
tanpa alasan yang jelas, lagi-lagi aku termenung melihat pemandangan akademi dari kelas. dan di saat yang sama juga aku berkali-kali ditegur oleh guru karena tidak mendengarkan pelajaran. bukan karena pelajaran yang sulit. justru sebaliknya, pelajaran yang dijelaskan oleh para guru itu mudah. mungkin berada di tingkatkan SMP atau SMA yang ada di negaraku dulu.
jadi alih-alih Sulit atau bingung, ini hanya membosankan. itulah kenapa dari kemarin aku terus-terusan bolos. yah, hal seperti ini buruk jadi jangan kalian ikuti, Oke?
aku juga memikirkan soal yang lain. bisa tidak sih, aku tetap terus menjalani kehidupanku yang sekarang, tetap ikut campur terhadap urusan dalam negeri kerajaan, memancing air keruh di tengah konflik para bangsawan, dan disaat yang sama harus melindungi orang yang aku cinta dan sayangi. bisakah aku seperti itu? ini mungkin renungan yang tidak berguna dan sia-sia, tetapi bahkan, ketika aku hidup untuk yang kedua kalinya, rasa takut akan kehilangan tetap menghantui.
__ADS_1
itu juga termasuk rasa bersalah, paranoid, dan perasaan tidak enak lainnya. huhhh apakah pada akhirnya, apakah aku harus memilih salah satu dari dua opsi itu? ya ampun hal seperti ini membuatku pusing. daripada memikirkan itu, aku rasa yang harus kupikirkan sekarang adalah langkah apa yang akan aku ambil kedepannya, kan?
setelah kelas selesai, aku tidak pergi makan siang bersama yang lain. tujuanku hanya satu, menangkap pelaku dibalik teror yang menimpaku dan stalker yang selalu mengganggu Anna. untuk sekali ini saja, aku ingin menggunakan superioritasku untuk hal-hal seperti ini. segera, setelah mencapai kafetaria yang biasa digunakan oleh rakyat jelata, aku menemukan penyebab masalah ini, Andreas.
tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung meraih kerahnya, mengangkat tubuhnya, dan meninju wajahnya dengan pukulan yang cukup keras. itu saja telah membuat beberapa giginya rontok dan wajahnya membiru. tapi aku tidak puas dengan itu. sekali lagi, aku meninju wajahnya dan menendang kepalanya.
__ADS_1
setelah puas menghajar dan menghinanya, aku dengan santai melenggang dari kafetaria. yahh ini melegakan. aku melihat Theodore dan ingin meninju wajahnya yang menyebalkan juga, tetapi aku langsung mengesampingkan itu. tidak ada gunanya bahkan jika aku melakukan itu disini. dia mungkin yang telah merencanakan ini. dengan aku memukuli Andreas tanpa alasan yang jelas, pendapat para rakyat biasa tentangku akan memburuk.
peduli setan. aku tidak memikirkannya itu. aku sama sekali tidak keberatan Kalau dia berpikiran bahwa Si bodoh yang bernama Issac ini telah berputar di telapak tangannya. lagipula aku masih membutuhkan dia dan fraksinya jadi hal semacam ini bisa ditoleransi. dengan suasana hati yang membaik, aku meninggalkan kafetaria ini dan menuju ke tempat yang lain.
****
__ADS_1
"BAJINGAN! ini sangat sakit!" Andreas mencaci Issac ketika akhirnya orang itu pergi dari hadapannya. tidak hanya wajahnya saja yang sakit tapi perasaannya juga. dia mengikuti Rencana Theodore tapi hasil ini yang dia dapat? jangan bercanda!
tetapi ketika Theodore menjelaskan alasan sebenarnya di balik niatnya, kemarahan Andreas menguap. meskipun rasa sakit tetap hinggap di tubuhnya, dia sama sekali tidak memikirkan itu. yang ada dipikiran hanyalah momentum untuk balas dendam. langkah pertama telah terpenuhi dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menjatuhkan si bajingan Issac.