali timbul saat dia stres.
" Kami sudah menghubungi pihak kepolisian saat Nyonya tadi memperintahkan. dan pihak kepolisian sudah sampai di desa bagian Selatan yang ditembak oleh pasukan pembunuh tadi. Mungkin para pihak kepolisian juga sudah mengarah kemari. Dan jangan Nyonya lupa bawa pasukan itu mungkin sebuah pasukan yang sangat kuat dan jumlahnya mungkin sangat banyak sehingga mereka bisa mengalahkan pihak Kepolisian dan pihak Kepolisian Mungkin sedikit kewalahan sehingga kinerja nya agak melambat. Kalau Pak Revan kita sudah mendapatkan instruksi untuk sampai ke arah basecamp yang dituju. katanya tuan muda Vallen lah yang akan menjemput Nyonya anak-anak serta ayahnya." jelas pengawal itu dengan nada hormat sambil mengikuti pergerakan Anindya yang yang sedikit melemah saat mendengar bahwa suaminya yang akan menjemput dirinya di basecamp yang ditentukan.
Semangat Anindya sedikit terpantik gara-gara pengawal itu mengatakan bahwa suaminya sudah menunggu dirinya di basecamp yang ditentukan oleh Revan. Paling tidak dia merasa bahagia karena ternyata suaminya tidak kenapa-napa. Saat ini pr-nya adalah dia harus menyingkirkan rasa lelah dan rasa sakit di sekujur tubuhnya agar bisa menggapai anak-anak serta Ayah mertuanya terlebih dahulu.
" Itu Nyonya, menurut GPS itulah lokasi di mana mereka berada cuman memang mereka tadi sudah bilang bahwa mereka akan bersembunyi supaya saat pasukan itu dan mungkin mendahului Nyonya, mereka tidak akan terlihat dan tergapai." kata pengawal itu sambil menunjuk sebuah arah yang tidak terlalu jauh lagi dari langkah kaki mereka.
__ADS_1
" Baiklah, beri tanda untuk mereka untuk segera berjalan lagi. Kali ini tujuan kita adalah tempat base camp yang ditunjuk oleh kak Revan." kata Anindya dengan nafas sedikit tersengal. Ia mempercepat langkahnya. Dia tidak mau nerhenti sebelum ia mencapai desa itu.
Para pengawal dari Vallen merasa kagum dengan Nyonya muda nya itu. Walau wajah dan tubuh mungil kelelahan dari Nyonya mudanya itu, terpancar jelas tapi Anindya tidak menyerah dan dia tidak mau beristirahat karena merasa bahwa ini belum aman. Anindya merasa memiliki kewajiban untuk menyelamatkan ayah mertua dan juga anak-anaknya.
***
Revan pun tidak bisa begitu saja mengurus urusan kantor, secara jujur perasaannya sudah tidak ada lagi di kantor.
Dia ketakutan dengan nasib ayah angkat dan juga iparnya belum lagi dengan keponakan yang lucu-lucu itu. Jadi dia memutuskan untuk datang ke basecamp yang dia rancangkan untuk pertemuan antara Anindya dan juga Vallen. Dia tahu mungkin Vallen dalam perjalanan ke sana tapi lokasi dirinya lebih dekat dengan pemukiman Desa bagian utara itu jadi pastinya dia akan lebih cepat sampai.
Tanpa menunggu lama Revan langsung mempersiapkan diri untuk berangkat bersama dengan pengawal yang setia mengikuti dirinya, karena memang semenjak kejadian Anindya diculik Erik mempertebal keamanan untuk seluruh keluarga besar dari Willy Weston.
Perkiraannya Vallen juga belum sampai ke daerah situ. Dan dia berusaha menghubungi Vallen dengan pemikiran bahwa jangan-jangan Vallen sudah datang dan membawa Anindya beserta anak-anaknya juga ayahnya.
Tapi telepon dirinya lagi lagi tidak dijawab. Ia yakin sedari tadi Valen belum mengaktifkan ponselnya efek karena dia tergesa gesa dan pikiran.
__ADS_1
"Hubungi kepala pengawal Erik, dia pasti sedang brsama tuan muda Valen. Katakan kalau kita sudah sampai disini. Hubungi juga pengawal milik nyonya muda, apakah mereka sudah sampai? Dan tanyakan juga kondisi ayah dan juga keponakan ku!" perintah Revan dengan segera. Ia ingin segera mengetahui kondisi keponakan dan ayah juga iparnya.
Pengawal yang diajak berbicara langsung saja menghubungi kepala pengawal Erik yang berada bersama-sama dengan Valen. Sedangkan salah satu pengawal yang lainnya menghubungi pengawal yang sedang bersama dengan Anindya.
" Tuan, kepala pengawal yang sedang bersama dengan tuan muda Valen sedang dalam perjalanan ke arah sini. Sedangkan pengawal yang bersama dengan Nyonya muda tidak menjawab panggilan yang kita berikan, jadi kita masih belum tahu kondisi yang saat ini dialami oleh Nyonya muda." jelas pengawal itu dengan nada hormat, sejujurnya mereka juga cemas dengan kondisi temannya yang bersama dengan Nyonya mudanya, karena mereka semua diambil dari kumpulan pengawal khusus yang dimiliki oleh Erik, tapi mereka harus profesional bukan?
" Bagaimana ceritanya mereka tidak menjawab panggilan kita? Bukannya tadi masih terhubung ya?" cecar Revan dengan suara cemas yang tidak bisa dia sembunyikan, karena bagaimanapun ada ipar, keponakan, serta Ayah angkatnya di sana.
Dia sangat khawatir dengan perkembangan yang dia terima saat ini. Karena pengawal yang disuruhnya untuk menelepon pengawal Anindya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah tanda dia juga tidak bisa mengetahui kondisi temannya yang ada bersama sama dengan Anindya.
.
.
.
__ADS_1
TBC
langsung up lagi habis ini yaa... ditunggu!!!