Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Bab 116: Di Pangkuan Tuan Putri


__ADS_3

Kuil dua belas Dewi suci tersebar di berbagai penjuru benua. tentu saja, ini adalah agama paling berpengaruh yang ada di benua Lantos. mulai dari biara-biara kecil yang berada di pedesaan paling terpencil, hingga Kuil agung yang terletak di berbagai ibukota kerajaan-kerajaan besar. kecuali Federasi Minsk yang merupakan negara berisi Beast-man dan beberapa negara yang dihuni oleh demi-human seperti elf, dwarf, dan lainnya.


mereka sudah cukup lama menerapkan kebijakan isolasionis, sekitar 200 tahun yang lalu. hubungan antara para Beast-man dengan para human tidak bisa dibilang akur sama sekali. beast-man seringkali mendapatkan diskriminasi dari para human. ini sudah terjadi sejak Benua Lantos masih merupakan kekaisaran yang sangat besar. begitu kekaisaran Lantos runtuh, dan terpecah menjadi kerajaan-kerajaan dan Dukedom, para Beast-man melakukan imigrasi besar-besaran ke bagian timur Benua dan membentuk teritorial sendiri.


kembali ke Kuil dua belas Dewi suci. alasan kenapa tidak ada kuil disana adalah karena memiliki sesembahan mereka sendiri. begitu juga dengan para demi-human. tetapi bahkan, pengaruh kuil sama sekali tidak berkurang. mereka tetap mendominasi di Lantos dan terus menancapkan pengaruh mereka.


itulah kenapa, aku tidak mau gegabah menghadapi mereka. punya banyak penganut dari berbagai kalangan. dalam batas tertentu, keberadaan mereka juga mempengaruhi kebijakan internal kerajaan Heinz. salah satu alasan kenapa para bangsawan bisa langgeng dan terus mempertahankan dominasi mereka terhadap rakyat biasa adalah karena doktrinasi yang dilakukan oleh petinggi kuil yang sudah berjalan selama ratusan tahun.


itu seperti simbiosis mutualisme diantara para bangsawan dengan petinggi. mau bagaimana pun, kuil membutuhkan banyak biaya untuk operasional mereka. perawatan, membayar gaji para pendeta dan uskup, dan lainnya. para bangsawan memberikan sumbangan kepada mereka dan sebagai gantinya, kuil akan terus memastikan bahwa para bangsawan akan tetap menjadi 'utusan' para dewi.


awalnya aku tidak sadar tetapi sekarang aku sudah memahaminya. jika aku terus merongrong para bangsawan dan menghapuskan pengaruh mereka, cepat atau lambat, aku akan berhadapan dengan kuil.


ya ampun, hal merepotkan seperti ini. aku menghela nafas. aku harus mencari dan merumuskan strategi terbaik untuk mencegah mereka agar tidak mengintervensi semua tindakanku. aku rasa itu tidak mungkin sih. tetapi setidaknya, aku harus membuat mereka enggan melakukan itu.


"Kau Sepertinya memikirkan sesuatu yang merepotkan lagi ya, Issac." Lia yang sedang menemaniku mengerjakan dokumen untuknya tiba-tiba meletakkan tangannya di atas tangan ku. aku melihat wajahnya. dia tersenyum lembut. terimakasih Lia, itu menenangkanku.

__ADS_1


"tidak apa-apa, Lia. maaf aku terlihat melamun ya? aku sudah baik-baik saja sekarang." aku membalas senyumannya. dia tidak bertanya. tetapi sepertinya dia tidak menyerah. dia menarik tanganku ke sebuah bangku panjang yang ada di ruang VIP perpustakaan.


hei hei Lia! apa yang akan kau lakukan? mengabaikan rasa penasaranku dia tetap menarikku dan duduk di sana. tentu saja aku bingung. apa yang sebenarnya gadis ini ingin lakukan? dia menepuk pahanya sementara aku masih berdiri. eh, jangan-jangan....


"Apa yang kau tunggu? aku menawarkan bantal paha padamu lho." aku menelan ludah. oke oke, mari kita tenang. haruskah aku melakukan hal ini? ketika aku sedang mempertimbangkan itu, Lia dengan paksa menarik tanganku dan membuatku berbaring di kursi. tentu saja dengan paha mulus dan wangi milik Lia sebagai bantalnya.


aku memandangi wajah Lia ketika sedang berbaring. indah. dia sangat cantik. rambut putih keperakannya yang sebahu. wajahnya yang putih dan mulus. matanya yang biru. melihat kecantikannya dari jarak sedekat ini membuat jantungku berdetak kencang. wajahku juga agak panas. yah, sepertinya memerah.


Lia juga tidak berbeda jauh. bahkan kelihatannya lebih parah dariku. karena sunyi, aku bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas. wajahnya juga sangat merah hingga daun telinganya. kau cantik Lia. itu membuatku ingin memilikimu. aku menyentuh pipinya yang lembut. ah gawat. aku mengantuk. yeah, sepertinya tidak ada salahnya aku tertidur di pahanya. dengan begitu, aku tidur.


****


sudah mengabdi pada kuil selama 35 tahun, Leon Sanders berasal dari keluarga Sanders yang memiliki sejarah panjang di kuil. konon katanya, kakek moyangnya tidak lebih dari petani dari sebuah pedesaan di perbatasan antara Kekaisaran Moskov dan kerajaan Heinz seratus lima puluh tahun yang lalu.


meskipun tidak lebih dari seorang petani, dia tetap mengabdikan dirinya pada Dewi. ia menyumbangkan uang yang dia miliki seadanya kepada kuil untuk kesejahteraan kuil. dia juga membangun panti asuhan dan fasilitas lain di desa itu walaupun seadanya. itulah yang membuat dia diakui sebagai orang saleh dan diangkat menjadi bishop dan bahkan menjadi seorang kardinal.

__ADS_1


tetapi pengabdiannya kepada umatnya tidak berhenti. dia tetap menggunakan uangnya untuk membangun hal-hal vital yang diperlukan oleh masyarakat. dan itu diwarisi oleh anak-anak serta cucu-cucunya. walaupun semenjak generasi kakeknya, keluarga Sanders telah melakukan 'hal yang berbeda'.


berkebalikan apa yang telah dilakukan oleh kakek dan nenek mereka, keluarga Sanders kini mulai melakukan hal-hal yang sama sekali tidak pantas untuk dilakukan. menggelapkan dana yang harusnya dijadikan gaji dan biaya operasional kuil, pencurian harta suci kerajaan yang beberapa tersimpan di kuil, dan beberapa kasus gelap lainnya. tetapi mereka yang tahu itu memutuskan untuk diam. pengaruh keluarga Sanders sangat kuat, sehingga mengusik mereka berarti sama saja dengan kematian.


bahkan, para petinggi kuil yang lain seperti beberapa bishop dan pendeta juga ikut bersekongkol dengan Sanders. tentu saja, Leon Sanders sama sekali tidak melakukan hal yang berbeda dari ayah maupun kakeknya.


setelah Leon Sanders selesai memberikan arahan, lima orang itu pergi dari pandangannya. dia tersenyum puas. entah apa yang ia rencanakan, dia memiliki keyakinan bahwa rencana yang dia buat akan berhasil. tapi sayang, moodnya hancur ketika melihat salah seorang Bishop yang paling dia benci lewat di depannya. Bishop Aquinas.


Aquinas tidak lebih dari rakyat jelata. sejak kecil, dia hidup atas belas kasihan kuil dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia berprofesi sebagai penjual roti. dia bukan tipikal orang yang ambisius dan mengejar cita-cita untuk menjadi sesuatu. dia adalah orang yang sederhana. pikirannya simpel. dia sudah di besarkan oleh kuil dan sebagai gantinya dia akan mengabdikan hidupnya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang telah para Dewi ajarkan.


karena itulah Leon Sanders membenci Aquinas. dia menentang segala bentuk kejahatan yang telah dilakukan oleh para petinggi kuil. dia berbeda dengan yang lain dan Leon Sanders menganggap itu sebagai bentuk kemunafikan.


Aquinas sadar dengan tatapan kebencian dari Leon Sanders. tetapi dia tetap tenang. tidak ada rasa takut yang hinggap di hatinya. "Kalau kau punya waktu untuk membentuk, lebih baik pak itu untuk merenungkan dosa-dosamu."


tangan Leon Sanders terkepal kencang. telapaknya bahkan berdarah. sudah dua duga, suatu saat, Aquinas harus disingkirkan. tidak boleh tidak.

__ADS_1


****


sudah berapa lama aku tidur, sepuluh menit? dua puluh menit? aku tidak tahu. aku melihat wajah Lia. dia juga sedang tidur. aku tersenyum dan lagi-lagi mengelus pipinya. dia tidur sambil tersenyum. senyum seperti ini, kapanpun itu, harus aku lindungi.


__ADS_2