Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Malam Pembantaian


__ADS_3

Persidangan akhirnya dilakukan oleh hakim kerajaan kepada para tersangka penculikan yang berjumlah 15 orang. Berdasarkan kesalahan mereka, semuanya akan dihukum mati sesuai dengan kesalahan yang mereka lakukan. Tidak ada yang menahan diri. Seminggu setelah vonis diberikan, mereka semua dipenggal oleh algojo kerajaan.


"Hohhhh.... rencana berjalan dengan lancar. Patut disayangkan mereka mati. tapi karena mereka hanya pion kecil, apa boleh buat kan? Memanfaatkan remah-remah kecil seperti mereka tidak membuat kekaisaran hancur."


Arch Savoy tertawa ketika melihat beberapa anak buahnya dihukum mati. Ia tidak menyesal. Untuk apa? Mereka hanya pion. Tetapi ia akan memastikan kematian mereka sia-sia karena tumbal memainkan hal penting dalam rencananya.


Ia sudah mengirimkan utusan, yang sebenarnya ia tahu kalau ratu akan langsung menolaknya, untuk membebaskan para kriminal. Dan pada akhirnya, ia telah mendeklarasikan peperangan dengan kerajaan.


Sebanyak 50.000 pasukan dikerahkan untuk menyerang kerajaan. Sebuah meriam besar yang sekali tembak dapat mengguncang sebuah wilayah layaknya gempa digunakan untuk menggempur pertahanan wilayah Utara kerajaan.


"Seperti biasa kau menggunakan mereka untuk ambisi ya, tuan Arch. Kau benar-benar gila!"


Tawa Savoy meledak ketika mendengar keluhan dari bawahannya. Ia adalah seorang ksatria berbadan besar dengan pedang yang juga besar menggantung di belakang punggungnya.


Sebenarnya tidak tepat jika dikatakan ksatria karena ia adalah tentara bayaran. Lebih tepatnya mantan. Savoy membayar mahal dirinya karena reputasinya dalam peperangan yang luar biasa. Dia bisa melawan 100 ksatria musuh sendirian dan keluar tanpa terluka.


Namanya adalah Giovanni. Seorang tentara bayaran dengan pelatihan dan pengalaman yang tidak tertandingi. Ia adalah ahli pedang yang sangat luar biasa. Tidak terhitung berapa orang yang telah mati di tangannya.


"Kau harus bersiap Giovanni. Aku dengar tentara kerajaan memiliki kualitas yang baik. Mereka dilatih dengan keras. Berhati-hatilah dengan mereka. Termasuk juga para magenya."


Kali ini giliran Giovanni yang tertawa. Tidak hanya ksatria, ia juga telah banyak membunuh para mage. Urusan ini jelas bukan sesuatu yang sulit baginya.


"Hahaha mereka itu hanya goreng kecil! Aku hanya harus menebas mereka dengan pedangku kan!? Tidak peduli siapapun orang itu, aku akan menghancurkan orang yang berani melawanku!"


"Memang seperti itu. Baiklah, aku menyerahkan ini kepadamu. Bantai setiap musuh yang kau temui. Malam ini kita akan melakukan penyerbuan."


Itu bukan omong kosong. Pasukannya sudah bergerak ke perbatasan dan siap untuk melakukan pengepungan di malam hari. Giovanni pergi dan Savoy bersender di Sofanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malamnya, 50.000 orang ditambah 20.000 sukarelawan dan 1000 tentara bayaran berjalan menuju tembok pertahanan perbatasan Utara kerajaan. Setelah istirahat dan makan yang cukup, mereka siap untuk berperang habis-habisan.


Tetapi yang mereka tidak sadari, ini akan menjadi makan terakhir mereka karena setelah ini, mereka akan tertidur selamanya. Itu karena tepat satu kilometer sebelum mereka sampai di perbatasan, sebuah gelombang yang memancarkan aura membunuh yang sangat besar menerpa mereka.


Mereka tidak tahu apa itu. Tetapi yang mereka pahami, kemungkinan mereka akan menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Semua prajurit mempersiapkan diri mereka dan para penyihir mulai merapalkan mantranya.


"Hohhhh....apa yang gerombolan tikus-tikus ini lakukan di malam hari? Apakah sedang mencari makan? Kalau begitu sangat disayangkan, karena makanan yang tersimpan di gudang tidak boleh disentuh oleh penyakit seperti kalian."


Sebuah suara menggema dari langit malam. Tubuh mereka bergetar ketika mendengar suara itu dan tidak bisa bergerak. Tiba-tiba, sebuah gelombang serangan menghantam mereka dan membuat garis depan menjadi seperti bulu yang berterbangan.


"Bajingan! Apa itu tadi!?"


"Gawat!! Barisan depan hancur!! 1000 orang diperkirakan tewas!!"


Karena serangan mendadak, Kekacauan melanda barisan yang lain. Semua unit menjadi bingung.


"Kalian semua ditakdirkan untuk mati malam ini."


Gelombang serangan kedua datang. Tapi kali ini mereka lebih siap. Para mage telah membentuk barrier untuk menghalau gelombang itu. Namun sia-sia, barrier mereka bukan tandingan gelombang itu dan para mage menjadi korban. Kini 2000 orang telah tewas.


Di tengah bau darah yang tersebar di langit, seorang pemuda muncul dari kegelapan. Ia mengenakan sebuah caping dan bagian bawah wajahnya tertutup oleh topeng gagak.


Matanya yang merah menyala memandangi semua pasukan Savoy dengan hawa membunuh yang sangat kuat. Setelah itu, ia menjentikkan jarinya. Api berwarna emas menyala dan menyebar ke seluruh pasukan. Tapi ia menahan diri. Tidak seru kalau semuanya mati dalam satu serangan.


Setelah membakar 10.000 pasukan, pemuda itu menerobos pertahanan musuh seorang diri. Sang komandan meminta para prajuritnya untuk maju juga. Tapi ini bukan masalah mereka cepat atau lambat. Mau secepat apapun gerakan mereka, semuanya akan tetap mati.

__ADS_1


Pemuda dan gerombolan pasukan bertabrakan. Kepala-kepala berterbangan seketika. Darah berceceran di tanah diikuti dengan kepala mereka yang berjatuhan ke tanah.


Teriakan perang terus bersahutan. Namun tidak peduli berapa kali mereka maju dan menyerang, senjata mereka tidak akan pernah menyentuh orang itu. Tetapi untungnya, sang jagoan telah keluar.


"Haaaaa!!! MINGGIR!!"


TANGGG!!! pedang besar sang mantan tentara bayaran, beradu dengan pedang orang itu. Hohh....dia bisa menahan seranganku? Menarik!!


Giovanni mundur dan mengambil jarak. Semua prajurit memutuskan untuk menjauh dari mereka tapi orang misterius itu tidak membiarkan hal itu terjadi. Tanah yang dipijak oleh para prajurit menjadi sebuah duri yang menusuk jantung mereka semua. Tidak perlu waktu lama, setengah pasukan musnah tanpa tanda-tanda kehidupan.


Giovanni lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan meluncur ke arah lawannya. Meskipun badan dia besar, gerakannya sangat gesit dan tubuhnya elastis.


Pedang besarnya berhasil menebas orang misterius itu, tapi itu hanya khayalannya. Di sisi lain, orang itu berhasil menghindari serangannya dengan mudah. Tapi Giovanni belum selesai. Ia menebaskan pedangnya ke seluruh arah.


Dan orang itu terus dengan mudah mengelak dari serangannya hingga emosi benar-benar memenuhi benak Giovanni. Lawannya jelas tidak serius dan kebosanan terlihat dari matanya.


Baru pertama kalinya aku dipermainkan seperti ini! Dengan kemarahan yang membara, Giovanni menyerang dengan membabi buta. Tetapi lawannya pada akhirnya menyerah.


"Maaf tapi aku tidak punya waktu bermain."


Orang itu dengan gesit maju ke Giovanni yang membuka banyak celah. Meskipun kaget, Giovanni tidak bisa melakukan apapun dan dadanya dicengkram.


Erangan rasa sakit keluar dari mulutnya. Orang itu menembus dadanya yang dilapisi oleh zirah Mithril dan menembus tubuhnya dengan tangan kosong lalu mencabut jantungnya. Giovanni tewas dengan jantung yang tercabut tanpa mengetahui identitas musuhnya.


Berhasil membunuh Giovanni, sebuah kepala tengkorak berwarna ungu pekat keluar dari telapak tangannya. Tidak punya waktu untuk bingung, kehidupan para prajurit keluar dari tubuh mereka lalu masuk ke dalam tengkorak itu.


Semua pasukan telah mati. Orang itu melepaskan kepala tengkorak dan membiarkan ia pergi ke pusat wilayah Savoy. Mungkin besok, berita tentang kekacauan di Savoy akan menyebar.

__ADS_1


__ADS_2