Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 64.


__ADS_3

Cepat-cepat Vallen berbalik ke arah di mana dia masuk bertiga tadi, dan karena dia harus melompati tembok di belakang maka dia merubah gendongan Anindya dari gendongan ala bridal ke gendongan di belakang punggung. Di dalam pikiran Vallen saat ini adalah ia harus segera membawa Anindia keluar dari tempat itu sebelum istrinya sadarkan diri. Beruntung ada gundukan pasir beserta batu-batu tu yang ada di dekat tembok tersebut, ini sedikit memudahkan Vallen untuk melompat dengan membawa beban istrinya di punggungnya. Tapi karena Vallen kurang hati-hati ketika melompat ke seberangnya jadi dia terjatuh.


" Arrrgggh!!" Bruuukkk!!!


Vallen berusaha menggulingkan badannya supaya wajah dan badannya yang terkena tanah terlebih dahulu jadi Anin akan tetap selamat karena berada di punggungnya. Beruntungnya lagi Anindya tidak terbangun selama proses evakuasi itu. Jadi Valen sedikit lega karena ia tidak perlu menjelaskan apa apa sama istrinya. Anggap aja ini sebuah mimpi saat Anin bangun nanti. Valen berdoa anak anaknya kuat di dalam perut istrinya. Dan obat bius yang dipakai tidak berpengaruh terhadap janin di dalam perut istrinya.


" Aduhhh!" teriak Valen dengan suara tertahan,


Wajahnya dan juga tubuh Valen sakit semua karena selain ia menahan berat tubuh Anindya supaya tidak terjatuh secara mutlak, landasan tempat dia jatuh pun bukan kasur yang empuk melainkan tanah Kerikil dan batu-batuan yang tajam.


Tapi dia benar-benar tidak memperdulikan semuanya itu, dia memeriksa kondisi Anindya apakah ada luka atau memar atau apapun itu yang membuat kondisi ini dia bisa berbahaya karena dia lagi mengandung anak-anaknya.


Ternyata setelah diperiksa secara teliti oleh Valen tidak ada luka atau memar sedikitpun atau tekanan yang keras di perut Anindya yang bisa mengakibatkan cedera buat anak-anaknya.


Kelegaan Vallen tidak berhenti di situ dia harus segera berlari untuk meletakkan Anindya di mobil Van milik Erik. Vallen sudah tidak bisa seperti tadi saat pertama kali menggendong Anindya, bukan karena berat tubuh Anindya tetapi karena kondisi luka-luka yang ada di wajah dan tubuhnya sendiri. Tapi Vallen tidak perduli dia lebih mementingkan bagaimana bisa memindahkan Anindya sesegera mungkin dari tempat laknat itu.


Mobil van milik Erik sudah terlihat, mereka menyembunyikannya cukup hebat, mobil itu tertutupi dengan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan yang rimbun. Mobil itu memang tidak dikunci supaya memudahkan mereka untuk melarikan diri nantinya Vallen segera menaruh istrinya itu ke dalam mobil Erik.


Sekarang Vallen merasa kebingungan, dia juga khawatir kalau meninggalkan Anindya di mobil begitu saja, tapi tangannya sudah sudah gatal untuk membalas orang-orang yang sudah melakukan kejahatan terhadap Anindya.

__ADS_1


Apalagi kedua perawat laki-laki itu yang sudah kurang ajar menyentuh dan menggendong istrinya yang cantik. Vallen sangat berhasrat untuk memukuli wajah kedua perawat itu dan juga memukul laki-laki yang sudah berani menyukai istrinya sejak dulu.


Jadi setelah menaruh Anindya di tempat yang aman dia bergegas balik ke rumah laknat itu, tujuannya hanya satu menghancurkan ketiga laki-laki yang sudah berani menyentuh bahkan menyukai istrinya. Dia yakin dan percaya bahwa Erik sanggup melemahkan ketiga orang tolol itu.


Jadi dia mengendap-endap berbalik ke rumah itu lagi. Benar saja sesampainya Vallen disana Erik dan kelima anak buahnya sudah bisa meringkus ketiga orang yang sudah menculik Anindya.


Tangan Vallen tiba-tiba gatal untuk memukul wajah orang-orang yang sudah berani menculik istrinya. Begitu masuk ke dalam rah Valen melihat ke tiga orang itu sudah diikat menjadi satu oleh Erik dan kawan-kawan.


Tanpa prakata Vallen langsung menghajar ketiga orang itu dengan tangannya yang dibebat oleh perban. Ini membuat tangannya yang tadinya terluka sekarang kembali terluka. Tapi Vallen tidak peduli dia ingin memuaskan hatinya dengan memukuli Ketiga orang yang sudah menculik istrinya.


Vallen merasakan tubuhnya dihalangi oleh anak buah Erik, dirinya dipeluk dengan kencang supaya tidak bisa memukuli orang-orang itu lagi.


Perkataan Erik yang terakhir ini membuat Valen sedikit tersadar dari amarahnya yang menggebu nggebu. Sekarang dia terdiam di dalam pelukan anak buah Erik tapi anak buah Erik masih belum melepaskan pelukannya karena takut Vallen hanya membuat gerakan tipuan saja, pura-pura terdiam tapi begitu dilepaskan langsung menghajar orang itu lagi. Sampai Erik memberikan kode kepada anak buahnya untuk melepaskan Vallen tapi anak buah Erik ini masih tetap waspada, sehingga anak buah Erik melepaskan Vallen tapi menghalang-halangi posisi Vallen mengarah kepada ketiga orang yang diikat jadi satu itu.


Tetapi Vallen terbukti tenang dalam diamnya. Rupanya dia memikirkan benar-benar apa yang dikatakan oleh Erik.


" Jangan libatkan polisi didalam.hal ini. Biarkan kita saja yang mengatasinya. Kamu bisakan?" tanya Valen dengan nada tenang.


" Tapi.. kita harus membuat sepepu istrimu itu dipenjara.."

__ADS_1


" Penjara terlalu mudah baginya.. Gimana kalau rumah sakit jiwa?" seringai Valen terlihat menyeramkan. Erik sendiri hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Dia tahu orang yang ada di hadapannya itu mulai tidak waras.


" Val..."


" Aku bayar berapa pun yang kamu mau. Aku tidak mau melepaskan mereka begitu saja. Tak usah lagi mencari bukti yang sulit, cukup culik There dan buat dia menjadi gila sehingga dia bisa mendekam di rumah sakit jiwa seumur hidupnya." geram Valen dengan nada dingin. Kebengisan terlihat jelas di kedua bola matanya. Erik merasa ia harus menghentikan kegilaan Valen. Mungkin Anin yang bisa menghentikan kegilaan suaminya itu. Erik langsung berpikir cepat, Dia mengingatkan kepada Vallen tentang keberadaan istrinya.


" Val, gimana kondisi Anin? Kamu harus segera membawa Anin ke rumah sakit. Don, kamu anter Valen ke RS sekarang. Biar kita yang akan mengurus sisanya yang ada di sini."


" Ada seorang wanita di kamar belakang. Dia sudah aku lumpuhkan. Kalian bereskan dulu, takut kalau dia sadar akan merepotkan kita." kata Valen dengan nada dingin.


" Baik, akan diurus Dika secepatnya. Kamu segera bawa Anin ke rumah sakit. Kamu jangan kuatir, kami akan mengurus semuanya dengan bersih. Masalah There bisa kita bicarakan nanti. Revan juga perlu tahu tentang hal ini. Kita rapat lagi setelah Anin di Rumah Sakit." kata Erik sambil menepuk pundak sahabatnya itu dengan perlahan tanda dia bisa Valen percaya untuk mengurus sisanya. Valen juga ingat bahwa dirinya harus mengontrol Anin dan anak anaknya takut kalau obat bius itu berefek pada istri dan anaknya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Like dan votenya ya readersssss, langsung up lagi 1 untuk hari ini. Biarin jari tangan thor jempol semua tapi demi menyenangkan readers semua, thor akan nulis sampai tangan gempor. Happy reading!!!


__ADS_2