
Saat ini Nana telah sah menjadi asisten pribadi dari tuan Gustav. Gustav sengaja membuat Nana tidak bekerja apa-apa hanya mengurus keperluan dirinya saja. Sebenarnya posisi Nana disitu hampir mirip seperti seorang istri yang melayani suaminya dengan baik. Sekalipun anak itu adalah seorang putri yang dimanjakan oleh seluruh keluarganya, Namun bukan berarti bahwa dirinya tidak bisa bekerja seperti yang saat ini dikerjakan dirumah Gustav.
" Nana Apa kamu sudah menyiapkan pakaian yang hendak kupakai ke kantor hari ini?" tanya Gustav dengan nada datar.
" Sudah tuan!" katanya sambil menunjuk 1 stel pakaian yang teronggok manis di atas tempat tidur tuan Gustav.
Bahkan Nana juga mengatur warna-warna baru untuk dipakai oleh Gustav sehingga Nana bukan hanya sebagai asisten pribadi namun juga menjadi perancang baju untuk keperluan tuan muda itu.
Gustav mengagumi pilihan warna yang dipakai oleh Nana sebagai tema bajunya hari ini. Tidak norak dan berkesan elegan. Tentu saja karena sebenarnya Nana sendiri punya style yang eksklusif karena dari sejak muda melihat barang-barang branded yang dipakai oleh ayahnya dan juga kedua Kakaknya.
" Apa makanan sudah siap?" ini dilakukan oleh Gustav karena ingin supaya asisten pribadinya itu benar-benar melayaninya dari mulai makan, pakaian dan juga kebutuhan pribadi lainnya.
" Sesuai seperti yang anda inginkan." sebenarnya anak juga sedikit kesal dengan apa yang dilakukan oleh Tuan mudanya ini karena rasanya Tuan mudanya ini tidak akan puas Kalau tidak membuat repot dirinya satu kali saja. dari kemarin dia menerima pekerjaan sampai sekarang tidak pernah dia tidak mendengar Tuan mudanya itu memanggil namanya. selalu saja Nana, lagi-lagi Nana, kalau bukan karena dirinya ingin bisa bersembunyi dari orang-orang rumahnya maka dia tidak akan mau menerima pekerjaan di tempat ini.
Di lain sisi sebenarnya Gustav mulai curiga dengan background yang dimiliki oleh Nana. Kayaknya Nana ini adalah orang yang yang memiliki latar belakang yang tidak biasa. Dilihat dari style dan juga pemilihan barang, serta wajah Nana yang cantik dan terawat, membuat Gustav tidak yakin kalau Nana miskin.
" Tuan, jadi saya tidak perlu ikut Tuan untuk ke kantor maupun ke tempat lainnya hanya tetap di sini kan?" tanya Nana dengan was-was karena kalau sampai dirinya keluar dari tempat ini bisa jadi dirinya akan cepat ditemukan oleh kakak-kakaknya atau oleh suruhan Ayah Vallen.
__ADS_1
" Tidak!! Sehabis ini kamu akan diantar oleh asisten Ken, untuk pindah ke rumah besar milikku di pinggiran kota Jakarta. Jadi villa di Lembang ini akan kosong untuk sementara waktu karena aku masih banyak pekerjaan di Jakarta. Kamu langsung aku bawa ke rumah besar disana untuk beradaptasi namun ingat kamu masih ada di dalam masa pencobaan sehingga kamu tidak diizinkan keluar dari rumah." kata Gustav dengan nada seperti biasa, membuat Nana sedikit kesal dengan perilaku tuan muda ini yang tampak berbeda dengan waktu awal-awal bertemu.
Gustav curiga bahwa Nana ini adalah orang yang menjadi suruhan lawan bisnisnya. Karena itulah dia hendak menyelidiki latar belakang Nana sebelum dia mempercayakan semuanya kepada Nana.
" Baik tuan." kata Nana dengan nada kesal yang ditahan tahan. Gustav mengulum senyum melihat wajah jutek Nana yang kesal denga tingkah laku bosnya itu.
" Bagus!! Siapkan semua barang kamu." kata Gustav sambil menyuruh Nana untuk mengikutinya dari belakang.
***
Setelah si kembar mendesak Emma Watson untuk mengakui di mana sebenarnya Nana berada, Ema pun akhirnya mengatakan sejujurnya bahwa lokasi sahabatnya saat ini ada di Lembang.
" Benar Kak ! Masa Ema berani berbohong setelah Kakak mengancam akan membangkrutkan usaha keluarga Ema sih?" kata Ema sambil mengerucutkan bibir seksinya dengan manja. Sampai Lios menyentil dahi sahabat adik perempuannya itu dengan keras.
" Aduh sakit kak!"
" Kamu ga ingat kalau kamu itu turut bersalah dalam drama pelarian adik perempuan kami? Jangan-jangan kamu juga lah yang sudah menggosok gosok adik perempuan kami untuk melarikan diri dari rumah?" kata Lios dengan nada galak, yang seketika membuat Emma Watson menjadi menciut hatinya.
__ADS_1
Dia lupa kalau orang yang dihadapi nya ini sangat kejam dan juga menghalalkan segala cara untuk dapat yang dia inginkan. Sebenarnya hampir mirip dengan adik perempuannya juga sih! Yang mengancam dirinya untuk mengikuti dan menolong dirinya untuk pelarian Baby Ly saat ini.
" Bukan kak! Sumpah deh! Aku gak akan mungkin berani mempengaruhi Baby Ly kayak gitu." kata Emma sedikit ketakutan sampai suaranya sedikit tergagap.
namun yang mengherankan saat ini adalah apa yang sedang dipikirkan oleh Liam karena dari tadi Semenjak dia tahu bahwa adiknya itu menjadi pelayan dan juga asisten rumah tangga di sebuah villa di daerah Lembang, dia tidak henti-hentinya mencubiti bibirnya, serta matanya menerawang jauh seperti orang yang sedang berpikir keras.
" Hey ada apa?" tanya Lios dengan nada cemas kepada kakaknya.
" Aku sedang sedikit berpikir tentang pelarian dari adik perempuan kita itu. Kayaknya bagus juga kalau dia bisa menjadi seorang pelayan dan juga menjadi asisten rumah tangga. Hitung-hitung itu akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga sekaligus menjadi pelajaran berharga untuk Baby Ly kalau dunia luar itu tidak sebagus yang selama ini dia alami. Jadi lain kali dia akan lebih bersyukur dengan kondisi yang dialami saat ini, tidak pergi kemudian main melarikan diri saja setiap ada permasalahan yang mungkin sedikit berat yang melanda hidupnya." kata Liam sambil menatap adik kembarnya itu dengan intens.
" Jadi maksud kamu, kita harus membiarkan adik perempuan kita itu untuk menjalani perannya sebagai seorang pelayan dan juga sebagai seorang asisten rumah tangga supaya dirinya bisa tahu bahwa kehidupan diluar itu tidak semudah pemikirannya semua, begitu? Aku sih setuju saja dengan pemikiranmu. Karena bagaimanapun kita harus menghukum adik perempuan kita itu yang sudah berani-beraninya melarikan diri dan membuat resah dan kalut seluruh keluarga. Tapi kan kamu juga tahu sendiri bahwa ayah Vallen itu sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya yang bandel itu, begitu pula dengan ibu. Apakah ibu akan bisa berlapang dada melihat anaknya perempuan satu-satunya menjadi seorang pelayan dan juga seorang asisten rumah tangga?" tanya Lios yang tidak menepis keinginan Kakak kembarnya namun juga mengemukakan pendapatnya tentang pertentangan yang akan dialami oleh mereka saat Ayah Vallen dan ibu Anindya mengetahui tentang hal itu. Lios sangat yakin kalau Ayahnya dan ibunya tidak akan mungkin setuju dengan keinginan gila dari Kakak kembarnya itu.
.
.
.
__ADS_1
TBC