Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Bab 10: Para Bandit dan Persiapan Subjugasi part 2


__ADS_3

Wilayah Baronic Sinovac. 20 kilometer dari Wilayah Randall.


Sebuah kereta kuda melesat melewati jalan raya yang hanya berupa tanah yang dikeraskan. kereta itu dikawal oleh kurang lebih 100 prajurit. sementara di dalam kereta itu, terdapat seorang lelaki yang kurang lebih berusia awal 40 tahun-an. pakaian nya megah. jelas bahwa dia adalah seorang bangsawan.


Dengan malas dia menyandarkan dirinya ke sandaran kursi di kereta nya. perutnya yang buncit terlihat ketika dia bersandar.


dia adalah Astra Zen. seorang Viscount yang mengelola wilayah Zen. dia mendapatkan kedudukan nya setelah diam-diam menjalin kerja sama dengan Duke Conrad untuk menyingkirkan ayahnya yang pada saat itu masih memegang gelar Viscount.


setelah secara licik membunuh ayahnya dan memalsukan sebab kematiannya dia resmi menjadi pewaris sah Gelar Viscount Zen. secara rahasia dia menandatangani kerjasama rahasia antara Viscount Zen dan Duke Conrad. hal ini membuatnya menjadi salah satu bagian dari fraksi Duke Conrad.


meski begitu, dia tetap melanjutkan kerjasama antara wilayahnya dengan Marquisdom Randall. dia tidak bisa memungkiri bahwa bekerja sama dengan wilayah Randall akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar baginya.


hampir 30 persen pasokan makanan Wilayah Randall berasal dari Wilayah Zen. 20 persen lainnya berasal dari wilayah Sinovac. sisanya baru diolah di wilayah Randall sendiri.


sejujurnya dia cukup menyesalkan keputusan untuk secara diam-diam melawan Marquis Randall dan bekerja sama dengan Duke Conrad. tapi pada akhirnya jika Duke Conrad yang menang, dia bisa menguasai wilayah Randall yang strategis.


dia yakin Duke Conrad akan menang dalam perang urat syaraf ini. tidak masalah jika dia menjadi boneka Conrad. selama dia mendapatkan kompensasi yang sesuai, Astra tidak keberatan.


dalam perang saraf ini Duke Conrad memerintahkan pasukan pribadinya untuk berpakaian seperti bandit dan beroperasi di wilayah Randall. selain pakaian, mereka juga menggunakan topeng dalam aksi mereka.


sementara Astra Zen, dia membantu Duke Conrad dengan menaikan harga makanan. sementara rekannya yang lain, Jonas Sinovac, melakukan hal yang sama. jika hal ini terus terjadi setidaknya selam setahun maka Randall akan mengalami krisis dan meminta bantuan pada istana.


bagi para bangsawan, meminta bantuan ke istana hanya untuk mengatasi bandit dan krisis lokal adalah aib. bukan hanya itu, akan ada sanksi dari pengadilan kerajaan jika hal itu benar-benar terjadi. jika Marquis Randall meminta bantuan untuk itu, dia akan dianggap mempermalukan nama bangsawan kerajaan dan gelarnya dicabut serta keluarganya di asingkan.


itulah skenario yang dirancang oleh Duke Conrad. sebenarnya bisa saja Randall meminta bantuan pada sekutunya, Duke Balzaac. tapi itu akan mencoreng wajah Marquis Randall. masa sih memberantas sekelompok bandit saja tidak bisa. setidaknya itu lah yang mungkin akan dipikirkan oleh orang-orang Duke Balzaac.

__ADS_1


Astra Zen sedang berandai-andai. mendapatkan tanah Marquisdom yang strategis beserta berbagai bisnis mereka serta dapat menikahi kedua istri Arthur yang cantik. senyum menjijikkan keluar dari mulutnya. sementara dia tidak sadar, bahwa di luar terjadi kekacauan.


ternyata rombongan Viscount Zen disergap oleh para bandit. Zen yang tersadar dari lamunannya segera meringkuk di dalam kereta, mengandalkan para prajurit nya untuk mengatasi para bandit.


Namun, para prajuritnya bahkan di bantai habis oleh para bandit itu. setelah menghabisi pengawal Zen, mereka membuka pintu kereta kuda Zen lantas melempar Zen keluar. Zen yang ketakutan secara tidak sadar mengeluarkan kencing di celana. melihat para bandit itu Zen sadar. mereka adalah prajurit Duke Conrad! mengapa mereka ada di wilayah Baron Sinovac?!


"ke-ke-kenapa kalian ada disini?!!! bukankah kalian seharusnya sedang berada di wilayah Randall?!!" salah satu dari bandit itu menempelkan pedangnya ke leher Astra Zen.


"sederhana, kami diperintahkan oleh tuan Duke untuk membunuh mu. kau sudah menjadi alat tak berguna bagi tujuan Tuan kami."


mendengar itu Astra Zen menggeram,


"Tidak mungkin hal itu dapat terjadi! dia baru saja mengirim sebuah surat untuk ku agar datang ke wilayah Randall. pasti ada sesuatu yang harus ku lakukan disana! kalau kau menghalangi jalan ku itu berarti kalian telah melanggar perintah tuan kalian!"


salah satu dari bandit itu mengangkat bahu nya, "well itu urusan mu. tugas kami hanyalah menjalankan perintah dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. karena itu, demi kehormatan tuan kami, Matilah!!". orang itu menebaskan pedangnya ke leher Zen dan seketika Zen mati dengan kepala terputus.


mereka merampas kuda para prajurit dan membakar kereta Viscount Zen. serta merampas berbagai barang yang bisa mereka angkut lalu menyimpannya di tas spasial mereka.


setelah urusan mereka selesai, mereka langsung masuk kembali ke dalam hutan.


****


berita tewasnya Viscount Zen sampai dengan cepat ke telinga Marquis Randall di malam hari setelah tragedi itu. Arthur segera mengumpulkan para pekerjanya dan Albert. akhirnya diputuskan bahwa penumpasan bandit, yang tadinya akan dijadwalkan dalam waktu seminggu akan dipercepat menjadi dua hari lagi. Arthur percaya bahwa tewasnya Viscount Zen di wilayah Sinovac ada hubungannya dengan aktifitas para bandit.


****

__ADS_1


Seorang penunggang kuda memacu tunggangannya dengan kencang. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam yang begitu dingin. namun dia tidak peduli dengan rasa dingin itu. ada yang kabar yang harus dia sampaikan sebelum semuanya terlambat sehingga dia tidak peduli dengan tubuhnya sendiri.


Namun ditengah perjalanan, sebuah panah tiba-tiba menancap di kepala tunggangannya, membuat si pengendara kuda itu terjungkal ke tanah.


" Siapa itu?! jika kau punya nyali, tunjukkan wajah mu!" meskipun sakit karena jatuh masih terasa, dia dengan sigap mengembalikan kewaspadaannya.


tiba-tiba seseorang melompat dari salah satu atap bangunan yang berdiri di kota Romeon. orang itu mengenakan baju serba hitam yang aneh (kayak seragam pasukan khusus yang serba hitam itu lho). Namun orang itu tidak memakai topeng sehingga membuat si pengendara kuda itu mengenalinya dengan cepat.


" T-t-tuan muda Issac? K-k-kenapa anda disini? I-ini S-s-sudah malam. anda seharusnya tidak keluar di malam hari seperti ini kan?" orang itu dengan gugup bertanya kepada yang tak lain adalah Issac.


" nah kau tidak perlu berpura-pura lagi. kenapa kau tidak lepas saja penyamaran mu itu?". orang itu menyeringai. tiba-tiba wujud nya berubah. yang awalnya adalah salah satu asisten Arthur, menjadi orang yang sangat berbeda.


" sangat luar biasa Issac-dono. anda mendapatkan rasa hormat dari saya. inilah pertama kalinya dalam seumur hidup saya ada seseorang yang dapat membongkar penyamaran saya." kata seorang tua yang tadinya memakai wujud asisten Arthur.


Issac dengan bosan melambai-lambaikan tangannya. " aku tidak perlu rasa hormat mu. sihir mu lemah. ku pikir anak TK juga bisa membongkar penyamaran mu." mendengar kalimat Issac, wajah pak tua itu memerah karena marah. Tapi sebelum dia dapat berbicara, Issac dengan cepat memotongnya.


" yah sebenernya aku mau tidur sih. lagipula fisik ku yang masih kanak-kanak ini masih butuh istirahat. tapi melihat bagaimana tindakanmu dan kutu-kutu Duke yang lainnya, lagi-lagi aku harus begadang. hmpph" walaupun pak tua itu melihat Issac yang merajuk sambil dengan imut menggembungkan pipinya, dia merasa bahwa ada yang tidak beres dengan anak berusia sepuluh tahun ini.


pak tua itu tanpa ragu melesatkan sebuah sihir elemen petir ke arah Issac. namun meleset dari harapan pak tua yang menginginkan Issac menjadi debu, sihir itu justru ditepis oleh tangan kosong! pak tua langsung gemetar. yang benar saja? itu adalah sihir tingkat tinggi! bahkan jika monster grade semi satu, mereka akan langsung mati.


ada apa dengan anak ini?! tiba-tiba kaki nya gemetar. Issac melepaskan hawa membunuh yang amat kuat. dia tidak percaya ini. tubuhnya tidak bisa bergerak. tulang-tulangnya seolah ditemukan oleh raksasa. tubuhnya terasa sakit semua.


" Hei pak tua, aku sudah bilang sihir mu lemah. kenapa juga masih nekat menyerang ku? yah aku tidak peduli juga sih. sebelum kau mati aku hanya ingin kau mengetahui satu hal. rencana tuan mu, si bajingan Conrad itu tidak akan pernah berhasil mengalahkan kami. semua rencana mu telah terbaca oleh ku. termasuk menggunakan Bandit dan bersekutu dengan Viscount Zen dan Baron Sinovac. aku telah membersihkan orang-orang Conrad yang ada di wilayah Randall. membunuh Viscount Zen lewat tangan para bandit pun juga sudah.


ah tentu saja termasuk para mata-mata Conrad yang ada di wilayah Randall. mereka semua sudah ku singkirkan. yah mungkin saja berita soal tewasnya Viscount Zen telah sampai ke telinga orang itu. dia pasti sedang marah-marah sembari membakar habis seluruh bukti yang mengarah padanya. begitupun dengan orang-orang Zen yang menghancurkan dokumen-dokumen milik tuannya.

__ADS_1


tapi setidaknya, Conrad telah kehilangan mata dan telinga nya di Marquisdom. salah satu bidak pentingnya dalam menghancurkan Keluarga Randall juga telah mati. tentu saja Sinovac juga akan melalui hal yang sama. nah aku terlalu banyak bicara. sekarang, nikmati pertunjukan ku di alam baka." Issac mengeluarkan Api putih dari tangannya dan dengan cepat membakar orang tua itu hingga tak bersisa.


" tuan muda, seluruh persiapan nya telah selesai." mendengar suara orang tua dari belakangnya, Issac mengangguk. sudah saatnya tirai pertunjukan di buka.


__ADS_2