Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Bab 76: Tekad Aurellia


__ADS_3

Sudah dua hari kami berada di desa ini. karena sebelumnya desa ini belum memiliki nama, Putri Aurellia akhirnya menamakan desa ini dengan nama Adonia.


hmmm, aku tidak tahu kenapa tapi nama itu mirip dengan nama bunga yang ada di kehidupan lama ku, Adonis. tapi aku pikir itu sesuai dengan karakteristik desa ini. sebagaimana Adonis yang diperebutkan oleh Aphrodite dan Persephone dalam mitologi Yunani kuno, desa ini juga sering diperebutkan oleh para bangsawan dan pedagang. yah walaupun itu hanya untuk di eksploitasi sih.


waktu itu aku bertanya kepada tuan Putri tentang nama itu dan dia hanya bermain bodoh dengan menjawab bahwa itu terlintas di pikirannya dan langsung memberikan nama itu. Haishhh... wanita ini.


nah, kalau putri merasa senang dengan hal itu, tidak ada masalah sama sekali.


selain berkeliling secara acak, hari ini, Sabtu, aku mengajak putri ke danau yang ada di belakang desa. itu adalah danau yang sama dengan yang waktu itu. setelah berpanas-panasan lalu berenang di air yang jernih dan dingin. itu adalah yang terbaik! Belum lagi ada Fan Service dari tuan putri....


Ehemm.... Lupakan soal itu atau aku akan ditinju oleh putri. yang jelas kali ini putri Aurellia terlihat menikmati dirinya sendiri tanpa harus dibatasi oleh protokol dan para pengawalnya yang ketat.


mungkin akan terjadi sedikit kehebohan di Akademi untuk sementara waktu karena putri menghilang. tapi aku telah memerintahkan para agen yang ada di akademi untuk membereskan kekacauan ini. Oke semangat kalian! Aku akan memberi kalian bonus di akhir bulan nanti!


sekarang masih siang. menjelang sore. aku baru saja selesai berenang dan mandi. setelah bilas dan ganti baju, tentu nya agak masuk ke hutan karena Disini tidak ada kamar ganti, aku duduk termenung di. pinggir danau seorang diri. sekalian menunggu tuan putri yang sedang ganti baju juga.


terlintas di benakku untuk mengintip dia tetapi langsung ku urungkan atau sebuah bogem mentah akan melayang ke pipi ku. jangan salah, tinju tuan putri walaupun tanpa sihir penguat, entah kenapa itu sangat sakit!


"Hei, kau melamun terus! kenapa sih? apa kau punya masalah? kalau punya, aku tidak keberatan lho untuk mendengar cerita mu."


Putri tiba-tiba muncul di samping ku. yah, aku sudah tahu sejak awal sih karena aku selalu memakai sihir yang kurang lebih sebagai radar pendeteksi, tapi anggap saja aku tidak tahu kalau putri akan datang.


"Tidak, tidak juga. aku hanya sedang mencuci mata sebentar. mau menemani ku putri?"


Putri Aurellia hanya tersenyum dan tanpa banyak cakap langsung mengambil tempat di sebelah kanan ku. matanya yang jernih menatap ke arah langit, yang juga sama jernihnya.


"Hei Issac, kita sudah melihat dan melakukan banyak hal bukan di desa ini."


Aku mengangguk tanpa menoleh ke arah tuan putri. kalau dipikir-pikir lagi benar juga. sebenarnya kami tidak hanya berkeliling desa. kami juga ikut membantu para pekerja untuk membangun fasilitas umum yang belum ada di desa ini seperti irigasi, MCK, memperbaiki gudang penyimpanan, kantor dagang, dan lain-lain. sebelumnya sudah ada kesepakatan aku dan tuan putri tentang keterlibatan perusahaan ku dalam membangun ulang Adonia sebelum kami kesini. salah satunya adalah pembangunan kantor dagang.


ini karena hampir seluruh pembangunan yang dilakukan di desa ini dibiayai oleh La-Sa guild. tidak, bahasa dibiayai tidak tepat. mungkin skema yang tepat adalah aku meminjamkan dana pada Putri Aurellia untuk merekonstruksi desa Adonia. tentu saja, uang itu harus dikembalikan.


lalu bagaimana cara mengembalikan uang itu? itu terserah kepada tuan putri, tapi aku mengusulkan satu hal. yaitu dengan pajak yang akan putri kumpulkan dari penduduk desa ini maupun pekerja yang nanti akan mengisi pos-pos yang tersedia di desa ini.


awalnya putri Aurellia tidak menginginkan adanya pajak di desa ini. aku setuju saja mengingat desa ini juga tidak memiliki banyak cadangan uang ataupun barang yang senilai dengan itu. tetapi itu tidak bisa terus diterapkan secara jangka panjang. karena desa juga harus memiliki pemasukan.

__ADS_1


tentu saja aku berusaha untuk meringankan utang tersebut. toh, perusahaannya ku juga akan membayar pajak kepada tuan putri, jadi bisa sekalian.


soal ini, kami sudah membicarakannya kepada Bibi Mervouw. dia setuju ketika aku mengajukan proposal itu. ah, dia juga hampir pingsan ketika aku memberitahu nya bahwa orang yang aku bawa adalah tuan putri. maafkan aku bibi!


kembali ke kegiatan kami. selain ikut membantu dan mengawasinya, putri Aurellia juga meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak dan membicarakan banyak hal dengan para lansia yang ada di desa Adonia.


putri mendengar kan berbagai keluh kesah mereka. tentang anak-anak mereka yang dibawa paksa oleh suruhan bangsawan, tentang tinggi nya upeti yang harus mereka bayarkan setiap tahunnya meskipun disaat yang sama mereka juga tidak memiliki pemasukan karena sudah tidak mampu bekerja lagi.


putri mendengarkan semuanya dengan sabar. dia tidak memotong apapun sampai lawan bicaranya benar-benar selesai menyampaikan apa yang mereka pikirkan. aku bisa melihat pesonanya sebagai 'Tuan Putri' di sini.


"Aku telah melihat, mendengar, dan melakukan banyak hal di desa ini."


Kalimat putri membuyarkan lamunanku. aku tidak berkata apapun dan terus mendengarkan setiap perkataannya.


"kau tahu, mataku seolah-olah terbuka. aku yang selama ini tinggal di Istana yang mewah, dimanja oleh Ayah serta ibu ku, mendapatkan apapun yang aku inginkan tanpa harus mengeluarkan usaha lebih. aku rasa semua itu membuat ku buta."


saat mengatakan itu, aku lihat mata putri berkaca-kaca. tangannya terkepal erat hingga telapaknya berdarah. sementara aku, masih tetap diam.


"Aku hanya berpikir tentang diriku sendiri seolah aku adalah manusia yang paling menderita di dunia ini. padahal, mungkin saja masih banyak rakyat kerajaan ini yang jauh lebih menderita daripada ku."


"Tapi apa yang bisa aku lakukan sebagai seorang putri? aku telah dijauhi dari tahta oleh para saudara ku. mungkin saja, tidak, lebih tepatnya aku pasti akan menjadi istri dari salah satu bangsawan untuk dijadikan alat politik oleh mereka. itu pasti...karena aku adalah seorang perempuan jadi aku tidak bisa melakukan apapun."


Ahh ternyata benar. ini adalah rasa bersalah. aku tahu bahwa putri bukan orang yang naif. dia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan kerajaan ini. hanya saja baru kali ini dia melihat secara langsung dan mendengarkan dari para korban.


sejujurnya aku senang ketika putri semakin paham dengan kondisi negerinya. tapi ada satu hal yang sangat mengganggu ku. Kenapa dia merasa tidak bisa melakukan apapun hanya karena dirinya seorang perempuan? apa yang salah dengan itu?


sepertinya putri telah selesai bicara. dia menangis sesenggukan. air matanya jatuh ke pipinya yang indah. yah, ini adalah pertama kalinya di kehidupan kedua ku melihat seorang wanita menangis karena hal ini.


"Putri, aku tidak tahu mengapa kau begitu terganggu dengan dirimu sebagai seorang perempuan tapi izinkan aku menceritakan sebuah kisah."


Aku memperbaiki posisi dudukku agar lebih nyaman. aku pikir ini cerita ini akan panjang.


" di suatu tempat dan masa yang sangat-sangat jauh, Seorang wanita lahir dari rahim seorang bangsawan. sekilas, dia mungkin terlihat istimewa karena terlahir dari keluarga ningrat.


ternyata tidak. dia lahir di waktu yang salah. pada saat itu, wanita tidak boleh menerima pendidikan. jangankan pendidikan, untuk keluar saja mereka tidak boleh. yah, bisa dibilang para wanita pada saat itu adalah warga kelas dua.

__ADS_1


dia sempat menikmati indahnya sekolah. indahnya menikmati pendidikan. bahkan, karena kecerdasannya, dia ditawari sekolah ke luar negeri oleh gurunya. tapi sayang, ayahnya yang seorang bangsawan lokal tidak memperbolehkannya untuk keluar negeri.


bukan cuma itu, dia berhenti bersekolah saat berusia 12 tahun. bahkan, dia juga tidak boleh sembarangan keluar dari rumahnya. tentu saja dia merasa terkekang.


tapi dia tidak menyerah. dia belajar dan membaca buku-buku berbahasa asing secara otodidak. dia juga membaca apa yang disebut sebagai surat kabar berbahasa asing. lewat situ kemudian dia menemukan seorang teman.


lewat teman nya, dia berkirim surat yang isinya adalah pandangan dia bahwa seorang wanita seharusnya memiliki hak dan kesempatan yang sama layaknya lelaki dalam menerima pendidikan. padahal waktu itu, wanita yang menulis dan membaca adalah sesuatu yang dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat.


tetapi dia tetap memperjuangkannya. kepada teman-temannya dia terus menulis surat. meskipun dia tahu jalannya tidak akan mudah, dia tetap memperjuangkan hak-hak wanita.


tetapi takdir berkata lain. sebelum dia bisa melihat hasil perjuangannya, dia telah meninggal di usia yang sangat muda, 25 tahun. tetapi api semangatnya tidak padam sama sekali. kemudian, surat-surat itu di terbitkan sebagai artikel oleh para temannya. beberapa puluh tahun kemudian, Surat-suratnya dijadikan sebagai buku oleh orang yang sebangsa dengannya.


dan buku itulah, yang selama ratusan tahun kemudian, menjadikan inspirasi oleh para wanita di negeri itu untuk memperjuangkan hak mereka. tidak peduli berapapun harganya."


Aku menghela nafas sebentar, lalu menghembuskannya. setelah itu aku mulai melanjutkannya cerita ku.


"Tidak hanya dia tuan putri. ada banyak wanita-wanita lain seperti itu di negerinya. wanita yang membangun sekolah untuk kesejahteraan sesama. ataupun mereka yang membawa sebilah pedang dan melawan para agresor asing dari hutan ke hutan.


mereka adalah pribadi yang luar biasa dan menginspirasi berbagai perjuangan. karena merekalah, pada akhirnya, wanita menjadi kaum yang terhormat. tidak ketinggalan dari para lelaki."


ya, aku menceritakan perjuangan dari R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, dan cut nyak Dhien. cerita yang berasal dari negara di kehidupan ku yang lama.


putri terkesima. wajahnya seolah mengatakan, "Apakah benar-benar ada wanita yang seperti itu?" aku sih hanya tertawa kecil. seperti putri telah terpantik semangatnya.


dia berdiri lalu menatap ke arah kejauhan. tidak, ini bukan semata menatap ke pemandangan yang indah. ini seolah dia menatap ke arah masa depan. sepertinya dia telah terbebas dari sangkarnya dan membentangkan sayapnya.


"Baiklah, aku telah bertekad Issac! aku akan mengubah nasib warga Kerajaan. aku akan memberikan anak-anak pendidikan semenjak mereka kecil. terutama rakyat biasa. aku ingin mereka menerima masa depan dimana mereka tidak perlu menjilat sepatu para bangsawan hanya untuk mendapat sekerat roti untuk makan keesokan harinya!


dan aku akan memulainya dari desa ini!"


aku tersenyum. inilah putri Aurellia yang aku kenal. cantik. tapi yang lebih mempesona darinya adalah kepeduliannya terhadap sesama. rasa tanggung jawab. dia bersedia untuk membebankan itu di pundaknya.


"Issac, kau memberikan ku kesempatan untuk meminta sesuatu padamu kan jika aku membutuhkan bantuan?"


oh benar juga. kalau diingat lagi, aku menjanjikan hal itu pada putri saat dia membantu ku. putri tersenyum. nah kali ini aku merasakan sesuatu yang tidak enak. tapi apa ya? aku sendiri bertanya-tanya.

__ADS_1


tetapi karena putri telah membulatkan tekadnya, aku akan membantu sebisa ku. maksudnya semaksimal yang aku bisa.


__ADS_2