Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Bab 17: Langkah Awal di Ibu Kota


__ADS_3

sudah seminggu aku berada di Venz. selain menghadiri pesta ulang tahun Lili, aku juga melakukan berbagai kegiatan lainnya termasuk sekali lagi mendatangi panti asuhan yang pernah ku kunjungi bersama Lili. tapi kali ini aku tidak bersamanya melainkan bersama seorang staf ku.


disana aku membicarakan beberapa hal dengan pengasuh panti asuhan itu, seorang wanita berusia menjelang 40 tahun. dia adalah seorang suster dari kuil yang memutuskan untuk mengabdi dan memfokuskan waktunya untuk mengurus anak-anak yang terlantar.


aku suka dengan ketulusannya. kurang lebih dia memiliki pendapat yang sama dengan ku bahwa anak-anak, dimanapun mereka berada, berhak mendapatkan kesempatan untuk menata masa depan mereka.


hanya saja dibanding aku yang menganggap bahwa anak-anak dapat menjadi investasi jangka panjang, dia jauh lebih tulus. seolah dia tidak mengharapkan apapun selain dapat melihat anak-anak asuhnya tumbuh dengan baik.


saat aku menawarkan diri untuk menjadi donatur utama panti asuhan ini, Theresa, sang pengasuh panti asuhan, langsung menyetujuinya.


mau bagaimana pun, panti asuhannya sedang kekurangan uang. memang, awalnya panti asuhan ini mendapatkan dana dari Kuil. Namun semenjak tiga tahun yang lalu dana itu tiba-tiba terputus. sebagai suster di kuil tentu saja dia mengeluh kenapa panti asuhan tidak lagi mendapatkan masukan. namun hal itu tidak digubris sama sekali oleh pihak kuil.


pada akhirnya dia terpaksa bekerja untuk menutupi biaya operasional panti asuhan. itulah yang membuat ku menghormati suster Theresa. di samping kesibukannya sebagai pengasuh panti asuhan maupun sebagai suster dari kuil dia tetap bekerja keras untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak asuhnya.


" sebagai itikad baik..." kataku melanjutkan, "aku akan memberi anda Dana sebesar 200 koin emas. aku berharap ini bisa menutup biaya operasional. juga dapat membayar hutang jika anda memiliki nya." melihat kantung uang berisi 200 koin emas, suster Theresa terkejut.


" ini bahkan tidak sebesar dana yang diberikan kuil selama tiga tahun." katanya sambil mengeluarkan air mata.


" tidak apa. mulai sekarang aku adalah donatur utama dan tetap panti asuhan ini. sudah kewajiban ku untuk mengurus hal-hal seperti ini. tapi ada satu hal yang ku minta dari suster. tolong berikan laporan keuangan pada staf ku ini. dia akan membantu mu mengelola panti asuhan." aku beranjak dari tempat duduk ku.


" masih ada beberapa urusan lain yang harus aku selesaikan. sisanya kau dapat membicarakan beberapa hal yang berkaitan dengan teknis dengan staf ku. permisi." aku segera meninggalkan panti asuhan.


nah sekarang, mari selesaikan urusan lain.


****


di sudut kumuh di ibu kota, berdiri sebuah rumah kecil yang cukup mencolok dari rumah lain yang ada di area slum. tidak besar memang, tapi jelas terlihat lebih rapih dan bersih.


Issac bersama dengan anak buahnya berjalan menuju rumah tersebut. sejujurnya Issac kagum melihat rumah itu. meskipun kecil dan terletak di area kumuh, itu tidak membuatnya sama dengan rumah lainnya. halamannya bersih. ada beberapa bunga yang ditata rapih.


Issac mengetuk pintu rumah. tidak lama, seorang gadis kecil yang mungkin berusia sepuluh tahun membuka pintu. sambil memiringkan kepalanya ia bertanya, " mohon maaf kalau boleh tahu, siapa anda?


Paman bilang aku tidak boleh menerima sembarang tamu." mendengar pertanyaan gadis itu Issac tersenyum kecil. sepertinya Alfred mengajari keponakannya dengan baik.


" kami adalah tamu pamanmu. apakah dia ada di dalam?" gadis kecil itu menggeleng.


" tidak ada paman ada di dalam. dia belum pulang selama tiga hari ini."


" kalau begitu bisakah kami menunggu di dalam? kami agak lelah jadi butuh tempat istirahat."


gadis kecil itu berpikir sejenak lantas mengangguk. " baiklah, tapi hanya anda saja yang boleh masuk."


Issac menyetujui hal itu.


" tidak masalah. kalian pergilah terlebih dahulu. biarkan aku yang menunggu Alfred disini."


bawahan Issac mengangguk lalu mereka pergi dari rumah itu.

__ADS_1


mengikuti gadis itu, Issac masuk kedalam rumah. seperti yang dia duga, tidak hanya halamannya saja yang rapih, tapi juga bagian dalam rumahnya tidak kalah bersih.


"silahkan duduk tuan, saya akan membuatkan minum." gadis itu pergi ke dapur.


tidak lama dia akhirnya kembali dari dapur dan membawa nampan yang berisi dua gelas minuman.


Issac agak kaget mencium aroma harum ini. aroma yang sangat akrab. ini adalah aroma teh tong dji. sangat mirip dengan teh yang ada di negaranya dulu, Indonesia. Issac mulai menyeruput teh itu dengan ekspresi nostalgia. namun tiba-tiba dia mengernyitkan dahinya, berhenti menyeruput dan meletakkan gelasnya di meja.


" kau tahu nona, aku sangat menyukai teh mu. entah kenapa rasanya seperti membawa ku ke kampung halaman ku, tapi..."


Issac meghirup nafas dalam-dalam. lalu melanjutkan, " akan menjadi sedikit lebih baik jika kau mencampurkannya dengan gula daripada racun."


seketika gadis itu berdiri dan melesat ke arah Issac dengan sebilah pisau mengarah tepat ke jantung Issac.


"cepatnya!!" Issac tidak menyangka meskipun dia seorang gadis kecil, tetapi gerakannya seperti assassin profesional.


tapi hanya itu, jika soal kecepatan, kita semua tahu bahwa Issac jauh lebih cepat.


tepat sebelum pisau itu menusuk jantung Issac, tiba-tiba gerakan gadis itu terhenti. Issac sudah menangkap pergelangan tangannya terlebih dahulu.


" gerakan yang bagus untuk seorang gadis. seperti yang diharapkan dari assassin terbaik yang pernah ku temui, dia mengajari keponakannya dengan baik."


mendengar ucapan Issac gadis itu menundukkan kepalanya. tiba-tiba bulir air mata jatuh ke tangan Issac. awalnya hanya satu, dua, tetapi menjadi semakin deras. gadis itu menangis tersedu-sedu.


" KENAPA.... KENAPA INI HARUS TERJADI!! PAMAN SUDAH MENINGGAL DAN AKU HARUS HIDUP SEBATANG KARA LAGI!! MENGAPA DUNIA BEGITU TIDAK ADIL! KENAPA HARUS AKU?!"


dirinya dulu mirip seperti gadis kecil ini. ditinggal mati kedua orangtuanya dan terluntang-lantung. dia tetap sekolah tetapi harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. tapi itu kosong. tidak ada tempat bersandar ketika dia bersedih. pun juga tidak ada tempat untuk merayakan kebahagiaannya.


kehampaan itu baru hilang ketika dia bertemu dengan para kekasihnya. dia sempat merayakan kebahagiaan dan saling bersandar ketika sedih. namun perang meletus dan pada akhirnya mereka gugur.


sebenarnya Issac tidak langsung bertemu dengan semua kekasih nya. ketika satu kekasihnya meninggal akan ada wanita lain yang datang di hidupnya. menghibur dia dan mengobati luka hatinya. bisa dibilang itu berkah tapi juga kutukan Karena dia harus melihat hampir semua kekasihnya meninggal di hadapan dia.


Issac sadar akan rasa sakit itu. pada akhirnya dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan membawa pesawat berisi bahan ledakan ke pusat gudang senjata musuh untuk mengakhiri perang.


dia membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya. membiarkan dia menangis. menunggu hingga akhirnya tenang.


" kau sudah tidak apa-apa?" gadis kecil itu mengangguk. Issac menarik tangan gadis itu dan mengajaknya duduk di samping dia.


" aku belum mengatakannya tadi, tapi bagaimana kau tahu bahwa pamanmu telah tiada?" mau tidak mau Issac bertanya soal ini.


" yang tahu nama asli paman hanyalah aku dan dia sendiri. ketika dia memutuskan untuk memberikan nama aslinya kepada orang yang bahkan bukan siapa-siapanya, pasti dia memutuskan hidupnya sudah berakhir. lagipula...aku sudah merasakan firasat yang tidak enak sejak kemarin."


lagi-lagi Issac kagum dengan gadis ini. inikah yang disebut dengan insting bertahan hidup? betapa luar biasanya.


" ah apakah kau tidak dendam kepada ku? maksudku aku lah yang membunuh paman mu."


gadis itu menghela nafas, " pekerjaan paman adalah membunuh orang lain. akan ada suatu saat ketika dia juga akan di posisi para korbannya. saya mungkin membenci anda karena telah membunuh satu-satunya keluarga saya yang tersisa tapi saya pikir saya tidak berhak untuk dendam."

__ADS_1


lagi dan lagi Issac dibuat kagum dengan gadis ini. dia masih kecil tapi pikirannya sudah dewasa. sepertinya orang yang tinggal di lingkungan keras seperti ini memiliki kecenderungan untuk dewasa lebih cepat.


" baiklah, sudah ku putuskan. ikutlah dengan ku ke wilayah Randall. siapa namamu?"


"Olivia" jawabnya dengan singkat.


"Olivia kah? nama yang bagus. orang luar biasa seperti mu tidak bisa tinggal terus menerus disini. ikutlah denganku. aku berniat membuat mu menjadi pelayan pribadi ku. ya Olivia, aku menginginkan mu."


mendengar perkataan Issac entah kenapa jantung Olivia berdegup kencang. dia merasakan sesuatu yang hangat dari orang ini. tidak tahu kenapa.


" jika kau perlu waktu untuk memikirkan nya tidak masalah. mau bagaimanapun aku adalah orang yang telah mengambil pamanmu. wajar untuk tidak percaya padaku. setidaknya aku akan menunggu sampai besok."


"apakah ini permintaan dari paman saya?"


" tidak juga, paman mu memang mempunyai permintaan tapi khusus yang ini adalah permintaan pribadi ku padamu."


Olivia berpikir sejenak lantas mengangguk. " baiklah saya akan ikut anda tuan."


mendengar jawaban Olivia Issac sangat senang bahkan refleks memeluk Olivia. benar-benar terlihat seperti anak seusianya. tentu wajah Olivia memerah.


" ah maafkan aku. aku terlalu terbawa suasana. yah mau bagaimana lagi karena aku berhasil mendapatkan orang yang hebat seperti mu. baiklah sudah diputuskan. aku akan membawa mu ke mansion ku sekarang untuk membicarakan niatku kepada ayah dan ibu. ah benar, namaku Issac Randall. kau bisa memanggilku Issac."


" baiklah tuan Issac."


setelah akhirnya kesepakatan diantara mereka terbentuk, Issac melaksanakan wasiat Alfred untuk memberikan seluruh uang yang dia simpan kepada Olivia. selain itu dia juga memberikan 30 koin emas Kepada Olivia, yang diterima olehnya dengan tangan bergetar. bagi Olivia jumlah 30 koin emas sangat banyak. cukup untuk hidup selama satu tahun lebih.


" akhirnya selesai juga" kata Issac dalam hati. saatnya menyelesaikan masalah terakhir.


****


Issac memutuskan untuk mengorganisir mata-matanya di wilayah ibukota. Issac mengerti betul bahwa informasi adalah senjata. maka dari itu dia membentuk unit khusus yang bertugas untuk mengumpulkan berbagai informasi yang beredar di ibukota serta memverifikasi kebenaran dari informasi yang didapatkan.


karena itu dia membentuk unit ini dengan struktur hierarki yang jelas beserta dengan fungsinya masing-masing. mengumpulkan informasi, memverifikasi kebenaranya serta menganalisis adanya kemungkinan yang akan menganggu stabilitas bisnisnya serta wilayah Randall.


untuk memudahkan pekerjaan mereka, Issac memberikan dana serta hak kepada mereka untuk merekrut informan lokal.


Unit Gagak adalah nama yang Issac berikan untuk unit ini. unit ini berisi dari berbagai macam profesi. ada pedagang, administrator, serta berbagai profesi lain yang berhubungan dengan guild La-Sa.


Issac bahkan membeli sebuah rumah di distrik komersial untuk menjadi basis Operasi intelejen nya. unit ini juga bertanggung jawab untuk meneruskan informasi yang mereka dapatkan dan telah mereka saring kepada Issac lewat para karavan La-Sa guild maupun burung gagak yang telah dia siapkan untuk unit ini.


dengan burung itu mereka dapat mengirimkan informasi yang sangat penting serta sangat rahasia kepada Issac dalam waktu satu hari. begitupun Issac dapat mengirimkan instruksi kepada mereka dalam waktu singkat.


dengan dibentuknya unit ini, Issac, secara tidak sadar telah mencengkeram-kan kukunya tidak hanya di wilayah Randall tetapi juga di Ibukota


****


hai pembaca sekalian, terimakasih atas dukungan kalian sehingga author bisa terus konsisten untuk tetap menulis cerita ini. jika kalian suka dengan cerita ini berikan Author like dan komentar ya. Author juga menerima bentuk kritik dari pembaca sekalian :)

__ADS_1


sekali lagi terimakasih banyak dan jangan lupa terus dukung Author ya 😁😁


__ADS_2