
Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update.
Happy reading!!
***
"Menurut kalian enaknya bagaimana? Apakah kita harus menyerang mereka sekarang? Ataukah kita memantau dulu sampai kita melihat adanya paman Bil dan juga Alicia?" tanya mr Wong pada yang lain. Kepada Valen, Revan dan juga tuan Willy.
" Rasa-rasanya lebih baik kita menunggu pergerakan mereka terlebih dahulu karena kita tidak tahu ke arah manakah mereka akan melangkah." kata Revan dengan nada bingung karena dia sendiri masih bingung apa yang harus dilakukan karena untuk menyerang langsung ke ke markas lawan membutuhkan energi dan juga strategi yang tepat.
" Jelas mereka sudah tahu tentang rumah besar milik Tuan Wong. Tadi berarti mereka sudah dalam posisi menyerang. Menurut pemikiran ku sih lebih baik kalau kita bisa menyerang saja dulu karena kemungkinan kita untuk menang lebih besar daripada kalau kita harus menunggu." kata Valen menggebu gebu.
" Kita butuh strategi tepat dan juga peralatan kita harus komplit karena kita melawan seseorang yang memiliki persenjataan yang mumpuni. Bagaimana kalau kita juga libatkan polisi atau interpol? Terutama Interpol ya!! Mereka akan menjadi tameng yang bagus. Jadi gini kita menginformasikan kepada pihak kepolisian untuk menyerang atau memberitahukan kalau ternyata Alicia itu berada di di tempat itu biar kan polisinya akan menyisir ke sana terlebih dahulu. Kalau seandainya terjadi baku tembak atau terjadi masalah, toh yang menangani orang-orang yang cukup kompeten baru kemudian kita akan mengikuti mereka dengan pantauan satelit terus kita turut menyerang jadi kita menumpuki pihak kepolisian saja di sana. Untuk itu kita butuh komandan polisi Nawa untuk membawa interpol agar lebih komplit dan lebih berpengalaman aja." kata Mr Wong melontarkan sebuah ide. Rasanya ide tuan Wong itu menarik dan patut dilaksanakan. Jadi mereka bertiga hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mereka menyetujui apa yang dipikirkan oleh Mister Wong.
" Oke, Valen bisa langsung menghubungi komandan polisi Nawa agar bisa langsung menggerakkan pasukannya Menuju Pulau itu. Manti kita memantau dari satelit yang kita miliki, kemudian kita bisa menyerang bebarengan bersama dengan pihak kepolisian dan interpol. Palingan mereka hanya memiliki pasukan dalam jumlah yang tidak terlalu besar, kalau kita berangkat bersama-sama dengan kepolisian dan juga interpol berarti pasukan kita tiga kali lipat daripada pasukan mereka. Diharapkan dengan begitu kita bisa melumpuhkan mereka dan mencari Bil beserta Alicia. Mudah-mudahan saja rencana kita kali ini berhasil. Jadi kita bisa menangkap Bil dan Alicia. Bagaimana menurut kalian?" tanya Tuan wong Setelah membeberkan semua rencana yang ada di dalam pikirannya.
" Aku setuju, Aku akan mencoba menghubungi komandan polisi Nawa terlebih dahulu, sehingga dia bisa mengatur strategi yang bisa dibagikan kepada kita. Kapan kita harus menyerang ? Dan bagaimana Kita menyerangnya? " kata Valen sambil menggosok-gosokkan kedua belah tangannya tanda dia merasa antusias dengan apa yang menjadi pikirannya.
__ADS_1
" Oke kalau begitu sekarang kamu menghubungi komandan polisi tersebut dan aturlah rencana supaya ya kita bisa mendompleng pasukan polisi dan juga pasukan interpol. Sejujurnya aku sudah tidak sabar untuk menemukan yang namanya Billy dan Alicia. Mereka berdua adalah ular yang sangat licik!! kita harus bisa membunuhnya, kalau nanti pihak kepolisian tidak mau menyerahkan mereka kita pura-pura saja membunuhnya karena kita salah sasaran. Jadi pihak kepolisian tidak bisa menuntut kita atas pasal-pasal pembunuhan." kata tuan wong dengan nada yang sangat geram. Valen pun tampak menyetujuinya bahkan matanya berbinar-binar karena bahagia.
" Oke aku akan meneleponnya di kamar. Lebih baik kita beristirahat dulu saja. Aku juga akan membantu Anin untuk mengurus kedua anakku." kata Vallen sambil berpamitan dengan ayahnya Revan dan juga tuan Wong.
" Halah, mau mengurus anak apa mau mengurus ibunya. kamu itu modus aja kerjanya." kata Revan dengan sebal. Langsung aja Vallen berusaha membuat Revan menjadi kepengen.
"Ya dua-duanya dong bisa mengurus anak dan istri kan Jadi Pahala apalagi kalau memberi nafkah batin kepada sang istri tentu pahalanya akan lebih besar soalnya kasihan juga tuh sama istri karena dia di dalam kamar mengurus Liam dan Lios sendirian." kata lain membela diri.
" Ya sudah sana, kita semua juga harus istirahat dulu sebelum memikirkan lagi untuk berperang dengan orang- orang bayaran itu. Kita harus jaga fisik dan stamina kita menghadapi Hunter Dead." kata tuan ruang sambil berdiri dan hendak keluar dari kamar menuju kamar utama agar dia sendiri bisa cepat beristirahat.
***
" Anak-anak apakah sudah tidur?" tanya Vallen saat dia masuk ke dalam ruangan kamar yang dihuni istrinya dan kedua anaknya.
Vallen memeluk tubuh istrinya yang sudah kembali seperti tubuhnya semula. Dia menciumi leher istrinya yang terbuka karena rambutnya yang panjang itu di sanggul di atas, dan berusaha menaikan suasana. Anin yang sedang meletakkan anaknya di boks bayi mereka menjadi kegelian gara-gara tingkah dari suaminya itu.
Tapi Anindya juga paham apa yang diinginkan oleh suaminya pada saat itu. Jadi Anindya membiarkan tingkah suaminya akan membiarkan tangan suami yang sudah bergerilya kemana-mana.
__ADS_1
Vallen segera menuntun istrinya di atas ranjang King size yang tersedia di dalam kamar itu. Tanpa banyak berkata-kata Vallen langsung melakukan apa yang sudah dia bayangkan sejak tadi.
Memang karena masalah yang datang silih berganti membuat intensitas hubungan mereka menjadi berkurang banyak. Dan saat ini dia sedang kangen dengan tubuh istrinya yang sudah menjadi candu bagi dirinya itu.
Kemudian setelahnya hanya ada ******* dan suara-suara yang bisa membuat telinga menjadi panas yang terdengar di seantero kamar itu. Padahal Anindya sudah berusaha menahan supaya suara-suara yang panas itu tidak sampai keluar karena dia takut kalau anak-anaknya akan terbangun sebelum suaminya mencapai apa yang dia inginkan.
Tapi ternyata apa yang ia pikirkan itu tidak beralasan karena sampai suami nya terpuaskan berkali-kali anak-anaknya juga tidak terbangun.
Mungkin anak-anaknya juga sadar kalau ayahnya membutuh kan Ibu mereka untuk sekedar melepas rindu. Dan untuk melepas stres akibat permasalahan yang datang bertubi-tubi.
.
.
.
TBC
__ADS_1