
Perwakilan suku serigala perak menatap pemuda yang ada di hadapannya dengan tajam. Ia masih muda. Umurnya tidak berbeda jauh dengan dirinya. Tapi entah kenapa pria ini memiliki aura yang sangat kuat disekitarnya. Sepertinya ia memang bukan orang sembarangan.
"Aku sudah memberikan semua informasi yang aku miliki kepada orang yang menginterogasiku waktu itu. Apakah itu berarti kau menganggapku berbohong?"
Sebagai permulaan, gadis itu berbicara dengan bahasa ibunya. Ia berasumsi bahwa pria ini tidak bisa berbicara bahasa yang ia pakai di Garlin tapi asumsinya meleset.
"Tidak juga. Saya tidak menganggap anda telah mengatakan kebohongan. Saya yakin semua yang anda katakan adalah sesuatu yang benar dan tidak meragukan hal itu.
"Tetapi saya merasa bahwa anda terlalu menahan diri. Tergantung jawaban yang anda berikan, saya akan membiarkan kelompok anda menetap lebih lama sembari mempertimbangkan beberapa hal.
"Atau hal sebaliknya bisa saja terjadi. Jika anda terus membatasi informasi, maka kerajaan tidak memiliki pilihan lain kecuali mengembalikan anda dan kelompok pelarian ke federasi Garlin.
"Sebisa mungkin, kami tidak ingin mencari masalah dengan kawasan lain. Kami bisa saja mengatakan kepada mereka bahwa selama ini kalian semua telah melakukan aktivitas ilegal di wilayah kerajaan. Dengan begitu kami tidak akan dianggap sebagai pelindung anda atau apapun itu."
Tajam. Ia sangat tajam. Akan sia-sia jika aku memberikan informasi palsu kepadanya. Pikir gadis itu. Ia mulai gelisah. Sementara itu, Issac menunggu dengan sabar. Akhirnya, gadis itu mulai bercerita.
"Suku kami, serigala perak, adalah salah satu suku yang tertindas di Federasi Garlin. Bukan karena kami lemah. Sebaliknya, kami semua adalah suku yang terlahir dengan kekuatan fisik di atas rata-rata.
"Tetapi, jumlah kami tidaklah banyak. Alasan kami memasuki wilayah kerajaan adalah karena hal itu. Tapi itu bukan inti masalahnya."
__ADS_1
Gadis itu berhenti sejenak. Issac mengambil sebuah gelas dan sebotol anggur lalu menuangkan anggur itu ke gelas dan memberikannya kepada gadis itu. Setelah berterima kasih, ia melanjutkan ceritanya.
"Di federasi Garlin sendiri, ada suku yang memiliki dominasi yang cukup kuat. Suku Rubah api, Suku kucing salju, dan suku harimau emas. Mereka bertiga secara bulat memilih untuk menyatukan seluruh federasi Garlin dan memerintah seluruh Beastmen menggunakan sistem monarki.
"Suku serigala perak dan beberapa suku lainnya tidak setuju. Akhirnya kami berperang satu sama lain. Sayangnya, suku kami mengalami kekalahan telak. Sebagian besar dari kami dibunuh termasuk anak-anak. Itulah kenapa, kami memutuskan untuk lari dari Garlin dan menuju ke tempat ini."
Issac mengangguk. Masalah klise. Kenapa dari dulu masalah yang ia hadapi adalah konflik internal!? Tunggu, mungkinkah ada kelompok yang sengaja menunggangi semua peristiwa ini? Oke, bukan saatnya memikirkan hal seperti itu sekarang.
"Lalu, jika mereka berniat untuk menjadikan Garlin sebagai sebuah monarki, bagiamana dengan para demi-human seperti para elf dan dwarf? Bukankah mereka seharusnya memiliki suara juga untuk menolak keegoisan mereka?"
Gadis itu menggeleng.
"Tidak. Sebenarnya, sejak seratus tahun yang lalu, para demi-human sudah tidak lagi menjadi bagian dari federasi. Masing-masing dari mereka telah membuat kerajaan sendiri. Kekaisaran Elf dan kerajaan dwarf."
"Sebenarnya....ada satu hal lagi yang harus kusampaikan padamu. Tujuan akhir mereka bukanlah mendirikan kerajaan. Itu hanya salah satu misi mereka. Tetapi salah satu tujuan besar mereka adalah menaklukan kerajaan Heinz dan pada akhirnya membuat seluruh dari kalian tunduk kepada mereka."
Issac cukup terkejut. Tapi ia dengan cepat menenangkan diri. Sekali lagi, ini seperti yang ia perkirakan. Mungkin disebabkan oleh dendam yang telah tertumpuk selama ratusan tahun.
"Terimakasih nona....."
__ADS_1
"Panggil saja aku aku Rena."
"Terimakasih nona Rena untuk keterangannya. Anda bisa kembali ke tempat penampungan lagi sekarang."
Federasi Garlin di sebelah timur, kekaisaran Moskov di sebelah Utara, kekaisaran Grand Aria di sebelah barat, dan ancaman invasi Iblis entah darimana. Jalan untuk Aurellia, Margareth, dan dirinya masih sangat panjang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pemasukan kerajaan dari perdagangan, investasi luar negeri, industri, dan 3P (pertanian, peternakan, dan perikanan) meningkat sangat pesat! Pemasukan yang mereka terima bahkan sepuluh kali lipat dari pemasukan yang diterima oleh kerajaan di masa pemerintahan sebelumnya.
Itu belum dihitung dengan pajak dan biaya masuk ke setiap wilayah di kerajaan. Para pedagang, pelancong, dan para petualang dari guild berpergian secara terus menerus. Biaya masuknya memang tidak besar. Setidaknya setiap kota menarik tiga hingga lima tembaga.
Tetapi jika yang masuk ke sebuah kota berjumlah seribu orang setiap harinya, itu adalah uang yang sangat banyak. Itu baru di satu kota. Belum kota-kota yang lain. Berdasarkan dari peraturan yang dirancang oleh ratu, kementerian dalam negeri, dan Kementerian keuangan dan perdagangan, 30 persen dari penghasilan biaya tol akan dikirimkan kepada kerajaan setiap bulannya.
Selain akan diputar lagi dalam berbagai Investasi dan bentuk pinjaman, kas kerajaan juga akan mendanai militer. Meriam sihir dan senapan sedang dikembangkan oleh divisi penelitian dan kementerian urusan militer. Tetapi pada dasarnya, fokus ratu sendiri bukanlah perang.
Semenjak menjabat sebagai ratu, Aurellia telah memutuskan untuk mengambil sikap pasif. Ia tidak berminat untuk melakukan invasi ke kerajaan tetangga. Sebaliknya, kalau bisa, mereka akan menjalin hubungan baik satu sama lain.
Dalam kondisi damai, sirkulasi ekonomi akan berjalan lebih lancar dan aktivitas perdagangan bisa berjalan dengan mudah tanpa mengkhawatirkan banyak hal. Begitulah cara Aurellia membuat dominasinya sendiri di seluruh benua Lantos.
__ADS_1
"Tapi entah kenapa.... kedamaian ini mungkin tidak akan berjalan lebih lama lagi. Dan untuk itu, aku harus mempersiapkan banyak hal sebelum semuanya terlambat."
Begitulah kata Aurellia ketika memandangi bulan purnama yang bersinar indah di gelapnya langit malam.