
Jadi Nona Maria, mulai sekarang mohon kerjasamanya, ya. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Maria. Issac mengatakan itu ketika dirinya membongkar kartu truf yang selama ini ia sembunyikan.
Seberapa banyak yang ia ketahui? Sebesar apa jaringan informasi yang sebenarnya ia punya? Berbagai pertanyaan soal itu terus berkelindan di kepalanya.
Tentu saja Maria juga punya jaringan informasi yang terpisah dengan Kekaisaran Moskov. Tapi tujuannya jelas bukan untuk perang. Tetapi mengingat Issac mengetahui banyak hal, itu membuat dirinya merinding. Sangat merinding.
Apakah salah satu jaringan yang terhubung dengannya ternyata adalah agen yang terafiliasi dengan Issac? Apakah pejabat istana yang banyak berhubungan dengannya adalah bawahan Issac?
Maria menggelengkan kepalanya. Bukan itu masalahnya. Bahkan jika ia berasumsi berkali-kalipun, ia tidak akan memiliki kesimpulan yang tepat.
Ujungnya, ia hanya memilih untuk tidak menjadikannya Issac sebagai lawan. Untuk membuktikan hal itu, ia akan menyetujui proposal kerjasama yang Issac ajukan. Lagipula ia juga akan meraih banyak keuntungan.
"Ini lebih merepotkan daripada yang aku pikirkan. Tetapi keuntungannya juga lebih menggiurkan. Ya ampun, tanpa disadari aku lah yang sebenarnya berada di posisi yang terdesak. Benar-benar mengerikan."
"Permisi nona, Tuan Starfall ingin bertemu dengan anda."
Salah seorang pelayan senior yang waktu itu mengantar Issac dan yang lainnya mengatakan itu pada Maria. Ia adalah pelayan yang juga bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Issac.
"Baiklah, persilahkan dirinya untuk datang ke sini."
__ADS_1
Proposal sudah disetujui. Apakah masih ada yang ingin ia bicarakan? Tapi, karena dirinya juga penasaran, Maria memutuskan untuk mengizinkan Issac untuk bertemu dengannya. Beberapa menit kemudian, Issac telah duduk di sofa dan berhadapan dengan Maria.
"Terimakasih nona Maria. Berkat anda, kerajaan benar-benar terbantu. Sekali lagi, terimakasih nona Maria."
Issac dengan rendah hati menundukan kepalanya. Itu benar-benar ucapan terimakasih yang tulus dari dirinya. Mau tidak mau Maria terkesan atas kerendahan hatinya.
"Tidak perlu berterima kasih sebanyak itu, Tuan Issac. Berkat proposal yang ada ajukan, saya juga mendapatkan banyak keuntungan. Tapi anda ke sini bukan hanya untuk mengucapkan terimakasih kan?"
"Tentu saja. Nona Maria, maafkan jika pertanyaan ini terdengar tidak mengenakan. Tetapi berdasarkan energi sihir anda....apakah anda seorang yang di reinkarnasikan?"
Maria yang sedang meminum tehnya tertegun. Ia bahkan nyaris tersedak. Tangan dan tubuhnya bergetar hebat. Darimana ia mengetahui hal itu?! Sementara Issac masih penasaran, ia mulai membawa tangannya ke belakang.
"A-apa yang anda bi-bicarakan tuan Issac? Sa-saya tidak mengerti maksud anda."
Issac dengan ringan membungkukan badannya lalu berjalan keluar kantor. Tetapi Maria telah menodongkan sesuatu ke arahnya yang bisa membuat ia tewas dalam sekejap mata.
"Apakah setelah mengatakan itu, anda pikir diri anda bisa kabur begitu saja tuan Issac? Tidak peduli sekuat apapun anda, seseorang akan tewas jika saya menekan ini dan mengenai kepala anda."
Issac berhenti dan mengangkat tangannya. Itu membuat Maria semakin bingung. Kebiasaan seperti itu jelas-jelas......
__ADS_1
"Faktanya saya tidak ingin memaksa diri anda untuk mengatakannya. Tapi kalau sudah sejauh ini....mau bagaimana lagi, kan?"
Issac menggerakan jarinya dan sesuatu yang Maria pegang, sebuah pistol, langsung rusak. Moncongnya jatuh ke tanah dan pistol itu kehilangan fungsinya. Maria menelan ludahnya dan mundur beberapa langkah.
"Tenanglah Nona Maria. Tidak, bolehkah saya memanggil anda Maria? Mari kita duduk dan membicarakan ini baik-baik. Aku tidak berniat menyakitimu atau melakukan hal jahat lainnya."
Maria dengan khawatir dan waspada duduk. Issac tidak memperlihatkan gelagat atau niat buruk. Tetapi waspada tidak ada salahnya. Issac dengan tenang mulai berbicara.
"Maria, kau tidak perlu takut. Sama seperti dirimu, aku juga seorang reinkarnasi. Aku bisa mengetahui itu dari energi sihir yang kau keluarkan. Selain diriku, apakah ada yang mengetahuinya?"
Maria ragu untuk berbicara. Tapi melihat Issac, ia menjadi sedikit tenang dan mulai berbicara.
"Ada. Tetapi tidak banyak. Ayahku mengetahuinya. Tapi ia sudah meninggal. Ibuku juga tahu tetapi ia tinggal jauh dari sini. Lalu ada paus dari Teokrasi Dea. Mereka semua telah mengetahui itu."
Maria mulai menjelaskan orang-orang yang telah mengetahui bahwa dirinya adalah Seseorang yang di reinkarnasikan. Ternyata memang tidak banyak. Tetapi yang jadi masalah adalah paus dari Teokrasi Dea mengetahui hal ini.
"Maria, sebisa mungkin, jangan membiarkan orang lain tahu akan hal ini. Akan menyulitkan untuk membicarakan soal reinkarnasi di sini. Sebagai gantinya, ambil ini."
Issac memberikan sebuah cermin kepadanya. Itu adalah alat komunikasi yang ia kembangkan. Kualitasnya berada di bawah yang dipakai oleh dirinya dan kekasihnya tetapi lebih dari cukup untuk dipakai oleh Maria.
__ADS_1
"Kedepannya kita akan berbicara dengan ini nona Maria. Fungsinya mirip dengan tele conference dari dunia lama kita. Kau paham cara menggunakannya kan?"
Maria tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk. Setelah itu Issac pergi keluar. Orang yang aneh. Pikir Maria. Ia yakin Issac tidak akan membocorkan soal dirinya ke yang lain tapi....kenapa?