Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 130.


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Oh ya semua yang komen sudah aku baca, aku mau berterimakasih sama yang selalu komen positif dan memacu aku untuk bisa selalu update  dan memberi yang terbaik, yang bilang ini kurang seru dan gak *******, lha emang ini belum ******* kok, Tapi semua saran dan kritik aku terima dengan lapang dada kok.  Happy reading!!


***


 Sementara di apartemen, Anindya sedang menidurkan anak anaknya.


Kalau ia pas tidak membutuhkan perawat, ia akan menidurkan dan menjaga anak anaknya seorang diri. Apalagi setelah kejadian siang ini, semuanya menjadi sanagt kelelahan. Tapi menurtut Anindya, mengingat kejadian yang tadi, biarlah mereka tetap berjaga jaga.


Jadi Anin memutuskan untuk membagi mereka dengan 2 shift, penjaga kloter yang satunya  menjaga keamanan mereka sementara yang kloter kedua beristirahat, begitupun sebaliknya. Dan ia mengistirahatkan perawat Liam dan Lios.


Sebenarnya Anin cemas dengan kondisi suaminya. Mana sampai sekarang Valen belum pulang. Padahal tadi ia sudah masak untuk kepentingan yang lain dan kemudian bebersih.


Tok tok tok


"Siapa?" tanya Anin dari dalam kamar. Ia mengunci kamar yang ia pakai saat ini.


"Saya kepala pengawal, nyonya!"


"Ada apa?" tanya Anin sambil keluar dari kamar.


"Ada telpon dari tuan Revan kalau kita disuruh bersiap siap." kata kepala pengawal dengan hormat.


"Kenapa? Ada masalah apa?"tanya Anin dengan nada cema, trauma tentang berlarian di hutan yang kelam membuatnya takut.


"Tuan minta kita bersiap, kita harus segera pindah. Belum aman untuk berada disini." katanya dengan nada hormat. Ia tahu bahwa nyonyanya ini bahkna belum istirahat.


" Valen, ehm maksudnya tuan Valen baik baik saja kan?" tanya Anin dengan  nada cemas.


"Tuan muda baik baik saja. Dia yang menyuruh kita bersiap, karena tuan muda lagi menyetir makan tuan Revan yang menghubungi kita."


"Ayah sudah kamu kasih tahu?" tanya Anin lagi.


"Belum, mungkin setelah ini." kata pemgawal itu lagi.

__ADS_1


"Tidak usah, kamu bangunkan saja perawat dan yang lainnhya. Kita akan segera bersiap."Katanya dengan cepat. Ia langsung ke kamar ayah mertuanya yang ada di sebelah.


Anin mengetuk pintu dan menunggu dibukakan pintu. Kemudian perawat ayah mertuanya keluar, untuk mempersilahkan Anin masuk. di dalam ia langsung berkata dengan ayah mertuanya.


"Ayah, mas VAlen menyuruh kita segera bersiap. Ia akan menjemput kita dan membawa kita ke tempat yang lebih aman." kata Anin dengan nada lembut.


Ayah mertuanya rupanya terbangun saat ia mengetuk pintu. Trauma berlarian di hutan dan sembunyi di balik air terjun juga dialami oleh yang lainnya. Mereka yang tidak terbiasa untuk berhubungan dengan hal hal sepertti itu harus mempersiapkan hati, karena debaran jantung tu memacu begitu cepat dengan adrenalin yang tinggi juga. Bagi yang gak kuat jantungnya bisa mati mendadak nih.


"Maafkan ayah ya,nak! Ini semua gara gara ayah! Ayah yang buat kalian dalam posisi seperti ini." kata ayah dengan nada menyesal. Ayah Valen tahu siapa musuh dalam selimut yang dihadapi, yaitu adik kandungnya sendiri.


Anin menatap ayah mertuanya dengan kasihan. Ia tahu keluarga Bagaskara emang brengsek juga. Apalagi dulu sebelum tahu kalau Valen miliader, kelakuan mereka menindas mas Valen sungguh luar biasa untung saja Valen bertahan bersamanya.


"Yah, anin kira gak ada yang bisa disesalin. Ini sebuah takdir yang kita tak bisa sangka sangka. KIta hanya bisa berusaha untuk mempertahankan diri dan terus berjuang. Ayah tidak boleh patah semangat. MAsih ada Liam dan Lios yang membutuhkan kakeknya dan juga mas Valen yang masih butuh arahan dari ayah, begitu pula dengan Anin." hibur Anin dengan nada lembut.


Tok tok tok, ketukan pintu terdengar lagi. Anin lupa bahwa mereka harus bergegas.


"Iya?" sahut Anin dengan cepat.


"Iya, sebentar." Anin segera menyuruh perawat Ayha untuk bersiap, membawa pakaian dan pernik pernik yang dibutuhkan oleh ayah mertuanya.


"Ayo yah! Perawat ayah sudah menyiapkan segalanya." kata Anin ingin menyemangati ayah mertuanya itu agar tidak terpuruk dan segera bersiap.


"Baiklah!! Ayah akan segera bersiap." kata Ayah mertuanya sambil berjalan dengan pelahan.


***


Valen sampai di basement apartemen dalam waktu 15 menit. Mr Wong dan Revan langsung turun dan  langsung ingin menjemput semua keluarga Valen yang berada di lantai atas apartemen itu. Valen juga ikutan turun karena ia ingin bertemu dengan istri dan anak anaknya. Ia tadi belum puas berasyik asyik dengan istrinya.


"Val, inget ya kamu ga usah lama lama kalau sama Anin. Kita lagi mengejar waktu, bukan lagi main main." kata Revan memperingati Valen, karena Valen suka kebiaasaan bikin short time sama Anin.


"Iya iya, cerewet."


"Kita masih harus berangkat ke pulau soalnya."peringat Revan menegaskan.

__ADS_1


"Van, aku sudah tahu. Gak usah dipanjang panjangin." sahut Valen sewot.


"Sudah sampai belum? Bertengkarnya nanti saja kalau kita sudah sampai di pulau. Disitu kalian bisa puas saling pukul pukulan juga !" lerai Mr Wong yang kesal. Meski Mr Wong itu punya wanita simpanan dan berganti ganti pasangan tapi ia belum beristri. Jadi ia heran kenapa Revan mewanti wanti Valen.


"Ini tempatnya, itu mereka sudah berjaga di pintu, Bagus!!" kata Valen melihat anak buahnya sebagian berjaga di luar pintu apartemen.


Pengawal yang berjaga langsung membukakan pintu. Dan Valen melihat semuanya sudah siap di ruang tamu. Ia melihat Anin menggendong satu anaknya dan anaknya yang satu di gendong oleh ayahnya di atas kursi roda.


Valen langsung mendekati mereka dan memeluk istrinya yang sedang menggendong anaknya.


"Valennn!!"


"Iya Revan, aku hanya mau bantu Anin gendong si Liam!" seru Valen sambil mengambil anaknya yang di gendong oleh ANin.


Valen dengan singkat memperkenalkan Anin dan yang lainnya kepada Mr. Wong. Dan Mr Wong pun menatap Anin dengan tatapan tak terbaca. Melihat hal itu Valen mengingatkan.


"Itu istriku! Kamu gak usah ngelihatin sampai kayak gitu." katanya dengan posesif.


"Gak aku iri aja sama kamu, bisa memiliki istri yang cantik dan anak yang lucu lucu."


"Kalau mau kan kamu bisa bikin sendiri."


"Terlalu beresiko untukku memiliki keluarga. Itu akan menjadi titik lemah aku nantinya."


"Kalau kamu selamanya memikirkan begitu, maka kamu gak akan memiliki keturunan." katanya sambil menepuk bahu Mr Wong dan segera bersiap membawa keluarganya keluar dari apartemen itu.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2