Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 91.


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


 


***


Dua hari pun berlalu, waktu Anindya untuk mempersiapkan diri karena akan melahirkan pun tiba. Tapi tidak ada yang berubah dengan ayah Willy. Tubuh ayah willy bagaikan daging yang berdetak namumn tidak bergerak. Dia masih bisa bernafas, tapi tidak ada tanda tanda dirinya kan terbangun. Dokter Prayogo dalam hal ini sebagai ketua tim dokter yang diwajibkan untuk mengatasi tuan Willy pun tidak luput dari sasaran kemarahan dari Valen.


Valen merasa resah sekaligus gelisah. Valen bahkan tidak menginginkan untuk mendengar penjelasan dari sang dokter karena semuanya hanya menyuruhnya untuk bersabar dan menantikan keajaiban itu datang kepadanya. Ia tidak sesabar itu. Ia bahkan besok harus mulai melaksanakan rencana yang di rancang Erik, itu membuat dia semakin sakit hati.


Valen duduk di samping brankar ayahnya dimana ayahnya berbaring dengan berbagai macam alat penopang kesembuhannya. Karena dialah pemilik rumah sakit ijni, maka ruanh sakit tidak segan untuk memberikan perawatan sekaligus alat alat yang termaksimal untuk kesembuhan ayahnya. Bahkan Valen pun tidak segan untuk mengeluarkan uang membeli peralatan yang hanya dikhususkan untuk ayahnya saja. Namun sampai sekarang alat itu hanya berfungsi sebagai penopang kesembuhannya belum dapatt menyembuhkannya dan menyadarkannya.


Valen menumpukan sikunya ke tepian ranjang ayahnya itu, ia menyugar rambutnya dnegan acak sehingga membuat rambut yang biasanya tertata dengan rapi itu berantakan tidak karuan. Sekali lagi kalau orang tampan itu bagaimana kucelnya tetep akan terlihat tampan.


Dia sudah tidak fokus dalam berkerja dalam beberapa hari ini, selain kepikiran masalah ayahanya, ia juga kepikiran masalah kelahiran anak anaknya, belum lagi urusan perusahaan yang bejibun ditambah dengan pelaku kejahatan yang mengincar keluarganya masih berkeliaran dengan bebas.


Valen tertunduk seraya menekan pelipis dan keningnya, memejamkan mata mengingat kilasan kilasan masa lalu yang sudah kembali dengan sempurna. Anindya ada di sebelah ruangan ini, rencananya operasi yang diadakan besok akan mengambil tempat di sebelah, jadi Anin tidak perlu kemana mana, mereka akan tetap di lantai 5 yang tersembunyi ini, supaya ,menghindari paman dan There yang kemungkinan akan datang dan mengacaukan segalanya. Karena lantai VVIP ini sangat rahasia letaknya jadi tidak semua dokter dan perawat tahu adanya tempat ini, kecuali petinggi petinggi rumah sakit.

__ADS_1


Valen takut, dia berpikir keras apakah dia pernah melakukan hal yang buruk kepada ayahnya? Mungkin berkata kata yang tidak baik? Atau membentaknya? Kalau ada ia ingin benar benar minta maaf kepada ayahnya itu. Kalau saja ia tahu kapan waktu akhir dirinya bertemu dengan ayahnya, ia pasti akan mengucapkan kata kata yang baik. Memberinya perhatian yang terbaik kepada ayahnya itu, karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan berpisah dengan seseorang, maka selagi dia ada bahagiakanlah dia semampu kamu.


"Ayah, bangunlah! Kebersamaan kita baru sebentar, besok ayah juga akan menjadi kakek dari 2 anak laki laki yang pastinya setampan kakeknya ini. Jadi bangunlah! Aku gak bisa menanggungnya sendiri." kata Valen sambil menahan air mata yang akan ajtuh di pipinya. Dia tidak boleh sedih, dia harus kuat, ada Anin dan anak anaknya yang harus ia perhatikan dengan ekstra.


" Ayah, aku harus kesebelah sebentar, aku harus mengecek kondisi Anin. Ayah kumohon, lekaslah sadar, karena aku tidak bisa sendiri." kata Valen sambil beringsut menjauh dari brankar ayahnya tanpa menyadari kalau jari jemari ayahnya bergerak sedikit.


***


Keesokan harinya, Valen sudah bersiap di dalam ruangan yang sama dnegan istrinya. Valen menatap wajah istrinya dan menggenggam tangannya yang dingin.


Dokter wanita yang dipilih Valen itu sudah siap melakukan operasi Caesar, setelah menyiapkan segalanya termasuk kain pembatas antara dokter dan pasien, ia segera memulai tindakan itu.


"Rileks saja bu, Saya rasa obat bius lokalnya sudah bekerja dengan sempurna." kata dokter itu dengan nada santai. Ia jelas melakukannnya dengan penuh kehati hatian dan dengan santai takut kalau pasiennya tegang kan malah berabe. Entah apa yang dokter serta suster lakukan di balik tirai, karena baik Anin maupun Valen tidak bisa melihat ke balik tirai, eh sebenernya Valen bisa sih melongok, tapi cekalan tangan Anin di lengannya begitu kencang, rasanya Anin gugup parah.


" Siap siap ya bu!" kata dokter wanita itu dengan nada antusias.


Dokter yang mengawal kehamilan Anindya sejak awal itu sudah bersiap bersama suster yang menolong untuk menyambut kelahiran bayi kembar milik Valen dan Anin.  Hingga seorang  bayi laki laki itu keluar dari perut ibunya. Jeritan tangis anak laki lakinya, membuat Anin mendesah lega, begitupula dengan Valen. Tak selang berapa lama tangis anak keduanya itu juga terdengar di telinga mereka berdua. Mereka mengengkatkan seuntai doa di hadapan Tuhan sang pencipta yang sudah mengaruniakan dua buah hati yang sehat dan sempurna.

__ADS_1


"Ini bayi pertama ya bu! Silahkan si ibu melakukan inisiasi dini. Gak apa apa walau mungkin belum keluar tapi ada bonding yang kuat yang terjalin saat si bayi melakukan iniasi dini." kata seorang suster yang menyerahkan anaknya yang pertama dan seorang suster yang lain menyerahkan anak yang kedua. Valen terkejut melihat betapa mungilnya anaknya itu, hanya sebesar botol aqua ukuran satu setengah liter.


"Sus, jangan suruh saya menggendongnya, saya takut." kata Valen sambil bergidik ngeri melihat anaknya yang begitu kecil. Suster suster yang mengantar hanya bisa tersenyum geli. Sebenarnya papa dan mama Anin sudah menunggu di luar ruangan kamar yang dijadikan tempat untuk operasi caesar, cuman itupun mereka mendapat pengawalan ketat dari basement rumah sakit. Takut kalau ada orang yang mendompleng mereka. JUga mbok Sitti sebagai ART senior di rumah besar ikut menunggui Anindya di depan pintu ruangan kamar.


Mereka hanya boleh menunggu di selasar luar, disana Valen menyediakan kursi kursi agar yang menunggu kelahiran bayinya tidak usah merasa kecapean.


Rencana Erik juga bakal dilaksanakan sekarang juga. Ini sebenarnya cara yang paling tepat agar siapa saja yang menjadi penghianat akan terlihat jelas. Dan emang Valen juga melihat kalau hal  ini bakal membuat dalang dari semua kesusahan dan kecelakaan di sini akan terlihat jelas. Lihat saja, Valen tidak akan melepaskannya kali ini. Ia akan membunuhnya dengan tangannya.  Berani mengganggu keluarganya dan menyakitinya? Valen akan menghancurkannya.


Tapi apa rencana Valen dan Erik? Episode selanjutnya ya!!


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2