
" Jadi kapan kita berangkat ke luar negri?" tanya Anin dengan pasrah.
" Malam ini!"
" Apa?"
" Aku ingin segera sembuh, Anin sayang!" jelas Valen deengan nada sendu.
" Iya aku tahu kalau kamu ingin cepat sembuh, tapi kan kita belum persiapan sama sekali untuk kepergian kita ke luar negeri malam hari ini juga." kata Anin sambil memegang lengan suaminya agar suaminya ini tidak salah paham, bisa jadi suaminya berpikir kalau dirinya tidak mau mengantar secepat-cepatnya karena tidak ingin Vallen sembuh dengan cepat.
" Tidak usaha membawa barang terlalu banyak, siapkan diri kita saja dan surat-surat penting yang akan kita bawa ke luar negeri. Masalah pakaian dan akomodasi lainnya sudah di atur oleh Revan jadi kamu nggak perlu kuatir."
" Apakah Revan sudah mengatur kan temu janji dengan dokter yang akan kamu pakai untuk menyembuhkan penyakit kamu?"
" Semuanya sudah beres! Mudah-mudahan saja perjalanan kita ke Singapura ini tidak sia-sia dan aku bisa kembali lagi dengan ingatan-ingatan yang dulu karena terus terang saja ingatan Itu sangat penting buat aku, karena itu juga menyangkut masa depanku." dengan nada tegas.
" Apakah selama ini kamu tidak ada kilasan-kilasan peristiwa atau apapun yang bisa mengingatkan kamu tentang kejadian-kejadian di masa lampau sebelum kamu kehilangan ingatan.?"
" Aku baru sedikit merasakan ingatan-ingatan itu kembali berputaran di kepalaku seperti kepingan-kepingan gambar yang tidak teratur. Terutama saat aku tadi bertemu dengan kakek Arga, aku kembali mengingat apa-apa yang terjadi tapi memang belum jelas." jelas Valen dengan nada mengambang, seprti tidak yakin.
" Apakah kakek Arga itu ada hubungannya dengan kamu?" tanya Anin heran karena emang dia belum tahu duduk persoalan yang sebenarnya.
" Hmm, menurut penyelidikan yang sudah dilakukan oleh Revan sepertinya adalah orang yang bersekongkol untuk melenyapkan aku." ungkapan Vallen tadi membuat Anin menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya, Dia sangat terkejut dengan fakta yang dibeberkan oleh Vallen itu.
" Masa? Kakek Arga?"
__ADS_1
" Konon katanya Arga itu orang yang bersekongkol dengan Pamanku yang bernama Bill Weston untuk melenyapkanku. Paman mengincar harta warisan yang harusnya jatuh ke tangan aku, Bahkan dia juga sudah membunuh Ibuku, berusaha mencelakakan ayahku! Tapi kilasan kilasan yang ada di kepalaku tadi adalah dia adalah orang yang mendorong aku keluar dari mobil itu supaya aku terhindar dari kecelakaan hebat walaupun sama-sama harus terluka tapi setidaknya nyawaku masih selamat!" kata Valen sambil kembali memegang kepalanya yang berdenyut nyeri saat menjelaskan kepada istrinya tentang kondisi yang saat ini dia alami.
" Dan sebelum kita berangkat ke Singapura, ayah ingin ketemu sama kamu dulu."
" Apa??"
" Kayaknya kamu hari ini lagi hobi sekali teriak-teriak 'apa'!" kata Vallen dengan nada menggoda.
" Ihh aku itu kaget ya mas! Kamu yang ga pernah bilang rencana kamu, trus tiba tiba kamu mau aku ketemu sama ayah kamu." Kata Ani dengan suara manja.
" Ayah yang minta ketemuan sama kamu. Katanya ia ingin sekali bertemu dengan menantu yang belum pernah ia temui."
" Tapi jujur aku takut kalau mau ketemu dengan ayah kamu Mas, kan kamu tahu sendiri kalau selama ini keluarga aku sukanya menghina dan melecehkan kamu. Mestinya Ayah kamu itu marah sama aku karena bagaimanapun kan mereka yang melecehkan kamu itu keluargaku. Aku jadi sedikit takut kalau Ayah kamu nanti marah-marah sama aku."
" Ya enggaklah kan selama ini kamu itu sudah baik sama aku. Setiap keluarga kamu menghina aku, Kamulah orang pertama yang membela aku mestinya malah Ayah bakal berterima kasih karena kamu sudah membela anaknya." kata Vallen sambil mengusap kepala istrinya ini dengan sayang.
" Tentu saja! Kalau nanti Ayah marah-marah sama kamu, Aku adalah orang pertama yang akan membela kamu!" sahut Vallen dengan nada bahagia, membuat Anin menjadi tersipu karena apa yang suaminya katakan itu sedikit banyak membuat hatinya baper.
" Mas, jadi kita akan berangkat bertemu dengan ayah kamu kapan?"
" Sekarang! Setelah itu kita berangkat ke bandara agar kita tidak terlambat bat! Lalu keesokan harinya pagi-pagi sekali kita ada jadwal untuk bertemu dengan dokter yang dimaksud oleh Revan. kKta harus berangkat secepat-cepatnya karena dokter itu itu hanya bisa ditemui dengan appointment. Kebetulan besok pagi dia sedang praktek di sana." jelas Vallen kepada Anindya mengenai jadwal yang harus mereka tepati.
" Ya ampun, mas! Aku kan cuman pakai pakaian seperti ini saja nanti gimana kalau Ayah kamu mengira aku ini tidak bisa berpakaian dengan baik tidak seimbang dengan anaknya yang merupakan pewaris tunggal dari Weston Group?" tanya Anindya dengan nada panik, terus terang saja saat dia berangkat menuju rumah sakit tadi dia hanya berpakaian seadanya, karena dia takut kalau ada apa-apa dengan nenek.
" Ngomong apa sih kamu? Emang aku pakai pakaian seperti apa? pakaian aku itu kan juga biasa-biasa saja toh! Yang penting kamu pakai pakaian, walau Sebenarnya kamu lebih cantik kalau tidak pakai apa-apa!" sambung Vallen dengan nada lirih dan mata yang menggoda. sambungan perkataan Vallen tadi membuat Anindya menjadi kesal, karena tidak biasa biasanya suaminya itu berkata-kata yang memiliki tendensi mesum. Dan baru kali ini suaminya itu menggoda dengan nada-nada mesum.
__ADS_1
" Massss, ih kamu kok sekarang mesum? Lagian ini itu di tempat umum loh!!" kata Anindya dengan nada malu.
" Jadi kalau bukan di tempat umum kamu mau? eh maksudnya Mas boleh?" katanya Vallen sambil menaik turunkan alisnya karena dia ingin menggoda istrinya yang wajahnya sudah memerah karena malu.
" Perkataanmu dan pertanyaanmu nggak mutu deh! Ayo kita berangkat sekarang saja daripada Nanti kita terlambat kalau mau ke bandara!" kata Anin sambil berjalan lebih cepat daripada suaminya karena dia ingin menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah karena malu.
Sedangkan Vallen hanya bisa menatap punggung istrinya yang menjauh sambil menaikkan sudut bibirnya karena gemas melihat istrinya yang lucu. dia berjanji di dalam hati kalau nanti malam dia akan meneruskan perburuannya untuk bisa menjadikan istrinya itu istri seutuhnya bagi dirinya.
Vallen langsung menyusul keberadaan Anin dan menggandengnya ke arah parkiran mobil supaya dia bisa segera pergi dari basement Rumah Sakit menuju restoran yang sudah dipilih oleh ayahnya untuk bertemu dengan menantu kesayangan.
Anin pun tidak menolak pegangan tangan dari suaminya dan menurut saja ketika Vallen membawanya ke dalam mobil. di dalam mobil mereka berdua hanya diam mendengarkan musik yang diputar oleh Vallen mengiringi perjalanan mereka menuju Resto yang dipilih oleh ayahnya.
Resto yang dipilih oleh ayahnya itu berada dekat dengan Bandara Soekarno Hatta supaya anak dan menantunya tidak akan mengalami kesulitan ketika mereka harus sampai di bandara tepat pada waktunya. Penerbangan yang dipilih oleh Revan pun memang penerbangan terakhir menuju ke Singapura. Dan Revan juga sudah menyiapkan semua akomodasi yang diperlukan oleh tuan muda dan nyonyanya itu.
" Mas, Memangnya kamu sudah membawa paspor dan surat-surat penting yang harus kita bawa untuk keperluan di bandara nanti?" pertanyaan in ketika dia Mengingat bahwa dia tidak membawa paspor.
" Sudah! Sebenarnya, semua surat-surat sudah Mas bawa pagi-pagi tadi sebelum rapat gabungan di Bagaskara grup. Dan semuanya sudah dibawa dengan aman oleh Revan untuk keperluan di bandara nanti." jelas Valen singkat.
.
.
.
TBC
__ADS_1
up kedua udah sah ya readersssss!!!
Jangan lupa like dan gift na!! Spam komen yang banyak, en Happy reading!!