
" Ada yang perlu kamu ceritakan? Kenapa kamu melirik lirik istriku? Kamu enggak ingat kalau kamu sendiri sudah punya istri dan anak? Ngapain lirik-lirik istri orang?" cecar Vallen dengan nada sebal tapi dia kemudian berhenti berkata ketus saat tangan Anin memegang lengannya dan mengelusnya dengan lembut.
" Ehm jadi... aku mendapatkan laporan dari beberapa orang yang aku sengaja tanam di sana kalau... kalau... Gimana kalau besok saja aku ceritanya? Mungkin kamu sudah lelah kalau terlalu banyak pikiran nanti kamu malah bisa sakit!" kata Revan dengan sedikit gelisah sehingga membuat Anin dan Vallen tambah curiga.
" Jangan buat aku tambah penasaran dan juga malah semakin aku nggak bisa tidur ya! Lebih baik kamu cerita saja sekarang! Apa kamu takut kalau ini bisa didengar oleh Anin? Wah, jangan-jangan ini berkaitan dengan Anin?" kata Vallen dengan nada sinis, rasanya Dia sudah bisa menduga ke arah manakah permasalahan ini bermuara.
Karena yang di pasrahin oleh Vallen di Mahkota horeca adalah Bu Susan mesti ini ada kaitannya dengan Ibu Susan. Sebagai seorang wanita, Anin bisa merasakan bahwa, ada kemungkinan kalau Bu Susan ini memiliki rasa terhadap suaminya itu.
Tapi Anin juga tidak mau menuduh terlebih dahulu, sebelum memiliki bukti-bukti yang jelas.
" Bicara saja Pak Revan! Saya juga tidak akan marah dengan Pak Revan kalau kalau ada sesuatu yang menyinggung saya." kata Anindya yang peka kemana arah dari pembicaraan Revan ini nantinya.
" Mereka bilang kalau ada sesuatu yang disimpan oleh Ibu Susan, rumor yang tersebar di sana adalah bahwa ibu Susan itu adalah calon istri pewaris tunggal dari Weston Group. mungkin karena selama ini mereka belum pernah melihat siapakah CEO dari mahkota horeca! Dan tampaknya CEO dari mahkota horeca pasrah betul dengan Ibu Susan sehingga kecurigaan demi kecurigaan itu muncul." jelas Revan tanpa mendetil kan permasalahan yang ada.
" Oh kalau permasalahan Siapakah yang akan menjadi CEO dari mahkota horeca, bukankah aku sudah bilang sama kamu setelah aku pulang dari Singapura ini aku akan mengangkat Anin sebagai CEO mahkota horeca grup. Yang berarti aku akan menggabungkan antara Bagaskara grup dengan mahkota horeca, ini juga menghindari omongan orang yang berkata bahwa ibu Susan adalah calon istri dari pewaris tunggal Weston grup kan? Masa ceo-nya perempuan terus bisa jadian sama wakil ceo-nya yang perempuan juga?" analisa Vallen kepada Revan yang tadinya mengkawatirkan kondisi mahkota horeka dan segala rumor yang ada di dalamnya.
Revan hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya memikirkan bahwa analisa yang dipikirkan oleh Vallen itu ada benarnya. Mungkin dia ini terlalu khawatir dengan berita-berita itu, terlebih sebetulnya dia khawatir dengan rumor tentang Ibu Susan yang menyukai bosnya sendiri yaitu Vallen. Karena tipe-tipe pelakor itu justru sukanya menikam dari belakang dan ini kalau tidak segera dibasmi dari awal akan menyulitkan mereka di akhir.
" Aku akan berusaha untuk mengurangi intensitas pertemuan dan intensitas hubungan dengan ibu Susan, supaya tidak ada kesalah pahaman dikemudian hari. Siapkan rapat untuk penggabungan dua perusahaan. Pengangkatan CEO juga akan dilakukan dihari itu juga. Siapkan antisipasi gangguan dari orang-orang yang kita curigai, Kamu tahu kan maksudku?" tanya Vallen sambil menatap kearah Revan yang masih sibuk menyetir.
__ADS_1
" Siap Bos saya mengerti apa yang Bos maksudkan." kata Revan dengan nada menggoda.
" Laporan yang lain?" tanya Vallen mengacuhkan godaan dari Revan.
" Berkas-berkas yang di tinggalkan selama anda ke luar negeri sudah menumpuk.Aapa ini sekalian kita tanda tangan berkas-berkas?" tanya Revan masih dengan nada menggoda. Langsung saja Vallen mengerang dengan keras.
" Gimana kalau kita skip yang itu buat hari esok, kepalaku masih pusing kalau melihat berkas berkas dalam jumlah banyak, apalagi kalau aku disuruh meneliti satu persatu proposal yang akan aku tandatangani, untung saja aku memiliki kamu yang bisa dipercaya untuk meneliti berkas itu dulu sebelum aku tanda tangani." kata Vallen sambil menyanjung Revan. tapi Revan segera menggeleng dan menasehati Vallen untuk tetap berhati-hati kepada siapapun itu karena biasanya orang yang menusuk dari belakang itu adalah orang-orang yang terdekat dengan diri kita.
Tak berapa lama kemudian sampailah mereka ke rumah sakit di mana Ayah Vallen dirawat. Ia sudah tidak sabar untuk segera menemui ayahnya. Meskipun sudah lama tidak bertemu dan baru baru ini saja dekat lagi, namun perumpamaan darah itu lebih kental daripada air adalah benar. Mereka tidak kesulitan untuk beradaptasi bersama dan menjadi dekat begitu saja.
Valen langsung saja menggandeng Anin. dan mengikuti Revan masuk ke dalam sebuah ruangan VIP tempat di mana ayahnya dirawat.
" Vallen juga Anin baru saja pulang ya?" tanya ayah dengan nada senang.
" Bagaimana ayah bisa masuk ke dalam rumah sakit?" cecar Vallen dengan nada Ketus. Tapi sebelum Ayah Vallen menjawab, Revan sudah menjawabnya terlebih dahulu.
" Ya biasa lah, karena ayah kamu itu pikiran, karena rindu dengan anak dan menantunya. Untung saja anaknya ternyata ga seperti yang dipikirkan,bisa juga buka segel istrinya. Lha setahun kemarin ngapain?" sindir Revan dengan nada mengejek, apalagi ekspresi wajahnya ngeselin banget sehingga duo bapak dan anak itu bebarengan menghujat Revan.
" Revan!!" suara berat dari Ayah Willy membuat Revan menyemburkan tawanya begitu kencang seakan tidak takut kalau bos besar yaitu akan marah. Bahkan dia terus menerus tertawa sampai dia memegangi perutnya yang mungkin akan segera kram kalau tidak menghentikan tawanya yang begitu lebar dan lepas itu. Tawanya bahkan menular ke pada Anin yang hanya bisa tersenyum melihat asisten suaminya yang begitu kocak.
__ADS_1
" Apakah kamu berminat untuk dipindahtugaskan di Afrika atau Afghanistan sekalian? Supaya kamu bisa menularkan tawa bahagia diatas penderitaan orang lainmu itu di sana." kata ayah Valen dengan nada sarkas, yang membuat Revan diam seketika.
Gantian Valen yang tertawa melihat asisten yang sekaligus asisten ayahnya itu terdiam setelah mendengar bahwa dia akan dimutasikan ke Afghanistan.
" Kenapa kamu tidak tertawa lagi saja? kan kamu senang Tuh kalau bisa ngetawain kita berdua." Sindir Vallen dengan nada sinis.
" He he he.. ya maaf!!" kata Revan dengan nada tanpa penyesalan. Membuat ayah dan anak itu menjadi sangat kesal dengan asisten mereka itu. Untung saja asisten ini cekatan dan pandai kalau tidak mungkin benar-benar sudah dipindah tugaskan di Afghanistan oleh ayah Valen.
.
.
.
TBC
Hai readers !! Welcome back!!
Guys, maaf kalau hari ini agak sedikit telat update, dan maaf kalau hari ini mungkin hanya bisa satu kali update saja. Terus terang thor lagi sedikit hectic, tubuh juga lagi ga well, doakan saja supaya badai lekas berlalu!! Jangan lupa untuk Tetap support dengan like, vote dan juga spam comment! Happy reading!!
__ADS_1