
Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!
***
"Ternyata dugaan kita benar, ini adalah kode untuk orang yang menyewa kerjaan mereka." kata mr Wong dengan nada yakin.
"Itu cuman angka angka saja padahal ya?" tanya Valen sambil mengintip kode kode yang ada di buku catatan itu.
"Itu bisa jadi barang bukti ya." kata Revan dengan kagum dengan kemampuan mr Wong.
"Ada kode pamannya Valen?' lanjut Revan sambil menatap mr wong.
"Tidak ada ! Apakah paman kamu menyewa dengan nama lain?" tanya mr Wong dengan kesal. Dendam kesumat mr wong diubun ubun. Ia kesal dengan ALicia dan Bill. Karena merka dia kehilangan orang orang hebatnya. Yang tinggal sekarang hanyalah orang orang yang merupakan second liner saja.
"Sebaiknya kalian pulang an beristirahat. Terutama kamu, Val!! Jaga istri dan anak kamu. Ayah biar aku saja yang urus." kata Revan sambil menepuk bahu saudaranya itu. Valen hanya mengangguk saja mendengar nasihat dari saudara angkatnya itu.
"Mr Wong, kita harus tetap berkoordinasi. kita tidak bisa membiarkan Bill dan ALicia pergi begitu saja." kata Valen dengan wajah lelah. Mungkin bukan saja Valen tapi semuanya. Bayangkan Valen dan Revan harus berkoordinasi sejak dini hari dan ini sudah hampir menjelang maghrib.
"Baiklah, Bro! Kita mesti keep in touch.Aku akan menghubungi kalau aku sendiri mendapatkan kabar." kata mr. Wong dengan segera, ia mengembalikan barang bukti yang harus dibawa oleh komandan polisi Nawa.
"Baiklah, kalian beristitahat, kalau ada info ada baiknya kalau kalian membagikan nya kepada kepolisian. Biar kita menyelesaikan sisanya!" kata komandan polisi Nawa dengan nada bijaksana.
"Kami mengerti" kata Revan sambil menganggukan kepalanya.
Setelah komandan polisi pergi, Valen langsung berbisik lirih kepada mr wong.
"Jangan lupa klau kamu menemukan jejaknya, segera kabari aku. Aku ingin kamu menghabisinya di depan mataku." kata Valen dengan nada lirih. Dia tahu kalau sampai ini terdengar oleh komandan polisi urusannya bisa panjang. Tapi jelas ia tidak akan mau melepaskan pamannya yang gila itu.
"Kamu mesti menemukan tempat lain untuk persembunyian Anin dan ayah loh, Bro! Paman kamu berarti sudah tahu keberadaan mereka. Kita harus wapada." kata Revan dengan berbisik juga. Mr wong yang mendengar tentang ketakutan mereka, langsung menawarkan diri.
"Apa kalian mau kalau mereka tinggal di tempatku saja. Tempat ku sangat terjamin kalau masalah keamanan. Bahkan kalau mereka membawa bom sekalipun, aku masih bisa mengatasinya."
__ADS_1
kata mr wong dengan nada jumawa. Emang sebagai ketua mafia, ia harus memastikan kalau tempatnya aman seratus persen dari serangan musuh,
Revan dan Valen berpandangan, mereka sebenarnya tidak suka mengandalkan orang lain apalagi tinggal di tempat asing, tapi apa boleh buat.
" Ehm apakah Alicia tidak tahu akses rumah kamu sama sekali? Karena kamu jangan lupa kalau Alicia juga masih hidup loh!" kata Valen mengingatkan.
"Kalian tenang saja, aku juga punya tempat yang aman. My private island." kata mr Wong dengan nada sombong.
"Oh di kepulauan seribu?"
"Ha ha ha dekat situ tapi bisa terhubung dengan jalan darat. Bahkan bisa dicapai lewat rumahku." kata mr Wong dengan misterius.
"Yang benar?" tanya Valen tidak percaya.
"Tentu, kami sebagai seorang yang hidup dalam dunia hitam tentunya harus memiliki akses keluar yang cepat dan aman." katanya dengan senyum misteriusnya. Valen hanya bisa menatap Revan seakan meminta pertimbangan.
"Lalu sekarang mereka ada dimana?" tanya Revan dengan nada kepo, ia cemas dengan kondisi keluarga Valen dan ayah angkatnya itu.
"Kamu jangan salah loh! Mereka belum aman sepenuhnya.Karena Bill msih bisa meminta pergantian pasukan.."
"Jadi maksud kamu, mereka masih bisa datang dan menggangu keluarga ku?'tanya Valen dengan nada cemas.
"Kalau begitu kita harus segera kesana." kata Revan bergegas ke apartemen Valen yang lama.
"Aku ikut kalian, percayalah, tempatku akan jauh lebih aman." kata mr Wong denbgan cepat.
"Berapa yang kamu inginkan untuk penggantian penyediaan tempat untuk keluarga aku?" tanya Valen berterus terang dan tetap bergegas untuk pulang ke apartemen nya.
"KIta bicarakan nanti! Yang penting kita ambil keluarga kamu terlebih dahulu dan amankan mereka."
"Telepon pengawal Anindya dulu, Van!! Suruh mereka berjaga jaga."
__ADS_1
"Siap, kita naik mobil bersamaan saja, sedang pengawal biar bawa mobil aku."
"Anak buahku juga kusuruh mengikuti kita dibelakang. Takutnya kalau mereka sudah mengetahui jejak keluarga kamu sekarang." kata mr Wong sambil melompat masuk ke dalam mobil Valen.
"Ya , tapi kalau begini apa gak malah mencurigakan?" tanya Revan dengan nada ketus.
"Tidak, mereka sudah tahu bagaimana mengikuti kita secara under cover." sahut mr Wong tenang.
"Bagaimana dengan anak anak? Apa kita juga membawa mereka ke mr Wong?" tanya Revan kepada Valen.
"Ibunya tidak akan rela meninggalkan Liam dan Lios sendirian tanpa dirinya. Jadi jawabannya adalah Ya!" sahut Valen dengan tegas.
"OKe, Bro! Jadi kita akan berlindung di tempat kamu." kata Valen dengan tenang. Baginya uang bukanlah masalah utama, yang terpenting baginya adalah anak dan keluarganya selamat kan?
"Van, bagaimana dengan kondisi Erik?" tanya Valen dengan segera, ia ingat dengan sahabatnya yang pagi tadi masuk rumah sakit gara gara Alicia dan Bill, semoga saja kondisinya tidak mengkhawatirkan.
"Sudah dalam kondisi yang baik, dokter juga sudah mengkonfirmasi kalau tidak ada yang serius cederanya. Kecuali memar di wajah dan oh ya katanya ada salah satu rusuknya yang patah karena di pukuli hebat." kata Revan menjelaskan situasi Erik. Valen mengernyitkan dahinya tanda ia ngeri dengan kondisi dari Erik, Valen sudah mengatakan agar Erik jangan menyamar sendiri tapi Erik tidak mau mendengarkan nasihatnya.
"Aku padahal sudah bilang.."
"Erik itu saudara kamu yang tadi pagi digebukin Alicia?" tanya mr Wong.
Valen hanya mengangguk saja. Ia sedih dengan kondisi Erik. Pasti butuh waktu yang lama untuk bisa pulih seperti sedia kala.
"Masih untung dia masih bisa di selamatkan, kita kalau bekerja itu sangat kejam. Kalau dapat pengkhianat, jangan harap bisa keluar hidup hidup. " jelas mr Wong tanpa beban. Bagi orang orang seperti mr Wong nyawa manusia itu murah sekali harganya.
.
.
.
__ADS_1
TBC