Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Chip Tawar-Menawar


__ADS_3

"Jadi, Issac berhasil mengalahkan tentara Marquis Baldwin di barat kerajaan bahkan menangkap orang itu ya? Ini adalah berita baik. Terimakasih, Margareth."


Di istana kerajaan, Aurellia dan Margareth sedang memeriksa satu persatu laporan yang mereka terima dari penjuru kerajaan. Kebanyakan adalah kabar gembira, tetapi yang paling menggembirakan adalah kabar yang dibawa oleh Issac.


"Tapi aku tidak menyangka kalau dia akan menangkap Marquis Baldwin. Dari yang aku dengar, Marquis Baldwin adalah pemimpin yang kejam dan bodoh. Tidak, dia hanya bodoh. Mungkin pengaruh orang sekitarnya yang membuat ia kejam. Biasanya Issac tidak akan mengampuni orang yang seperti itu kan?"


Margareth bertanya-tanya. Tapi Aurellia sudah punya jawabannya.


"Nyawa marquis Baldwin mungkin tidak berharga, Tetapi yang berharga adalah statusnya. Setiap saat, Marquis Baldwin adalah penerima sekaligus penyalur bantuan dari kekaisaran Moskov.


"Meskipun bagi mereka marquis Baldwin hanyalah pion, mereka masih membutuhkannya. Karena itulah, Marquis Baldwin akan dijadikan chip tawar-menawar oleh Issac."


Setelah mengatakan itu, Aurellia bangkit dan berjalan menuju peta yang tertempel di dinding. Dia sudah menandai beberapa wilayah di sekitar kekaisaran Grand Aria.


"Kita membutuhkan tempat ini untuk menjadi pijakan dalam mempertahankan wilayah kerajaan ataupun mengekspansi teritorial Grand Aria jika dibutuhkan. Issac akan menggunakan kepala Baldwin untuk mengambil alih tempat ini tanpa pertumpahan darah."


Aurellia lalu membulatkan beberapa tempat yang ada di peta. Margareth yang akhirnya paham jalan pikiran Issac juga setuju dengan hal itu.


"Kalau begitu, mari kita tunggu kabar selanjutnya dari Issac dan Angie."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di wilayah Mariendolf, seorang berperut gendut dengan pakaian mewah yang kini tercabik-cabik baru saja sadar. Dimana ini? Ia bertanya-tanya. Yang jelas ini bukanlah rumahnya yang mewah.

__ADS_1


Sebaliknya, ini tidak lebih dari sebuah tembok kusam tanpa ukiran dan perhiasan apapun yang menempel di sisinya. Lantainya juga keras dan dingin. Meskipun begitu, tempat ini bersih.


Di hadapannya, jeruji besi terbentang. Akhirnya ia sadar. Ini adalah penjara. Pria itu, Baldwin, menelan ludahnya. Dia ingat. Saat dirinya ingin melarikan diri, ia gagal dan ditangkap oleh komandan tentara musuh yang menyerangnya.


Seketika itu juga emosinya melonjak dan amarah membakar dirinya. Dengan kasar, ia berteriak dan memukul-mukul jeruji penjara.


"BAJINGAN!! KELUARKAN AKU DARI SINI!!! AKU HARUS KEMBALI KE TEMPATKU!!"


Tidak ada jawaban. Baldwin mengklik lidahnya dan menggigiti jarinya. Dimana penasihatnya? Dimana pasukannya yang harusnya ada untuk membantunya? Pikiran lelaki itu menjadi kalut. Baru pertama kali dalam hidupnya, ia diperlakukan sehina ini.


Di tengah kekalutannya, tanpa ia sadari sama sekali, seorang pemuda dan prajurit yang ada di sampingnya telah berdiri di depan penjara yang Baldwin huni.


"Selamat datang di wilayah kerajaan, marquis Baldwin. Maaf sebelumnya jika saya tidak bisa memperlakukan Anda dengan jamuan yang baik karena kami telah memutuskan bahwa anda adalah penjahat."


Penjahat? Baldwin akhrinya tersadar setelah mendengar kata itu. Lagi, amarah membakar seluruh tubuhnya. Dengan ganas, ia berusaha menyerang dua orang yang ada di depannya walaupun serangan yang ia lancarkan tidak mengenai apapun selain besi.


Pemuda yang ada di depannya hanya tertawa. Meskipun begitu, orang yang berdiri di sampingnya penuh dengan hawa membunuh. Membuat Baldwin terkencing di celananya.


"Anda bebas mengatakan apapun Marquis Baldwin. Tapi kenyataannya, tentara utama telah dihancurkan. Sebagian besar dari mereka telah dibantai. Sisanya, kami membawa mereka ke kamp kerja paksa. Kebetulan, orang yang bertanggung jawab atas pembantaian itu ada di di sebelah saya."


Baldwin menelan ludahnya. Dalam hati ia berusaha untuk menolak itu tetapi kenyataannya berbeda. Puluhan ribu pasukan dibantai oleh 200 penunggang kuda. Apa-apaan itu?!


Pintu sel penjara dibuka dan pria yang berdiri di sebelah pemuda itu langsung memaksa Baldwin untuk keluar dari sel tahanannya. Mungkinkah ia akan dibawa menuju ke tiang gantung? Tidak! Aku tidak mau mati!

__ADS_1


"Tenang saja, Marquis Baldwin. Meskipun nyawa anda tidak berharga, setidaknya kami masih bisa menggunakan status anda untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. James, bawa dia ke ruang tunggu. Negosiasi akan segera dimulai."


Dengan kepala tertunduk, marquis Baldwin dibawa pergi oleh lelaki bernama James itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Marquis Baldwin adalah sosok penting dan berpengaruh di kekaisaran Grand Aria. Jadi kami minta untuk membiarkan dirinya bebas dan kembali kekaisaran. Jika tidak...."


"Jika tidak? Tuan penasihat, apakah anda berusaha mendikte dan mengancam kami? Anda harus mengingat bahwa anda dan marquis Baldwin berada di pihak yang kalah. Tentara utama anda telah dihancurkan dan butuh lebih dari dua tahun untuk membangun kekuatan baru.


"Well, jika anda tetap keras kepala, kami juga akan mengerahkan kekuatan kami ke wilayah Baldwin dan fraksinya. Apakah anda yakin bahwa anda bisa bertahan dari serangan kami."


Sang penasihat, yang berhasil melarikan diri, meminta audiensi pada Issac. Ia meminta untuk mengembalikan Baldwin ke wialyanhnya tetapi sia-sia.


"Tentu saja kami tidak keberatan untuk meninggalkan Marquis Baldwin kepada kalian semua. Tapi tentu saja itu tidak gratis. Sebagai pemenang, saya mengharuskan Anda untuk memenuhi satu proposal yang kami buat."


Issac menepuk tangannya dan pintu ruangan Audiesni terbuka. Beberapa petugasnya masuk dan membawa sebuah file yang berisi lembaran dokumen. Issac memberikan file itu kepada sang penasihat.


Setelah membaca dokumen itu beberapa saat, wajah sang penasihat menjadi masam. Itu karena sesuai yang tertulis di sana. Pihak Marquis Baldwin diharuskan untuk membayar ganti rugi perang berupa sejumlah besar cadangan harta yang dimiliki oleh pihak mereka serta setengah dari pemasukan mereka.


Selain itu yang paling penting, kerajaan juga mewajibkan untuk memberikan beberapa wilayah yang telah ditunjuk oleh kerajaan sebelum Marquis Baldwin dikembalikan pada mereka.


Tentu saja sang penasihat keberatan. Tetapi ia tidak punya pilihan. Pada akhirnya, ia menandatangani kesepakatan itu dengan Issac dan menuruti semua keinginan kerajaan.

__ADS_1


"Terimakasih atas kerjasama anda tuan penasihat. Pastikan untuk tidak bertindak ceroboh kedepannya jika itu berkaitan dengan kerajaan. Kalau begitu saya permisi."


Keluar dari ruang audiensi, Issac menyeringai lebar.


__ADS_2