
Aula Mansion Clifford diselimuti ketegangan. sepuluh orang yang secara tiba-tiba menyerang para anak bangsawan kini sudah tidak bernyawa. mereka mati secara mengenaskan. tidak ada yang tahu siapa mereka dan apa motif mereka. yah, orang mati tidak bisa bicara sih.
semuanya menyaksikan betapa bengisnya Issac hari ini. mereka tidak mengerti seberapa kuat Issac. tentu saja karena mereka juga tidak tahu sekuat apa orang yang menyerang mereka. tapi ada satu hal yang jelas, Mereka menganggap Issac sebagai monster.
tapi Issac sama sekali tidak peduli tentang itu. dia tidak pernah ambil pusing soal apa yang orang lain pikirkan terhadapnya. yang lebih penting....dia mengarahkan tatapannya kepada Alex Clifford. bajingan yang telah berani menggerayangi tubuh gadis tercintanya. Sasha dan Lilianne sangat terganggu dengan sentuhan tadi. itu bisa terlihat dari mimik wajah mereka yang terlihat jelas.
kalau bisa dia ingin menghajar Alex Clifford disini. sekarang juga. tetapi dia tidak bisa melakukan itu. dia tidak punya alasan yang tepat jika menghabisinya di depan para anak bangsawan. tapi dia masih punya cara lain. Issac menatap wajah Clifford. dia menembakkan sihir gelap lewat tatapannya. itu adalah sihir yang menyebabkan kematian perlahan.
mulai besok, Clifford akan merasakan sakit yang sangat hebat di sekujur tubuhnya. seluruh bagian dari wajahnya seperti lubang hidung, mata, mulut, dan lubang telinga akan mengeluarkan darah yang sangat banyak. paru-parunya juga akan menjadi lebih Sulit dalam menerima nafas daripada sebelumnya. ini akan terjadi terus-menerus selama lima tahun dan pada akhirnya dia akan mati dengan rasa sakit yang sangat mengerikan.
ya, kali ini Issac tidak akan memberikan pengampunan apapun pada Clifford. tidak hanya kepada Alex. dia bersumpah untuk menghancurkan keluarga Clifford. secara perlahan-lahan, dengan sangat menyakitkan.
saat amarah bergejolak dalam dirinya, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. itu adalah Misha, Kakak kandung Issac. Misha berusaha untuk mentransmisikan kehangatan tubuhnya ke tubuh Issac.
"Tenanglah Is. aku ada disini. tidak apa-apa untuk marah. tetapi yang terpenting, ayo kita pastikan keadaan Sasha dan Lili terlebih dahulu. mereka tidak boleh terus dibiarkan seperti itu."
begitu suara Misha masuk ke telinganya, Issac seolah merasa bahwa dia telah kembali ke akal sehatnya. kebenciannya terhadap Clifford begitu besar sampai-sampai dia melupakan Sasha dan Lilianne.
__ADS_1
mereka segera pergi ke tempat Sasha dan Lilianne berada. kedua gadis itu baik-baik saja. tidak ada luka luar maupun dalam di tubuh mereka. tetapi mereka terlihat shock. Issac tidak tahu pasti kenapa, tapi dalam pikirannya dia yakin aksinya tadi membuat mereka ketakutan. tanpa memedulikan pandangan orang lain, Issac bergegas memeluk mereka berdua.
"Maafkan aku, Kak Sasha, Lili. aku telah memperlihatkan sesuatu yang mengerikan di depan mata kalian. kalian boleh melakukan apapun padaku nanti, tapi sekarang, mari kita pergi dari sini terlebih dahulu."
Anna dan Misha membantu Para gadis untuk berdiri. sementara itu Issac memutuskan untuk pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun. jujur saja, dia menyesal dan merasa tertekan. dia mungkin telah membuat kedua gadis yang dia sayangi trauma karena adegan pembunuhan yang cukup sadis.
yeah, Issac masih manusia. jadi dia sama sekali tidak bisa lolos dari apa yang orang lain sebut sebagai 'rasa bersalah'. perasaan itu memenuhi dirinya. dia tidak peduli soal yang lain, tapi bagaimana dengan mental Sasha dan Lilianne? bagiamana kalau mereka juga menganggap Issac adalah monster dan akhirnya menjauhi dirinya?
pertanyaan seperti itu terus berkecamuk di dalam kepala Issac. dijauhi oleh Sasha dan Lilianne. itu adalah hal yang paling dirinya takuti. dia memutuskan untuk kembali ke akademi sendirian. dia memasuki kereta kudanya dan dengan nada murung meminta kusir untuk menjalankan keretanya. namun sebelum kereta itu mulai pergi, dia melihat Misha menghalau jalannya.
"Is, bolehkah aku Ikut dengan mu? aku....ingin mengobrol banyak hal dengan mu." Tanpa pikir panjang Issac mengangguk. dia sama sekali tidak keberatan. kebetulan dia juga ingin tahu apa yang ingin Misha katakan.
Issac menaiki kereta terlebih dahulu. setelah itu ia menuntun kakaknya untuk masuk. Misha duduk dihadapan Issac. kereta sudah mulai berjalan tetapi walaupun Misha bilang dia ingin mengobrol banyak bersama Issac, tetap saja dia tidak mengatakan apapun.
suasananya agak, tidak, sangat canggung. Misha daritadi hanya menatap wajah Issac saja. Issac sendiri sih tidak keberatan, tetapi dia tetap agak malu. ditatap seperti itu oleh seorang gadis yang sangat cantik seperti itu membuat dia salah tingkah.
tiba-tiba Misha beranjak dari tempat dari kursinya dan duduk di samping Issac. dia terlihat sedikit ragu, tetapi menetapkan hatinya untuk melakukan sesuatu. tanpa Issac duga, Misha tiba-tiba memeluk nya. membawa kepala Issac ke dadanya.
__ADS_1
****
Hangat. hangat. hangat. aku selalu ingin memeluk adik tercinta ku, Issac. sebenarnya aku sering memeluknya, tetapi itu hanya sekilas. aku ingin dia berlama-lama memeluk ku. menikmati waktu berdua bersamaku. hanya kita berdua.
dia terlihat sedikit panik. tetapi dia tidak melawan. justru sebaliknya, dia membenamkan wajahnya ke dadaku. hei, itu geli!
aku dengan lembut mengelus rambutnya. jarang sekali aku melakukan hal ini. mungkin hanya sesekali. tetapi melihat adikku yang biasanya tangguh dan menjadi pelindung bagi kami kini bersikap manja dalam pelukan ku membuat hati ku terasa berbunga-bunga! aku tidak akan kalah dari Sasha!
aku merasakan pelukan darinya semakin kuat. badannya sedikit berguncang. secara samar, aku mendengar suara terisak-isak? saat itulah aku tersadar bahwa Is sedang menangis. terakhir kali dia menangis adalah sepuluh tahun yang lalu, ketika dia berusia tiga atau empat tahun.
setelah itu, layaknya seorang lelaki sejati, dia sama sekali tidak pernah menangis. bahkan jika dia terluka pada saat kami berlatih sekalipun. melihat Is menangis sesenggukan sambil membenamkan wajahnya dalan diriku ini membangkitkan insting seorang 'kakak' ku dan membuat ku ingin lebih memanjakannya.
Aku juga memeluknya lebih erat. tidak apa-apa, menangislah Is. tumpahkan seluruh kesedihan, kekhawatiran, dan rasa Frustasi mu disini. kau tidak perlu malu, hanya ada aku dan kau disini. hanya kita berdua di dunia kita sendiri.
aku tetap mengelus punggungnya. ini punggung yang kuat, yang tidak segan-segan menanggung beban milik keluarganya, milik orang yang dicintainya. aku tidak mengatakan apapun, hanya terus berusaha untuk memberikan kehangatan dan ketenangan untuknya. aku tidak tahu kenapa dia menangis, tapi aku yakin ini pasti tentang melakukan pembunuhan di depan Sasha dan Lili.
pada akhirnya, sepanjang perjalanan menuju ke akademi, kami tetap berpelukan seperti ini. tanpa harus menahan diri, kami saling berbagi kehangatan. saling berbagi ketenangan. aku akan terus berdiri disampingnya, berbagai beban yang sama dengannya. bahkan jika itu artinya aku harus menjadi musuh dunia sekalipun.
__ADS_1