
Karena hari ini 1 hari sebelum hari ulang tahun ke-18 dari Wilhelmina Chalyondra Weston, jadi siang hari ini rencananya Anindya Bagaskara sebagai ibunya hendak mengajak baby Ly untuk fitting baju terakhir guna acara ulang tahun ke 18 besok.
Baju itu sudah jadi cuman karena Vallen menginginkan kesempurnaan untuk acara ulang tahun anaknya jadi dia ingin membelikan baju yang harganya fantastis untuk anak perempuan satu-satunya.
Anindya sangat heran karena anak perempuan satu-satunya itu melewatkan waktu sarapan, karena katanya dia ingin makan di dalam kamar sambil mempersiapkan acara untuk besok. Lalu karena tadi Anin sedang sibuk di dapur dan suami serta anak laki-lakinya sudah pergi bekerja jadi tinggal dirinya dan juga anak perempuan satu-satunya itu yang ada di rumah sebesar ini.
Anindya menyusul anak perempuan satu-satunya itu ke dalam kamar dan mulai mengetuk pintu kamar Baby Ly.
Anindya menjadi heran karena tidak ada sahutan dari dalam kamarnya baby Ly. Kayaknya anak perempuannya ini belum turun dari kamar sama sekali tapi kenapa ketika di ketuk pintunya, baby Ly enggak merespon sama sekali.
Anindya mencoba membuka pintu kamar anak perempuannya itu tapi ternyata terkunci dari dalam. Anindya semakin bingung kenapa kok anak perempuannya ini sama sekali tidak merespon panggilannya dari tadi. Apa mungkin Anaknya lagi mandi?
Anindya langsung ke bawah lagi untuk menemui penjaga-penjaga yang ada di bawah Siapa tahu anaknya keluar tapi dia tidak tahu. Tapi aneh dia kembali heran karena dia mendapati bahwa penjagaan di bawah sangat lengang dan tidak ada satu orang pun di sana.
Dia langsung mencari-cari pengawal yang ada di depan karena dia sedikit curiga dengan kondisi ini. Maklumlah karena dia pernah trauma dengan kejadian di masa lampau maka dia sekarang sedikit berhati-hati ketika mendapati sesuatu yang mencurigakan.
Anindya langsung masuk ke dalam tempat yang biasa dipakai para pengawal untuk beristirahat bergantian. disana dia mendapati sebuah teko berisi minuman dan juga makanan yang masih belum disentuh sama sekali. tiba-tiba Anindya mendapati satu pengawal yang biasa berjaga di pintu depan. Dia sangat heran karena wajah lelaki itu sangat pucat dan berkeringat dingin. Anindya langsung menghampiri pengawal itu dan menanyakan kenapa wajahnya begitu pucat.
" Ali, Kenapa wajahmu begitu pucat dan lemas?" tanya Anindya kepada salah satu pengawal yang ternyata bernama Ali.
" Maafkan saya nyonya besar, entah kenapa dari tadi semua pengawal yang berjaga di barisan depan dan di sekitar tembok dekat kamar Nona muda mengalami sakit perut berjamaah. Kayaknya ada sesuatu yang membuat kami sakit perut berjamaah seperti ini. Karena setelah kami meminum minuman yang ada di meja itu kami semua tiba-tiba sakit perut. Tapi bukankah minuman itu berasal dari rumah belakang?" kata pengawal yang sudah lemas itu.
Anindya menjadi heran karena Rumah Belakang menunjuk pada dapur miliknya yang selalu bersih dan selalu higinis dari semua macam bakteri. Tidak mungkin kan tiba-tiba dapurnya bisa menghasilkan sesuatu yang tidak higienis. Lalu dengan cepat Anindya langsung masuk ke arah dapur miliknya, di sana dia menanyai semua asisten rumah tangganya mengenai minuman yang tersedia di ruang istirahat pengawal depan.
Ternyata setelah ditanya oleh Anindya tentang siapa yang menyajikan minuman itu, tidak ada seorang pun yang mengaku bahwa mereka yang telah memberikan minuman itu di ruang istirahat pengawal depan.
Ini semakin membuat Anindya semakin heran dan rasa rasanya dia perlu bertanya lebih lanjut kepada kedua anak laki-lakinya apa kepada suaminya karena hanya merekalah yang memiliki akses CCTV yang ada di ruangan tersebut. Dengan segera Anindya langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor ponsel suaminya.
" Sayang, ada apa? Masa baru sebentar saja kamu sudah kangen sama Ayah? Apa kamu mau menyusul ke kantor saja supaya kita bisa berdua Disini?" tanya ayah Vallen dengan nada mesra seperti biasanya.
" Mas, Apakah kamu bisa mengakses CCTV yang berada di ruangan depan serta di ruangan istirahat para pengawal di depan?" tanya Anindya dengan sedikit bernada panik.
Pertanyaan Anindya yang bernada cemas itu membuat Vallen sadar bahwa ini pasti ada situasi yang sedikit rumit.
" Emang ada apa sih sayang? Coba kamu jelaskan dengan jelas, jangan dengan panik seperti ini." kata Vallen dengan nada tegas, karena dia merasa ada sesuatu yang aneh di sini.
" Jadi begini..." Anindya langsung menjelaskan secara detil kronologi cerita ketika dia menemukan tidak adanya pengawal yang berjaga di depan, lalu tiba-tiba dia menemukan pengawal yang kesakitan pucat wajahnya karena bulak-balik harus ke kamar mandi sebab sakit perut.
__ADS_1
Dan mereka mengaku bahwa itu terjadi saat mereka meminum minuman dari rumah belakang yang berarti dari dapur mereka sendiri. Tapi setelah dijelaskan dan ditanyakan kepada asisten rumah tangga di belakang tidak ada satu orang pun yang mengaku telah memberikan Minuman itu ke ruang istirahat pengawal di depan.
Vallen bergegas mengambil kunci mobil serta membawa dompet dan beberapa berkas yang harus diteliti hari ini. Sebelumnya dia langsung mampir ke ruangan kantor kedua anaknya yang saat ini mereka juga mengantar di kantor yang sama. Valen langsung mengajak kedua anaknya laki-laki itu untuk pulang bersama karena ada masalah yang penting di rumah.
Vallen menyerahkan permasalahan di kantor kepada asisten sekaligus saudara angkatnya, yaitu Revan supaya mengatur di kantor terlebih dahulu sedangkan dirinya akan menyelidiki kejadian aneh di rumah.
Revan yang tadinya sedang berbincang masalah perusahaan di kantor Liam dan Lios itu langsung saja merasakan keanehan dengan situasi yang saat ini dialami oleh Vallen.
" Bro.. coba kamu selidiki dulu semua orang yang ada di dalam Perumahan besar kamu itu karena aku mencurigai bahwa Orang yang memberikan Minuman itu adalah orang yang ada di dalam rumah besar kamu itu." kata Revan dengan nada cemas.
Takut kalau kejadian beberapa tahun yang lalu itu akan terjadi kembali mengingat tidak ada angin dan tidak ada hujan bisa-bisa terjadi badai tiba-tiba.
" Liam dan Lios juga akan sembari membuka catatan CCTV yang baru saja terjadi melalui laptop mereka dan aku akan mengemudikan mobil untuk bisa pulang ke rumah dengan segera, aku takut terjadi apa-apa dengan Anindya dan juga anakku perempuan. Mengingat bahwa para pengawal sudah dilumpuhkan dengan obat sakit perut. Kami berangkat dulu, jaga kantor ya bro!! Ku akan kabari the latest news. "
" Sembari kamu pulang aku juga akan mengabari Erik serta pengawal yang lainnya supaya mengontrol ke rumah kamu jadi mereka bisa menolong kamu mencari pelakunya." kata Revan dengan cepat sambil menyambar ponselnya. Sedangkan si Valen dan kedua anaknya segera pulang ke rumah.
.
.
.
Hai readers.. jangan lupa untuk cek karya thor yang ini ya...terus..
❤difavoritkan
🧡dilike
💙dikasih gift
💚Bintang 5 juga
💛Jangan lupa votenyaaa🤣makasih!!
Ini cuplikan Eps 25. Menggoda Athena
__ADS_1
" Sayang, kamu kenapa?"
" Ehm tidak.. tidak."
" Sayang, apa dadaku tampak begitu menarik? Sehingga kamu melihat sampai sebegitunya?" tanya Alendra dengan nada ambigu.
Athena malu karena ketahuan mencuri lihat dada calon suaminya yang menggoda
" Kamu lengkettt!!" indaunya dengan nada malu malu jutek.
" Ha ha ha kalau begitu bersihkan dong!" kata Alendra menggoda.
" Malas!"
" Masa kamu rela kalau wanita lai..."
" Awas ya kalau kamu berani berpikir tentang itu." sanggah Athena dengan nada marah.
" Iya iya, kamu tambah cantik saat marah kayak gini." kata Alendra dengan tatapan memuja, membuat athena semakin malu.
" Apa aku tampan to? Kok kamu .."
" Enggak!!" Athena jelas berbohong untuk menghindari datangnya pertanyaan yang lebih berat lagi, dan Athena juga berusaha agar wajahnya tidak menatap ke arah tubuh Alendra.
" Sana bersihkan dulu bekas teh itu dan segera pakai kemeja kamu." katanya sambil melengos.
" Kamu kan sebentar lagi jadi istriku, jadi apa salahnya kalau kamu melihat dan membersihkan dadaku." ujar Alendra menggoda Athena.
" Kamu..." Athena sadar bahwa saat ini wajahnya pasti kayak tomat busuk.
.
.
.
Lanjut langsung di aplikasi ya
__ADS_1
Rebirth: Pembalasan dendam tuan muda!! By. Nophie sang author