Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
'Tanpa Pertumpahan Darah'


__ADS_3

"Apa! Sebanyak 32.000 pasukan sedang berjalan menuju kesini!? Jangan bercanda! Bagaimana mereka bisa menyiapkan banyak orang seperti itu dalam waktu sesingkat ini!?"


Pangeran William hanya bisa frustasi ketika mendengar kabar yang disampaikan oleh seorang ksatria. Duke Balzaac telah menyebar mata-mata di luar wilayahnya dan informasi itulah yang ia dapatkan. Siapa yang menyangka di tenga krisis yang menerpa kerajaan, istana bisa mengirimkan pasukan sebanyak itu.


Tidak hanya pangeran William yang panik. Bahkan Duke Balzaac dan yang lainnya juga. Termasuk Johan Hill yang memiliki kepribadian tenang juga merasa resah dengan kabar yang datang kepadanya.


"Namun saya rasa, mereka kesini bukan untuk berperang. Kita punya pasukan empat kali lipat lebih banyak dari mereka. Kita juga berada dalam posisi defensif. Itu adalah keuntungan mutlak bagi kita. Sepertinya mereka kesini hanya untuk menggertak kita."


Apa yang dikatakan Frans Albatros masuk akal. Dilihat dari sisi manapun, Mereka berada di atas angin seandainya pertempuran terjadi.


"Aku rasa.... tidak seperti itu. 32.000 pasukan jelas-jelas bukan hanya untuk sekedar unjuk gigi ataupun menggertak kita."


Johan Hill yang daritadi diam karena resah akhirnya mulai berbicara. Sebuah peta tergelar di atas meja. Dilihat dari gelagatnya, Johan Hill sepertinya telah membaca niat tersembunyi dari mereka.


"Ada beberapa wilayah yang selama ini menjadi penopang kebutuhan kita di sekitar wilayah Schazar dan Duke Balzaac. Tapi mereka tidak memiliki pasukan yang banyak di masing-masing wilayah itu."


"Berarti maksudmu...."


"Kelihatannya seperti itu. Pasukan yang berasal dari ibukota akan menduduki semua wilayah yang menopang kebutuhan kita. Itu artinya, mereka berniat untuk memutus jalur suplai dan membiarkan kita dalam masalah besar karena kekurangan bahan makanan dan pakaian."


Duke Balzaac dan pangeran William menggertakan giginya. Jika itu benar-benar terjadi, sudah terlambat bagi mereka untuk mengirimkan bala bantuan kepada wilayah penopangnya. Mereka telah menghadapi embargo dari ibukota dan mencoba bertahan.


Tetapi dengan ditaklukkannya daerah sekitar oleh pasukan kerajaan, maka satu-satunya tempat bergantung adalah dukungan finansial dari kekaisaran Moskov. Ia tidak ingin banyak berhutang dengan mereka tapi mau bagaimana lagi.


Pada akhirnya, ia tidak tahu bagaimana diskusi nanti akan berjalan. Issac adalah anak yang licik. Sebagai pamannya ia tahu akan hal itu. Tapi dari awal ia sudah sadar. Cepat atau lambat, ia akan berhadapan dengan keponakannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tentara kedua dan ketiga berhasil menaklukkan wilayah kecil yang berada di sekeliling teritorial Balzaac dan Schazar. Dengan ini, jalur suplai mereka telah terputus dan mereka berada dalam posisi yang terpojok.


Mereka jelas-jelas akan mengandalkan bantuan finansial dari Moskov tetapi itu tidak akan cukup. Moskov juga sedang ikut campur dalam perang sipil di kekaisaran yang semakin berlarut-larut. Mereka tidak punya banyak bantuan untuk Fraksi pangeran William.

__ADS_1


Pada saat ia sedang di perkemahan dan mengerjakan beberapa dokumen, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Itu adalah Lilianne. Ternyata seperti yang Issac perkirakan, ia akan datang ke perkemahannya.


"Selamat datang Lili. Aku merindukanmu."


"Ya, selamat datang kembali, kak Is. Aku juga merindukanmu."


Issac berdiri dan menghadap Lilianne lalu menciumnya. Air mata keluar dari mata Lilianne. Sudah sejak lama semenjak ia kembali ke kekaisaran, ia tidak bertemu dengan Issac dan yang lainnya. Ia merindukan mereka.


Selama ini, ia dikurung oleh ayahnya dan kemungkinan akan menjadi chip tawar menawar antara Issac dan Duke Balzaac. Ia sudah sadar kalau dirinya ada titik lemah Issac. Karena itulah setelah pertimbangan yang matang, Lilianne memutuskan untuk kabur lewat sihir portal yang ada cincinnya.


Setelah bermesraan selama satu jam, akhirnya Lilianne menyampaikan apa yang benar-benar ia sampaikan. Ia tidak lari dari wilayah ayahnya dengan cepat bukan karena alasan. Untuk membantu Issac dan yang lainnya, ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Dan ia telah memenuhi tugasnya dengan sangat baik.


Meskipun Issac terkejut dengan informasi yang dikumpulkan oleh Lilianne saat masih di Balzaac, ini sesuai dengan yang ia perkirakan. Informasi ini adalah kartu truf miliknya. Itulah kenapa dari awal ia sudah selalu berpikir. Negosiasi tidak akan pernah terjadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lima hari setelah melanjutkan perjalanan, parade tentara kedua dan sebagian tentara ketiga yang mengantar Issac telaj mencapai wilayah Balzaac. Sejujurnya, tidak ada yang istimewa dari wilayah ini. Tidak terlalu strategis dan tidak terlalu subur. Produktivitas pertanian mereka tidak terlalu tinggi.


Tapi semenjak embargo dimulai, aktifitas penempaan telah menurun. Mereka tidak memiliki bijih untuk memproduksi perlengkapan perang maupun perabotan yang berbahan dasar baja dan besi.


Tentara kedua dan ketiga mendirikan perkemahan di luar tembok. Tapi sebanyak 250 orang ikut menemani Issac untuk masuk ke pusat kota. Duke Balzaac sudah berada di mansionnya. Lilianne juga sudah berada di mansionnya setelah menghabiskan tiga hari bersamanya. Ia tidak mau menimbulkan kecurigaan dari ayahnya.


Seperti yang dijanjikan, pertemuan dengan anggota fraksinya dan pangeran William akan dilaksanakan tiga hari kemudian. Sebuah gedung disiapkan untuk dijadikan sebagai tempat pertemuan yang akan berlangsung.


Issac menyewa beberapa penginapan untuk menampung dirinya dan pengawalnya. Ia harus berisitirahat. Sekaligus, ada beberapa hal yang mesti dia lakukan sebelum pertemuan berlangsung.


Tiga hari kemudian, perwakilan dari pangeran William telah berkumpul. Ada sekitar 10 orang termasuk Issac, pangeran William, Duke Balzaac, serta keluarga Hill dan keluarga Albatros. Suasana di ruang itu sangat kaku dan dingin. Pihak mereka terlihat sangat tegang hingga mengeluarkan keringat dingin.


Sementara Issac, dia hanya duduk dengan santai sambil menyeruput tehnya dengan nikmat. Alih-alih negosiasi, entah kenapa ini lebih seperti interogasi. Menyilangkan kakinya di kursi, Issac membuka pembicaraan.


"Terimakasih tuan-tuan karena telah membuka peluang diskusi. Saya akan langsung ke poinnya. Menyerah dan tunduklah kepada yang mulai ratu. Kami akan mempertimbangkan keringanan hukuman bagi kalian yang menyerahkan kesetiannya untuk yang mulia ratu."

__ADS_1


Tepat dan tidak banyak basa-basi. Saking jelasnya, yang lain tidak bisa berkata-kata. Tapi sedetik kemudian, ekspresi kemurkaan muncul di wajah mereka. Yang paling murka tentu saja pangeran William.


"Jangan bercanda! Untuk apa aku harus setia kepada ****** itu!? Kepempimpinannya tidak membawa kemajuan dan manfaat apapun bagi kerajaan! Lihat apa yang ia sebabkan!"


Menyebut ratu sebagai ******. Bahkan jika Aurellia tidak akan marah sama sekali, pangeran William akan tetap mendapatkan hukuman yang sangat berat. Issac jangan ditanya. Tapi ia memutuskan untuk menahan amarahnya.


"Pangeran William, tidak, William. Menghina penguasa adalah dosa yang berat. Bahkan seribu kematian tidak akan cukup untuk menebus dosa itu."


"Bajingan! Kau berani memanggil namaku tanpa honorifik!? Aku adalah pangeran kerajaan Heinz dan raja yang sah! Sementara kalian hanyalah pemberontak kurang ajar yang menginjak kerajaan suci Hei.....GUHHHH!!"


Hawa membunuh terpancar dari diri Issac yang sedang asyik dengan tehnya. Semua lawan bicaranya merasa kalau mereka sedang tercekik. Bahkan Duke Balzaac berusaha sekeras mungkin untuk menahan dirinya agar tidak jatuh ke lantai.


"Tuan Issac, kerajaan akan rusak namanya jika dipimpin oleh seorang wanita! Pandangan negara lain kepada kerajaan akan menjadi buruk dan mereka akan meremehkan kita! Jika hal itu terjadi maka tanah ini bisa diserang oleh mereka kapanpun!


"Karena itulah tidak ada ruang negosiasi untuk hal ini! Selama tahta tidak diserahkan kepada pangeran William, kita tidak akan tunduk pada kerajaan lagi!"


Dengan penuh keberanian Richard Balzaac mengatakan itu. Tapi Issac sendiri tetap santai. Seperti yang telah ia perkirakan dari awal. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Issac dengan tenang mengangkat tangannya.


"Ternyata seperti itu ya. Semuanya memang sudah diputuskan sejak awa, kan? Baiklah kalau memang seperti itu."


"Ya, bahkan jika itu berarti kami harus berperang maka...."


"Tidak. Kita tidak akan berperang. Maaf, tapi kami tidak akan menghabiskan waktu kami dengan berperang melawan pengkhianat bodoh seperti kalian."


"Apa yang kau...."


Begitu Issac memberi isyarat, delapan kepala tiba-tiba jatuh ke lantai. Menyisakan pangeran William dan Duke Balzaac yang tercengang dan tidak bisa bergerak.


"Duke Balzaac dan William. Atas nama kerajaan, anda ditangkap karena pengkhianatan yang anda lakukan pada kerajaan."


250 orang masuk ke ruangan itu dengan pedang dan tombak. Richard Balzaac dan William yang masih tidak bisa mengatakan apapun ditangkap oleh mereka. Sementara itu, Issac memerintahkan 1000 pasukannya untuk pergi ke mansion Duke Balzaac dan merampas seluruh bukti pengkhianatan yang mereka lakukan.

__ADS_1


Dan fraksi Pangeran kedua, berhasil dijinakkan. 'tanpa pertumpahan darah.'


__ADS_2