Rahasia Sang Menantu Miskin

Rahasia Sang Menantu Miskin
RSMM 123.


__ADS_3

Hai readers, i am back!! Maaf mungkin hari ini hanya 1 kali update, kalau bisa 2x akan diusahakan, tapi mungkin besok akan mencoba up lebih banyak lagi. Jangan lupa untuk like, gift dan Vote ya. Kalau bisa sih sekalian di share kan supaya ceritanya bisa di ketahui oleh yang lain. Wk wkw kw , makasih  buat yang sudah like dan vote, yang kasih gift besar juga aku ucapin terima kasih ya. Berkat kalian aku ada disini. Aku seneng karena dukungan kalian, aku jadi semangat update. Happy reading!!


***


" Kita akan masuk ke dalam hutan itu segera jadi kita bisa menolong pasukan yang masuk lewat jalur Utara, jadi bisa dibilang kita mencoba mengepung 10 atau 15 orang yang berbahaya ini. Menurut informasi yang yang kita dapatkan dari kepolisian Pusat bahwa mereka sudah menghubungi interpol dalam hal ini, dan mereka memang bilang bahwa pasukan pembunuh bayaran ini sangat berbahaya." kata Komandan polisi kepada anak buahnya.


" Siap ndan!" kata seluruh anak buahnya dengan hormat.


" Ayo kita masuk sekarang. Kita akan membagi menjadi dua pasukan yang satu menyisir sebelah kiri yang satunya menyisir sebelah kanan nanti kita akan bertemu di satu titik yang sudah saya bagikan melalui GPS itu adalah titik pertemuan dari pasukan yang bergerak dari sebelah utara." jelas komandan polisi Nawa kepada para anak buahnya.


" Siap ndan!!" ujar mereka dengab posisi badan siap.


" Kita harus berhati-hati sekali karena yang kita hadapi saat ini adalah pembunuh bayaran internasional yang sudah dididik untuk membunuh sedari kecil. Kalian tidak usah gegabah dan emosi, cukup menunggu saat yang tepat untuk menembak mereka. Usahakan tembakan kalian itu benar-benar mampir di kepala atau daerah vital di tubuh mereka karena mereka ini benar-benar orang yang tangguh dan berani mati." kata Komandan polisi Nawa memberikan petuah sebelum mereka berangkat bersama-sama.


Rupanya sekalipun mereka sudah berhati hati, ternyata pihak kepolisian tidak tahu kalau sang pembunuh bayaran membuat layer di seputaran hutan itu.


Sehingga anak buah polisi ada yang tertembak. Untunglah selain memakai rompi anti peluru situasi yang agak gelap membuat merela sedikit kehilangan fokus. Tembakan sedikit meleset. Hanya mengenai rompi yang dikenakan oleh anak buah komandan polisi Nawa saja.


" Mundur! Sembunyi!." perintah komandan dengan nada tegas.


Dia tahu kalau ini adalah jebakan. Bisa bisa anggota polisinya banyak yang berjatuhan. Mereka ti,dak berpengalaman berhubungan dengan pembunuh bayaran macam begini.


" Ndan,kita bidik dari atas saja gimana?" tanya salah satu anggota polisi yang masih muda dengan suara lirih, agar todak yerdeteksi oleh sang pembunuh.

__ADS_1


" Coba bawa 2 orang untuk naik ke atas. Pindai dulu, lalu kalau kamu temukan habisi saja. Mereka sangat berbahaya!" bisik komandan polisi Nawa kepada anak buahnya itu.


" Siap ndan!" katanya dengan suara lirih. Dia langsung membawa 2 orang muda lainnya agar membantunya menjadi back up.


" Hati hati.." komandan polisi hanya bisa berharap solusi ini brrhasil.


Tiba tiba ada bunyi senapan bergema. Komandan langsung mencari le arah suara.Ternyata anak buahnya berhasil menembak salah satu orang pembunuh bayaran.


Situasi sedikit ruwet karena daerah yang gelap, dan juga pepohonan yang rimbun. Hal itu sedikit membatasi ruang gerak dari penembak yang dikirimkan komandan polisi itu dari arah atas. jadi anak buahnya naik memanjat pohon besar yang ada di dekat situ dan memindai sang pembunuh bayaran itu dan kemudian menembaknya.


Setelah anak buahnya berhasil menembak salah satu dari pembunuh bayaran Itu polisi yang lainnya tidak langsung mendatangi mayat itu.


Tetapi malah diam saja. penembak yang dikirimkan oleh Komandan di atas pohon itu kembali memindai pergerakan sang pembunuh bayaran yang lain akan tetapi mungkin karena pengalaman teman mereka yang sudah meninggal maka mereka terlebih hati-hati dan memilih untuk tidak bergerak secara kentara.


Setelah benar-benar tidak ada pergerakan lain sang penembak lalu turun dari pohon dan menginstruksikan teman-temannya untuk bergerak lagi maju tetapi dengan posisi melingkar. Supaya bisa saling memback up.


Komandan bernafas lega, sejujurnya ini sangat menyesakan dada. Dia kepikiran.dengan kondisi jauh di depan sana.


Ia berharap Valen dan istrinya serta orang orang lain baik baik saja.


***


Pelarian yang dilakukan Anin sangat mencekam. Setelah memdengar suara Revan paling tidak ia merasa sedikit lega. Ia berharap orang orang itu tidak bisa menyusulnya. Dan jujur ia sangat kepikiran dengan kondisi suaminya.

__ADS_1


Ia takut, sangat ketakutan lututnya bergetar hebat,tapi ia berusaha tegar Padahal ia ingin pingsan rasanya.


Dia harus kuat demi anak anaknya dan ayah mertuanya. Dia harus bisa memimpin pengawal pengawal yang ditugaskan berjaga di sekelilingnya itu. Mereka juga butuh arahan kan?


" Berarti kita harus bertemu dengan Revan dimana? Kamu sudah tahu kan lokasinya."


" Sudah nyonya!"jawab pengawal itu dengan nada hormat. Ia kagum dengan bosnya ini. Padahal ia yakin kalau nyonya bosnya itu takut setengah mati, tapi ia menyembunyikannya dan berusaha untuk tetap tampil biasa saja.


"Dimana posisi anak dan ayah mertuaku? Sudah dekatkah?"tanya Anin sambil terengah engah karena ia harus berlari dan berjalan vepat agar tidak terkejar dengan pasukan yang membunuh anak buah Valen di desa lingkar luar tadi.


" Sebentar lagi kita bertemu mereka. Karena ayah nyonya minta istirahat sebentar." kata pengawal itu lagi.


" Ehm gimana kalau nanti salah satu dari kalian menggendong ayah bergantian. Aku takut kondisinya gak baguz. Bukankah dia baru saja bisa jalan setelah menjalankan terapi selama.kurang lebih hampir 2 bulan ini? Supaya tidak membahayakan kondisi ayah kita harus menggendongnya.Lagipula iyu akan mempercepat perjalanan kita." kata Anin dengan cepat. Pengawal itu hanya bisa menganggukan kepala tanda ia juga setuju. Para pengawal yang ikut sekarang ada sekitar 15 orang, jadi cukuplah untuk membantu perjalanan ayah Willy supaya bisa lebih cepat perjalanannya.


Lalu Anindya dan kelima pengawal yang tersisa bergegas menuju ke kelompok 1 dan kelompok 2 yang menunggu di tengah-tengah hutan. Rencananya tiga kelompok ini akan dan menuju ke basecamp yang Revan sudah tunjuk.


sebenarnya secara fisik Anindya lelah sekalipun sudah melewati masa nifas jahitan melahirkan itu masih nyeri belum lagi sebelum tadi dia berangkat dia sudah memerah susu untuk anak-anaknya. Bahkan dia juga memasak untuk keperluan mereka semua walau belum sempat makan juga. Untung sudah dibawa untuk bekal mereka.


Tapi dia tahu, dia tidak bisa berdiam saja, dia harus berlari sejauh mungkin supaya pasukan yang membunuh pengawal-pengawal Vallen itu tidak bisa menjangkau anak-anaknya, Ayah mertuanya, dan juga dirinya sendiri. Makanya lebih aman kalau dia sudah berlari sejauh mungkin dari tempat itu dan bersembunyi lagi.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2