Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Sumpah Hamba dan Tuan


__ADS_3

"Terimakasih banyak, Issac! berkat dirimu, aku... aku...huuuaaa."


sepertinya persidangan seminggu yang lalu membuat Angelica sangat lega. dia memiliki pengalaman yang sangat menyakitkan. percobaan perkosaan yang dilakukan oleh Chaddrick kepada Angelica telah menyebabkan trauma yang mendalam untuk dirinya.


setelah kejadian kemarin, Angelica mengajukan cuti ke akademi dan kembali bersama ayahnya ke wilayah Margrave Mariendolf. dia baru tahu ternyata Margrave Mariendolf memiliki sebuah artefak yang memungkinkan dirinya untuk berteleportasi. jadi dia bisa menghemat waktu dengan menggunakan itu.


dan sekarang, Angelica sudah kembali ke mansion nyonya Heid. dia sudah pulih dari traumanya. mungkin bersama keluarganya selama tujuh hari cukup untuk membuatku dirinya bangkit.


"Sudah, sudah. jangan menangis. lagipula aku tidak ingin melakukan apapun untukmu."


sekarang, Angelica sedang memeluk Issac erat-erat. kalau para kekasihnya melihat ini sekarang, dia yakin pasti dia akan mati! Agatha melihatnya dengan tatapan cemburu. sementara itu Margareth dan nyoya Heid menahan tawa seolah melihat pertunjukan menarik!


hei, apakah kamu jatuh cinta dengan Angelica, Agatha!? yah, mungkin dia iri dengan Issac karena Angelica tidak pernah memperlihatkan dirinya yang rapuh pada siapapun. termasuk Agatha. tapi itu bukan seharusnya yang seharusnya dicemburui, kan?


"Sudahlah Angie, Issac akan kerepotan kalau kamu terus menempel seperti itu."


Margareth akhirnya memutuskan untuk melepaskan Angelica dari Issac. lagipula, hari ini jadwal Issac cukup padat. dan Margareth, yang secara alamiah menjadi asisten Issac, memastikan agar Issac menjalankan tugasnya dengan baik.


hari ini Issac akan mengumpulkan seluruh pelajar dari kerajaan Heinz. entah itu Bangsawan ataupun rakyat biasa. ada sesuatu yang ia harus lakukan pada mereka. karena mulai saat ini, Issac lah yang akan bertanggung jawab atas tindakan mereka.


"oke..."


Angelica dengan enggan melepas pelukannya. tapi rasanya itu cukup. menumpahkan kesedihan kepada teman baiknya sangat membuat dirinya lega.


"nyonya, aku minta maaf karena malam ini aku tidak bisa makan malam bersama kalian. ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu."


"sebenarnya aku sedih karena jika tidak ada dirimu, makan malam akan terasa lebih sepi. tapi mau bagaimana lagi, kan? ada sesuatu yang harus kamu lakukan. pergilah. tapi pastikan untuk sarapan bersama kami, oke?"


Issac mengangguk dengan senyum dan pergi keluar. kereta kuda miliknya sudah menunggu di halaman depan. saat Issac dan Margareth sudah naik, kusir akhirnya mencambuk kudanya dan mereka pun berangkat.


"aku tidak menyangka kamu memiliki cukup uang untuk merancang dan membuat Kereta semewah ini ya, Issac. aku yakin bahkan kerajaan tidak akan bisa membuat sesuatu yang seperti ini."


"memang benar. yah, aku sendiri harus mengeluarkan banyak uangku untuk kereta ini. tapi aku pikir, ini setara dengan koin platinum yang aku keluarkan."


sama seperti Agatha dan Angelica, Margareth juga mengakui keindahan dan kemewahan kereta milik Issac. sesuatu seperti ini memang hanya satu di Benua ini.


Issac sudah menyewa salah satu gedung serbaguna di distrik komersial dan ia sedang menuju kesana. gedung serbaguna yang dia sewa berukuran besar dan dapat menampung setidaknya seribu orang. menurut catatan yang dibuat Margareth, ada setidaknya tiga ratus pelajar Heinz yang sedang belajar di Akademi.

__ADS_1


20 menit kemudian, Issac dan Margareth sampai di gedung serbaguna itu. banyak murid yang sudah datang. tetapi bangku yang masih belum terisi juga masih banyak. ya ampun, ternyata banyak dari mereka yang benar-benar berniat tidak hadir.


"Aku berharap kalian semua berkumpul disini, tapi... sepertinya itu tidak mungkin. ya sudahlah. jadi ada banyak hal yang harus aku beritahu kepada kalian."


Issac mengatakan itu ketika dia berdiri di atas sebuah podium. Margareth berdiri di sebelahnya. tapi tidak ada satupun yang mendengarkan Issac. mereka asyik dengan obrolan mereka sendiri. Issac tidak marah. hal seperti itu tidak cukup untuk membuat kemarahannya terpantik.


"Dengarkan aku... anak-anak buangan."


kali ini suasana di gedung sunyi. mereka semua mendengar sesuatu yang sangat benci mereka dengar. kesunyian itu berubah menjadi amarah. mereka beramai-ramai memaki Issac dan mencelanya.


"Apa yang kau tahu tentang kami dasar bajingan!!"


"Anak manja sepertimu tidak akan pernah tahu rasanya dibuang dan tidak dipedulikan seperti kami!!"


"Brengsek, kau tidak akan paham bagaimana kerasnya hidup di kekaisaran!"


dan lain-lain. makian itu tidak berhenti. mereka terus berusaha menginjak-injak Issac dengan kata-kata kotor. tapi dia tidak marah sedikitpun. dia membiarkan mereka semua puas menumpahkan seluruh emosi mereka. setelah keadaan agak hening, barulah Issac melanjutkan omongannya.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang kalian. dan sejujurnya aku sama sekali tidak peduli dengan kalian semua. yang aku tahu, kalian semua hanyalah anak-anak yang dianggap produk gagal dan dibuang oleh keluarga kalian ke sini. tidak ada yang mencari kalian bahkan jika kau semua mati di selokan Reichstaag."


Mereka semua marah dengan kata-kata yang Issac ucapkan. itu tajam dan menyakitkan. tetapi semuanya sadar bahwa itu adalah kenyataan. dan mereka tidak bisa melakukan apapun untuk itu.


apa yang sebenarnya ingin orang ini sampaikan?! bahkan Margareth ikut geram dengan Issac. dia tahu bahwa apa yang Issac sebutkan adalah sebuah fakta. tapi mengatakan hal seperti itu di depan mereka adalah hal yang biadab! kemarahan murid yang lain juga hampir memuncak untuk yang kedua kalinya!


"Tapi..."


Issac langsung berbicara sebelum kalimat kotor keluar dari mulut yang lain.


"Tapi aku akan memberikan kalian kesempatan. aku tahu kalian hidup sebatang kara di negeri ini. tidak ada yang mengirim kalian uang untuk hidup. kalian mencari pekerjaan untuk memenuhi kehidupan kalian masing-masing. kalian mengalami kehidupan yang jauh lebih keras daripada saudara kalian yang saat ini hidup bermewah-mewahan di kerajaan dengan mengandalkan hasil kerja orangtuanya.


"Karena itu aku akan memberikan kalian kesempatan untuk menjadi orang yang berguna. bukan untuk saudara atau keluarga yang telah membuang kalian. bukan juga untuk kerajaan yang telah mengabaikan kalian. tapi berguna untuk diriku."


Apa-apaan orang ini?! semua yang hadir berkata seperti itu. setidaknya di dalam hati mereka. kenapa dia mengatakan seolah dia yang akan...pada akhirnya mereka semua pasrah.


"Aku akan membantu finansial kalian selama kau semua berada di kekaisaran."


"Eh, apa maksudmu, Issac!? apakah kamu sudah gila!?"

__ADS_1


kali ini Margareth yang kaget.


"tidak...aku serius. aku akan membantu kalian semua. aku akan membayar uang sekolah kalian, memberikan kalian uang saku, memberikan kalian tempat tinggal, dan menjamin perut kalian tetap kenyang.


"tapi itu semua tidak gratis. sebagai gantinya, kalian harus menjadi murid terbaik di kelas kalian. minimal, kalian semua harus masuk dalam lima besar. selain itu, sebelum kalian lulus, semuanya harus mengadakan proyek penelitian tentang sesuatu yang kalian minati. boleh sihir, berpedang, ataupun sesuatu di luar hal itu. ah benar juga. dan jangan membuat masalah dengan siapapun di kekaisaran. aku tidak ingin peperangan terjadi karena hal konyol yang kalian lakukan.


"dan puncaknya, ketika kalian lulus nanti, semua yang menerima bantuan harus bekerja untukku. aku sedang membangun sebuah wilayah baru di perbatasan Heinz dan Garlin dan aku membutuhkan banyak tenaga ahli untuk membuat wilayahku menjadi tempat yang layak untuk ditinggali siapapun tanpa harus memandang dirinya apakah dia bangsawan atau hanya rakyat biasa."


semuanya terdiam. ini bahkan lebih hening daripada yang tadi. apakah anak ini serius? semuanya menelan ludah. mereka antara percaya dan tidak percaya. sebenarnya, yang mereka inginkan selama ini hanyalah belajar dengan tenang, menimba ilmu sebanyak mungkin, lalu pulang ke kerajaan untuk membuktikan bahwa diri mereka adalah anak yang berguna.


tapi kondisi yang mereka alami tidak memungkinkan hal itu. nilai mereka semua turun karena lebih memilih untuk bekerja agar bisa makan daripada mendapatkan nilai yang bagus di kelas.


mereka tidak punya pilihan selain harus menundukkan kepala mereka pada orang lain. bahkan untuk mendapatkan pemasukan lebih, ada yang terpaksa untuk melakukan kegiatan kriminal.


"A-apakah, anda benar-benar serius untuk itu, tuan?"


salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya. yang lain akhirnya juga menanyakan hal yang sama pada Issac. apakah dia benar-benar akan melakukan hal itu?


"Tentu saja. selama kalian memenuhi syarat yang aku sebutkan tadi, aku bersedia untuk membantu kalian. ini bukan hal yang wajib, tapi setidaknya, itu yang bisa aku lakukan untuk kalian."


"Kalau begitu...."


satu orang berdiri, diikuti semua orang yang hadir di tempat ini.


""Mulai hari ini, Anda adalah tuan kami! selama kami masih hidup, selama itu juga setiap tetes darah dan keringat akan dipersembahkan untuk tuan kami! tidak peduli sehat atau sakit, senang atau sedih, mudah atau susah, diri kami adalah sepenuhnya milik anda, wahai tuanku!""


lalu mereka semua melukai tangan mereka sendiri dan meneteskan darah mereka ke lantai. sumpah yang mereka ucapkan tadi adalah sumpah setia antara tuan dan hamba. dan darah yang tertumpah adalah bukti kesetiaan pertama mereka. itu adalah tradisi yang berlaku di kerajaan Heinz.


Issac mengangguk puas. sebenarnya tidak perlu mengucapkan sumpah tadi pun Issac percaya pada mereka. lagipula, kasihan pemilik gedung, dia harus membersihkan darah mereka. tapi mungkin mereka tidak bisa menahan gelombang kegembiraan mereka dan melakukan itu dengan refleks.


"bagus. kalau begitu, silahkan daftarkan nama kalian ke Margareth. begitu juga dengan umur, tempat tinggal kalian di kekaisaran, dan berapa lama kalian belajar di akademi. aku juga akan mendaftar hal-hal yang kalian minati, tapi mari kita urus itu nanti."


Margareth terlihat lega dengan apa yang Issac lakukan. tapi dia juga memiliki perasaan yang rumit. Issac sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal seperti memberikan mereka bantuan finansial kepada mereka.


tugas seperti ini seharusnya dipenuhi oleh kerajaan ataupun keluarga mereka. entah dia harus kagum atau sedih. tapi yang jelas, Margareth bersyukur. setidaknya, mereka bisa fokus belajar dan tidak perlu lagi ribut dengan siapapun.


"Aku yakin kalian semua datang kesini dengan perut kosong. sebagai rasa terimakasihku, silahkan makan sepuas kalian."

__ADS_1


begitu Issac memberikan isyarat, 20 orang masuk ke gedung serba sambil mendorong meja panjang yang berisi makanan dan minuman prasmanan. para pelajar Heinz entah itu bangsawan maupun rakyat biasa, pasti rindu dengan kampung halaman mereka. karena itulah Issac sengaja menghidangkan makanan khas kerajaan Heinz pada mereka.


saat yang lain menikmati makan malam mereka dengan gembira dan merangkul satu sama lain, Issac dan Margareth saling bertatapan dan tersenyum. mata Heterochromianya lebih bersinar daripada biasanya.


__ADS_2