Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
S2. Tertangkap Basahkah??


__ADS_3

" Bos, Fely menghilang dan jejaknya tidak ditemukan sama sekali!' lapopr Bunglon kepada Gustav dengan nada datar.


Gustav hanya menatap bunglon dengan Tatapan yang tidak terbaca, tapi bunglon tahu kalau Bosnya itu sedang marah kepadanya karena tidak bisa menemukan jejak Feli sama sekali.


Padahal menurut Gustav Feli tidak mungkin pergi jauh dari tempat itu karena Sunarto dan juga Khalid ada di dalam tangannya.


Gustav memang sengaja tidak memasukkan Sunarto dan Khalid ke penjara karena takut dibebaskan oleh Feli dan antek-anteknya, apalagi pimpinan Black Mas menghilang begitu saja tanpa jejak sama seperti Feli juga menghilang tanpa jejak.


Sebetulnya secara pemikiran Gustav lebih menyayangkan kehilangan Feli karena dia paling dendam dengan Feli Sebab karena Feli sudah menyakiti istrinya, Untung saja istrinya dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya sangat kuat sehingga tidak terjadi apa-apa terhadap mereka.


Bahkan semenjak kejadian itu, Gustav menyewa dokter khusus untuk tinggal di pavilion rumahnya sehingga ada yang memantau istrinya24 jam.


Awalnya istrinya itu ditengarai memiliki dua bayi di dalam perutnya, namun mereka berdua belum sempat membawa Baby ke Rumah Sakit tempat biasa mereka memeriksakan bayi yang ada di dalam kandungan istrinya, karena Baby masih takut keluar rumah, sementara hanya itu yang bisa dilakuakn oleh Gustav.


Dan lagi Gustav lagi sangat sibuk untuk mengurus dalang yang meracuni istrinya dan juga hendak menyerang dirinya serta keluarga Weston.


" Hmmm siapa yang menjalankan bisnis Khalid dan juga Sunarto?' tanya Gustav dengan nada dingin, pasti ini ada kaitanya dengan kepergian Feli dari rumah. Jadi kemungkinan besar orang yang menjalankan bisnis dari keluarga Feli ada hubungannya dengan kepergian Feli juga.


Fely kemungkinan berada di suatu tempat yang disembunyikan oleh orang yang menjalankan bisnis dari keluarga mereka, karena tentunya orang yang menjalankan bisnis dari keluarga feli tetap membutuhkan tanda tangan serta otorisasi dari keluarga Sunarto dalam hal ini yang bisa melakukannya hanya Fely saja. Sedangkan Sunarto dan juga Khalid ada dalam genggaman tangannya Gustav, dan tak mungkin bisa bebas kecuali Gustav sendiri yang menginginkan untuk membebaskan mereka berdua.


Tapi jelas tidak mungkin Gustav membebaskan Khalid dan juga Sunarto karena dendam pribadi yang dimiliki gustav kepada mereka.


"Seseorang yang bernama Retta, perempuan!"


"Hmm selidiki Retta itu, aku curiga kalau kemungkinan si Retta itu adalah Fely yang menyamar." kata Gustav dengan nada tenang. Bunglon menatap Gustav dengan penuh arti, karena bisa jadi perkiraan Gustav itu benar adanya dan emang ia harus menyelidiki hal itu secepatnya, sebelum Fely melakukan agresi susulan, tak ada yang mustahil bagi Fely si pembuat onar yang kegilaannya kan Gustav membuatnya gelap mata.


"Baik bos! Saya akan langsung menyelidiki keberadaan orang yang menjadi pengganti dan pelaksana di perusahaan milik keluarga Sunarto itu." sahut bunglon dengan bergegas mempersiapkan diri untuk menyelidiki tentang keberadaan Retta sebagai pengganti dan pelaksana dari perusahaan milik keluarga Sunarto itu.


"Hmm.." Gustav hanya berdehem saja menanggapi apa yang dikatakan oleh bunglon, baginya menjawab apa yang dikatakan oleh bunglon itu membuang tenaganya sehingga seringkali Kalau bulan atau asisten pribadinya mengatakan sesuatu atau meminta izin sesuatu dia hanya menanggapi dengan dingin.


Drrrttt drrrttt...


Gustav segera melirik kearah Siapa yang menelpon dirinya saat ini dan ketika ternyata telepon itu adalah dari istrinya maka dia langsung mengubah wajahnya menjadi sumringah dan juga menyunggingkan sedikit senyum di wajahnya yang tampan, karena kalau bukan istrinya yang menelepon maka dia akan pasang tampang datar dan juga dingin serta menjawabnya dengan malas malasan.


"Halo.."


"Sayang, kamu dimana?" tanya Baby dengan nada manja, kayaknya semenjak dikeahui hail dan sering tinggal di rumah baby ini sering merecoki suaminya dengan meneleponnya pada saat suaminya bekerja seperti ini, mungkin itu semua dilakukannya karena dirinya merasa bosan.


"Masih dikantor, baby!"


"Uhum, sayang! Ayah bilang akan mengantar Baby ke rumah sakit karena mereka tkut kalau ternyata bayi dalam kandungan Baby itu ada 2." katanya memberikan info kepada suaminya.


Gustav mendesah lelah, ya karena dia sibuk untuk mengurus Siapa yang sudah mencelakai istrinya, maka dia belum sempat mengantar istrinya itu untuk memeriksakan diri ke ke rumah sakit di mana mereka biasa bertemu dengan dokter kandungan yang menangani istrinya.


"Maaf ya sayang, padahl sudah seminggu dari kejadian itu tapi mas belum mengajak kamu ke rumah sakit! Selain yah karena mas takut dengan kondisi keamanan untuk kamu, Mas juga Sedang berpikir bagaimana cara menghukum orang yang sudah melakukan kejahatan itu sama kamu." katanya sambil menatap berkas berkas yang ada di hadapannya itu dengan tatapan nanar.


"Iya, aku ngerti kok sayang! Gimana? Rupanya ayah juga tidak sabar untuk menantikan informasi tentang bayi yang ada di dalam kandungan aku ini, katanya lebih cepat untuk diketahui akan lebih baik! Lagian kita tidak perlu cemas karena selain ayah dan ibu mau mengantar kita juga akan dikelilingi oleh pengawal-pengawal yang akan menjaga kita dari jarak dekat dan juga jauh." katanya menjelaskan. Rupanya Baby sudah tidak risih lagi diikuti oleh para pengawal, Gustav sadar mungkin Baby sudah mulai ngerti betapa pentingnya kalau mereka diikuti oleh pengawal dan juga penjaga khusus yang melindungi mereka dari serangan musuh.


"Baiklah, nanti kita akan bertemu di rumah sakit saja ya..." kata Gustav dengan nada sayang.


"Lagian aku juga bosan di rumah terus loh, sayang!" katanya sambil bermanja manja.


"Iya babyku sayang, i love you! Sampai ketemu di rumah sakit ya?" balas Gustav dengan nada lembut dan rasa sayang.


"I love you too, sayang!" tutup Baby sambil menyelesaikan acara teleponnya dengan Gustav.


Gustav segera membereskan barang barang miliknya dan segera beranjak untuk pergi ke rumah sakit dimana ia dan istrinya akan bertemu.


" Bos, mau kemana?" tanya Ken ketika melewati tempat duduknya tapi tanpa memandang dan memanggil dirinya sama sekali.


"Kerumah sakit!" beritahu dirinya dengan nada cuek.


"Bos sakit?" tanya asisten pribadinya itu dengan tampang khawatir, namun Gustav hanya menggelengkan kepalanya memberikan informasi bahwa bukan dirinya yang sakit.

__ADS_1


" Semua permasalahan tolong kamu yang handle, aku akan ke rumah sakit dan langsung pulang ke rumah. Jadi kamu jangan mengganggu aku kalau tidak penting-penting amat!" peringatan Gustav dengan nada tegas sehingga membuat asisten pribadinya hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti perintah dari Bosnya itu. Ken hanya bisa menatap punggung bosnya yang sudah berlalu tanpa memberikan informasi apa-apa itu, setelah mendesah dan menghela nafasnya dengan kasar asisten pribadi dari Gustav itu langsung melanjutkan lagi pekerjaan menumpuk yang harus ia kerjakan karena bos sedang tidak berada di tempat.


Gustav masuk ke dalam Life eksekutif yang biasa dia tempati bersama dengan para eksekutif lainnya, namun ketika di tempat dia berada terbuka Dia sangat heran ketika melihat ada orang yang mukanya sangat mirip dengan Feli.


Wanita itu sedang berada di tempat OB dan OG berganti baju. Sedang apakah wanita yang berwajah mirip Feli berada di sana?


Gustav tanpa banya kata langsung membrikan pesan kepada Ken untuk segera mengikutinya di lantai bawah, dan segera menangkap basah wanita yang dia anggap tadi wajahnya sangat mirip dengan Feli.


Gustav yang sedang menyelinap menuju ke kamar ganti OB dan OG itu membuat beberapa bawahannya menjadi keheranan karena biasanya Bos dingin itu tidak pernah berada di lantai di mana ruang istirahat office boy berada.


Keheranan itu disusul dengan hadirnya asisten pribadi dari bos besar mereka itu di lantai bawah.


Tapi rasa penasaran itu segera mereka tepis karena aja dari asisten pribadi milik Bos besar mereka itu menatap keheranan mereka dengan tatapan dingin seakan berkata bahwa kalau kalian masih ada disini maka surat pemecatan akan segera tiba.


Tatapan tanpa suara itu menyadarkan mereka bahwa nasib kepo mereka akan membuat hidup mereka akan di ujung tanduk Jadi mereka semua membubarkan diri tanpa suara agar tidak mengganggu aktivitas dari bos besarnya dan juga asisten pribadinya yang sedang mengendap-endap di ruang ganti office girl.


"Apa benar nona Fely ada disini?" tanya Ken dengan suara lirih nyaris tak terdengar.


Gustav hanya mengedikkan bahunya, ia masih belum pasti, namun ia rasa bisa saja itu adalah Fely, entah dengan maksud apa.


"Ayo..." perintah Gustav dengan nada lirih, tapi sebelum ia masuk ke ruangan itu, tiba tiba pintu ruangan terbuka lebar...


Brakk!!


"Arrrrrgghhh!"


.


.


.


.


TBC



jangan lupa untuk baca "SUAMIKU KEKASIH MAMAKU"


favorit, like, komen dan juga gift ditunggu yaaaa...


spill bab 2 ya


Sekalipun tak cinta, namun ketika melihat wujud Aletta yang sangat cantik ketika di make over, tentu membuat jantung Hans berdebar kencang. Wajah Aletta bak bidadari yang jatuh dari langit.


Sealay itukah Hans, pria berusia 39 th yang menikahi wanita muda, yang harusnya menjadi anak tirinya?


Wajah cantik Aletta mengalihkan dunianya, bahkan waktu mama Aletta menjadi kekasihnya, ia tak pernah seberdebar ini. Jantungnya terkondisikan dengan baik, kenapa sekarang tidak?


" Sekarang kalian adalah suami dan istri. Pengantin laki laki yang sedari tadi menatap pengantin perempuan tak berkedip sekarang boleh mencium pengantin wanitanya."


Seketika itu juga, semua hadirin yang datang berteriak dan bersiul dengan cukup keras, membuat Aletta merona wajahnya karena malu, sedang Hans melakukan apa yang disuruh oleh sang pendeta untuk mencium pengantinnya, yahhh.. mungkin sulit untuk mencium bibir Aletta sekarang, jadi ia cium kening istri yang lebih pantas menjadi anak tirinya itu.


cup..


Aletta canggung dengan semuanya ini, bayangkan dirinya yang tak pernah sekalipun menjalin hubungan dekat dengan laki laki dan sekarang harus bersama dengan seorang laki laki yang bertitel suami sah, namun pernah menjalin hubungan asmara dengan mamanya.


" Om, emang sehabis ini acaranya apa?" tanya Letta dengan suara berbisik ketika melihat rombongan orang berduyun duyun untuk menyalami mereka. Apakah setengah kota ini pada datang kesini hanya untuk menyelamati mereka?


Aletta mengedarkan pandang pada sekeliling tempat ini, luar biasa orang kaya ini...


Bahkan inisial pengantin, nama pengantin tereja rapi disana, dan bukan nama mamanya, melainkan namanya dan nama kekasih mamanya itu.

__ADS_1


" Ganti panggilan kamu itu, masa manggil suami dengan om?" sergah Hans, kesal dengan panggilan tak bermoral seperti itu, ia bagai pedo**l yang menikahi korbannya.


" Lha siapa manggilnya, kebiasaannya manggil om, lagian kita dulu jarang bertemu, jadi yahhh..." sahut Letta beralasan.


" Gak mau tahu, sekarang gak boleh panggil itu!" nada datar dan dingin Hans menyakiti perasaan Letta, gak tahu ya, kalau Letta sedang berusaha memainkan peran sebagai istri yang baik. Gak menghargai banget jadi suami! Loh ehh..


" Mau dipanggil apa, om? Eh... "


" Terserah!"


Nah kan kayak wanita lagi PMS semua serba terserah... Letta kan jadi bingung.


" Ehm mas?"


" Ya?"


" Maksudnya kalau aku manggilnya mas, gimana?"


Wk wk kayaknya gak pantes, tapi ya sudahlah, dengan begini kan dia tampak muda, walau yaaaahhh emang dia tampan dan kelihatan ga sesuai umurnya, batin Letta lagi.


" Uhukk, ehm boleh.." sahut Hans sedikit salah tingkah. Mungkin Letta gak tahu, sebagai laki laki yang berusia matang, ada sesuatu yang meronta saat Letta memanggil Hans dengan nada manja begitu.


" Mas, capek, ini kaki udah kayak kesebelasan, berdiri terus..." rajuknya manja, emang sifat Letta yang blak blakan membuatnya tak ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya pada pria yang usianya hampir 2 kali lipat usianya itu.


Hans yang bersifat dingin, datar dan tak tersentuh menjadi sedikit luner dengan kehangatan sikap Aletta.


" Mau duduk?" Hans bisa saja menyetop antrian salaman yang mengular, agar istri kecilnya bisa duduk, ia sadar kalau istrinya itu tak terbiasa pakai high heels dan juga menemui tamu dan berbasa basi seperti itu.


" Emang bisa? Tuh lihat ngeri banget kan panjangnya...Huft!" katanya kesal karena melihat antrian salaman yang tak habis habis.


Lalu Hans memanggil EO acara dan langsung berbisik, entah berbisik apa ia tak tahu namun sejurus kemudian Hans langsung menggandengnya menuju meja prasmanan kecil yang berada di pojok, tempat mempelai dan juga keluarga ini makan.


Aletta membulatkan matanya karena melihat makanan enak yang di meja prasmanan tersebut, Hans membantunya berjalan karena ekor gaun yang panjang membuatnya agak kesulitan untuk berjalan sendiri.


"Lapar juga ternyata?" tanya Hans yang melihat istri yang baru sah beberapa jam yang lalu.


"He he he, ketawa basa basi itu melelahkan ya, jadi gak salah dong kalau aku kelaparan." sahut Letta yang tanpa jaim dan malu malu langsung mengambil makanan. Hans bahkan tak pernah tahu kalau ternyata dibalik tubuh Letta yang kecil dan ramping itu ternyata daya makannya sangat kuat dan terbilang cukup bar bar.


" Makannya banyak juga?" tanya Hans dengan nada menggoda, niatnya agar gadis itu marah dan kemudian merajuk. Pasti akan sangat lucu kalau itu terjadi, amun impiannya lenyap karena gadis itu hanya biasa saja.


"Yah namanya juga lagi dalam masa pertumbuhan." Wk wk wk Ajegile, jawabannya benar benar skak mat dan tepat sasaran. Emang masih kecil kan anaknya. Jadi bener dong masih dalam masa pertumbuhan. Sindiran bagi sang perjaka tua yang mengawinin anak gadis yang beda jauh banget sama umurnya. Seketika Hans insecure saudara saudara.


"Kamu makan segitu banyak, sisanya kamu sembuyiin dimana? Masa cacng dalam tubuh kamu itu banyak ya, soalnya badan kamu itu masih ramping ramping saja, " katanya sambil memperhatikan bentuk tubuh dari Letta yang proposional dan tampak membesar di tempat tempat yang seharusnya.


"Ya, gitu deh, mungkin that s the gifts. Jadi makan banyak pun tubuhnya segini saja." katanya sambil memakan makaanan yang tersedia di meja prasmanan. Udang asam manis, Bebek peking, Sop asparagus,masyaaalah ini adalah piring ke 4 yang berusi nasi goreng seafood dan ia masih menambah bebek peking di dalam piringnya. Oh my Gos!


"Mas ambilin ice creamnya dong, vanila and strawberry ya..."


pinta Letta dengan santai tanpa memperhatikan kalau suaminya bahkan belum makan apa apa.


"Astaga, Letta!" Kakeknya yang sudah tahu betapa bar bar-nya cara makan cucunya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Itu suami kamu gak kamu layani makan duluan dan kamu sudah habis 4 piring?" tanyanya dengan nada marah.


"Maaf kek! Khilaf!" sahutnya sambil terkekeh santai, tapi tetap saja menuruti apa yang dipinta kakeknya yaitu mengambilkan makanan buat suaminya itu, bahkan berniat menyuapi suaminya itu.


Kakeknya hanya bisa mengelus dada melihat cucunya yang masih belum terlihat dewasa namun sudah menikah karena menjadi istri pengganti bagi papa tirinya.


Sedangkan Hans pun hanya bisa menyantap makanan yang di suapkan oleh istrinya itu, entah kenapa walau istrinya tu kekanak kanakan dan tingkahny semau sendiri, ia tak marah. Malah ia menyukai perangai Letta yang apa adanya dan menjadi dirinya sendiri.


"Kamu gak nambah. Letta?" sindir suaminya sambil berbisik lirih.


" Ah ada kakek gak enak, soalnya kakek itu sedikit bawel." bisik Letta dengan nada santai, namun ia masih saja sambil menyuapi suaminya yang mau mau saja dibegitukan, padahal sudah banyak yang melihatnya dan menatap kemesraan mereka dengan iri.

__ADS_1


Dasar ABG labil! pikir Hans dengan senyum yang melengkung di wajahnya yang tampan.


Cuzz aplikasi yaaaaa


__ADS_2