
Dentuman meriam terdengar sangat kencang pagi itu. Para mage melantunkan mantra dan sihir api serta tanah juga ikut menghantam tembok pertahanan kota Pesa. Perlawanan dari pasukan bertahan juga sengit. Mereka menembakkan panah serta sihir dari atas tembok kota.
Selain itu, mereka menggunakan katapult atau ketapel besar dengan batu berapi dan menargetkannya ke arah meriam maupun para mage yang menyerang tembok kota untuk menahan kekuatan mereka.
Sepertinya tembok kota telah dilapisi oleh sihir penguat sehingga tidak mudah roboh dan jebol. Issac yang memantau peperangan dari agak jauh skeptis kalau teknologi sihir kerajaan Garlin sudah semaju ini. Seperti yang informasi dari RIS berikan, ada pihak luar yang ikut campur tangan dalam peperangan ini.
Mereka juga mendapatkan bantuan dari para elf dan dwarf. Terbukti, tentara kerajaan juga harus melawan para elf yang memiliki keunggulan dalam memanah dan sihir angin. Juga, anak panah yang mereka gunakan memiliki kualitas yang sangat bagus. Bahkan jauh lebih bagus daripada yang digunakan oleh pasukan pemanah kerajaan.
Satu-satunya yang bisa membuat anak panah sebaik ini dan memiliki afinitas yang cocok dengan sihir adalah para Dwarf. Mereka mungkin tidak menurunkan tentara seperti para elf. Mereka berperan sebagai pemasok senjata untuk para tentara kerajaan Garlin dan kekaisaran Elf.
Ternyata untuk menaklukan Pesa membutuhkan usaha yang sangat keras. Tetapi ini masih sesuai dengan perkiraan Issac. Karena itulah ia memutuskan untuk membawa serta regu artileri dan regu penembak. Ia tidak bisa menahan diri untuk hal semacam ini.
Sementara itu, para kavaleri dan infanteri sedang bertempur melawan unit tentara Garlin yang berjaga di luar tembok. Pertarungan mereka juga tidak kalah sengit. Beastmen memiliki kekuatan fisik yang lebih unggul. Tetapi hal itu sudah diantisipasi oleh tentara keempat dan kelima.
Mereka sudah berperang melawan tentara kerajaan Garlin sebelumnya dan telah membaca pola strategi yang tentara Beastmen gunakan. Para ahli strategi dari masing-masing Divisi telah merumuskan strategi terbaik untuk mengcounter serangan mereka.
Meskipun disiplin dan terlatih, para Beastmen cenderung bergerak sendiri-sendiri. Jadi satu dari mereka akan menghadapi beberapa lawan. Dengan kata lain, mereka cenderung menggunakan kualitas untuk mengalahkan kuantitas. itu mungkin akan efektif jika yang mereka lawan adalah tentara yang tidak terlatih.
Tetapi tidak dengan tentara kerajaan. Mereka telah diberikan pelatihan terbaik oleh para instruktur dan diperlengkapi dengan peralatan dan persenjataan yang sama baiknya. Sehingga strategi yang digunakan oleh para beastmen menjadi sangat tidak efektif.
Meskipun begitu perlawanan mereka cukup gigih. Meriam Sihir dan grup penembak serta para mage cukup kesulitan untuk menjebol benteng kota Pesa. Pada akhirnya, meskipun bombardir terus berlanjut, tembok kota Pesa tidak juga runtuh.
"Mau bagaimana lagi kan? Untuk mempercepat proses ini aku harus sedikit ikut campur ya."
Tanpa sepengetahuan Aurellia dan yang lainnya, Issac mengambil tiga kerikil. Ukurannya tidak besar. Paling-paling hanya sedikit lebih besar daripada kelereng. Dengan santai, ia memposisikan kerikil itu di antara jari telunjuk dan jempolnya dan mengarahkan kerikil itu ke bagian tembok yang menjadi titik pusat bombardir.
__ADS_1
CTAKKK! kerikil itu melayang dari tangan Issac dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hasilnya, BOOOMMM!! Satu kerikil itu langsung membuat salah satu bagian tembok rusak parah. Begitu juga dengan kerikil kedua dan ketiga. Masing-masing dari mereka mengenai bagian tembok yang lain.
Karena itu, tidak butuh waktu lama bagi grup artileri dan mage untuk menghancurkan tembok itu. Begitu beberapa bagian tembok runtuh, laksana air bah, para infanteri dan kavaleri yang telah selesai berurusan dengan tentara beastmen langsung merangsek masuk ke dalam kota.
Perlwanan yang sangat sengit terjadi. Pasukan bertahan matian-matian menahan gelombang manusia yang terus berusaha memasuki kota Pesa. Sayang bagi mereka, regu penembak yang berperan sebagai pendukung infanteri dan kavaleri menembaki para tentara lawan dengan akurasi yang mengerikan.
Satu persatu tentara beastmen berjatuhan dan tentara kerajaan mulai membanjiri kota Pesa. Dan seperti yang diharapkan, para tentara beastmen telah mundur dan memfokuskan pasukan mereka di sekitar istana tempat raja Boabdil tinggal. Mereka telah membakar fasilitas-fasilitas yang mungkin akan dimanfaatkan oleh tentara musuh.
Tentara kerajaan Heinz terus merangsek maju. Terkadang mereka menghadapi sergapan dari para beastmen. Tetapi mereka telah dilatih untuk pertempuran dalam kota sehingga mereka bisa mengantisipasi serangan itu.
Yang jadi masalah adalah para non Kombatan dari kerajaan Garlin. Mereka kebanyakan hanya berdiri di pinggiran jalan sambil melihat kejadian horor di mata mereka. Darah, kepala yang lepas dari tubuhnya, kilatan pedang tajam, dan suara senapan yang menggelegar.
Tapi para tentara kerajaan tidak menyerang mereka selama penduduk sipil tidak mengangkat senjata. Jadi meskipun mereka ketakutan, setidaknya penduduk sipil tidak menjadi korban.
Lagipula rumor telah bertebaran di Pesa sebelumnya. Para manusia memperlakukan rekan sebangsa mereka dengan baik. Mereka tidak menyerang non Kombatan. Bahkan mereka memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok pada penduduk yang ditaklukan.
Mereka bisa dibilang adalah tentara elit. Mendapatkan pelatihan yang keras dan perlakuan yang baik dari kerajaan Garlin. Tentara dari kekaisaran Elf juga sama. Meskipun mereka ahli dalam memanah, mereka juga sangat terlatih dalam pertarungan jarak dekat.
Dentingan pedang dan tusukan tombak di langit Pesa yang berwarna merah darah. Berbagai sihir entah itu api, air, tanah, petir, angin, dan tanaman saling beradu satu sama lain. Awalnya tentara kerajaan berada dalam keunggulan. Tapi posisi segera berbalik ketika salah seorang Beastmen rubah api yang hanya bermodalkan tangan kosong bergabung dalam barisan tentara gabungan.
Ia adalah Bobadil yang tanpa ampun menembus barisan tentara kerajaan seorang diri dan menyebabkan korban jiwa dari tentara kerajaan berjatuhan. Moral pasukan gabungan elf dan beastmen meningkat dan mereka juga maju untuk menembus barikade pasukan.
Tetapi usaha mereka berhenti di tengah jalan ketika seorang pemuda berambut hitam dengan iris mata merah menyala menghalangi jalan mereka. Tidak ada satupun eskpresi ketakutan diwajahnya. Sebaliknya, justru ia terlihat seperti Seseorang yang telah menemukan mainan menarik.
"Untuk dengan mudah menghancurkan barikade tentara kerajaan yang elit seorang diri. Kau pasti adalah raja baru dari kerajaan Garlin kan?"
__ADS_1
"Dan untuk menghalangiku seorang diri tanpa menggunakan peralatan perang dan hanya menggunakan sebuah rompi dan kemeja. Siapa kau sebenarnya!?"
"Aku? Bukan siapa-siapa. Hanya kepala staf istana."
"Jangan bercanda! Dimana penguasa negerimu!? Bawa ia ke sini dan suruh berhadapan denganku! Yang bisa menghentikan ambisi seorang raja hanyalah raja lainnya!"
Issac terkekeh. Tidak mau. Mana mungkin ia akan membiarkan Aurellia tersayangnya untuk mengahadapi maniak seperti dirinya?
"Tidak perlu. Yang mulia ratu Aurellia tidak perlu mengotori tangannya untuk berhadapan dengan orang sepertimu. Yang perlu yang mulia ratu lakukan hanyalah duduk manis dan memantau jalannya pertempuran. Itu saja."
Sementara dialog di antara mereka terjadi, tidak ada satupun di antara kedua belah pihak yang bisa bergerak. Issac yang sadar akan hal ini langsung menoleh ke arah mereka.
"Tenang dan lanjutkan saja pertarungan kalian. Biar aku yang menghadapi rubah kecil ini."
Rubah kecil kepalamu! Mereka ingin mengatakan itu. Tetapi mereka merasa bisa mempercayakan ini pada Issac. Dengan moral yang kembali tinggi, mereka langsung menyerbu tentara gabungan yang tersisa. Boabdil berusaha untuk menghalangi mereka tetapi Issac mencegatnya terlebih dahulu.
"Lawanmu adalah aku."
Boabdil yang terprovokasi langsung melayangkan tinjunya yang berapi kepada Issac tapi ia berhasil membelokan serangannya. Bobadil meliukan tubuhnya dan memberikan tendangannya ke arah kepala Issac. Malang baginya, Issac dengan mudah menghindar dari serangannya yang memiliki kecepatan tinggi.
Melihat kekuatan Issac, Boabdil menjadi semakin kesal. Tapi ia tidak bisa menahan diri karena Issac sangat kuat sampai berhasil menahan serangannya dengan mudah.
Dengan gencar, Boabdil melakukan serangan beruntun kepada Issac. Menggunakan sihir api untuk membatasi pergerakan lawannya, ia memanfaatkan keunggulan fisik untuk mendesak Issac. Pukulan, tendangan, dan berbagai teknik bertarung lainnya ia gunakan.
Tapi sayang, Issac sudah bosan. Boabdil tidak sekuat yang rumor katakan. Issac memutuskan untuk mengakhiri serangan dengan satu tendangan yang sangat pelan ke dada Bobadil. Hasilnya, Bobadil terpental sangat jauh. Tubuhnya terbanting berkali-kali dan akhirnya berhenti ketika menabrak tembok istana.
__ADS_1
Ia tidak mati. Tetapi tubuhnya terluka sangat parah. Organ dalamnya rusak, tulangnya remuk, dan tubuh luarnya berdarah-darah. Ia sudah tidak bisa lagi bertarung.
Di saat yang sama, tentara kerajaan telah menerobos istana dan masuk ke dalamnya. Tidak lama kemudian sebuah bendera milik kerajaan Heinz berkibar di puncak istana kerajaan Garlin. Bendera-bendera lain juga berkibar di menara-menara benteng. Dengan begitu, peperangan yang kelak akan dicatat oleh sejarah sebagai Battle of Pesa ini dimenangkan oleh Kerajaan Heinz dengan gemilang.