Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 98.


__ADS_3

Hai hai Readersku sayang!!! Welcome back!!! Ini adalah update kedua. Dijamin pasti puas kan karena author hari ini bakal updatenya banyak. Deg deg an.udah sampe 100 episode ajaa ih! Eits!! Jangan lupa untuk tetap like, vote dan juga memberikan gift yang banyak, supaya autornya semakin bersemangat dalam mengupdate cerita. Oh ya sembari menunggu update-an cerita ini bisa cek karya-karya author yang lain.


Ditunggu like, share, vote dan giftnya. Happy reading!!


***


" Rik... masuk ke dalam ruang kerjaku." perintah Valen melalui ponsel, karena tidak mungkin bagi Vallen untuk memanggil Erik dengan menyuruh ART miliknya, memang Erik tadi disuruhnya menunggu di luar. tapi Erik ternyata menunggu Vallen di ruang monitor CCTV. sebenarnya Bukan Tanpa Tujuan Erik melakukan hal ini, dia ingin sekalian mengecek apa yang dilakukan oleh babysitter itu di dalam ruangan si bos juga ketika dia berada di luar ruangan tuannya.


Dugaannya tepat tapi memang karena belum ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan tentunya dia harus mengumpankan Vallen untuk bisa lebih mengorek sinyal men sinyal men yang diberikan oleh si baby sitter ini.


Erik langsung balik kembali ke ruangan di Vallen, dia tahu pasti Vallen akan bertanya tentang apa saja yang dilakukan oleh si baby sitter saat sudah keluar dari ruangan miliknya.


Tok tok tok.


" Masuklah!"


" Siap bos!"


" Gimana? Dapat apa?" tanya Vallen dengan antusias dia ingin segera tahu apa yang dilakukan baby sitter itu di luar ruang kerjanya lalu Vallen diberi sebuah flashdisk yang memuat video CCTV tampak depan ruangan kerja Vallen di mana tadi di si babysitter menggerutu dengan suara yang cukup terdengar oleh CCTV yang ada di hadapannya.


Saat Vallen mendengar tentang gerutuan si babysitter, dia jadi berpikir siapakah babysitter ini karena dia tampaknya adalah seseorang yang familiar dengan dirinya.


" Menurutmu?"

__ADS_1


" Jelas ini adalah orang suruhan dari Paman kamu, dan kayaknya lebih gilanya tebakan ku tentang si baby sitter ini mengarah kepada sepupu dari istri kamu." kata Erik sambil mengusap-usap rambutnya sehingga menjadi acak-acakan.


Valen tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Erik dia merasa Erik terlalu mengada-ngada. Bagaimana mungkin seorang Tere dengan wajah yang menurutnya jelek dan tubuh yang tidak aduhai berubah menjadi seseorang yang mirip dengan Anindya dengan tubuh yang benar-benar berbeda dengan tubuhnya yang dulu, sehingga Vallen merasa pemikiran Erik ini salah.


" Baiklah, ini hanya pemikiran kosongku saja. Tebakan awal bisa meleset Bro!" katanya sambil masih memutar otak.


" Iya iya cuman kita juga tidak boleh lengah tetap selidiki orang itu. Bagaimana dengan kurikulum vitae milik babysitter ini? Apakah sudah kamu cek di agen yang memberikan referensi babysitter ini?" tanya Erik dengan suara tertahan, tebakan Erik itu seringkali jitu, lah kan belum saja sehari selesai dari pemakaman pura-pura ayah dan Anindya, sudah tergambar sedikit skenario milik rivalnya.


"Sudah, tapi referensinya bagus kok!"


" Hmm selidiki asal usulnya.!"


Vallen tahu bahwa ini mungkin suruhan dari Paman Bill tapi dia sunguh tidak berpikir kalau ini adalah jelmaan dari iblis wanita sepupu dari istrinya itu, karena memang wajah dan tubuhnya berbeda sama sekali dengan gambaran seorang Tere.


"Gak boleh!!" Erik sudah tahu maksud dan tujuan Valen mengatakan itu.


" Ya ilah Bro!! Aku malam ini tidur sana ya... ya ...ya.." kata Valen memelas. Tapi Erik tetap menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau memgambil resiko. Dan lagi kalau si Valen kesana melulu yang ada mereka malah cepat ketahuan. Dan yang parahnya lagi mereka tidak bisa dengan cepat menangkap si biang kerok. Bukankah ia emang pingin menjadikan Valen jadi umpan? Memikirkan Valen menjadi umpan, Erik jadi sedikit bahagia. Terkadang Erik kesal dengan Valen.


" Kenapa kamu tersenyum misterius gitu? Kamu gak sedang mau mengumpankan aku kan?" tebak Valen dengan jitu.


" Eh oh ehm.. enggak!! Aku lagi mikir sesuatu yang membahagiakan lainnya kok!" kata Erik dengan tergagap. Padahal emang dia lagi mikirin mengumpankan Valen.


" Halah, aku juga tahu kalau bagi kamu membuat diriku jadi umpan juga membahagiakan kamu." erang Valen dengan nada kesal.

__ADS_1


" Sudah... jangan kayak anak te ka gitu, yang penting kita harus segera bersiap dengan segala kemungkinan. ini anak buah aku juga sudah aku suruh untuk terus mengawasi si babysitter ini karena aku menduga pasti hari ini dia akan mencoba memberikan semacam treatment buat kamu supaya kamu bisa berpaling kepadanya. Bukankah kamu juga melihat bahwa apa yang dilakukan oleh eh si babysitter ini tujuannya hanya untuk menggoda kamu." kata Erik sambil mencubit di bibir bawahnya karena dia sedang berpikir keras.


" Bukannya aku ingin menakut-nakuti kamu tapi mestinya kamu juga harus memantau kondisi dari kerabat jauh mu itu. Ingat, bayi itu tidak bersalah jadi jangan sampai si babysitter ini memanfaatkan bayi itu untuk hal yang tidak-tidak. Aku juga curiga kalau misalkan Anna si babysitter itu akan menaruh semacam obat tidur agar bayi milik kerabat jauh kamu itu bisa tidur seharian. Memang cuman obat tidur, tapi ini kan berbahaya untuk kesehatan bayi itu. Jadi suruh anak buahmu juga memantau kondisi bayi itu agar tidak timbul hal-hal yang tidak diinginkan." kata-kata mengemukakan pendapatnya, yang sebenarnya sama dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Erik. Erik tahu bahwa kemungkinan bayi itu akan dijadikan tumbal, makanya dia harus berhati-hati mengambil sikap.


" Aku mengerti, melihat kenyataan seperti ini kok aku jadi berpikir kalau mereka akan segera mengeksekusi rencananya. Mereka menganggap bahwa kamu sekarang sudah seorang diri jadi akan lebih mudah bagi mereka untuk menghancurkan kamu dan membunuh bayi kamu sebagai pewaris dari Weston Group. Dan dengan begitu Paman Bil dan keturunannya bisa merebut warisan dari Weston Group. Atau kemungkinan keduanya bisa jadi dia hanya membunuh kamu atau menjebak kamu tapi mungkin dia akan membiarkan bayi kamu itu hidup. Kemungkinan terakhir ini emang sangat kecil tapi hanya ada dua kemungkinan itu saja." Papar Erik sambil menimbang-nimbang apa yang ada di dalam pikirannya serta mengungkapkannya kepada Vallen sebagai bahan pertimbangan.


Vallen terdiam dan dia sedang berpikir keras kemungkinan apakah yang kira-kira akan diambil oleh pamannya. Tapi Vallen kok lebih yakin pada option pertama karena biasanya sang paman menghancurkan semuanya sampai ke akar supaya dia tidak memiliki lagi penghalang di depan.


" Paman akan ambil kemungkinan pertama. Tapi secara eksekusi aku sih ga tau." kata Valen lagi.


" Lalu menurut kamu si baby sitter ini fungsinya apa?" tanya Erik.


" Menjebak? Menyusup? Atau memberi racun untuk membunuh aku dan bayi itu?? " kata Valen sambil melotot kaget dengan pemikirannya sendiri.


" Gawatttt, kita harus benar benar memantau bayi itu, kalau tidak, bisa saja kerabat aku anaknya tinggal 9." kata Erik sambil memencet ponsel ditangannya untuk memberi instruksi kepada anak buahnya untuk memantau bayi kerabat jauhnya itu.


" Untungg untung aku memodifikasi rencana kamu. Jadi anak anak aku aman bersama ibunya. Ga kebayang kalau mereka jauh dari ibunya dan berada di sini. Bisa tambah gila aku." kata Valen sambil mengelus dadanya, sedang Erik hanya bisa melirik sohibnya dengan lirikan tajam. Sampai akhirnya Valen hanya bisa meringis dan mengangkat ledua tangannya tanda menyerah.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2