
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Sasha, Misha, Putri Aurellia, dan siswa tahun keempat lainnya telah sampai ke tempat tujuan mereka. awalnya mereka memang pergi menggunakan gerobak kuda. tetapi begitu mereka hampir sampai, sekitar satu kilometer lagi, mereka diturunkan dan diwajibkan untuk berjalan oleh para Ksatria yang telah menunggu disana.
karena Sasha dan Misha telah melalui latihan yang berat sejak mereka kecil, tentu saja berjalan satu kilometer tidak ada masalah bagi mereka. begitu juga bagi putri Aurellia.
yang menjadi masalah adalah beberapa anak bangsawan yang cukup manja sehingga sepanjang perjalanan mereka terus mengeluh dan tidak berhenti mengutuk para Ksatria yang menyuruh mereka untuk berjalan.
awalnya Sasha, Misha dan Putri Aurellia tidak terlalu ambil pusing dengan keluhan mereka. hal-hal seperti itu wajar mengingat mereka biasa hidup dalam sangkar kemanjaan yang diberikan oleh orang tua mereka.
tetapi mendengar mereka terus mengeluh seperti itu membuat ketiga orang ini emosi sehingga akhirnya mereka menyumpal mulut para anak bangsawan itu dengan tanah. bagi rakyat jelata yang melihat itu... sejujurnya itu memuaskan mereka.
sementara para anak bangsawan itu tidak bisa melawan. tentu saja karena yang melek itu adalah putri seorang Marquis dan simbol keluarga kerajaan. mereka jelas marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
setelah sampai di area perkemahan, mereka langsung disambut oleh para guru yang bingung. kenapa anak-anak bangsawan itu datang dengan mulut tersumpal tanah?
setelah mengetahui bahwa pelakunya adalah trio berbakat di tahun keempat, mereka melupakan hal itu. yah, mereka sendiri tidak ingin terkena masalah.
"Hei Misha, Lia, kita semua satu kelompok kan? mari kita cari anggota yang lain!"
"Hei Sasha tidak perlu terburu-buru, rombongan lain belum sampai. tunggu semua berkumpul saja."
Sasha yang baru ingat hal itu langsung tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
hahhh, keduanya sudah tahu kalau Sasha memang selalu terburu-buru. menghadapi Sasha yang bersemangat itu memang melelahkan!
"baiklah, tapi kalau terlalu lama menunggu pasti akan membosankan. apa yang harus kita lakukan? ah benar juga! kenapa kita tidak masuk hutan saja!?"
""Ditolak!!"" Sasha langsung tercengang. ehhh, ternyata kedua penolakan langsung datang dengan telak!
"Astaga Sasha! mana mungkin kita akan memasuki hutan dengan aman ketika hari sudah mulai gelap!? Ya ampun sekarang aku tahu kenapa Is bisa sangat nekat."
"Ah benar Misha! bagaimana kalau kita simpan cerita ini untuk Issac! aku ingin tahu ekspresi wajahnya saat dia menyadari bahwa sifat kakaknya ternyata kekanakan!"
__ADS_1
melihat mereka bersekongkol, wajah Sasha memelas. mungkin kalau Issac disini dia akan segera memeluk kakaknya karena ekspresinya sangat imut!
melihat wajah memelas Sasha, mereka berdua tertawa. yah, mereka adalah sahabat. saling mengejek, bercanda, menghibur, dan terkadang bertengkar tapi akur lagi. hal-hal seperti ini membuat kehidupan mereka semakin berwarna.
ditengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba lima orang lelaki menghampiri mereka.
"Halo, bukankah ini hari yang indah tuan putri?"
seorang pemuda yang kelihatannya menjadi pemimpin rombongan menyapa putri Aurellia. putri Aurellia yang melihat mereka memasang ekspresi bingung. walaupun sebenarnya, dia jelas muak melihat mereka.
"Kalian...siapa? sepertinya kita belum pernah bertemu."
Pemuda itu terlihat sedikit jengkel saat melihat respon tuan putri.
"Tidak mungkin kita belum pernah bertemu tuan putri, Nama saya Maurice Schazar, putra kedua dari Marquis Schazar yang sekarang. kita pernah bertemu beberapa kali pada saat pesta teh dua tahun lalu."
dua tahun lalu? putri terlihat berpikir keras. mungkin mengingat-ingat pertemuan mereka. tapi sia-sia, sepertinya putri benar-benar tidak tahu.
"Ah anda tidak perlu formal seperti it...."
"Maaf Tuan Schazar, saya Tidak bisa. kita sudah tahu bahwa ada hierarki diantara kita. lagipula saya masih seorang putri dan anda belum sah dan belum pasti menjadi Marquis selanjutnya. jadi selama itu juga, mari sama-sama menahan diri untuk tidak keluar batas."
Maurice Schazar yang awalnya bersikap tenang menjadi marah, meskipun kemarahan itu dia simpan dalam hati. dia tidak cukup bodoh untuk memahami apa maksud tuan putri. "maaf jangan terlalu dekat padaku. aku tidak suka kehadiran mu." Itulah yang dimaksud oleh tuan putri.
sementara ketegangan menyelimuti Putri Aurellia dan Schazar, Sasha dan Misha juga mengalami hal yang sama. tentu dengan lawan yang berbeda.
"Wah Kedua Putri Randall. perkenalkan saya Louis Sera, anak pertama kedua dari keluarga Sera."
"Ohh jadi kau kakakknya Anna?"
"Benar Sekali! sudah kuduga kalian benar-benar berteman baik dengannya! Aku senang Anna bisa bersama kalian."
__ADS_1
Louis tidak bohong. dia jelas senang. tapi dengan alasan yang berbeda. dengan Anna menjadi teman kedua putri Randall ini, dia semakin mudah untuk meraih hati Sasha dan Misha sekaligus. Sasha dan Misha memang menjadi primadona di Akademi. entah karena kecantikannya maupun kecerdasannya. jadi wajar saja kalau banyak yang berebut untuk menikahi mereka.
Louis Sera diam-diam berterimakasih pada adiknya yang naif karena mempermudah jalannya. tapi sepertinya, Louis Sera kecele disini,
"Ya, kami senang berteman dengan Anna. dia adalah gadis yang baik hati dan ceria. kami semua menyukainya. tapi kami tidak memiliki hubungan apapun dengan kakaknya jadi tolong jangan berpikiran bahwa hanya karena kami berteman dengan Anna, kami akan tertarik padamu."
Jawaban tajam dari Misha yang biasanya lembut membuat perasaan Louis Sera seperti Maurice, Sangat marah! tapi dia tetap berusaha untuk tenang. jika dia gegabah disini, semua rencananya akan berantakan. dia harus bermain dengan sabar terlebih dahulu.
setelah semua murid tahun keempat sudah mencapai Area perkemahan, rombongan Louis, Schazar, dan anak buahnya memutuskan untuk meninggalkan ketiga gadis itu, yang membuat rasa lega memenuhi diri mereka. akhirnya, Kami dapat lepas dari cengkeraman mereka! itulah yang para gadis itu pikirkan.
Sementara itu dipikiran Maurice dan Louis....
"Bajingan mereka! sudah ku duga ini tidak semudah yang ku bayangkan!" sebagai pelampiasannya kemarahannya, Louis meninju wajah salah satu bawahannya, yang membuat bawahannya tersungkur.
sementara itu, Maurice Schazar tetap tenang. ini sudah seperti yang dia perkirakan.
"Tenanglah Louis, itu bukan sikap yang tepat untuk seorang penerus keluarga Sera. memang tidak mudah untuk mendapatkan hati mereka. dingin kan kepala mu terlebih dahulu baru kita akan mencari cara lain."
Louis mendecakkan lidahnya. tidak masalah. selama dia bisa mendapatkan kedua gadis itu demi memperkuat posisinya, dia bersedia untuk melakukan apapun. karena itulah dia bekerjasama dengan Maurice.
dalam pikiran mereka berdua, masa depan yang cerah saat membayangkan gadis cantik yang mereka inginkan tergambar di kepala mereka.
****
Sementara itu di Akademi....
Issac yang sedang menghabiskan waktunya di perpustakaan dengan Anna dan Lili tiba-tiba merasakan sesuatu yang menusuk kulitnya sehingga membuat dia merinding.
"Ada apa ini?" dia menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.
"Kak Misha, Kak Sasha, dan Tuan Putri. semoga kalian semua baik-baik saja disana."
__ADS_1
begitulah doa yang ia panjatkan dalam hatinya.