Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 90.


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


***


Anin memasang wajahnya yang murung sejak tadi, sejak dia berdiri di samping brankar sembari manyaksikan ayah mertuanya yang berbaring tak berdaya. Anin sedih harus melihat ayah kandung dari suaminya  ini diperban, jadi Anin tidak bisa melihat wajah ayah yang teduh dan selalu bersikap bijaksana saayng kepadanya.


Semantara Revan dan Valen duduk di sofa lain di dekat brankar ayah Valen itu. Revan sedih melihat kondisi ayah angkatnya. Dia juga menatap Anin yang ber perut besar yang sedang bersedih.


"Jujur aja aku pingin nangis rasanya. Ini air mata mau jatuh aku tahan pake tenaga dalam."kata Revan sedikit meloow.


"Mau nangis ya nangis aja kali. Aku juga belum pernah lihat beruang nangis mukanya kayak apa?" sindir Valen merujuk pada tubuh Revan yang besar dan kekar, pastinya akan terlihat lucu kalau melihat Revan yang segede  gaban itu menangis kejer.


" In your dream, aku justru nahan air mata ini gara gara malas kalau nanti kamu godain." sungut Revan perlahan, ia tidak mau menggangu ke shaduan Anin dengan ayah Valen, entah cerita apa yang dibacakan pada Ayah.


"Anin masih dengan sabar bercerita macam macam. Kata dokter Proyogo itu bisa membuat otak ayah berfungsi lagi, mudah mudahan kesabaran istriku berbuah hasil." kata Valen sendu.


"Hmm, aku juga pernah dengar akan hal itu. Gimana dengan saran dari Erik? Kamu mau?" tanya Revan dengan hati hati. Jangan sampai Anin mendengar tentang apa yang dibicarakan dengan Valen.


"Kayaknya aku harus mengambil jalan itu, aku cemas kalau digantung begini. Kayaknya mereka juga menunggu pergerakan kita." kata Valen mendesah lelah.


"Resiko membiarkan kedua orang berbahaya itu emang sangat riskan. Erik sangat berpengalaman di bidang kayak begini. Kamu kan tahu kalau skenario kayak begini diperlukan." kata Revan sambil menepuk pundak tuan muda nya itu.


"Kamu kan juga tahu aku gak bisa berpisah dengan Anindya! Dia bagaikan belahan jiwaku, dan separuh nafasku." kata Valen dengan raut sedih.


"Anggap saja ini ujian yang harus kalian hadapi. Ingat!! Ini menyangkut nyawa mereka dan kamu mesti tahu kalau kita harus berkorban." katanya dengan nada lirih.


"Hmm aku akan pikirkan." kata Valen dengan singkat, melihat istrinya sudah berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kakak ipar, gimana perkembangan tuan Willy?" tanya Revan berusaha mengalihkan perhatian, namun Anin heran dengan wajah sedih yang tergambar jelas di wajah suaminya.


"Mudah mudahan sih bisa sadar secepatnya." sahut Anin singkat, lalu ia semakin heran saat Revan meminta ijin pada dirinya untuk pulang.


"Kakak ipar, aku pulang dulu, soalnya kantor ga ada yang jaga!" katanya sambil bergegas pergi, dia takut ntar diinterogasi sama Anindya.


"Kok buru buru?" alisnya naik tanda ia sudah masuk tahap curiga.


"Ehm iya, aku harus pergi dulu. Bye bye.." kata Revan tergesa.


Valen rasanya ingin memukul jidat asisten sekaligus anak angkat ayahnya itu, ia kesal karena Revan malah membuat Anin curiga. Dan itu berarti dia harus bercerita,padahal ia jujur belum mau bercerita dulu.


Anin menatap Revan yang buru buru pergi dengan menumpu dua tangannya di dada. Wajahnya kini menatap suaminya yang msih berekspresi datar dan dingin seolah tidak ada yang ingin ia ceritakan kepada istrinya itu.


"Jangan menatap aku kayak gitu, sayang! Yang berulah kan Revan, jadi tanyakan saja sama dia kenapa dia ketakutan sama kamu?" jkata Valen mengalihkan perhatian. Ia menyurukan wajahnya ke prut gede istrinya, menciuminya dengan gemas.


"Katanya kalau mau cepet lahiran, harus sering dijenguk anaknya. " kata Valen sambil mengusap bagian bawah tubuh istrinya dengan seduktif.


"Jangan menggoda!"


"Mas, kamu kan maksa aku harus caesar, kok sekarang berubah? Emang kamu pingin aku lahiran normal?" tanya Anin sambil menangkap tangan kekar suaminya yang asik meraba raba. Padahal itu di kamar dan masih ada ayah mertuanya disana walau ya belum sadar sih! Kalau sadar pas mereka begitu kan malah jadi masalah.


"Aku emang pingin kamu caesar saja! Aku gak akan sanggup kalau kamu sampai kenapa kenapa." kata Valen sambil memeluk tubuh istrinya yang berdiri menyamping, sementara dirnya masih duduk di sofa yang tadi.


"Makanya, cara yang kamu bilang tadi ga akan mempan buat pejuang caesar kayak aku nantinya. Lagian kan 3 hari lagi jatah aku lahiran secara caesar. Jadi 3 hari lagi kamu bakalan ketemu sama dedek dedek." kata Anindya sambil mengelus rambut suaminya yang lebat yang sedang menciumi anak anaknya di dalam perut ibunya. Anin jujur merasa geli saat Valen seperti ini, tapi dia membiarkan saja, ia tahu kalau suaminya lagi galau, entah masalah apa, mungkin dengan cara seperti ini dia bisa lega.


"Ya udah, kamu duduk aja di pangkuan aku, jangan sampai kecapean karena berdiri melulu. Soalnya yang berdiri tapi bisa bikin kamu enak itu hanya milikku." kata Valen sambil menarik tubuh istrinya yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Anindya sontak memukul bahu suaminya yang menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuannya itu. Selain kaget karena pergerakan suaminya yang tiba tiba, ia juga kesal dengan omongan vulgar suaminya itu.


"Itu omongan kok gak pernah bisa di filter sih! Kamu tahu gak walau ayah ga bisa bergerak, tapi ayah itu bisa denger loh! Kamu gak malu ngomong gitu sama aku di denger sama ayah?" tanya Anindya sambil menjewer telinga suaminya dengan pura pura. Valen semakin menyurukan wajahnya sekarang di area dada istrinya yang penuh dan kenyal itu.


"Kamu kan istri sah aku, kenapa harus malu?" katanya sambil mengggit buah dada istrinya yang masih terlapis baju di luarnya, sehingga istrinya menjerit tertahan. Sambil memukul bahu suaminya.


"Lepas ah mas!! Aku ini berat nanti kakimu kegencet! Kamu itu lagi pangku 3 orang sekaligus loh!" kata Anin dengan suara tertahan. Masa ayahnya terbangun hanya karena melihat anak dan menantunya lagi pangku pangkuan sih? mau ditaruh dimana coba wajah Anin nanti.


"Aku lagi belajar pangku 3 orang sekaligus kok sayang! Bukannya aku gak boleh pilih kasih. Kalau aku pangku ibundanya ya berarti aku juga pangku anak anaknya dong, begitu pun dengan sebaliknya." kata Valen semakin mengeratkan pelukannya kepada istrrinya sedang lengan Anindya melingkar di leher suaminya, menikmati cuddle singkat di ruangan VVIP rumah sakit.


 


.


.


.


TBC


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2