Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 51.


__ADS_3

Tapi tiba-tiba wajah orang itu berubah, dia terkejut saat dia mendapati foto target yang harus dieksekusi. Laki-laki itu berusaha untuk tidak menunjukkan secara jelas keterkejutan yang dia alami kepada orang yang akan menyewa nya.


Tapi Tere melihat dengan jelas perubahan ekspresi orang itu saat melihat foto Anindya, walaupun There itu memiliki kecerdasan di bawah rata-rata tapi sesaat ketika dia melihat hal itu dia langsung curiga dengan beberapa kemungkinan kalau orang itu mengenal dengan baik si Anindya.


" Kamu mengenalnya?" pertanyaan There dengan nada tidak yakin. Dia juga takut menyinggung preman ini secara wajahnya saja menyeramkan tentu tindakan yang akan diambil lebih menyeramkan lagi kalau sampai Tere menyinggung perasaannya.


" Tidak!" jawaban yang singkat yang diberikan oleh preman itu sudah menandakan bahwa dirinya sebenarnya mengenal siapa Anindya tapi dia tidak mau mengakuinya di hadapan Tere. Tapi tentu saja There enggan untuk mendesak laki-laki itu karena dirinya juga takut kalau kalau laki-laki itu akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


" Baiklah, aoa lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya There dengan nada gamang.


" Tidak ada!" sahutnya dengan nada yang sangat dingin. teri hanya menganggukkan kepalanya saat laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan dan langsung pergi tanpa pemberitahuan. laki-laki itu hanya membawa amplop coklat beserta uang tunai yang ada di dalamnya.


There menghembuskan nafasnya dengan lega, saat pertemuan Tadi ia merasa dadanya sesak karena tekanan intimidasi dari orang itu yang begitu kuat. Dia merasakan bahwa laki-laki itu memiliki Aura yang menyeramkan. mudah-mudahan benar seperti kata mereka investigator nya bahwa orang ini akan bisa membantunya untuk melenyapkan Anin tanpa jejak.


Di luar Cafe, laki-laki itu langsung bergunam lirih.


" Akhirnya aku menemukanmu."


***

__ADS_1


Di Bandara Soekarno.Hatta, Revan sudah siap menjemput tuan dan nyonyanya. Perubahan jadwal yang dilakukan oleh Revan untuk Vallen dipengaruhi dari kesehatan Willy yang tiba-tiba menurun.


" Apakah ayah baik baik saja?" tanya Vallen kepada Revan saat mereka bertemu di di ruang tunggu bandara. sedangkan Anin yang berada di belakang Vallen juga tampak khawatir dengan berita yang dia dengar dari Vallen sewaktu mereka hendak bersiap untuk segera pulang ke Indonesia.


" Ayah kamu itu selalu menyembunyikan rasa sakitnya dari orang-orang terdekat. Kalau saja aku tidak menemui wajahnya yang kelihatan pucat mungkin tadi malam Ayah kamu juga tidak akan sampai ke rumah sakit. Terus terang saja semalam aku memaksa Ayah kamu untuk berobat ke rumah sakit. Bayangkan padahal Ayahmu itu menjadi pemilik salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta tetapi untuk kesehatannya sendiri dia tidak pernah memperdulikan."


Adu Revan kepada Vallen, dia berharap kalau paling bisa menasehati ayahnya supaya lebih memperhatikan kesehatannya. Dan Revan berharap kalau hari ini Vallen dan juga istrinya bisa segera menjenguk ayahnya di rumah sakit, kebetulan ruang untuk rawat inap Ayah Valen adalah kelas VVIP, dan merupakan ruangan yang dikhususkan untuk keluarga Weston. Jadi setelahnya Valen dan.juga Anin bisa beristirahat di ruangan itu, Revan tahu pasti kalau Tuan Willy sangat kesepian. Harapannya dengan kehadiran Vallen dan juga istrinya bisa mengobati perasaannya sehingga Willy bisa sembuh dengan cepat.


" Ck kenapa ayah tidak mau berbagi dengan kami, dengan kondisinya yang sudah berumur mestinya dia harus lebih banyak menjaga kesehatannya." kata Vallen sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Sekalipun dia belum mengingat sepenuhnya tentang ayah dan ibunya beserta keluarganya yang lain, tapi Vallen merasakan kedekatan dan perasaan nyaman saat berdekatan dengan ayahnya membuktikan bahwa sebenarnya mereka memang memiliki hubungan darah yang sangat kental.


" Aku harap kamu bisa menasehati ayahmu untuk melakukan cek up kesehatan secara rutin juga mengawasi Ayahmu itu agar kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari." nasehat Revan dengan suaranya yang Lirih, dia tidak mau terkesan menggurui Valen karena dia pun sadar bahwa saat ini masih banyak yang Valen harus pikirkan, dan Valen juga belum mengingat secara jelas bahwa Willy itu adalah ayahnya.


Revan melihat ada interaksi yang berbeda dengan Vallen dan istrinya, juga dia melihat ada orang lain yang ditangkap di wajah Tuan mudanya ini. Gini-gini Revan itu adalah orang yang sangat peka dengan sekitarnya.


" Uhm, gimana dengan progres pengobatan dan terapi yang kamu lakukan di Singapura kemarin? Apakah hasilnya begitu baik sampai wajahmu terlihat bersinar-sinar seperti ini?" tanya Revan dengan to the point, tapi pertanyaan Revan itu membuat Anin teringat dengan kejadian di malam kemarin ketika dia sudah dibuka segelnya oleh suaminya. Dia sontak tertunduk dan wajahnya langsung memerah, sedangkan Vallen hanya sedikit bersikap salah tingkah saat Revan bertanya kenapa wajahnya terlihat bersinar-sinar.


Perubahan tingkah dan ekspresi kedua muda-mudi itu ditangkap dengan jelas oleh Revan, dan sebagai orang yang sudah berpengalaman dan sudah berkeluarga tentu Revan tahu betul kalau ini pertanda yang sangat baik.


" ooo.. Jadi... kamu sudah membuka segel dari istrimu? pantas saja wajahmu terlihat berseri-seri dan lebih bersinar daripada tampangmu yang biasanya." goda Revan sambil membuka pintu mobil karena mereka sudah sampai di parkiran.Valen merasa sebal karena dia tahu perkataan Revan ini tujuannya hnya untuk menggoda dirinya. Dia jadi khawatir kalau istrinya malu dan kemudian enggan untuk melakukannya lagi dengannya.

__ADS_1


" Sudah diam ah!! Lebih baik kamu fokus saja dengan pandanganmu ke depan." kata Vallen dengan nada sarkas, sedikit salah tingkah gara-gara dia juga malu sehabis buka segel istrinya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan perusahaan yang kami tinggalkan?" tanya Valen berusaha mengalihkan perhatian agar Revan tidak lagi berbicara tentang masalah buka segel.


" Aldy bisa menghandle Bagaskara dengan baik, kalau Weston seperti biasa bisa tercover dengan baik juga. Nah mahkota horeca perlu ada sedikit perombakan karena rupanya Ada hal tertentu yang perlu kamu lebih perhatikan." kata Revan kepada Vallen sambil melirik ke arah Anindya, ini membuat Valen jadi curiga. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mahkota horeca selama dia tinggalkan? Bukankah Ibu Susan itu seorang yang sudah ahli dan sangat berpengalaman di dalam perpisahan dan dalam menangani mahkota horeca? Valen berpikir keras, kenapa Revan malah melirik ke Anin?


" Ada yang perlu kamu ceritakan? Kenapa kamu melirik lirik istriku? Kamu enggak ingat kalau kamu sendiri sudah punya istri dan anak? Ngapain lirik-lirik istri orang?" cecar Vallen dengan nada sebal tapi dia kemudian berhenti berkata ketus saat tangan Anin memegang lengannya dan mengelusnya dengan lembut.


" Ehm jadi..."


.


.


.


TBC


hai readersss, maaf ya endingnya harus gantung wk wkw.. jangan lupa like, voteeeee yang banyak dan juga spam komen. Bakal up satu lagi..Happy reading!!

__ADS_1


__ADS_2