
" Istriku hamil?" tanya Vallen kepada dokter Prayogo masih dengan ekspresi yang datar, kelihatan seperti orang bodoh dan gestur tubuhnya tegang.
Dokter Prayogo tidak mungkin menceritakan kembali asumsi dari pemeriksaannya tadi, bahwa Anindya si menantu kesayangan Tuan Willy sedang hamil muda. Maka dokter Prayogo hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya dengan sedikit antusias mengiyakan apa yang tadi ditanyakan oleh Vallen.
" Jadi betul kalau menantu kesayanganku itu sedang hamil muda? Kamu tidak salah pemeriksaan kan?" kini gantian Tuan Willy yang mendesak kepada dokter Prayogo untuk menjawab pertanyaannya lagi. Dia ingin memastikan kalau saat ini dia tidak salah dengar. Sebenarnya bagi Tuan Wili Ini adalah sebuah kabar baik, tapi karena diungkapkan begitu tiba-tiba oleh dokter Prayogo membuat dirinya sedikit delay dalam menerima informasi yang diberikan oleh dokter Prayogo.
Ketika dokter Prayogo juga tidak menjawab pertanyaan dari tuan Willy dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lagi dengan lebih antusias daripada apa yang tadi dia lakukan bersama Vallen, membuat tuan Willy berteriak kegirangan. Teriakan itu bahkan mengagetkan Vallen yang masih memandangi istrinya yang belum sadar sampai sekarang. Bahkan Vallen belum menunjukkan tanda-tanda kebahagiaannya karena dia masih khawatir posisi istrinya saat ini masih belum sadarkan diri.
" Horeee, ah akhirnya penntianku berbuah manis. Akhirnya aku akan menjadi seorang kakek."
" Tapi Anin belum sadar, yah!" peringat Valen dengan nada lirih. Dia masih belum bisa bersemangat seperti ayahnya karena istrinya belum sadarkan diri. Dia bahkan timbul perasaan takut kehilangan istrinya!
" Oh ya? Kenapa menantuku belum sadar." suara Tuan Willy tidak segembira tadi Bahkan dia kelihatan geram dengan dokter Prayogo yang belum bisa membuat menantu kesayangan nya ini sadar.
" Tidak apa-apa kondisi dari Nona muda baik-baik saja. Sebentar lagi saya akan memasukkan infus untuk mempercepat kesadaran dari nona muda. Dia membutuhkan banyak nutrisi dan juga energi yang lebih agar anak dalam kandungannya sehat." kata dokter Prayogo sambil menyiapkan infusan untuk Anindya.
" Kenapa baru sekarang kamu menyiapkannya?" sergah tuan Willy dengan nada kesal kepada dokter Prayogo yang dianggapnya lamban dalam menangani kasus menantu kesayangannya itu.
" Ini juga baru di siapkan tuan!" kata dokter Prayogo salah tingkah. Sedangkan wajah Vallen tanpa khawatir karena sampai sekarang istrinya masih belum sadarkan diri. Kalau memang benar yang dikatakan oleh dokter Prayogo bahwa istrinya memang sedang hamil, maka dia takut kehilangan istrinya, takut istrinya kenapa-kenapa.
Dokter Prayogo segera menata peralatan yang akan dipakai untuk memberikan infus bagi menantu Tuan Billy. Dia dengan cepat mengatur infus bagi Anindya. tapi belum saja jarum infus itu masuk ke tubuh Anindya, tampak tangan Anindya bergerak-gerak. Vallen langsung berteriak histeris mengatakan bahwa istrinya sudah sadar. dokter Prayogo pun menunda memasukkan jarum infus ke tangan Anindya, Dia segera memeriksa kembali pasiennya itu.
__ADS_1
Ternyata memang benar kesadaran dari Anindya sudah kembali, ini membuat Valen menjadi senang sekaligus cemas.
" Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Vallen sambil menggenggam tangan istrinya.
" Emang aku dimana?" tanya Anindya dengan nada Lirih.
" Kamu masih ada di rumah, tadi kamu tiba-tiba pingsan!" jelas Vallen dengan singkat.
Anindya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan lemah, kondisinya memang belum pulih 100%. ada rasa mual juga rasa lemas yang tiba-tiba iya rasakan, tentu saja ini mungkin bawaan hamil nya dia. Tapi karena Anindya belum mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung maka dia merasa bahwa ini karena dia masuk angin. Lalu dokter Prayogo tetap memasukkan jarum infus ke tangan Anindya, fungsi infus adalah memberikan Anindya energi karena todak ada satupun makanan yang masuk. Walau sebenarnya Anindya tidak mengalami muntah-muntah yang parah ataupun sakit perut yang parah.
Sebenarnya Anin dia juga heran kenapa dokter Prayogo malah memberi dirinya infus, sebenarnya penyakitnya itu apa? karena dia berasumsi bahwa dirinya itu sakit masuk angin akibat kebanyakan harus memberi jatah kepada suaminya.
" Ayah apa kita bawa Anin ke rumah sakit saja? Aku khawatir dengan kondisi istri dan anakku. Sekalian kita bisa memeriksa kondisinya dengan dokter." Valen berbicara sama ayahnya, ia menganggap bahwa kondisi Anindya masih perlu banyak perhatian, kalau dirawat di rumah kemungkinan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. maka Vallen berharap kalau istrinya bisa dirawat di rumah sakit milik keluarganya.
" Tapi mas, aku hanya masuk angin saja..? eh apa? Anak?? Maksudnya?" tanya Anin dengan segera saat sadar suaminya menyebut kata anak saat berbincang dengan ayah mertuanya.
" Iya sayang! Kamu hamil. Gak sia sia perjuanganku menggempur kamu setiap hari. Dan ternyata kamu hamil dalam waktu singkat." kata Valen dengan nada sombong membuat ayahnya kesal dan menghancurkan fantasi Valen.
" Kalau kamu belum lupa Sebenarnya kamu kan sudah menikah 1 tahun lebih dengan Anindya, Baru kali ini kamu bisa mengegolkan gawang dan mendapatkan hasil, maka kamu itu tidak usah sombong semuanya itu karena kamu sudah bertemu kembali dengan ayahmu ini." sahut ayahnya dengan tidak mau kalah.
" Ehm, maaf saya potong dahulu, sebenarnya untuk pembahasan perlukah nona Anindya ke rumah sakit, maka jawabannya adalah perlu. Itu memang dibutuhkan, karena alat-alat di rumah sakit jauh lebih lengkap daripada di sini terus kemudian dia juga bisa langsung berkonsultasi dengan dokter Retno. Tapi itu semua keputusan di tangan kalian sebagai keluarga, bagaimana yang terbaik Menurut kalian untuk Nona Anindya." sela dokter Prayogo dengan nada tegas karena tidak mau mengambil risiko kalau sampai Anin dirawat hanya di rumah dan ada hal-hal yang belum diketahui mengenai kandungannya maka itu akan sangat beresiko.
__ADS_1
" Ayah pikir, Anindya memang harus dirawat di rumah sakit dulu dan berkonsultasi dengan jelas dengan dokter Retno. Tapi kalau nantinya Anindya dianggap harus bedrest total maka Ayah pikir lebih baik Anindya dirawat dirumah. Biarlah kita saja yang akan membeli alat-alat yang digunakan untuk menunjang pemeriksaan kandungan Anindya. Rasanya Anindya akan lebih nyaman kalau dirawat di rumah. Tapi jelas untuk sementara ini biarlah dia dirawat di rumah sakit kita dulu." kata ayah mertuanya memberikan pertimbangan terbaik untuk menantu dan juga calon cucunya.
Tapi kayaknya Valen setuju dengan keinginan ayahnya itu, dia juga menganggap bahwa saat ini Anindya harus benar-benar diperiksa secara mendetil oleh dokter yang berpengalaman dibidang itu.
Mungkin nanti kalau dalam jangka panjang, Anindya harus bed rest total ya ada kemungkinan kalau Valen akan menerima keinginan ayahnya itu.
Toh ayahnya juga seorang sultan yang memiliki banyak duit. Bagi Vallen tidak akan menjadi masalah kalau hanya untuk membeli peralatan yang digunakan untuk memeriksa kehamilan karena dirinya bukan hanya ingin memiliki 1 anak tapi dia sangat ingin memiliki banyak anak mengingat dirinya adalah anak tunggal.
.
.
.
TBC
Hai readers.. sorry telat up.ya... tenang hbs ini langsung up lagi.
Jangan lupa untuk.support like dan vote yajg banyakkkkkk!!!
Terutama.like jangan sampai kendor. Kalau bisa shareeee ke teman teman yang lain. Thanka and happy reading!
__ADS_1