Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Sebelum Puncak


__ADS_3

"Laporkan padaku apa yang sebenarnya sedang terjadi."


Di pos resimen perbatasan barat, Issac dan Angelica mengadakan dewan perang. Ada komandan resimen perbatasan dan beberapa staf militer lainnya di sana. Komandan resimen mulai memberikan penjelasan tentang situasi mereka.


"Sebanyak 50.000 hingga 60.000 tentara Marquis Baldwin sedang berjalan menuju perbatasan. Jika semuanya berjalan lancar, mereka akan sampai di sini dalam waktu tiga hari."


"Kalau begitu, sudah menjadi kewajibanmu untuk membuat rencana mereka tidak berjalan lancar kan?"


"Benar. Karena itulah kami telah mengirim pasukan penyergap dan pengintai untuk mengahalangi gerak laju mereka. Tetapi jumlah mereka tidak banyak. Hanya seribu. Kami tidak tahu sampai kapan mereka akan bertahan."


Issac mengangguk. Situasinya memang rumit. Bahkan jika tentara kedua dan keempat turun tangan, pihaknya masih kalah jumlah.


"Tentara keempat dan kedua akan berangkat dari wilayah Randall hari ini. Butuh setidaknya tiga hari untuk sampai. Apakah semua tentara Marquis Baldwin adalah tentara reguler?"


"Tidak juga tuan. Berdasarkan hasil interogasi dari para bandit yang tertangkap, dua pertiga dari mereka adalah relawan. Tetapi mereka sendiri tidak bisa diremehkan karena pengalaman yang telah mereka lalui."


Salah satu petugas militer memberikan informasi itu. Kalau mereka berpengalaman, itu akan merepotkan. Tapi bukan berarti tidak ada harapan.


"Ada kemungkinan mereka akan membagi pasukannya dalam tiga sayap. Depan, tengah, dan belakang. Sayap depan dan tengah diisi oleh para relawan dan mereka bertugas menjadi pembuka jalan bagi sayap belakang yang sebagian besar dari mereka adalah tentara reguler."


Issac memperkirakan hal itu. Meskipun berpengalaman, kedudukan tentara relawan tidak terlalu penting. Mereka lebih seperti pion sekali pakai. Itulah kenapa mereka akan menjadi pembuka.

__ADS_1


"Bagaimana dengan komposisi pasukan dan peralatan mereka?"


"Perlengkapan mereka cukup baik. Setidaknya untuk tentara reguler. Sementara relawan, persenjataan mereka tidak terlalu baik tapi juga tidak bisa dibilang buruk.


"Selain itu mereka dilengkapi dengan ketapel raksasa dan tiga meriam sihir. Para penyergap akan mencoba untuk menghancurkan peralatan berat ini. Tapi itu akan menjadi misi yang sangat sulit."


Staf yang lain memberikan penjelasan yang komprehensif tentang situasi mereka.


"Kalau begitu, mari kita andalkan para penyergap. aku akan mencari cara untuk mendapatkan pasukan tambahan. Angie, tolong hubungkan aku dengan ayah mertua setelah ini."


Angelica yang bertugas sebagai sekretaris sementara Issac mengangguk.


Setelah itu, mereka berdua langsung bertolak menuju mansion milik keluarga Mariendolf.


"Wah, wah...kalau bukan menantuku. Selamat datang Issac. Silahkan duduk. Angie juga. Buat diri kalian senyaman mungkin."


Setelah mampir sebentar di mansion Mariendolf, Issac dan Angelica bertolak ke kediaman mantan kepala keluarga Mariendolf sebelumnya. Setelah pensiun, ia memutuskan untuk menjauhkan diri dari dunia politik.


"Terimakasih ayah mertua atas sambutan hangatnya. Bisakah saya langsung menuju poinnya?"


Kalau bisa Issac ingin menghabiskan waktu dengan ayah mertuanya. Tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk itu.

__ADS_1


"Silahkan. Tapi aku sudah bisa menebak apa yang kamu pikirkan. Sebentar lagi, apa yang kamu butuhkan akan segera datang."


Tidak berapa lama kemudian, seorang maid datang dengan troli yang membawa tiga cangkir teh dan setumpuk dokumen. Issac tersenyum dalam hati. Luar biasa. Meskipun sudah pensiun, intuisi politiknya belum mati.


Setelah mengucapkan terimakasih, Issac dibantu Angelica mulai membaca dokumen yang ada di depan mereka. Itu adalah daftar nama-nama yang dulunya melayani Mariendolf sebagai seorang ksatria.


Sebagian dari mereka memilih melanjutkan karir mereka di satuan Tentara kerajaan Heinz. Tetapi sebagian besar dari mereka memilih pensiun dini dan menalani profesi lain begitu mantan Kepala keluarga Mariendolf yang ada di depannya pensiun.


"Sekarang mereka telah menjalani profesi lain dan memiliki keluarga sendiri. Aku tidak yakin apakah mereka mau kembali ke dinas mereka ketika sudah memiliki orang-orang yang mereka cintai, tapi....."


"Anda benar, ayah mertua. Tetapi seperti yang sedang Anda pikirkan juga. Mereka mencintai keluarga mereka, wilayah ini, dan kerajaan. Untuk melindungi apa yang mereka cintai, mereka bersedia untuk menumpahkan darahnya untuk itu."


Mereka memang telah pensiun dari dunia militer. Tapi Issac yakin darah mereka akan kembali panas begitu mendengar kondisi yang sedang terjadi.


Sementara mereka akan berperang, mereka tidak perlu takut dengan kehidupan Keluarga mereka. Di dunia ini, kebanyakan lelaki yang telah berkeluarga takut untuk berperang bukan karena mereka takut mati.


Lebih dari itu, mereka takut keluarga yang ia miliki akan terkatung-katung ketika mereka ditakdirkan untuk mati. Siapa yang akan memberi makan mereka? Bagaimana dengan anak dan istri? Dan lain-lain.


Tapi di kerajaan hal itu tidak akan terjadi. Bagi mereka yang gugur dalam Medan perang, Maka keluarganya akan diberikan kompensasi berupa tunjangan. Anak mereka akan dibiayai untuk pendidikan setidaknya sampai berusia 15 hingga 18 tahun.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan keadaan Arthur? Apakah ia sehat-sehat saja?"

__ADS_1


"Oh, ayah ya. Dia baik-baik saja. Semenjak kak Albert menggantikan posisinya, ia terlihat semakin sehat dan bersemangat. Mungkin karena ayah sudah dibebaskan dari beban yang berat."


Ayah mertuanya tertawa dan menepuk pundak Issac. Setelah berbincang beberapa saat lagi, Issac dan Angelica akhirnya pamit. Sekarang, dia harus melakukan persiapan lain sebelum semuanya terlambat.


__ADS_2